IMG-LOGO
Nasional

Kontroversi Pemimpin Non-Muslim, Ini Klarifikasi Pernyataan Kang Said

Rabu 27 April 2016 6:35 WIB
Bagikan:
Kontroversi Pemimpin Non-Muslim, Ini Klarifikasi Pernyataan Kang Said
Jakarta, NU Online
Belakangan ini Ketua Umum NU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) disorot sejumlah pihak soal pernyataannya yang membolehkan umat Islam memilih pemimpin non-Muslim. Pernyataan Kang Said oleh sebagian masyarakat dinilai menyalahi pandangan politik sekelompok masyarakat yang melarang umat Islam mengangkat pemimpin non-Muslim.

“Pernyataan Kang Said ini mesti dilihat secara utuh bagaimana pernyataannya terlontar,” kata Wasekjen NU H Masduki Baidlawi (Cak Duki) di Jakarta, Selasa (26/4) malam.

Cak Duki menambahkan, pernyataan Kang Said itu bukan dalam rangka mendukung calon pemimpin non-Muslim. Kang Said lebih menekankan aspek kejujuran dan keadilan dalam memilih pemimpin.

Karenanya pemimpin non-Muslim yang adil dan jujur dalam konteks khususnya Indonesia masih lebih baik daripada pemimpin muslim yang berbuat aniaya. Pasalnya unsur primer yang dibutuhkan dalam kepemimpinan baik pusat maupun daerah di Indonesia saat ini adalah kejujuran dan keadilan.

“Jujur dan adil ini sifat yang mungkin saja melekat pada diri muslim dan non-Muslim,” kata Cak Duki.

Pernyataan Kang Said juga bukan tanpa dasar. Itu sebenarnya pernyataan Sayidina Ali Ra yang dikutip Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa negara yang adil akan kekal sekalipun ia negara kafir. Sebaliknya, negara yang zalim akan binasa sekalipun ia negara Islam.

“Yang benar itu ya pemimpin Muslim yang jujur dan adil. Tetapi kalau tidak ada, secara darurat dan terpaksa kita boleh memilih pemimpin non-Muslim yang memiliki integritas,” kata Cak Duki.

Kalaupun sampai terjadi, kekuasaan pemimpin non-Muslim tetap terpantau. Karena memang kekuasaan zaman sekarang sudah terdiferensiasi. Pemimpin dipantau lembaga legislatif, yudikatif, dan juga masyarakat. Berbeda dengan raja-raja zaman dahulu yang memiliki kekuasaan tunggal tanpa kontrol.

Dari sini kemudian pemimpin non-Muslim dan perempuan dimungkinkan. Perihal ini juga sudah diputuskan dalam bahtsul masail pada forum Muktamar NU di Pesantren Lirboyo Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur tahun 1999.

“Memilih pemimpin non-Muslim bersifat boleh, bukan pilihan utama. Yang benar itu ya tadi, pemimpin Muslim yang jujur dan adil,” tandas Cak Duki.

Sebagaimana diketahui, Kang Said menyatakan bolehnya seorang muslim memilih pemimpin non-Muslim saat ditanya wartawan di kantor PBNU Jalan Kramat Raya, Jakarta, Sabtu (16/4) lalu. “Siapa saja yang mampu dan dipercaya rakyat, pemimpin yang adil meski itu non-Muslim tapi jujur, itu lebih baik daripada pemimpin Muslim tapi zalim. Di mana saja dan siapa saja,” jawab Kang Said seperti dilansir di sejumlah media. (Alhafiz K)

Bagikan:
Rabu 27 April 2016 21:28 WIB
Dibuka 1 Mei, Inilah Syarat Dapat Beasiswa S1 ke Luar Negeri
Dibuka 1 Mei, Inilah Syarat Dapat Beasiswa S1 ke Luar Negeri
Kementerian Agama membuka pendaftaran beasiswa biaya hidup bagi para siswa madrasah untuk mengenyam pendidikan S-1 pada berbagai perguruan tinggi di luar negeri.. 

Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan mengatakan, proses pendaftaran beasiswa ini akan dilaksanakan secara online melalui website resmi Direktorat Pendidikan Madrasah (http://madrasah.kemenag.go.id) mulai  1 – 15 Mei mendatang.

“Melalui web diharapkan pendaftaran bisa diakses seluruh lapisan masyarakat dalam rangka transparansi seleksi serta keterbukaan informasi publik,” kata  Nur Kholis Setiawan, pada laman kemenag.go.id, Rabu (27/4).

Menurut Nur Kholis,  proses seleksi akan dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap seleksi dokumen dan seleksi wawancara. Peserta yang akan mengikuti seleksi beasiswa ini, harus melengkapi sejumlah dokumen, antara lain: legalisir Ijazah atau Rapor kelas X-XII, Surat keterangan lulus (bagi lulusan tahun 2016) atau Surat pengantar (bagi lulusan tahun 2015), Letter of Acceptence (LoA) Unconditioal/Conditional dari kampus LN tahun akademik 2016/2017.

Selain itu, calon peserta juga harus menyertakan surat jaminan beasiswa bebas SPP (tuition fee) dari kampus LN, dan Surat Kelakuan Baik/Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Calon peserta juga harus membuat beberapa surat pernyataan yang dibuat secara pribadi sebagaimana tercantum dalam persyaratan umum yang bisa diakses di website Direktorat Pendidikan Madrasah.

Setelah melakukan pendaftaran secara online,  semua dokumen/berkas yang sudah dilengkapi harus dikirim paling lambat 20 Mei 2016 ke Subdit Kelembagaan Direktorat Pendidikan Pendidikan Madrasah, Kementerian Agama RI, Jl. Lapangan Banteng Barat 3-4 Lt. 6 Jakarta Pusat 10710 untuk dilakukan verifikasi. 

Peserta yang lolos dalam verifikasi seleksi dokumen, akan diikutkan dalam  tahap wawancara. “Jadi, tidak ada ujian tulis. Peserta yang akan diwawancara murni berdasarkan kelengkapan dokumen yang dikirimkan,” tegas alumni Pesantren Tebuireng ini.

Adapun pilihan perguruan tinggi yang akan dijadikan tempat studi adalah kampus-kampus yang terakreditasi di luar negeri di Asia, Amerika, Eropa dan Timur Tengah. “Yang patut di-warning bagi calon penerima beasiswa ini adalah bahwa ia hanya menerima living cost allowance (biaya hidup bulanan) di kampus selama 4 (empat) tahun,” papar M. Nur Kholis. (Red-Zunus)

Rabu 27 April 2016 20:45 WIB
NU Harus Merumuskan Kolektifitas Politik
NU Harus Merumuskan Kolektifitas Politik
KH Abdurrahman Navis, H Arif Afandi dan Riadi Ngasiran
Surabaya, NU Online
Sejak awal, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mempercayakan perubahan di negeri ini lewat jalur demokrasi. Hal tersebut berbeda dengan sejumlah kalangan yang lebih memiliki keyakinan bahwa perubahan yang lebih baik akan terjadi ketika kepemimpinan nasional dikuasai.

"Inilah yang membedakan Gus Dur kala itu dengan Amien Rais," kata H Arif Afandi, Selasa (26/4). Pernyataan ini disampaikan mantan Wakil Walikota Surabaya tersebut saat diskusi yang diselenggarakan Majalah Aula dengan tema “Kepempimpinan Umat, Kepemimpinan Masyarakat” di ruangan Salsabila PWNU Jatim.

Dan saat ini, era demokrasi telah diterima dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia. "Dengan era seperti sekarang yakni kepemimpinan ditentukan dari bawah, harusnya NU memiliki peran menentukan," kata Arif. Dengan jumlah jamaah yang demikian besar, maka proses seleksi kepemimpinan akan ditentukan warga NU yang memang mayoritas, lanjutnya.

Namun ternyata besarnya jumlah warga tersebut tidak berbanding lurus dengan keterpilihan para pimpinan daerah di basis NU. "Hal tersebut terjadi lantaran besarnya warga tidak diformulasikan menjadi kekuatan politik," kata dia.

Arif membayangkan, ketika telah diputuskan siapa calon pemimpin dan wakil rakyat yang akan didukung, maka dengan serta merta seluruh dukungan warga diberikan kepada yang bersangkutan. "Tapi nyatanya tidak demikian yang terjadi," tandasnya.

Dengan kolektifitas yang dibarengi soliditas, maka besarnya jumlah warga NU di akar rumput yang ditopang jam'iyah atau organisasi yang solid, tentu akan memberikan pengaruh yang besar bagi era demokrasi seperti saat ini.

"Tidak mudahnya menyatukan suara warga tersebut juga ditentukan dengan kesejahteraan ekonomi mereka," akunya. Apalagi income perkapita rakyat Indonesia yang di dalamnya tentu adalah warga NU masih tertinggal.

Bagi Ketua PW Lembaga Perekonomian NU Jatim ini, tugas berat berikutnya adalah bagaimana meningkatkan kemampuan ekonomi warga. "Kalau kesejahteraan mereka sudah tercapai, maka upaya untuk menjaga kolektifitas politik dapat dengan mudah dilakukan," terangnya.

Terkait kepemimpinan, Arif menyarankan masyarakat dapat melakukan seleksi dengan bijak. "Namanya juga pemimpin, maka pertimbangan utama adalah perilaku terpuji termasuk memiliki kesantunan," pungkasnya. 

Tampil sebagai pemateri pada diskusi ini, Wakil Ketua PWNU Jatim, KH Abdurrahman Navis dengan moderator Riadi Ngasiran, Pemimpin Redaksi Majalah AULA. (Ibnu Nawawi/Zunus)

Rabu 27 April 2016 20:1 WIB
EKSPEDISI ISLAM NUSANTARA (28)
PBNU Bangga Kegigihan Tim Ekspedisi Islam Nusantara
PBNU Bangga Kegigihan Tim Ekspedisi Islam Nusantara
Tim Ekspdisi Islam Nusantara wawancara dengan narasumber
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengaku bangga dengan kegigihan anak-anak muda yang melakukan Ekspedisi Islam Nusantara yang telah melakukan penjelajahan selama 28 hari di 16 kabupaten dan kota.

“Saya sangat bangga dan memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada teman-teman, saudara-saudara, anak-anak muda terutama Saudara Imam Pituduh yang melakukan ekspedisi Islam Nusantara yang dengan gigih dan pantang mengenal lelah melakukan perjalanan keliling Nusantara,” katanya di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (27/4).  

Menurut dia, ekspedisi Islam Nusantara yang dilakukan 30 orang ini adalah pekerjaan berat, pekerjaan besar, banyak manfaatnya, dan melelahkan. “Tapi insyaallah Tuhan membalasnya,” tambah kiai yang akrab disapa Kang Said ini.

Kang Said berharap tim ekspedisi berhasil menemukan dan menunjukkan fakta Islam kepada khalayak; mulai sejarah dan perkembangannya. “Data ini akan menjadi dokumentasi PBNU yang akan ditunjukkan pada dunia tentang karakteristik Islam Indonesia,” lanjutnya.

Menurut kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak ini, kegiatan ini adalah salah satu upaya PBNU untuk menunjukkan bahwa Islam Indonesia adalah kalangan yang menyebarkan dan menganut agama dengan santun, menghormati perbedayaan, dan bernuansa kebudayaan.

Ekspedisi Islam Nusantara yang dipimpin Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imam Pituduh telah melakukan perjalanan 28 hari dengan menjelajah 16 kabupaten dan kota di empat provinsi pulau Jawa. Rencananya akan menjelajah 40 kota kabupaten dari Aceh sampai Papua selama 2 bulan.

Ekspedisi tersebut dimulai dan dilepas dari Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat oleh Ketua Umum PBNU pada 31 Maret lalu. Kemudian menjejah Semarang, Demak, Kudus, Rembang, Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Lumajang, Mojokerto, Jombang, Kediri, Nganjuk, Yogyakarta, dan sekarang sedang berada di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Setelah Tasikmalaya, tim ekspedisi akan menjelajah Banten, kemudian Aceh, dan wilayah-wilayah lain. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG