IMG-LOGO
Daerah
HARLAH Ke-66 Fatayat NU

Fatayat NU Kanor Gelar Khotmil Qur'an Sampai Lomba Tumpeng

Senin 25 April 2016 3:2 WIB
Fatayat NU Kanor Gelar Khotmil Qur'an Sampai Lomba Tumpeng
Bojonegoro, NU Online
Ratusan anggota Fatayat NU Kanor menghadiri peringatan Harlah Ke-66 Fatayat NU di Desa Simorejo, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Ahad (24/4). Mereka secara bersama-sama mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 24 kali. Usai itu antarranting Fatayat NU se-Kecamatan Kanor menyuguhkan terbaik hiasan tumpengnya.

Para kader Fatayat dari berbagai desa di Kanor berdatangan. Mereka rata-rata diwakili 15 hingga 20 orang. Panitia membatasi peserta yang hadir. Jika semua kader datang, bisa dipastikan lokasi acara tidak memadai.

"Kegiatan pagi sampai siang hari sangat padat dimulai dari seremonial. Setelah itu pembinaan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bojonegoro dan ditutup lomba tumpeng," kata Sekretaris Fatayat NU Kanor Muslikah.

Perempuan yang juga guru PAUD asal Desa Tejo ini menegaskan, setiap ranting akan bersama-sama mengkhatamkan Al-Quran sehingga total ada 24 khataman dari 26 desa di Kanor.

"Semangat kader di tingkatan ranting juga bagus. Kami sangat bangga, karena di tengah terik matahari mereka terus semangat," jelasnya.

Selain itu pula, para pengurus Fatayat dari ranging juga mengikut lomba tumpeng. Dari penilaian juri, ranting Fatayat Desa Nglarangan keluar sebagai Juara 1 dan Desa Sarangan memperoleh Juara 2. Untuk Juara 3 dimenangkan ranting Desa Kedungarum, Harapan 1 Desa Bungur, Harapan 2 Desa Palembon dan Harapan 3 diraih ranting Desa Kedungprimpen.

Muslikah menambahkan, jika yang ikut lomba tumpeng hampir semua ranting se Kecamatan Kanor yang jumlahnya mencapai 24, dari 26 desa yang ada. Kriteria yang dinilai adalah jenis makanan sehat, desain dan kreatifitas, serta dana yang dikeluarkan untuk pembuatannya.

"Tim penilai langsung dari pengurus cabang Fatayat NU Bojonegoro. Jadi, kegiatan ini sangat profesional dan sajian peserta sangat bagus-bagus," sambungnya.

Ketua Fatayat NU Bojonegoro Hj Ifa Khoiria Ningrum menyatakan bangga atas kreativitas kader-kader Fatayat di Kanor terutama saat lomba tumpeng berlangsung. Sebab, Fatayat juga harus menjadi penopang keluarga yang berbudaya.

"Harus lebih ditingkatkan kembali kreativitasnya sehingga ke depan bertambah baik," harapnya.

Dosen IAI Sunan Giri Bojonegoro itu juga mengimbau seluruh kader untuk terus menjaga moral serta melestarikan budaya baik budaya lokal, regional hingga kelas nasional. (M Yazid/Alhafiz K)

Author

Senin 25 April 2016 23:1 WIB
NU Surabaya Tunggu Janji Pemkot Soal Taman Bungkul
NU Surabaya Tunggu Janji Pemkot Soal Taman Bungkul
Surabaya, NU Online
Pengurus NU Surabaya merekomendasikan kepada pemkot setempat untuk menghadirkan suasana religius terintegrasi di Taman Bungkul. Mereka mengapresiasi penataan yang baik taman kota ini hingga mendapatkan penghargaan di dunia internasional. Hanya saja mereka menyayangkan pemisahan taman ini dengan eksistensi makam Sunan Bungkul sehingga sebagian masyarakat kadang menyalahgunakan taman ini.

Beberapa hari lalu pengurus Syuriyah NU Surabaya melakukan pertemuan membahas itu. "Itu janji Risma tiga tahun lalu dan sampai sekarang belum ditepati. Makanya kami akan tagih lagi," kata Ketua NU Surabaya Muhibbin Zuhri saat sambutan tasyakuran Halah Ke-93 NU di mushala Sunan Bungkul, Surabaya, Ahad (24/4).

NU, menurutnya, mengemban amanah untuk memperjuangkan kawasan terintegrasi religi khususnya di Taman Bungkul.

"Kami akan menagih janji Wali Kota Tri Rismaharini atas komitmen mengubah Taman Bungkul menjadi kawasan ziarah wali," ungkap Muhibbin saat memberikan sambutan di area makam.

Di Taman Bungkul Jalan Raya Darmo, Surabaya ini terdapat makam waliyullah Kiai Ageng Supo yang diriwayatkan hidup sezaman dengan Raden Rahmatullah Sunan Ampel. Karena tinggal di kawasan Bungkul, Ki Ageng Supo kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bungkul.

Sebenarnya penataan Taman Bungkul sudah bagus. Hanya keberadaan makam Sunan Bungkul seperti lenyap. Padahal, Sunan Bungkul dikenal sebagai salah satu sosok perintis Kota Surabaya.

"Dia tokoh dihormati dan bisa mengundang destinasi wisata religi. Tapi sekarang makam Mbah Bungkul seperti terisolasi, seakan terpisah dari taman," kata Muhibbin.

Kondisi Taman Bungkul kian miris karena banyak muda-mudi yang memanfaatkan taman tersebut berbuat tidak pantas. Sering kali digelar acara dengan pengeras suara sehingga mengganggu kekhusyukan para peziarah saat berdoa.

"Menurut informasi tim yang kami terjunkan, PKL di belakang makam Sunan Bungkul sering menggunakan lokasi untuk transaksi jasa layanan seksual," tegas Muhibbin.

Tasyakuran harlah ini diakhiri dengan ziarah di makam Mbah Bungkul. Peringatan ini diawali dengan tahlil bersama yang dipimpin Rais Syuriyah NU Surabaya KH Mas Sulaiman dan diakhiri dengan taushiyah oleh Wakil Rais Syuriyah NU Jatim KH Sholeh Qosim. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Senin 25 April 2016 21:34 WIB
Momentum Harlah, GP Ansor Mranggen Pilih Evaluasi Pengurus
Momentum Harlah, GP Ansor Mranggen Pilih Evaluasi Pengurus
Demak, NU Online
Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Mranggen menggelar pertemuan ramah tamah dalam memperingati hari lahirnya yang Ke-82. Dengan pertemuan yang berlangsung di Aula Balai Desa Kembangarum Mranggen Kabupaten Demak, Sabtu (24/4), mereka berupaya terus meningkatkan soliditas kader di setiap tingkat kepengurusan baik di anak cabang maupun ranting se-Kecamatan Mranggen.

Ketua GP Ansor Mranggen Abdul Qodir meminta seluruh kader yang ada senantiasa berkomunikasi secara intensif sebagai wahana koordinasi organisasi. Menurutnya, hal itu merupakan upaya dalam meningkatkan kualitas jalannya roda organisasi.

“Yang lalu biarlah berlalu. Kita rajut kembali Ansor Mranggen. Kita tingkatkan komunikasi ke depannya supaya lebih baik,” kata Qodir.

Selain ajang evaluasi perjalanan kepengurusan, para hadirin memanfaatkan momentum harlah kali ini sebagai upaya menghidupkan kembali semangat Ansor yang tak lepas dari nilai sejarah kebangsaan.

“GP Ansor Mranggen komitmen dengan pergerakannya. Di usianya yang Ke-82, mari bersama-sama mengawal perjalanan bangsa dari yang terendah, ranting dan anak cabang,” kata Qodir.

Ia berpesan agar keberadaan nilai-nilai Aswaja jangan sampai luntur. Dalam mengawal nilai-nilai Aswaja, program yang sarat dengan nilai aswaja akan terus dipertahankan. Ia juga menegaskan, sudah saatnya GP Ansor bermetamorfosis menjadi organisasi yang lebih modern, yakni dengan mempertimbangkan aspek-aspek kekinian.

“Seluruh pengurus dilarang gaptek. Itu contoh kecil. Sedangkan untuk program, mari bersama-sama kita bahas dan kita musyawarahkan,” tegasnya.

GP Ansor mranggen, lanjut Qodir, akan melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung. Hal itu dirasa mampu memberikan dampak yang membekas, dan menunjukkan eksistensi bahwa Ansor Mranggen hadir di tengah-tengah masyarakat. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Senin 25 April 2016 19:1 WIB
Santri Al-Tsaqafah Raih Juara I Science Fair Se-Banten dan Jabodetabek
Santri Al-Tsaqafah Raih Juara I Science Fair Se-Banten dan Jabodetabek
Ilustrasi santri Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur
Jakarta, NU Online 
Santri MA Al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan menorehkan prestasi membanggakan pada perhelatan Kompetisi MIPA dan Sosial (KOMIPAS) ke-16 tingkat SMA se-Banten dan Jabodetabek yang diselenggarakan oleh SMA Negeri 2 Kota Tangerang. Tim MA Al-Tsaqafah yang diwakili oleh Rifqoh Rofiqotul Munawaroh, Muhammad Hazwan Iftiqar, dan Abdul Muhyi berhasil meraih juara pertama pada kategori "Science Fair".

Pada ajang yang berlangsung Sabtu (23/4) lalu itu, mereka mendemonstrasikan hasta karyanya yang diberi nama Lampu Alarm Santri. Menurut Muhyi, siswa Kelas X asal Indramayu, kreasi ini terilhami oleh aktivitas para ustadz yang membangunkan santri-santri setiap pagi untuk menunaikan salat subuh berjamaah. Alat kreasinya terbilang sangat sederhana. Hanya terdiri dari lampu, dinamo, kabel, stop kontak, kenop lampu, bekas botol air mineral, tirisan minyak, dan paku.

"Cara kerjanya juga sama, sangat sederhana. Setelah materi tadi dirangkai dan teraliri setrum listrik, secara otomatis alarm yang terbuat dari rangkaian paku tadi akan menimbulkan bunyi bising sekaligus membuat lampu alarm menyala," terang Rifqoh, siswi kelas X asal Indramayu.

Keberhasilan ini disambut gembira oleh Kepala Sekolah MA sekaligus Kepala Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, H Idris Soleh. "Raihan prestasi ini merupakan bukti bahwa MA Al-Tsaqafah mampu memadukan kurikulum nasional dan kurikulum pondok pesantren dengan baik sehingga dapat saling melengkapi," ujarnya seraya menyampaikan rasa terima kasih secara khuaus kepada para pembimbing ajang tersebut serta para guru secara umum.

"Kami sangat bangga dengan hasil yang kami raih ini. Meskipun kami selalu berkutat dengan kitab kuning, namun itu bukan hambatan untuk mengembangkan diri dalam dunia sains dan teknologi. Semoga karya kami bermanfaat. Dan tak lupa kami akan terus berusaha mengharumkan pesantren dan sekolah pada kesempatan yang lain," tutup Hazwan siswa kelas X asal Riau yang sekaligus menjadi ketua tim sains MA Al-Tsaqafah. (Shofwan/Fathoni)