IMG-LOGO
Opini

Mengenal Tradisi Syiiran

Selasa 28 Juni 2016 8:0 WIB
Bagikan:
Mengenal Tradisi Syiiran
Oleh Mukhamad Khusni Mutoyyib
Al-Qur’an diturunkan di tengah masyarakat yang memiliki tradisi sastra yang sangat tinggi, oleh karena itu salah satu keunggulan dari Al-Quran adalah dapat mengungguli sastra yang telah berkembang di masyarakat. Di beberapa ayat, Allah menantang para penyair untuk membuat sepenggal ayat yang sama dengan Al-Qur’an, seperti dalam Surat Al-Baqarah (23): “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

Ayat tersebut merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan kebenaran adanya Al- Qur’an. Ia tidak dapat ditiru sekalipun mengerahkan para ahli sastra, bahasa maupun para penyair.  

Islam bukanlah sekumpulan doktrin, akan tetapi sebuah ajaran yang dihayati dan diamalkan oleh para pemeluknya. Sehingga agama ini menjadi realitas budaya sebagai bagian dan  hasil dari tindakan para pemeluknya. 

Salah satu dari realitas budaya adalah sastra yang dihasilkan di kehidupan masyarakat Muslim. Semisal kitab-kitab yang dikarang oleh para ulama berupa karya sastra dalam bentuk nadzam syiir.

Syiiran adalah tradisi sastra yang sederhana berupa tuturan lisan atau tembang nyanyian yang berisi dawuh ajaran. Syiiran tersebar di tengah masyarakat dalam bentuk lantunan pujian di masjid maupun mushola. Biasanya dilantunkan setelah adzan untuk menunggu jamaah atau imam. Syiiran juga dilantunkan pada saat acara pengajian. 

Syiiran telah menjadi tradisi umat Muslim di Indonesia sebagai pitutur untuk mengingatkan seseorang, baik tentang kematian (dalam syiir Roda Papat Rupa Manungsa), atau bacaan istighfar yang dielaborasi dengan nasihat-nasihat lokal.

Mushola Asy-Syukron di Garung, Wonosobo Jawa Tengah, misalnya. Hampir setiap waktu sholat para jamaah selalu melantunkan puji-pujian. Berikut ini merupakan salah satu  syiir pujian yang biasanya dilantunkan di Wonosobo dan sudah melekat di telingga warga.

Astaghfirullahal ‘adzim astaghfirullahal ‘adzim astaghfirullahal adzim 
innaallaha ghofurrohim ‘sesungguhnya Allah maha pengampun lagi Maha Penyayang’

Gusti Allah kula nyuwun ngapura (2x) ‘Ya Allah saya minta ampun’ 

Sekatahe dosa kula dosa ingkang ageng kelawan ingkang alit (Sebanyak-banyak dosa dari yang kecil sampai yang besar)

Mboten wonten ingkang saget ngapura (2x) (Tidak ada yang bisa memberi maaf/pengampunan)

Kang kagungan sifat Rohman kang ngratoni sekatahe para ratu (Yang mempunyai sifat pemurah dan merajai segala raja)

Hiya iku Allah asmane (2x) (Yaitu Allah)

Syair yang terdiri atas sembilan nadzam di atas merupakan syiir istighfar. Syiir ketertundukan seorang hamba atas permohonan ampunan kepada Allah SWT.

Selain syiir istighfar, terdapat syiir lain seperti syiir puasa Ramadhan yang beriskan ajaran puasa Ramadhan beserta kemuliannya. Syiir Aswaja, berisi ajaran-ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Syiir sholawat seperti sholawat Nariyah, Nuril Anwar, atau I’tiraf (pengakuan) dari syair Abu Nawas.

Mukhamad Khusni Mutoyyib
Aktivis Muda NU Wonosobo

Tags:
Bagikan:
Selasa 28 Juni 2016 15:5 WIB
Mengapa Al-Qur’an Sekadar Dihafal dan Sains di Dalamnya Diabaikan?
Mengapa Al-Qur’an Sekadar Dihafal dan Sains di Dalamnya Diabaikan?
Ilustrasi
Oleh Nasrulloh Afandi

Di tengah kencangnya kemajuan sains dan teknologi, sudah semestinya bulan Ramadhan menjadi momen strategis “start awal” pijakan untuk estafet menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber kajian ilmu dan pengetahuan modern, bukan hanya menjadikan Al-Qur’an sebatas pedoman di medan ibadah “tahunan” belaka.

Hal tersebut, dimaksudkan sebagai apresiasi atas meningkatnya fenomena religiusitas di ruang publik Muslimin secara drastis setiap Ramadhan tiba. Mendadak “ruh” Al-Qur’an kian bergelora di berbagai lini aktivitas hidup dan kehidupan harian tanpa mengenal ruang dan waktu, efek positifnya orang-orang yang jarang menyentuh Al-Qur’an pun di bulan ini mendadak rajin “beraktivitas” dengan Al-Qur’an.

Relevansi Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan

Ramadhan bulan diturunkannya totalitas Al-Qur’an dari Lauh Mahfudh ke Baitul Izzah, langit dunia, selanjutnya diturunkan selama 23 tahun kepada Nabi Muhammad secara bertahap melalui perantara malaikat Jibril. Dalam kehidupan Muslim modern belakang ini, ia pun kerap disebut “bulan Al-Qur’an”.

Hasil penelitian ilmuan terkemuka asal Perancis, Dr Maurice Bucaille, dalam bukunya: ”La Bible, le Coran et la Science (1976)”, yang membandingkan kitab-kitab suci antara Al-Qur’an, Injil, dan Taurat, berkesimpulan bahwa “Al-Qur’an-lah yang paling dekat dengan teori ilmu pengetahuan”. Hal itu ia kemukakan setelah ia meneliti mummi Firaun Ramses II.

Saya berpendapat, dokter bedah senior asal Perancis itu sejatinya hanya melacak kebenaran dari opini Imam Ibnu al-Arobi al-Ma’afiry (wafat 543 H)  dalam kitabnya ”Qonunut Ta’wil”, yang jauh-jauh sebelumnya telah berpendapat “Di dalam Al-Qur’an terdapat lebih dari empat ribu ilmu pengetahuan. Hanya saja, intelektualitas manusialah yang masih banyak belum mampu menjangkaunya”.

Di konteks ini, Imam Al-Ghazali berijtihad, dan dalam kitabnya Ihya Ulumid Din ia secara implisit menyatakan, di internal (Islam) banyak terdapat ilmu pengetahuan. Hal itu saya simpulkan dari paparan Hujjatul Islam itu yang menyatakan bahwa dari sekian banyak ilmu dan pengetahuan, hukum memepelajari ilmu terbagi menjadi dua macam. Pertama, fardu ‘ain hukumnya, yang wajib bagi setiap orang, yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bekal beribadah. Kedua, fardhu kifayah hukumnya, cukup diwakili oleh sebagian orang, seperi ilmu kedokteran, ekonomi, politik, dan lainnya, yang lebih cenderung bersifat pengetahuan umum (non-syariah).

Jika di dalam Al-Qur’an itu tidak terdapat banyak ilmu pengetahun, tentu sangat tidak mungkin Al-Ghazali membuat peta pembagian hukum memepelajari ilmu (dengan analisa syar’i) tersebut. Kian jelaslah bahwa di dalam Al-Qur’an betapa banyak ragam ilmu dan pengetahuan. Menurut saya, Imam Al-Ghazali mencetuskan pendapat demikian karena ia sendiri mampu menggalisa isi “bagian dalam” Al-Qur’an.

Data Sejarah

Sejarah pun mencatat, Ibnu Khaldun (732 H-808 H) yang hafal Al-Qur’an saat usia 7 tahun adalah intelektual terkemuka di dunia. Ia dinobatkan oleh dunia pendidikan sebagai “Bapak Ekonomi”, dengan pemikiran-pemikiran inovatif dan cemerlang tentang teori ekonomi jauh sejak tiga abad lalu sebelum gagasan-gagasan ekonomi yang diluncurkan oleh para ekonom terkemuka lainnya seperti Prof Dr Adam Smith (1723-1790) dan Prof Dr David Ricardo (1772-1823). Magum opus-nya buku spektakuler “al-Muqaddimah” yang lebih dikenal dengan nama “Muqaddimah Ibnu Khaldun” menjadi bacaan wajib para cendikiawan dan ilmuwan modern di seluruh belahan dunia.

Juga ada Ibnu Sina (980-1037) yang sejak kecil dia banyak mempelajari ilmu agama Islam dan berhasil menghafal Al-Qur'an saat berusia 10 tahun. Di kalangan orang-orang Barat  dikenal dengan panggilan Avicenna, sang filosuf, ilmuwan, dan juga dokter pada abad ke-10. Ia pun mendapat gelar kehormatan sebagai 'Bapak Kedokteran Modern' dan masih banyak lagi sebutan kebesaran baginya yang relevan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Magnum opus-nya dalam bahasa Arab adalah  “Al-Qanun fith –Thib”, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia sebagai rujukan wajib ilmu kedokteran sejak berabad-abad silam hingga kini. Ia menghasilkan 450 karya ilmiah, meski hanya sekitar 240 manuskrip karyanya terselamatkan. Karya-karyanya mencakup beragam disiplin keilmuan:  filsafat, astronomi, kimia, geografi, matematika, geologi, teologi, psikologi, fisika, logika hingga seni puisi, dan lainnya.

Ibnu Khaldun dan Ibnu Sina hanya dua contoh dari para ilmuwan dunia terkemuka yang sejak anak-anak keilmuannya dilandasi mempelajari sekaligus menghafal Al-Qur’an. Masih banyak sederetan ilmuwan terkemuka yang hafal dan faham Al-Qur’an sejak dini. Bagaimana dengan generasi penghafal Al-Qur’an abad sekarang?

Reorientasi Penghafal Al-Qur’an

Hal ini, juga sekaligus dimaksud sebagai respon positif terhadap fenomena dasawarsa ini Indonesia sedang “demam” tahfidzil qur’an (hafalan Al-Qur'an). Bermunculanlah di mana-mana lembaga-lembaga pendidikan hafalan Al-Qur’an dengan berbagai embel-embelnya. Akan tetapi dominan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman ibadah belaka. Kalau pun ada, sedikit sekali yang merambah kajian Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan modern.

Sejak masa kolonial pun di berbagai penjuru Indonesia terdapat ratusan atau bahkan ribuan pondok pesantren/lembaga tahfidz Al-Qur’an yang meluluskan ratusan penghafal Al-Qur’an setiap tahunnya. Namun, kenapa Facebook tidak ditemukan oleh para santri pesantren di Indonesia yang hafal Al-Qur’an? Kenapa smartphone tidak diciptakan oleh para santri pesantren di Indonesia yang hafal Al-Qur’an? Kenapa, koneksi wifi/internet tidak ditemuan oleh para santri putri yang cantik-cantik pesantren di Indonesia yang hafal Al-Qur’an? Jawabannya, karena selama ini Al-Qur’an telah dominan diposisikan sebagai pedoman beribadah belaka. Tanpa ada usaha (manusia) untuk kembali menggali esensi Al-Qur’an dalam konteks sains, teknologi, dan informasi modern.

Di konteks pemahaman syariah, jika dibandingkan dengan geliat intelektualitas Timur Tengah saja Indonesia tertinggal jauh. Di Timur Tengah atau negara-negara bagian Arab lainnya, hafalan Al-Qur’an adalah sebagai bekal intelektualitas – Minimal konteks memamahi pokok-pokok syariat-- pada topik tertentu, semisal menghafal ayat-ayat berkaitan dengan zakat, untuk menggali hukum-hukum zakat. Menghafal ayat-ayat haji untuk menggali hukum-hukum haji, dan seterusnya.

Kondisi tersebut berbeda jauh dari di Indonesia, pesantren-pesantren atau lembaga-lembaga tahfidzil Qur’an mayoritas orientasinya dominan menghafal kalimat belaka, dengan tanpa mengkaji ilmu-ilmu kandungan isi Al-Qur’an secara maksimal dan mendetail. Banyak ditemukan para penghafal Al-Qur’an sebatas hafal Al-Qur’an tapi keilmuannya kurang memadai standar, banyak yang kurang memahami fan ilmu fiqih, fan ilmu hadits dan fan ilmu syariah lain secara maksimal. Tepatnya di Indonesia banyak ditemukan para penghafal (ayat-ayat) Al-Qur’an namun kurang memadai disiplin keilmuannya dalam konteks syariah sekalipun.

Ramadhan jangan hanya dominan diposisikan sebagai event religiusitas (ibadah) atau hanya menjadikan Ramadhan event tahunan membaca “bagian luar” ayat-ayat Al-Qur’an belaka. Sudah semestinyalah harus kian proaktif menyerukan, dengan penuh keyakinan dan positif thinking bahwa dengan disertai metode kajian modern dan berkembang, harus maksimal menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber berbagai ilmu, pengetahuan dan teknologi modern yang sementara ini “terabaikan” keberadaanya bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu digali. Ramadhan “start awalnya” yang sangat strategis. Selamat mencoba.

Penulis adalah Mustasyar PCINU Maroko; wakil ketua Yayasan Pondok Pesantren asy-Syafi’iyyah Kedungwungu Krangkeng Indramayu Jawa Barat


Ahad 26 Juni 2016 12:0 WIB
Jangan Selewengkan Makna Lailatul Qadar
Jangan Selewengkan Makna Lailatul Qadar
Oleh Ubaidillah Achmad

Lailatul Qadar merupakan malam lebih baik dari seribu bulan, malam diturunkannya wahyu, malam terindah Nabi dan sahabat mencapai puncak spiritualitas atau malam membentuk sikap reflektif terhadap makna hakiki teks kewahyuan yang disucikan Allah. Dalam sebuah hadits dapat disarikan, bahwa Lailatul Qadar pada 10 hari terakhir atau 7 hari sisanya (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).

Malam mulia ini telah memunculkan beberapa perspektif yang masih perlu dikaji. Masih banyak yang menggambarkan malam ini penuh imajinasi yang keluar dari makna Lailatul Qadar. Seolah malam mulia ini dipaksakan sesuai dengan perspektif hal-hal yang terkait dengan dunia. Karenanya, mereka yang mendapatkannya akan beruntung bebas meminta, apakah berupa harta, tahta, dan sejuta imajinasi yang di luar prediksi manusia.

Pemaknaan imajinatif tentang Lailatul Qadar secara hedonistik dan pragmatis ini bertentangan dengan apa yang menjadi kekhawatiran Nabi Muhammad terhadap perkembangan pesat umat Islam di akhir zaman. Misalnya, banyak umat Islam yang justru pada lebih memilih mencintai dunia dan takut akan kematian. Bukankah kisah Nabi melihat keindahan malam Lailatul Qadar dalam keadaan bersujud meski basah kehujanan, artinya pencapaian kesempurnaan keseimbangan psikis merupakan puncak pilihan manusia yang tidak tergantikan oleh hal-hal yang bersifat duniawi.

Hadits Nabi yang diriwayatkan Abu Dasud ini, telah berbelok bersamaan ceramah keagamaan para "ustadz" yang membuat glamor pada acara tayangan TV. Hal yang sama, juga marak kegiatan keagamaan yang menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Tema sedekah pun juga mengarah pada kapitalisasi sedekah dan komersialisasi dakwah keagamaan. Fenomena hedonistik dan pragmatis ini telah semarak, baik pada saat bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan.

Oleh karena itu, banyak distorsi pemaknaan terhadap bulan suci Ramadhan. Misalnya, Ramadhan yang seharusnya meminimalkan konsumsi dan menghindari kebutuhan berlebihan memanfaatkan sumber daya alam, justru pada bulan ini seperti menjadi bulan bagi mereka para pengikut aliran konsumerisme, pragmatisme, dan hedonisme. Dalam kebutuhan sehari-hari, satu keluarga pada bulan Ramadhan bisa berkebutuhan tiga kali lipat dari kebutuhan hari biasa. Misalnya, kebutuhan satu orang dipenuhi dengan yang seharusnya bisa dua orang.

Aktivitas Ramadhan yang seharusnya sama seperti hari biasa, namun pada bulan Ramadhan banyak yang mengurangi jam pekerjaan dan menambah waktu tidur atau istirahat. Hal ini berbeda dengan semangat Ramadhan. Bulan Ramadhan lebih tepat disebut sebagai bulan riyadlah dan bulan perenungan tentang sebuah hakikat kehidupan. Hal ini harus dilalui dengan hidup sederhana, memenuhi makan dan minum yang tidak berlebihan yang harus disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan. Sehubungan dengan ibadah, pada bulan ini harus lebih ditingkatkan. Misalnya, bertahlil, bertasbih, bershalawat, beristighfar, dan selalu bertaqarrub kepada Allah.

Dalam bulan riyadlah ini, mereka yang dapat Lailatur Qadar, adalah mereka yang digambarkan dalam Surat al-Qadr, hari lebih baik dari seribu bulan, para malaikat dan malaikat Jibril turun dan dengan izin Allah, berdoa untuk keselamatan seseorang yang mendapatkan Lailatul Qadar. Siapakah orang yang beruntung memperoleh Lailatul Qadar? Mereka yang mencapai pengetahuan, kesadaran, pengertian, dan kesatuan hakiki bersama rahasia-rahasia Allah. Mereka ini sudah tidak terpisahkan lagi oleh perasaan dan hijab, antara dirinya dan Allah. Mereka ini sudah tidak bertanya lagi bagaimana dan di mana Allah Azza wa Jalla. Pencapaian pada puncak inilah yang merupakan kenikmatan hakiki.

Al-Qur'an pada malam Lailatul Qadar, adalah pengetahuan yang membenarkan kebenaran. Sedangkan, Lailatul Qadar, adalah puncak kesadaran reflektif manusia membangun ketuhanan dan kemanusiaan seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an.

Ubaidillah Achmad, penulis buku Islam Geger Kendeng

Sabtu 25 Juni 2016 12:30 WIB
Membumikan Makna Ber-Tadarus
Membumikan Makna Ber-Tadarus
Foto: ilustrasi
Oleh Wasid Mansyur
Salah satu ritual dalam bulan Ramadan yang diyakini sangat penting bagi umat Islam adalah tadarus Al-Qur’an. Tidak salah bila kemudian, di berbagai masjid dan musholla ditemukan mereka meramaikannya dengan membaca Al-Qur’an setelah sholat Tarawih, bahkan ada sebagian yang mengadakannya diwaktu yang berbeda. 

Respon positif atas tradisi tadarus Al-Qur’an menandakan bahwa umat Islam di Indonesia masih memiliki kesadaran religius yang cukup tinggi, khususnya dalam membaca Al-Qur’an. Tapi, lebih dari itu perlu perenungan kembali, sejauh mana efek ritual ini dalam kehidupan sosial dan kebangsaan kita sebab Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tapi perlu dipahami dan diamalkan kandungannya. 

Secara kebahasaan, kata Tadarus berarti saling belajar dari kata dasar Darasa (belajar). Secara praktik, tadarus Al-Qur’an dimaknai dengan ritual membaca Al-Qur’an yang dilakukan minimal dua orang, yakni satu di antara keduanya membaca dan yang lain menyimak. Maka, tidak bisa dikatakan tadarus bila hanya dilakukan sendirian, tanpa kehadiran yang lain.

Dari ini, ada dua makna penting dari tradisi tadarus untuk direnungkan agar kemudian bermakna dalam konteks sosial dan berbangsa. Pertama, dilihat dari si-pembaca. Pembaca Al-Qur’an dalam ritual tadarus harus jeli dan teliti agar bacaannya tidak salah, sekaligus memiliki kerendahan hati kepada orang lain (penyimak) bila kemudian ada proses pembenaran terhadap bacaan yang kurat tepat.

Jeli dan teliti serta didukung oleh kerendahan hati menjadi sangat penting dalam kehidupan yang lebih luas. Tapi, memang problem terkini dalam kehidupan beragama, khususnya, masih didominasi oleh sikap individu yang jeli dan teliti terhadap keyakinannya sendiri, tapi bersifat angkuh dan sombang dalam melihat keyakinan orang lain yang berbeda.  

Kedua, dilihat dari si-penyimak. Sebagaimana mafhum, ia bertugas mendengarkan dan mengamati bacaan sekaligus akan mengganti posisi pembaca pertama, bila kemudian berhenti. Karenanya, si-penyimak tidak boleh santai, bahkan harus siap siaga mengawal bacaan agar tetap sesuai dengan pakem-pakem yang ditentukan dalam membaca Al-Qur’an.

Dari sini, maka kesadaran pembaca dan penyimak itu penting, bahkan menentukan kualitas bacaan Al-Qur’an itu lebih bermakna. Secara sosiologis fenomena ini mengajarkan bahwa saling belajar antar sesama adalah keniscayaan hidup dalam sebuah bangsa, yakni belajar tentang bagaimana pentingnya menghormati dan menghargai posisinya masing-masing.    

Tradisi tadarus mengajarkan tentang pentingnya harmoni dalam semua lini kehidupan sebab sangat mustahil bangsa ini akan besar, bila masih ada sebagian orang baik individu maupun kelompok lebih suka menebarkan teror kepada orang lain, sebagaimana bacaan Al-Qur’an itu tidak memastikan tepat bila hubungan si-pembaca dan si-penyimak tidak ada sikap saling mengingatkan, terlebih bila tidak harmoni antar keduanya.

Tadarus sebagai kritik

Konkretnya dalam ranah sosial, bisa dipahami bahwa upaya penggagalan secara paksa oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam (baca; FPI) baru-baru ini terhadap Ibu Shinta Nuriyyah Abdurrahman Wahid yang mengadakan buka bersama lintas agama di Semarang menunjukkan bahwa mereka belum berhasil memaknai kemuliaan ritual bertadarus, lebih-lebih menangkap dan mempraktikkan momentum kemuliaan bulan Ramadhan dalam kehidupan sosial.

Ketidak-berhasilan menangkap dan mempraktikkan nilai-nilai hakiki dari Islam, khususnya dari ritual tadarus dan puasa Ramadhan, mendorong FPI terus terjebak pada formalitas beragama. Padahal, Islam mengajarkan bahwa untuk menjadi Muslim yang baik tidak cukup hanya mengikuti perintah Allah secara formal, tapi perlu adanya kesanggupan dirinya untuk tidak menyakiti orang lain, yakni mempraktikkan keluhuran budi pekerti (akhlak al-karimah).

Dalam konteks ini, Imam Al-Ghazali mengatakan dalam bukunya Ayyuha al-Walad (wahai seorang anak), bahwa keluhuran budi pekerti bisa dibuktikan dengan tidak mendorong orang lain secara paksa mengikuti anda.Tapi, lebih dari itu anda harus terdorong mengikuti kemauan mereka sepanjang tidak bertentangan dengan shari’at. Jadi, apa yang dilakukan oleh FPI sangat jauh dari prinsip luhur akhlak al-karimah sebab cenderung memaksa dan menebarkan teror kepada orang lain.  

Padahal apa yang dilakukan Ibu Shinta dengan bersahur dan berbuka bersama secara terbuka dengan masyarakat lintas agama bertujuan untuk mendidik publik akan pentingnya pertemuan antar iman. Dari sini diharapkan terajut secara terus menerus kerukunan antar beragama sebagaimana menjadi cita-cita mediang suaminya Gus Dur, termasuk dalam rangka merawat nilai ideologi Pancasila dan konstitusi berbangsa.

Akhirnya, semua pihak harus menangkap dan mempraktikkan makna tradisi bertadarus dalam konteks sosial dan berbangsa. Dari sini, diharapkan tercipta tatanan sosial penuh damai, tanpa teror. Dan aparat pemerintah harus hadir, tidak boleh absen dalam menjaga negara ini dari tindakan individu atau kelompok yang sengaja bertentangan dengan prinsip-prinsip Pancasila dan konstitusi berbangsa. Semoga.

Wasid Mansyur
Akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya, Pegiat Komunitas Baca Rakyat (KOBAR) Jawa Timur.


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG