IMG-LOGO
Nasional
ZIARAH

Beginilah Kodisi Makam Mbah Subchi “Kiai Bambu Runcing”

Senin 30 Mei 2016 8:0 WIB
Bagikan:
Beginilah Kodisi Makam Mbah Subchi “Kiai Bambu Runcing”
Temanggung, NU Online
Makam Kiai Subchi Parakan (wafat 1958), salah satu tokoh NU pejuang kemerdekaan, berada di kompleks pemakaman Islam Pakuncen, Kauman Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. Kuburan ulama berjuluk “Kiai Bambu Runcing” ini berbaur dengan pemakaman umum desa setempat. Letaknya hanya sekitar 300 meter dari arah pasar Parakan.

Meski berada di kawasan yang cukup strategis, yakni di pusatnya kota kecil Parakan, peziarah yang belum pernah ke area makam tersebut akan kesulitan menemukan di mana letak persisnya makam kiai yang saat revolusi kemerdekaan sering didatangi Jendral Sudirman ini. Pasalnya, tidak ada penanda khusus yang membedakan makam Kiai Subchi dari makam-makam warga lainya, sebagaimana lazimnya makam para tokoh yang memiliki penanda cungkup atau bangunan khusus lainnya. Satu-satunya penanda adalah identitas nama yang tertulis di batu nisannya.

Baca: KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman

Pada Jumat (27/5) nyaris pukul 17.00 WIB, area makam Pakuncen tampak sepi. Hanya satu dua orang sedang bersih-bersih di makam keluarganya, serta beberapa anak desa setempat sedang bermain. Berkat petunjuk warga itu pula NU Online bisa menemukan letak makam Kiai Subchi, setelah sebelumnya mencoba menelusuri sendiri posisi makam Kiai Subchi tapi tidak berhasil. Menurut penuturan warga yang mengantar kami, biasanya makam Kiai Subchi ini juga kerap didatangi para peziarah.

Tidak begitu jauh dari Kauman Parakan, kira-kira 500 meter, berdiri pondok pesantren "Kyai Parak Bambu Runcing" yang didirikan oleh KH Muhaiminan Gunardho. Petang menjelang maghrib suasana pondok ini sedang senyap karena beberapa waktu lalu telah melangsungkan haflah akhir tahun dan kini telah memasuki waktu liburan. Cuma beberapa santri yang masih tampak.

Hubungan antara pesantren ini dengan Kiai Subchi memang sangat erat. Tapi pendiri pesantren ini bukan Kiai Subkhi, melainkan KH Muhaiminan Gunardho,  putra KH Raden Sumomihardho. Nama terakhir ini adalah tokoh dan rekan Kiai Subchi pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan yang merupakan penggerak laskar pejuang dari berbagai elemen kelaskaran terutama pasukan Hizbullah. Pada masa kemerdekaan itu, bersama kiai Subkhi, Kiai Raden Sumomihardho juga kerap dimintai memberi doa dan asma' pada bambu runcing dari para pejuang yang datang dari berbagai daerah.

Sementara, kaitan pesantren Kyai Parak Bambu Runcing dengan Kiai Subchi dipertemukan dalam hubungan pernikahan. Istri KH Muhaiminan Gunardho merupakan putri dari Kiai Subchi. (M Haromain/Mahbib)

Bagikan:
Senin 30 Mei 2016 18:0 WIB
Lulusan Ma’had Aly Bergelar Sarjana Agama
Lulusan Ma’had Aly Bergelar Sarjana Agama
Jakarta, NU Online
Bidang Keilmuan Ma’had Aly yang bersifat spesifik (Takhasshus) dalam mengkaji keilmuan Islam membuat lulusannya diharapkan menjadi kader-kader ulama mumpuni dalam bidang kegamaan Islam. Oleh sebab itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama menetapkan bahwa lulusan Ma’had Aly bergelar Sarjana Agama (S.Ag).

“Berdasarkan pertimbangan tertentu, kita memutuskan secara bulat bahwa gelar yang diperoleh para lulusan Ma’had Aly adalah S.Ag atau Sarjana Agama,” ujar Kepala Sub Direktorat Pendidikan Diniyah, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI, H Ahmad Zayadi, Senin (30/5) dalam rapat peresmian Ma’had Aly di Jombang.

Zayadi menjelaskan bahwa Ma’had Aly yang merupakan perguruan tinggi yang berada di jalur Pendidikan Diniyah Formal ini sudah terbukti selama beberapa tahun telah menghasilkan para kader ulama yang menguasai berbagai litertaur kitab kuning. 

Namun, lanjutnya, baru kali ini lembaga pesantren tingkat tinggi ini mendapat pengakuan resmi oleh pemerintah. “Sehingga lulusan Ma’had Aly setara dengan Perguruan Tinggi Islam dan Umum,” jelas Zayadi.

Dia menegaskan bahwa Ma’had Aly tidak akan bertransformasi menjadi STAIN, IAIN, maupun UIN. Ia akan terus berkembang dan tumbuh menjadi perguruan tinggi khas pesantren dengan masing-masing spesifikasi keilmuannya masing-masing. 

“Karena kami, pemerintah telah memutuskan bahwa satu Ma’had Aly hanya boleh mengembangkan satu program studi, misal Ushul Fiqih, Hadits, dan lain-lain. Semuanya sudah tertuang dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 71 Tahun 2015,” terangnya.

Dari spesifikasi tersebut, Zayadi optimis bahwa Ma’had Aly bukan hanya menjadi lembaga tinggi pesantren yang mengkaji keilmuan khusus, tetapi ia juga akan menjadi pusat kajian keilmuan Islam di Indonesia. “Misal, jika ingin belajar dan memperdalam Ushul Fiqih, silakan ke Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Jawa Timur, dan seterusnya,” ungkap Zayadi. 

Tahun ini, Kementerian Agama akan meresmikan 13 Ma’had Aly sekaligus pemberian SK serta izin operasional. Peresmian atau peluncuran ke-13 Ma’had Aly ini akan dilakukan langsung Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. (Fathoni)

Senin 30 Mei 2016 16:9 WIB
Inilah 13 Ma'had Aly yang Diresmikan oleh Menteri Agama
Inilah 13 Ma'had Aly yang Diresmikan oleh Menteri Agama
Jombang, NU Online
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meresmikan 13 Ma’had Aly (Perguruan Tinggi Keagamaan berbasis pesantren). Peresmian yang dilakukan bersamaan dengan Wisuda ke-3 Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asyari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Senin (30/5) ini ditandai dengan pemberian izin pendirian sekaligus nomor statistiknya.

"Hari ini, kita secara resmi menerbitkan SK untuk 13 Ma'had Aly yang secara resmi diakui oleh negara," tegas Menag saat memberikan orasi ilmiah Wisuda Mahasantri ke 3 Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Tebuireng.

"Ini tentu sejarah tersendiri, setelah sekian lama keinginan ini berlangsung. Sebenarnya saya hanya di ujungnya saja. Yang jauh lebih berjasa tentu Menteri Agama terdahulu yang telah memperjuangkan ini sejak lama," tambahnya. Ibarat main bola, Menag mengilustrasikan dirinya hanya mengegolkan bola di depan gawang lawan setelah banyak yang menggiringnya sejak dari belakang (keeper).

Pemberian pengakuan terhadap Mahad Alu ini diawali dengan ditandatanganinya Peraturan Menteri Agama Nomor 71/2015 tentang Mahad Aly oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Menurut Menag, Mahad Aly adalah perguruan tinggi keagamaan Islam yang menyelenggarakan pendidikan akademik dalam bidang penguasaan ilmu agama Islam (tafaqquh fiddin) berbasis kitab kuning yang diselenggarakan oleh pondok pesantren. Kitab kuning yang dimaksud adalah kitab keislaman berbahasa Arab yang menjadi rujukan tradisi keilmuan Islam di pesantren. Adapun tujuan Mahad Aly adalah menciptakan lulusan yang ahli dalam bidang ilmu agama Islam (mutafaqqih fiddin), dan mengembangkan ilmu agama Islam berbasis kitab kuning.

“Mahad Aly adalah wujud pelembagaan sistemik tradisi intelektual pesantren tingkat tinggi yang keberadaannya melekat pada pendidikan pesantren. Secara kelembagaan, posisi Mahad Aly adalah jenjang Pendidikan Tinggi Keagamaan pada jalur Pendidikan Diniyah Formal,” tegas Menag.

Untuk membangun keunggulan dengan integritas akademik yang tinggi, Menag memastikan setiap Mahad Aly hanya diberikan izin penyelenggaraan untuk satu Program Studi. Lebih dari itu,  program studi dimaksud juga akan dikembangkan menjadi pusat kajian keilmuan ke-Islaman dan ke-pesantrenan secara sekaligus.

“Kementerian Agama memiliki komitmen kuat membangun pusat-pusat unggulan ini.  Dengan posisi ini, maka Mahad Aly akan tetap ditempatkan sebagai lembaga khusus (khushushul-khushush) yang ada pada pesantren, sebagai lembaga kaderisasi ulama yang mumpuni dan berintegritas,” tegasnya.

Adapun ke-13 Ma’had Aly yang telah mengantongi izin pendirian dan nomor statistik tersebut, yaitu:

1)  Ma’had Aly Saidusshiddiqiyyah, Pondok Pesantren As-Shiddiqiyah Kebon Jeruk (DKI Jakarta)dengan program takhasus (spesialisasi) “Sejarah dan Peradaban Islam” (Tarikh Islami wa Tsaqafatuhu);

2) Ma’had Aly Syekh Ibrahim Al Jambi, Pondok Pesantren Al As'ad Kota Jambi (Jambi), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);

3) Ma’had Aly Sumatera Thawalib Parabek, Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, Agam (Sumatera Barat), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);

4) Ma’had Aly MUDI Mesjid Raya, Pondok PesantrenMa'hadul 'Ulum Ad Diniyyah Al Islamiyah (MUDI) Mesjid Raya, Bireun (Aceh), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);

5) Ma’had Aly As'adiyah, Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang (Sulsel), dengan program takhasus “Tafsir dan Ilmu Tafsir” (Tafsir wa Ulumuhu);

6) Ma’had Aly Rasyidiyah Khalidiyah, Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai (Kalsel), dengan program takhasus “Aqidah dan Filsafat Islam” (Aqidah wa Falsafatuhu);

7) Ma’had Aly salafiyah Syafi’iyah, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Situbondo (Jatim), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);

8) Ma’had Aly Hasyim Al-Asy'ary, Pondok PesantrenTebuireng Jombang (Jatim), dengan program takhasus “Hadits dan Ilmu Hadits” (Hadits wa Ulumuhu);

9) Ma’had Aly At-Tarmasi, Pondok Pesantren Tremas (Jatim), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);

10) Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh, Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati (Jateng), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);

11) Ma’had Aly PP Iqna ath-Thalibin, Pondok Pesantren Al Anwar Sarang Rembang (Jateng),dengan program takhasus “Tasawwuf dan Tarekat” (Tashawwuf wa Thariqatuhu);

12) Ma’had Aly Al Hikamussalafiyah, Pondok Pesantren Madrasah Hikamussalafiyah (MHS)Cirebon (Jabar), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu); dan

13) Ma’had Aly Miftahul Huda, Pondok PesantrenManonjaya Ciamis (Jabar), dengan program takhasus “Aqidah dan FIlsafat Islam” (Aqidah wa Falsafatuhu).

(Red: Fathoni)

Senin 30 Mei 2016 15:31 WIB
31 Ormas Minta Presiden Tetapkan Harlah Pancasila 1 Juni
31 Ormas Minta Presiden Tetapkan Harlah Pancasila 1 Juni

Jakarta, NU Online
Sebanyak 31 organisasi yang menamakan diri Aliansi Ormas Sosial Keagamaan, Pemuda, dan Mahasiswa mendorong pemerintah menetapkan tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Pernyataan sikap ini mereka sampaikan dalam jumpa pers di gedung PBNU, Jakarta, Senin (30/4).

Sikap ini mereka dasarkan pada fakta-fakta sejarah. Dalam pandangan aliansi ini, Pancasila lahir dari pidato Soekarno, anggota resmi sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), sebagai jawaban atas pertanyaan Ketua Sidang BPUPKI Radjiman Wedyodiningrat waktu itu tentang apakah dasar Negara Indonesia jika merdeka kelak.

Selanjutnya Pancasila dibahas Panitia Sembilan yang beranggotakan Soekarno, Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, AA Maramis, Achmad Soebardjo, KH A Wahid Hasyim, Kh kahar Muzakir, H Agus Salim, dan Raden Abikusno Tjokrosoejoso yang menghasilkan rumusan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945.

“Kemudian melalui proses yang dialogis, akhirnya Pancasila  mencapai mencapai rumusan finalnya pada 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sejak saat itulah Pancasila resmi menjadi dasar Negara Indonesia Merdeka hingga saat ini,” kata Ramli Kamidin, Wakil Sekjen Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), mewakili ke-31 ormas.

Aliansi Ormas Sosial Keagamaan, Pemuda, dan Mahasiswa memandang serentetan fakta sejarah tersebut sebagai satu kesatuan proses sejarah lahirnya Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia merdeka oleh para pendiri bangsa Indonesia.

“Sejak 71 tahun kelahiran Pancasila tanggal 1 Juni 1945 dan menjelang peringatan 71 tahun kemerdekaan bangsa Negara Indonesia, kami meminta kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak H Joko Widodo menetapkan tanggal 1 Juni 1945 sebagai hari lahirnya Pancasila melalui sebuah Keputusan Presiden,” tambah Ramli.

Keputusan Presiden tersebut, katanya,  tentunya akan melengkapi Keputusan Presiden Nomor 18 tahun 2008 yang telah menetapkan tanggal 18 Agustus sebagai Hari Konstitusi.

Jumpa pers dihadiri perwakilan dari sejumlah ormas, antara lain PBNU, MPH PGI, Presidium KWI, DPP Walubi, DP Matakin, DPN Peradah, DPPA GMNI, Hikma Budi, Presidium GMNI, PB HMI, PB PMII, dan lain-lain.

Ketua PBNU H Saifullah Yusuf yang hadir dalam kesempatan itu mengatakan, Pancasila merupakan perekat bangsa Indonesia yang begitu majemuk dan menjadi ciri khas dari negara-negara di dunia lainnya. Sebab itu, memperingati hari lahir Pancasila merupakan sebuah keniscayaan. "Saya enggak bisa bayangkan waktu perdebatan perumusan dasar negara enggak ada jalan tengah berupa Pancasila," ujarnya.  (Mahbib)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG