Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Peserta Sanlat BPUN: Kebencian Itu Bikin Capek

Peserta Sanlat BPUN: Kebencian Itu Bikin Capek
Zakiroh Mutawakkil menjawab pertanyaan peserta BPUN saat praktik wawancara jurnalistik
Zakiroh Mutawakkil menjawab pertanyaan peserta BPUN saat praktik wawancara jurnalistik
Way Kanan, NU Online
Calon mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang mengikuti Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) diminta selalu berpikir positif dan menghapus kebencian dalam diri.

"Kita diminta oleh Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto menulis berapa jumlah orang kita benci. Setelah itu kita diminta membawa bata merah sesuai dengan jumlah orang yang kita benci dan membawanya setiap beraktivitas," ujar Zakiroh Mutawakkil peserta BPUN dari SMA Gajah Mada, Kota Bandar Lampung, di Blambangan Umpu, Selasa (17/5).

Meski awalnya merepotkan, lanjut Zakiroh, terdapat nilai yang dapat diambil dengan pembelajaran semacam itu. "Walau kebencian itu tidak terlihat, namun membuat kita repot jika membawanya terus menerus sebagaimana saat kita membawa bata merah walau jumlahnya hanya dua," kata dia lagi.

Senada dengan Zakiroh, peserta BPUN dari SMAN 1 Blambangan Umpu Munawaroh mengaku capek dan tidak mengenakan sehubungan setiap beraktivitas harus membawa kebencian disimbolkan melalui bata merah.

"Saya menemukan pelajaran bahwa kebencian tidak perlu kita simpan karena masih banyak hal positif lain yang harus kita pikirkan dan lakukan," ujar Munawaroh lagi.

Peserta BPUN dari SMAN 1 Baradatu Mese Arsela menambahkan, kebencian dan dendam harus dilupakan dan dibuang jauh. "Kebencian dan dendam tidak akan menyakiti orang yang tidak kita sukai, namun setiap hari dan setiap malam dalam kehidupan kita dipenuhi rasa gelisah dan rasa sakit yang menggerogoti. Hilangkan segala emosi negatif yang ada atau kita termasuk orang yang tidak beruntung dan selalu menderita," kata Mese.

Berkaitan dengan pola pendidikan semacam itu, para calon mahasiswa sejumlah PTN di Indonesia yang menjalani karantina intensif satu bulan di pesantren asuhan Kiai Imam Murtadlo Sayuthi itu menyatakan pengetahuan diberikan pada kegiatan BPUN unik, menarik dan berkualitas sehubungan tidak ditemukan dalam pendidikan di sekolah mereka. 

Sanlat BPUN ini digelar PC GP Ansor Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung di Pesantren Asshidiqiyah 11 Kampung Labuhan Jaya Kecamatan Gunung Labuhan. (Syuhud Tsaqafi/Zunus)
Posisi Bawah | Youtube NU Online