IMG-LOGO
Pesantren

Kapasitas Terbatas, Pesantren Ini Terpaksa Tolak Ratusan Calon Santri


Jumat 3 Juni 2016 07:30 WIB
Bagikan:
Kapasitas Terbatas, Pesantren Ini Terpaksa Tolak Ratusan Calon Santri
Pakandangan, NU Online
Beberapa tahun belakangan ini, jumlah peminat yang ingin mondok di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kecamatan VI Lingkungan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat terus bertambah sehingga banyak calon santri yang ditolak karena keterbatasan kapasitas. Tahun 2015 lalu ada sekitar 150 orang calon santri tidak bisa tertampung. Sebagian mereka disebarkan ke cabang-cabang Nurul Yaqin yang ada di Kabupaten Padang Pariaman.

Tahun 2016 ini, gelombang pertama saja sudah mendaftar sebanyak 300 orang. Padahal yang akan diterima hanya 180 orang. Direncanakan, akan dibuka lagi pendaftaran gelombang kedua. “Padahal, dengan kondisi ruang belajar dan asrama yang ada sekarang, Nurul Yaqin tidak bisa menerima santri baru,” kata Idarussalam Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Yaqin.

Untuk itu, kata Idarussalam, melalui seorang donatur, pihaknya akan kebut pembangunan 8 lokal yang digunakan untuk menampung calon santri tersebut. Kini pondasi dan tiangnya sudah selesai. Diharapkan saat belajar santri baru dimulai, ruangan tersebut sudah bisa dimanfaatkan santri baru.

"Kita juga berharap donatur lain yang bisa membantu pembangunan ruangan belajar dan asrama santri. Sehingga dapat menampung santri yang lebih banyak. Saat ini jumlah santri sudah mencapai 800 orang," kata Idarussalam.

Idarussalam mengungkapkan hal itu pada Lustrum XI dan pengukuhan gelar tuanku/ustadzah, penyerahan ijazah Ma'had Ali, Aliyah, Tsanawiyah dan TPQ  Pesantren Nurul Yaqin, Kamis (2/6), di halaman Rusunawa Pondok Pesantren Nurul Yaqin.   

Ia juga mengatakan, Pondok Pesantren Nurul Yaqin tetap konsisten dan komit dengan sistem pembelajaran yang menggunakan kitab-kitab para ulama terdahulu. Salah satunya kitab tafsir Jalalain yang menjadi acuan pembelajaran. Dengan komitmen tersebut, Pesantren Nurul Yaqin akan tetap menjadi penyangga  Islam yang berpahamkan Ahlussunnah wal Jamaah.

Menurut kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Padangpariaman ini, sejak berdiri Pesantren Nurul Yaqin tahun 1960, sistem pembelajaran dan kitab-kitab yang diajarkan tidak pernah berubah. Hanya peningkatan sarana prasarana dan fasilitas belajar yang terus ditingkatkan agar santri semakin berkembang sesuai dengan tuntutan zaman.

"Kemasan pembelajaran yang dilakukan Nurul Yaqin tentu harus sesuai dengan apa yang digandrungi masyarakat. Di era teknologi informasi ini, tentu Nurul Yaqin perlu pula memanfaatkan teknologi informasi untuk menunjang pembelajarannya. Dengan konsisten pembelajaran tersebut, hingga kini Pesantren Nurul Yaqin terus menjadi incaran orang tua untuk menyerahkan anaknya mondok," kata Idarussalam.

Jadi Rujukan di Sumatera Barat

Yosef Chairul dari Kemenag Padang Pariaman menyebutkan, fungsi dan sistem pembelajaran pesantren ini memang harus tetap dipertahankan. Sebagaimana permintaan  Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bahwa pesantren tetap konsisten menjaga sistem pembelajaran yang sudah diajarkan sejak awal.

Yosef Chairul mengakui, Pesantren Nurul Yaqin sudah menjadi rujukan di Sumatera Barat. Banyak perlombaan yang melibatkan pesantren, maka hampir 50 persen pesertanya dari pesantren ini. Bahkan MTQ tingkat Provinsi Sumatera Barat,  meski juaranya dari luar Kabupaten Padang Pariaman, tapi yang juara tersebut berasal dari santri Pesantren Nurul Yaqin.

Lustrum dengan tema “Mengembangkan Potensi Tuanku untuk Membangun Masyarakat yang Berakhlak Mulia” itu mewisuda 155 santri dari tingkat Mah'ad Ali, Aliyah, Tsanawiyah dan TPQ. Sehari sebelumnya, dilaksanakan aqiqah serentak 30 santri atau penyembelihan 30 ekor kambing.  

Lustrum dihadiri Gubernur Sumbar diwakili Kabiro Binsos Jumaidi, Kakanwil Kementerian Agama Sumbar diwakil Kasi  Pontren Yosef Chairul, Wakil Bupati Padangpariaman Suhatri Bur, Pimpinan Pesantren Nurul Yaqin Syekh H. Ali Imran Hasan,  Kepala Kemenag Kabupaten Padangpariaman Masrican, alumni, pengurus, majelis guru, dan orangtua santri yang diwisuda. (Armaidi Tanjung/Mahbib)

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG