IMG-LOGO
Tokoh

KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya

Selasa 24 Mei 2016 7:0 WIB
Bagikan:
KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya
KH Muhammad Yahya (atas) bersama putra-putranya
”Manusia dilahirkan dalam keadaan mengangis, sementara orang di sekelilingnya tertawa bahagia atas kelahirannya. Maka pada saat ia meninggal, harusnya yang terjadi adalah sebaliknya. Ia meninggal dalam keadaan senyum, sementara orang di sekelilingnya menangis bersedih atas kepergiannya.” Mungkin syair inilah yang tepat untuk menggambarkan kepergian sosok kiai kharismatik yang terkenal dengan nilai-nilai kesufiannya, Almagfurlah KH Muhammad Yahya, 23 November 1971 lalu.

Bagi kaum tarekat di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama KH Muhammad Yahya tentu sudah sangat masyhur. Keberadaannya sebagai salah seorang mursyid TQN membuat murid-muridnya menyebut Kiai Yahya sebagai Syekhul Mursyidin.

Dilahirkan tahun 1900 M di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, KH Muhammad Yahya sejak kecil sudah bersentuhan dengan ilmu agama melalui pendidikan khas ala pesantren yang diajarkan langsung oleh ayahnya, Kiai Qoribun dan ibunya, Nyai Ratun. Hidup di tengah keluarga yang religius, Kiai Yahya juga mengikuti pendidikan dasar agama yang diasuh oleh pamannya, yaitu Kiai Abdullah yang juga salah satu mursyid Thariqah Kholidiyah. Di surau pesantren pamannya inilah Kiai Yahya mengenal dasar-dasar aqidah, bimbingan ibadah dan doktrin etika agama. Penguatan dasar agama di masa kecil ini menjadikannya kuat dan kokoh dalam mempertahankan prinsip.

Kiai Yahya kecil hingga remaja memang terkenal sangat mencintai ilmu. Terbukti, tidak kurang dari enam pesantren menjadi jujugan-nya dalam menuntut ilmu selama kurun waktu 20 tahun. Mulai dari Pesantren Bungkuk Singosari, Pesantren Cempaka Blitar, Pesantren Kuningan Blitar, Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Pesantren Kiai Asy’ari Tulungagung hingga Pesantren Jampes Kediri. Keenam pesantren tersebut telah memberi maziyah keilmuan tersendiri bagi Kiai Yahya.

Setelah dirasa cukup, di tahun 1930 atas restu Kiai Ihsan, akhirnya Kiai Yahya boyong ke kota kelahirannya di Malang. Dan di tahun itu pula, Kiai Yahya diambil menantu oleh Kiai Isma’il, dan dinikahkan dengan putri angkat beliau yang bernama Siti Khodijah. Kiai Isma’il mengambil putri angkat dari kemenakannya sendiri, yaitu Kiai Abdul Majid. Kedua ulama ini merupakan pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Gadingkasri Malang, nama Pondok Pesantren Miftahul Huda saat itu, yang sekarang lebih dikenal dengan Pondok Gading. Namun, baru lima tahun usia pernikahanannya, Kiai Abdul Majid dan Kiai Isma’il wafat. Akhirnya, Kiai Yahya mengemban tugas ganda, baik sebagai pengasuh pesantren maupun sebagai kepala keluarga.

Aktif di Medan Tempur

Saat memimpin Pesantren Gading inilah, Kiai Yahya terpanggil untuk mendarmabaktikan jiwa dan raga untuk membela kehormatan bangsa. Kiai yang memiliki sebelas anak ini ikut terlibat aktif dalam upaya heroik membela bumi pertiwi. Bersama seorang komandan batalyon tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR) bernama Mayor Sulam Syamsun, Kiai Yahya turut serta merancang, menyusun strategi dan menggerakkan santri dan rakyat untuk melakukan perang gerilya di Kota Malang dan sekitarnya. Bahkan, saat Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad pada 10 November 1945, Kiai Yahya juga termasuk salah satu dari ratusan ribu pejuang yang ikut bertempur di garis depan. Keikutsertaannya di pertempuran tersebut atas permintaan khusus dari Panglima BKR Divisi Untung Soeropati, Mayor Jenderal Imam Soedja’i.

Semasa perang gerilya berlangsung, Pondok Pesantren Gading dijadikan sebagai markas pasukan dalam melakukan penyerangan ke jantung kota. Karena letaknya yang strategis dan dianggap sebagai netral zone (daerah netral), hal ini membuat pasukan merasa aman dan leluasa merancang dan merencanakan serangan. Selain itu, Pondok Gading juga terkenal di kalangan para pejuang sebagai tempat yang aman bagi berkumpulnya pimpinan dalam melakukan pertemuan dan briefing.

Hal ini sesuai dengan pernyataan KH Abdurrahman Yahya (putra ke-5 Kiai Yahya) saat ditemui penulis di kediamannya, Minggu (5/7) lalu yakni, “Walaupun terhitung lebih dari sepuluh kali mortir (bom) jatuh di darah Gading namun tidak pernah terjadi ledakan yang membahayakan,” ujar Mbah Kiai Man, sapaan akrab KH Abdurrahman Yahya.

Demikian pula  ketika meletusnya pemberontakan DI/TII di Jawa Barat yang mana hal tersebut dikhawatirkan bakal merembet ke daerah lain, maka KH Abdul Wahid Hasyim sebagai wakil pemerintah dan petinggi Nahdlatul Ulama memilih berkunjung ke Pondok Gading. Didampingi Kepala Staf Divisi VII Surapati Kolonel Iskandar Sulaiman, di pondok inilah diadakan rapat terbatas bersama Komandan Batalyon Hamid Rusdi, Sullam Syamsun, Abdul Manan, Kapten  Yusuf bin Abu Bakar dan Kiai Yahya yang menekankan kepada seluruh pejuang untuk tidak terpengaruh oleh provokasi DI/TII yang ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia.

Kiai Yahya di kalangan para pasukan juga sangat terkenal dengan sikap pemberaninya. Setelah agresi Militer Belanda 1 yang memaksa pejuang Indonesia dipukul mundur. Dari pihak Indonesia, Mayor Sullam memikul tugas berat untuk merebut kembali Kota Malang yang sudah terlanjur dikuasai oleh pasukan asing. Disiapkanlah strategi perang gerilya. Semua kekuatan dikerahkan, termasuk potensi dan kharisma Kiai Yahya. Ada empat tugas khusus yang harus dilakukan Kiai Yahya. Di antaranya, tugas motivator, tugas intelejen, tugas logistik, dan tugas teritorial. Meski tergolong berat, namun tugas tersebut dijalankan dengan baik oleh Kiai Yahya yang mampu menggerakkan santri dan masyarakat sekitar. Tidak heran jika Kiai Yahya dikenal sebagai seorang ahli strategi dan mobilisator yang tangguh, istiqomah, tegas dan cerdas.

Pagi, 4 Syawal 1392 H atau bertepatan pada tanggal 23 November 1971 M sekitar pukul 09.30 WIB, Kiai Yahya mengembuskan nafas terakhir, menghadap Allah SWT pada usia 71 tahun. Ada yang berpendapat ia meninggal pada usia 68 tahun karena Kiai Yahya lahir pada 1903. Namun, menurut saksi hidup, KH Abdurrahman Yahya, saat ditemui penulis, yang lebih valid adalah Kiai Yahya lahir tahun 1900, sehingga umur beliau 71 tahun. Terlepas dari itu semua, kepergiannya yang mendadak dan begitu mudah, membuat keluarga ndalem, tetangga dan santri setengah tidak percaya, termasuk Nyai Khodijah dan KH Abdurrahman Yahya yang mendampingi hingga detik-detik terakhir. Namun Allah SWT Maha Kuasa dan Maha Berkehendak untuk menciptakan makhluk sekaligus mengambilnya. Akhirnya, Kiai Yahya wafat meninggalkan ilmu, pesan, teladan dan kenangan tiada terukur bagi siapa pun.

Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Gasek Malang.  

Bagikan:
Rabu 18 Mei 2016 14:30 WIB
KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan
KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan
Tidak terasa, sudah dua tahun lebih kita ditinggalkan sosok kiai kharismatik, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh. Selasa (17/5), suasana kawasan Mergosono Kota Malang tampak ramai dengan ‘luberan’ jamaah yang hadir di acara Haul Masayikh dan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Nurul Huda. Kiai Masduqi, demikian ia biasa disapa, wafat pada 1 Maret 2014 sebelum purna tugas sebagai Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015.

Kiai yang lahir di Desa Saripan (Syarifan) Jepara, Jawa Tengah pada 1 Juli 1935 ini dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana namun sangat dermawan. Ketika ada pedagang keliling, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono ini biasanya membeli dagangannya, meski tidak membutuhkan. Hal ini dilakukan semata-mata agar pedagang tersebut senang mendapatkan rezeki untuk keluarganya.

Tak hanya peduli dengan orang lain, Kiai Masduqi juga termasuk orang yang sangat berhati-hati (wira’i) dan sangat teguh pada syariat Islam. “Abah itu hidupnya sangat sederhana, tapi punya sifat loman (dermawan). Beliau memang lebih mengutamakan orang lain. Selain itu, beliau sangat berpegang teguh pada syariat Islam. Mantan Rais Syuriyah PBNU ini dikenal anti menggunakan dan menerima uang yang tidak jelas sumbernya atau uang syubhat,” tutur Gus Isroqunnajah tentang sosok abahnya, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh, saat ditemui penulis, beberapa waktu lalu.

Dilahirkan dari keluarga yang kokoh dan fanatik terhadap ajaran agama, Kiai Masduqi kecil dikenal sebagai pribadi anak yang mandiri. Hal ini tidak lepas dari didikan kedua orang tuanya, Kiai Machfudh dan Nyai Chafsoh. Tidak heran, karena bila ditelusuri dari nasab ibunya, mantan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini masih dalam garis keturunan seorang waliyullah, Syaikh Abdullah al-Asyik bin Muhammad. Yakni, jogoboyo dari kerajaan Mataram. Alkisah, salah satu keampuhan Syaikh Abdullah al-Asyik adalah setiap ada marabahaya yang akan mengancam kerajaan, beliau memukul bedug untuk mengingatkan penduduk. Meski cukup dari rumahnya, suara bedug ini terdengar ke seantero kerajaan Mataram.

KH Masduqi Machfudz dikenal sebagai sosok sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Corak kehidupan keluarga sama sekali jauh dari citra kemewahan. Kesederhanaan yang sudah dibiasakan Kiai Machfudh ayahnya, sangat membias pada keluarga Kiai Masduqi. Terlebih sejak kecil, kiai yang juga sahabat dekat presiden RI ke-4 Gus Dur ini, sangat gigih dalam menekuni bidang keilmuan terutama ilmu agama. Salah satu prinsip hidupnya adalah kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan dunia pun akan tercapai.

Karena ayah dan ibunya sangat religius, sehingga sikap dan pandangan hidupnya juga ala santri. Kiai Masduqi kecil sebenarnya tidak diperbolehkan oleh sang ayah untuk belajar di sekolah umum, cukup di pesantren saja. Tetapi larangan itu tidak mematahkan semangat Kiai Masduqi mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan secara komprehensif. Bahkan, dengan semangat yang berapi-api, Kiai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri.  Kiai yang memiliki 9 anak ini menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan lain untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Hal ini dilakukannya selama bertahun-tahun, mulai 1945 ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Jepara yang diasuh Kiai Abdul Qodir, hingga  saat sudah menjadi santri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Ketika menuntut ilmu di pesantren, Kiai yang juga mantan Ketua MUI Jatim ini memang terlihat kapasitas keilmuan yang melebihi santri-santri lain seusianya. Mulai dari dari ilmu nahwu, sharaf, fiqih, tauhid dan ilmu lainnya. Hal ini juga diakui oleh Sang Guru ketika mondok di Krapyak, KH. Ali Ma’shum. Berbeda dengan santri-santri lain yang membutuhkan waktu hingga belasan tahun, namun Kiai Masduqi hanya perlu 3 tahun untuk menguasai semua bidang keilmuan tersebut.

Sejak lulus dari Krapyak, tahun 1957 Kiai Masduqi mulai mengajar di berbagai sekolah di Tenggarong, Samarinda dan Tarakan Kalimantan. Kemudian 1964 melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang (sekarang UIN Maliki), sekaligus sebagai dosen Qiroatul Qutub, bahasa Arab, akhlak dan tasawuf. Di tengah kesibukan sebagai dosen dan pengasuh pesantren, kiai yang juga ayah dari Direktur Ma’had Sunan Ampel Aly KH. Dr Isroqunnajah ini masih sempat melayani pengajian di berbagai masjid di daerah Jawa Timur, terutama yang sulit dijangkau oleh kebanyakan dai, mubaligh dan kiai lainnya.

Pesantren Nurul Huda yang dirintis Kiai Masduqi, bermula dari mushala kecil yang berada di Mergosono gang III B. Mushala yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah ini mulai digalakkan sejak Kiai Masduqi berdomisili di daerah tersebut. Karena keahliannya dakwah, banyak mahasiswa yang akhirnya nyantri kepadanya hingga mushala kecil tersebut berubah menjadi pesantren sesungguhnya.

Uniknya, dalam pendirian pesantren yang saat ini berlantai tiga itu, KH. Masduqie Machfudh belum pernah meminta sumbangan dari masyarakat sedikitpun. Kiai yang masih memiliki ikatan saudara dengan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) ini hanya mengandalkan amalan shalawat sebanyak sepuluh ribu kali. Dengan berkah shalawat itulah, Kiai Masduqi berharap kepada Allah SWT untuk pesantren dan keselamatan keluarganya. Terbukti, sekarang Pondok Pesantren Nurul Huda bisa berdiri megah. (Baca juga: Kisah Keajaiban Shalawat yang Dialami Kiai Masduqie Machfudh)

Kiai yang terkenal sangat teguh prinsip ini merupakan salah satu ulama yang mumpuni dalam memberikan materi dalam tiap mauidhohnya. Bukan hanya ilmu agama, namun juga pemahamannya terkait masalah teknologi, sosial dan budaya. Sehingga, audiensnya pun merasa puas karena cara penyampaiannya mengikuti tingkat kemampuan jamaahnya. Tidak heran, banyak santrinya yang sekarang menjadi kiai besar panutan umat. Di antaranya, KH Marzuki Mustamar (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim/Imam Besar Densus 26), KH Chamzawi (Rais Syuriyah PCNU Kota Malang), KH. Dahlan Thamrin (Mantan Ketua PCNU Kota Malang), Prof Dr Ali Shidiqie (Mantan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi RI), Prof Dr KH. Khusnul Ridho (mantan ketua STAIN Jember), Dr Habib MA (dosen senior Universitas Muhammadiyah Malang), KH. Dr Muzakki MA (Tanfidziah PCNU Kota Malang), dan Kiai Abdullah Syam (Pendiri Pesantren Rakyat, Posdaya).


Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Malang

Rabu 27 April 2016 6:16 WIB
Subchan ZE: Nyawanya Lenyap Bersama Sejarahnya
Subchan ZE: Nyawanya Lenyap Bersama Sejarahnya
Nama lengkapnya Subchan Zaenuri Echsan. Lebih populer dipanggil Subchan ZE. Tokoh muda NU inspirator suburnya gerakan pemuda dan mahasiswa di Indonesia seperti HMI, PMII, GMNI, PMKRI, dll. Figur politik yang tajam, pemberontak, dan berani melawan rezim Presiden Soeharto. Meninggal misterius dalam kecelakaan di Riyadh, Arab Saudi di usia 42 tahun dalam sebuah operasi intelijen. Nama Subchan dihapus oleh rezim Orde Baru dari sejarah Indonesia.

Subchan ZE lahir di Kepanjen, Malang Selatan, 22 Mei 1931. Tumbuh di lingkungan santri di Kudus. Anak keempat dari 13 bersaudara. Ayahnya H Rochlan Ismail, adalah mubaligh, pedagang, dan pengurus Muhammadiyah di Malang. Sedangkan ibunya pengurus Aisyiyah. Sewaktu kecil dia diangkat anak oleh pamannya, H Zaenuri Echsan, seorang pengusaha rokok kretek asal Kudus.

Subchan adalah potret generasi muda NU yang sukses di bidang ekonomi. Sejak usia 14 tahun, dia sudah mengelola perusahaan rokok “Cap Kucing”. Pada usia 15, Subchan sudah rutin bepergian ke Singapura berjualan ban mobil dan truk, cengkeh dan cerutu. Pada saat Belanda memasuki Solo ia mengkordinir adik- adiknya untuk berjualan cerutu, roti dan permen kepada prajurit Belanda. Setelah dewasa ia menetap di Semarang untuk mendirikan perusahaan ekspor dan impor.

Subchan ZE sempat nyantri di pesantren Kiai Noer di Jalan Masjid Kudus. Selain mengenyam pendidikan pesantren, Subchan juga mengikuti kuliah di Universitas Gadjah Mada sebagai mahasiswa pendengar. Dia pernah pula belajar di sekolah Dagang Menengah di Semarang dan ikut dalam kursus program ekonomi di Unversity of California Los Angeles.

Di masa pecah revolusi fisik, Subchan bergabung dalam Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) dan organisasi Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dipimpin Bung Tomo.

Di usia yang kian matang, Subchan pindah ke ibukota Jakarta dan memiliki 28 perusahaan. Jaringan bisnisnya bahkan merambah hingga ke Timur Tengah. Subchan menjadi pionir bisnis perjalanan haji dengan pesawat terbang melalui biro perjalanan Al-Ikhlas. Pada tahun sebelumnya, jamaah haji Indonesia berangkat dengan kapal laut.

Karir politik Subchan ZE dimulai pada 1953. Ketika itu dia duduk sebagai pengurus Ma’arif NU di Semarang. Tiga tahun kemudian dalam kongres NU di Medan, Idham Kholid terpilih sebagai ketua PBNU. Subchan ZE lalu muncul dalam kongres itu sebagai figur NU muda yang potensial dan terpilih sebagai ketua Departemen Ekonomi. Pada kongres berikutnya di Solo tahun 1962 Subchan terpilih sebagai Ketua IV PBNU.

Nama Subchan kian dikenal pasca aksi pembunuhan para Jenderal 1 Oktober 1965. Ketika itu, suasana ibukota Jakarta sangat mencekam. Dan ratusan pemuda berkumpul di kediaman Subchan ZE Jl. Banyumas 4, Menteng. Mereka adalah para aktivis anti PKI. Berasal dari berbagai aktivis ormas Islam, Kristen, dan Katolik. Mereka mengkonsolidir diri ke dalam Komando Aksi Pengganyangan (KAP) Gestapu yang dipimpin oleh Subchan ZE (NU) dan Hary Tjan Silalahi (PMKRI/Katolik).

Subchan ZE menjadi tokoh sipil yang mampu menggerakan massa untuk menuntut pembubaran PKI. Hal itu membuatnya disegani oleh kalangan petinggi Angkatan Darat.

Di masa itu, PKI melihat NU sebagai lawan politik dan ideologi. Subchan sebagai tokoh muda NU menunjukkan konsistensinya untuk melawan perkembangan ideologi komunisme. Ketidaksukaan Subchan terhadap komunisme tidak hanya ditunjukan di dalam negeri. Bahkan, selaku Vice President dari Afro Asia Economic Coorporation (Afrasec) tahun 1960-1962, Subchan pernah mengusir delegasi Uni Soviet dari persidangan di Mesir. Setibanya di tanah air dia sempat ditahan oleh pemerintah karena mempermalukan negara.

Walau masih muda, tapi Subchan sudah rutin diundang dalam konferensi ekonomi di luar negeri. Seperti The International Chambers of ECAFE, Afro Asian Economic Conference, dan masih banyak lagi. Subchan memiliki pengetahuan yang cerdas tentang ekonomi.Hal itu membuatnya sering diundang sebagai pembicara dalam acara-acara seminar yang dilakukan berbagai universitas di Indonesia.

Kemampuan Subchan di bidang ekonomi antara lain terlihat ketika di awal Orde Baru. Pada 1966, berlangsung sebuah diskusi di kampus UI Salemba dengan topik tentang kebijakan ekonomi yang selayaknya ditempuh pemerintahan baru.Saat itu pembicaranya adalah Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, dan Subchan ZE.Kedua ekonom lulusan Berkeley AS yang dipandang mumpuni itu, dalam pandangan sebagian pihak yang hadir dalam diskusi itu, tampak kewalahan dalam menghadapi pemikiran Subchan.Mutlak, makin banyak mahasiswa dan aktivis pergerakan yang mengidolakannya.

Di tahun yang sama, Subchan diangkat sebagai Wakil Ketua MPRS. Dalam posisinya, ia tetap konsisten mendesak pembubaran PKI dan menuntut pertanggungjawaban Soekarno sebagai Presiden. Soeharto yang diuntungkan dari rencana makar PKI dikukuhkan sebagai Presiden oleh MPRS tahun 1968.

Setelah pelantikan Presiden Soeharto, Subchan tak berhenti menjadi “pemberontak”. Dia berbicara keras tentang gaya Soeharto yang mengamputasi perangkat demokrasi dalam lembaga legislatif. Kritik keras dia sampaikan dalam pidato sebagai wakil ketua MPRS. Ia menuding kaidah-kaidah Orde Baru mulai kabur dan tidak lagi melandasi perjuangan bagi seluruh komponen Orde Baru.

Subchan menyatakan, mesin politik Orde Lama justru mendapat jalan melalui sel-sel koruptif, intrik, dan konspirasi yang makin merajalela di era Soeharto. Dengan tajam, ia mengkoreksi pemerintahan Soeharto yang sengaja menunda penyelenggaraan pemilu 1968 menjadi 1973. Berkat perlawanan gigihnya pemilu bisa berlangsung tahun 1971.

Jelang pemilu, konfrontasi terbuka Subchan dengan Soeharto justru meruncing. Dia mengkritik keras Mendagri Jenderal Amir Machmud, agar menjadi wasit yang adil dan jangan main “bulldozer” dalam politik. Kritik itu terkait dengan keluarnya Permendagri No 12/1969 yang melarang keterlibatan anggota departemen (PNS) di dalam partai politik. Kebijakan itu jelas hanya menguntungkan Golkar. Ia menyebut Permendagri tersebut tidak memenuhi syarat perundang-undangan dari sudut formal karena bertentangan dengan UU No 18/1968.

Kritik-kritik terhadap rezim Orde Baru juga dia sampaikan selama masa kampanye untuk Partai NU. Pidato politik Subchan saat berkampanye kerap menggunakan istilah “jihad” untuk mengobarkan semangat politik umat Islam. Istilah “jihad” kemudian digunakan oleh Soeharto dalam pidato tanpa teksnya.

Soeharto menyatakan, setiap usaha “jihad” yang selalu dikobar-kobarkan golongan tertentu akan dihadapi oleh pemerintah dengan semangat “jihad” pula. Komentar Soeharto di wilayah publik ditujukan hanya kepada Subchan.

Berkat kerja keras Jusuf Hasyim, Syaifudin Zuhri, KH A. Syaichu, dan terutama Subchan ZE berhasil menempatkan Partai NU dalam dua besar Pemilu 1971. Persis di bawah Golkar. Menguasai 69,96 persen suara yang diperoleh partai-partai Islam. Itulah prestasi terbesar NU dalam kapasitasnya sebagai partai politik.

Usai pemilu, ia bersama Nasution menulis “Buku Putih” yang berisi laporan pimpinan MPRS 1966-1972. Belum sempat diedarkan secara luas, buku itu disita dan dimusnahkan oleh Kopkamtib karena berisi sejumlah kecaman.

Subchan ZE tidak setengah hati dalam berpolitik. Hingga intervensi dan tekanan dari rezim Soeharto membuat Subchan ZE kehilangan karir politik. Pengurus Besar Syuriyah NU lewat suratnya No.004/Syuriyah/c/1972 yang ditandatangani oleh Rois Aam KH Bisri Syamsuri kemudian memecat Subchan ZE sebagai anggota NU.

Subchan menolak pemberhentian itu dan melawan balik. Tetapi mayoritas cabang NU mendukung pemberhentian Subchan. Hal itu menguatkan kesan bahwa prototipe kepemimpinan Subchan yang terlalu kritis dan vokal terhadap pemerintahan Soeharto tidak mendapatkan dukungan dari masyarakat pedesaan dan kultur tradisional.

Kritik-kritik tajam pada pemerintah dan popularitasnya yang terus meningkat adalah ancaman bagi rezim Soeharto. Perilaku koruptif rezim jelas dia benci. Kebencian itulah yang membuat dia mati muda di usia 42 tahun. Kematiannya yang tiba-tiba banyak mengejutkan banyak orang, terutama kalangan kaum muda yang selalu setia mengidolakannya. Kejadian ini terjadi setahun setelah pemecatan Subchan dari NU.

Hingga saat ini kematiannya masih menjadi misteri. Karena saat itu Subchan berencana melakukan pertikaian politik terhadap rezim Soeharto setelah pulang dari Mekkah. Beberapa sumber mengatakan, kematiannya tak luput dari “campur tangan” CIA yang berada dibalik suksesi Orde Baru.

Sebelum kematiannya, dia memberikan wawancara eksklusif koresponden AFP, Brian May, tentang jaringan bisnis Soeharto yang ada di Singapura, Belanda, dan AS.
Kecelakaan yang merenggut nyawa Subchan cukup janggal karena supir mobil justru lolos hanya dengan luka-luka ringan. Usai kematiannya, referensi tertulis, biografi dan kisah tentang Subchan ZE dihilangkan perlahan dari sejarah. Namun, namanya masih sempat diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kudus, Jawa Tengah.

Kisah hidup Subchan ZE menandakan bahwa semangat pemuda selalu kebal terhadap impunitas, pembunuhan karakter, dan bahkan upaya penghilangan paksa dari sejarah. 

*Zulham Mubarak, Ketua Departemen Advokasi dan Kebijakan Publik PC GP Ansor Kabupaten Malang.
Kamis 21 April 2016 20:3 WIB
KH Hasbullah: Orang Lurus dari Sono-nya
KH Hasbullah: Orang Lurus dari Sono-nya

Sekitar tiga tahun terakhir kediaman H. Hasbullah berubah, terasnya gelap. Pria berusia 87 tahun ini menambal rapat terali bagian atas dinding halaman rumahnya dengan adukan semen. Dengan begitu, orang yang lalu-lalang tidak bisa melihat ke dalam. Demikian sebaliknya, pandangan yang di dalam terhalang ke luar. Namun ia memasang tiga lubang ventilasi untuk angin mondar-mandir. “Pakaian perempuan sekarang ketat. Memang rapat sih. Tetapi terkadang bahenolnya tercetak. Enaknya kita beset (sobek) sekalian, hahaha... Udah usia segini, saya tidak mau lihat begituan,” kata H. Hasbullah sambil tertawa cekikikan menceritakan karyawati-karyawati yang lalu-lalang di muka rumahnya, Jalan Pondok Pinang Timur, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Laju populasi dan banjirnya imigran desa menuju kota tidak terhindarkan. Jumlah gedung pencakar langit 15 tahun terakhir di sekitar rumahnya di Jakarta Selatan, terus melaju pesat tak terkendali oleh IMB atau AMDAL. Guru sepuh dengan tinggi badan 182 cm ini sadar, perubahan sosial dan tuntutan dunia memiliki zamannya sendiri. Ia sendiri tidak berniat mengubah laju perubahan dunia itu. Orang yang pernah sekolah sampai kelas III Sekolah Rakyat (SR) ini hanya mencoba menyesuaikan diri dengan hidup lempang dan lurus sesuai ajaran yang dipahaminya.

Sikap begini baginya bukan barang baru. Guru agama di salah satu perkampungan di Jakarta ini, sejak dahulu menerapkan sikap ini dalam praktik kesehariannya. Pilihan sikapnya ini tidak bisa dipengaruhi pandangan sarjana jebolan kampus bergengsi di mana pun. Coba saja. Meskipun berdarah etnis Betawi dari jalur bapak maupun ibu, ia berbeda dari kelaziman masyarakatnya. Hasratnya tidak disalurkan untuk membuat rumah sewa ketika para tetangganya mulai menggunakan lahan yang ada untuk rumah sewa sejak 1980-an, walaupun ia sekeluarga juga tidak berarti sudah berlimpah secara ekonomi.

“Biar saja yang lain bikin kontrakan. Saya pilih begini. Apakah kalau mereka (penghuni kontrakan) berbuat macam-macam, kita tidak ikut menanggung dosanya?” kata pria lansia yang hingga kini tidak meninggalkan pengajaran kitab-kitab agama berbahasa Arab Melayu (pegon).


Ngaji di Zaman Normal, Revolusi, Merdeka

Sejak kecil, H. Hasbullah sudah menunjukkan minatnya pada ilmu agama. Anak kepala kampung di zaman Belanda ini belajar membaca al-Quran kepada Guru Hayat, seorang guru tamatan Jami’atul Khair di kampungnya.

“Keluaran kelas enam Jami’atul Khair sudah menjadi ulama. Pelajaran agamanya 100% bahasa Arab,” ujar H. Hasbullah menyebut sekolah agama modern bergengsi di sekitar Pasar Tanah Abang itu. Kepada Guru Hayat ia belajar tajwid. H. Hasbullah terbilang murid paling menonjol dari sekian murid Guru Hayat. Ia sangat terbantu dalam membaca al-Quran karena beberapa pelajaran di sekolahnya menggunakan bahasa Arab pegon.

“Saya sedikit cepat bisa baca al-Quran karena aksara Arab pegon diberlakukan untuk mata pelajaran tertentu di sekolah zaman normal. Mereka yang tidak sekolah, cukup bebal baca al-Quran,” kata H. Hasbullah yang lahir pada 2 Februari 1928 di Jakarta.

Zaman normal yang H. Hasbullah sebut, merujuk pada era Kolonial Belanda beberapa dekade sebelum Jepang mendarat di Indonesia pada 1942. Masyarakat menyebut zaman penjajahan Belanda sebagai zaman normal karena secara politik, ekonomi, dan keamanan cenderung stabil di bawah tekanan Belanda, berbeda dengan zaman Jepang yang segala sesuatu sulit. Tidak heran kalau H. Hasbullah dibawa ke mana saja oleh Guru Hayat baik untuk kepentingan mengajar atau menghadiri undangan tertentu gurunya di luar kampung. Selain itu, ia diajarkan nahwu-shorof, ilmu gramatika Arab. “Belajar di zaman itu sangat susah, belum ada listrik. Saya setiap malam harus duduk mendakom, mendekatkan kitab dengan pelita.”

Dua tahun selepas SR, ia mengikuti tetangganya yang merantau ke Desa Brubug, Kabupaten Serang. Di Desa Brubug itulah ia nyantri kepada K.H. Halimi pengasuh pesantren di desa setempat pada 1943. “Saya berjalan kaki sejauh 23-24 km dari Kota Serang untuk sampai ke sana.”

Di sini, ia terus memperdalam pelajaran nahwu shorofnya. “Syarat kalam ana papat, lafadz, murakkab, mufid, wadha',” kata H. Hasbullah menirukan Kiai Halimi. Ia mondok hampir setahun atas inisiatifnya sendiri. “Pulang mondok, orang tua juga nggak tanya apa-apa,” katanya. Orang tuanya tidak mau tahu-menahu aktivitas mondoknya.

Pada 1944, ia mendaftarkan diri sebagai prajurit Pembela Tanah Air (PETA) di Kecamatan Kebayoran. Bersama temannya, ia dibawa ke Jatinegara untuk mengikuti pengecekan fisik mulai dari pemeriksaan mata, nafas dan ujian tulis. Mereka kemudian dikirim ke Purwakarta untuk mengikuti latihan militer. “Kita dikasih seragam hijau bekas Belanda dan celana panjang. Tetapi kaos dalam berlengan pendek dari Jepang.”

Ia dididik dengan keras. Aktivis PETA yang hobi minum air hangat-panas ini tiap hari bangun subuh, lalu berlari keluar-masuk kampung tanpa makan. “Setelah kembali ke tangsi kita baru mandi atau mencuci. Di waktu istirahat inilah, kita mengambil kopi, teh atau nasi.”

Istirahat selesai, semua kembali ke lapangan latihan baris-berbaris hingga Zuhur. Sebelumnya, kembali masuk keluar kampung. “Kalau salah sedikit, prajurit dijatuhi sanksi berlari. Nyanyi mars lambat, berlari. Jepang kejam.” Di tengah kesibukan latihan bersama satu batalion di tangsi Purwakarta, ia tetap menghadap pelita untuk mendaras pelajar nahwu-shorofnya.

Ketika Sekutu menghantam Nagasaki dan Hiroshima, Jepang di Indonesia ditekan Sekutu untuk melucuti tentara PETA. Tidak lama setelah proklamasi, PETA dibubarkan. “Saya pulang hanya membawa susu dan beras yang sangat langka ketika itu.”

Beberapa bulan berikutnya, Belanda menduduki Jakarta dan kota besar lainnya. “Tentara PETA dihubungi lagi oleh komandan masing-masing. Kita mengisi tangsi Kebayoran.” Belanda terus memperluas kekuasaannya hingga selatan Jakarta yang masih pedesaan.

“Kamis dan Jumat, 11 dan 12 November 1945, Belanda ngamuk di Kebayoran. Mereka memberondong pelor sebanyak 4-8 truk. Alhamdulillah orang di pasar tidak ada yang jadi korban. Hanya teman saya mati karena lemparan granatnya berbalik menghantam dinding.”

Dalam kondisi tidak menentu itulah, ia tidak bisa melanjutkan pelajaran mengajinya. Ia terus berpindah tugas dari satu ke lain kota untuk mempertahankan front agar Belanda tidak masuk pedalaman. “Agresi Militer I dan II, orang-orang tidak sempat mengaji. Saya sendiri terus pindah-pindah sampe Cease Fire Order (perintah gencatan senjata) dan penyerahan kedaulatan pada 1949,” cerita H. Hasbullah.

Era kemerdekaan memungkinkannya kembali melanjutkan aktivitas belajar. Ia kemudian mengaji kepada Guru Li’ing alias KH. Solichin Muhasyim, kiai terkemuka di kampungnya sendiri. “Dibantu Guru Li’ing, saya baru mulai paham nahwu-shorof yang saya hafalkan selama ini.”

Menurutnya, suasana perang sangat merugikan. Semua aktivitas macet, termasuk pengajian. Mata-mata di kampung juga bertebaran, kata H. Hasbullah yang pernah ditangkap tanpa tuduhan jelas pada 1946. Dalam kondisi perang, tidak ada makanan, yang kerap terjadi ialah penjarahan. “Pokoknya serba sulit. Jangan sampai lagi terjadi.”

Di zaman merdeka ini, ia terus mengaji dari satu ke lain rumah, dari satu ke lain masjid dan musholla. Menggali ilmu dari satu ke lain guru. Orang yang berjasa mengajarinya mengaji antara lain Guru Hayat Pondok Pinang, Guru Li’ing, Guru Saidi Gandaria-Kebayoran, Guru Jauhari asal Banten, KH. Halimi Serang, dan belakangan, di era 1980-an, muallim K.H. Muhammad Syafi’i Hadzami.

Aktivitas mengajinya terus dilakukan sedapatnya. “Mengaji zaman itu susah. Susah paham. Susah biaya. Mengaji sudah dewasa. Semua kawan-kawan sudah pada berkeluarga,” kata H. Hasbullah yang mengaji sambil membesarkan 9 anaknya.

“Sewaktu kecil kami pernah bergantian dengan adik atau abang karena malu untuk meminjam beras kepada nyak-tua. Saking seringnya orang tua tidak punya beras,” kata salah seorang anaknya, Djamaluddin.

Status pegawai negeri H. Hasbullah di Kejaksaan ketika masih berkantor di Jalan Gajah Mada pada 1961, tidak menyelamatkannya dari kemiskinan. Berbeda dengan kondisi PNS sekarang yang mendapat pelbagai tunjangan dan gaji bulanan yang layak.

“Tidak bisa dihitung berapa kali nyak kami memasak segelas beras untuk dimakan 7 orang,” kata Dzulkifli, anak H. Hasbullah lainnya menambahkan. Bahkan sampai pensiun di tahun 1983, tidak ada barang mewah saat itu seperti mobil, motor, atau tanah hektaran masuk dalam daftar kepemilikannya. Dalam keadaan itu ia terus mengaji kepada sejumlah gurunya hingga suatu saat ia dipercaya masyarakat untuk melanjutkan estafet pengajaran agama di kampungnya.

Aktivitas mengajar itu ia tekuni sejak 1970an sampai kini. Ketika masih muda, ia bisa mengasuh taklim sampai 6-9 taklim dalam sepekan. Namun, kini ia hanya mengasuh pengajian umum tafsir, fikih dan tasawuf di masjidnya setiap minggu dan pengajian nahwu dan ushul fikih di kediamannya yang diikuti beberapa muridnya.

Ia dikenal keras dalam mendidik anak-istrinya, juga masyarakat. Ia khawatir kalau-kalau mereka melanggar agama. Ketika setengah baya dahulu, ia tidak segan mengejar pemuda yang menyandang gitar atau mengenakan celana di atas lutut.

“Di Kejaksaan banyak barang dan duit-gelap, lu jangan pernah bawa pulang begituan,” pesan H. Hasbullah kepada Dzulkifli yang meneruskan kepegawaiannya di Kejaksaan. Sesepuh yang punya perhatian penuh pada pengetahuan geografi ini sekarang mengabdi sebagai penasihat MI Al-Fauzain dan Masjid Dakwatul Islamiyah yang didirikan di atas tanah orang tuanya.

Meskipun sudah sangat lanjut, sisa-sisa pendidikan militernya hingga kini masih terasa. Suaranya lantang, tulang punggungnya selalu tegak ketika duduk maupun berdiri. Istrinya wafat setahun lalu, Maret 2014. Ia tidak berniat kawin lagi. Sisa hidupnya ia habiskan untuk zikir dan semaan al-Quran. Ia kerap keluar rumah sesekali melihat kondisi kampungnya yang semakin terasing diapit pembangunan pelbagai gedung. Sesekali ia menerima tamu untuk meminta doa atau sekadar pamit membuat hajatan.

H. Hasbullah masih konsisten menjaga hidup lurus yang dipahaminya. Ia sadar usianya tidak akan lagi panjang. Oleh sebab itu, ia menitipkan sejumlah uang yang dimilikinya kepada salah seorang anak untuk pengurusan jenazah dan pemakamannya kelak. “Saya ingin jasad saya diurus dengan biaya yang saya tahu jelas darimana asalnya.”

***

KH Hasbullah wafat pada Kamis, 29 Jumadil Akhir 1437-7 April 2016 di usia 88 tahun. Warga Pondok Pinang, Kebayoran Lama kehilangan guru agamanya. Usai sembahyang ashar mereka berduyun-duyun mengantarkan gurunya ke Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan. (Alhafiz Kurniawan)


*) Tulisan ini diambil dari buku Mendidik Tanpa Pamrih: Kisah Para Pejuang Pendidikan Islam Jilid 2, Dirjen Pendis Kemenag RI, Cetakan Pertama, Desember 2015.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG