IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

KBRI Sudan Sediakan Bus Antar-Jemput untuk Rayakan Idul Fitri

Jumat 8 Juli 2016 2:30 WIB
Bagikan:
KBRI Sudan Sediakan Bus Antar-Jemput untuk Rayakan Idul Fitri
ilustrasi, resepcaramasak.info

Jakarta, NU Online
KBRI Khartoum telah menyelenggarakan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1437 H dan halal bihalal yang diselenggarakan di Wisma Duta, dengan menyediakan bus-bus untuk antar-jemput Warga Negara Indonesia (WNI) yang berdomisli di Khartoum dan sekitarnya.

KBRI Khartoum, Kamis, menyebutkan kegiatan pada Rabu (6/7) tersebut bertujuan untuk mempererat silaturahim dan pendataan Warga Negara Indonesia di Sudan sekaligus merayakan kemenangan setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa.

Sekitar 600 WNI lintas profesi yang terdiri atas keluarga besar KBRI, personel TNI dan Polri pada misi perdamaian di Afrika, kalangan profesional, para mahasiswa dan Buruh Migran Indonesia (BMI/TKI) di Sudan menghadiri kegiatan itu.

KBRI Khartoum memfasilitasi tiga bus antar-jemput untuk kemudahan WNI yang ingin shalat Id berjamaah di halaman Wisma Duta. Shalat Ied dimulai tepat pukul 07.30 waktu setempat. Bertindak sebagai imam adalah Ust. Ribut Nur Huda, S.Hum, M.Ed yang merupakan pengurus cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI-NU) Sudan, khatib Ust. Syafrizal Sulaiman, S.Pdi, MA (mahasiswa doktoral dari Aceh).

Dalam siraman rohaninya dengan judul Implementasi Nilai Ramadhan Dalam Kehidupan Berbangsa, khatib mengajak seluruh jamaah untuk memaknai semangat Idul Fitri dengan menghayati makna dan tujuan pelaksanaan ibadah puasa dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan saling memperkuat persaudaraan dan mengasihi sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari untuk perbaikan bangsa Indonesia.

Duta Besar untuk Sudan dan Eritrea Burhanuddin Badruzzaman dalam sambutannya mengucapkan selamat Idul Fitri kepada seluruh WNI di Sudan dan mengharapkan WNI dapat memanfaatkan suasana Lebaran untuk saling memaafkan dan bersilaturahmi guna mengeratkan tali persaudaraan di perantauan serta mengajak seluruh WNI untuk dapat menjaga keharmonisan dan kerukunan sesama WNI di Sudan.

Dubes RI menyampaikan kegembiraannya karena banyaknya media massa di Sudan memberitakan tentang nuansa Ramadhan di Indonesia. Ia juga memberi apresiasi atas program/kegiatan semarak Ramadhan yang diadakan oleh komponen WNI di Sudan, baik organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (PCI-NU), Parpol (PIP-PKS) serta organsisasi Persatuan Pelajar Indonesia (PPI Sudan), mahasiswa pencinta Al-Quran serta wadah kedaerahan.

Secara khusus Dubes RI menyampaikan kebanggaannya kepada mahasiswa yang selama Ramadhan telah mengharumkan nama Indonesia, baik sebagai imam shalat di sejumlah masjid di Khartoum maupun melalui program "on air" pada sejumlah Radio di Sudan. Dubes RI juga memuji PPI Sudan dalam solidaritas membantu mahasiswa Indonesia yang sedang sakit di Sudan.

Dubes RI juga menyampaikan keprihatinan atas dinamika kawasan kekiniaan dengan maraknya aksi bom bunuh diri di sejumlah tempat akibat adanya perbedaan pandangan, mahzab dan aliran.

Ia mengajak seluruh WNI, khususnya mahasiswa Indonesia di Sudan untuk sedapat mungkin selalu melakukan evaluasi atas perkembangan Islam, menghindari terjebak dalam provokasi pemberitaan negatif media massa agar tidak terjerumus ke kelompok terorisme.

Dubes Burhanuddin yang pernah bertugas di Suriah, Iran, Uni Emirat Arab, dan Mesir, menilai pelaksanaan shalat Idul Fitri dan kegiatan Open House dengan sajian menu Nusantara telah mengobati kerinduan tak tertahankan sebagian besar WNI di Sudan akan kampung halaman. Hal ini telihat suasana haru sejumlah WNI yang merasakan nuansa kebersamaan di perantauan.

Seperti diungkapan seorang mahasiswa Indonesia asal Palembang di Sudan, Tio Kurniawan, yang telah enam tahun menjalankan ibadah puasa dan Lebaran di negara dengan suhu terpanas di Timur Tengah itu.

"Rasa rindu ingin berkumpul dengan keluarga dan merasakan betapa hangatnya dekapan Ibu di hari yang fitri telah membludak di hati, namun apa daya, saya harus banyak bersabar. Menjalani ibadah puasa dan menikmati kebersamaan di Wisma Duta sangat berkesan bagi kami dalam perjuangan menimba ilmu di Sudan," ungkap Tio.

Saat ini di Sudan terdapat sekitar 2.000 WNI yang terdiri atas 42 orang Keluarga Besar KBRI, seekitar 1.000 personel TNI dan Polri pada misi UNAMID, 41 pekerja profesional, 650 mahasiswa dan sekitar 300 TKI. (Antara/Mukafi Niam)

Tags:
Bagikan:
Jumat 8 Juli 2016 18:1 WIB
Model Open House KH Muhyiddin Abdusshomad
Model Open House KH Muhyiddin Abdusshomad
Jember, NU Online
Jika tokoh masyarakat menggelar open house (dalam rangka lebaran), biasanya waktunya dibatasi  sekian hari. Tapi ini tidak berlaku bagi Rais Syuriyah PCNU Jember, KH. Muhyiddin Abdusshomad. Penulis beberapa buku Aswaja ini, justru tak pernah membatasi dalam hitungan hari bagi siapapun yang mau berkunjung ke rumahnya. 

"Pintu rumah kiai selalu terbuka untuk siapapun yang mau datang, kapanpun itu," tukas Hollan Umar, santri senior Kiai Muhyiddin, kepada NU Online di Jember, Jumat (8/7).

Tidak hanya waktu lebaran, sepanjang tahun pintu rumah Kiai Muhyiddin senantiasa terbuka untuk masyarakat. Keperluan tamu pun beragam, mulai dari sekadar silaturrahmi, mohon nasehat, hingga soal politik. Latar belakang  tamunnya juga beragam. Mulai dari wali santri, pengurus NU, rektor  hingga bupati. Tapi diakui Hollan, di musim lebaran, yang datang bersialurahmi memang banyak dari kalangan tokoh NU. "Selama kiai masih sehat, siapapun tamunya pasti dilayani," lanjut Hollan.

Dalam kunjungan NU Online ke kediaman Kiai Muhyiddin, tampak beberapa tamu penting datang bersilaturrahmi, di antaranya Wakil Ketua DPRD Jember, (Ayub Junaidi), seorang Dosen Universitas Jember, bahkan seorang anggota fraksi Gerindra DPRD Purbalingga, Jawa Tengah. Ruang tamu yang disediakan cukup sederhana. Ruang berukuran 3,5x4 meter persegi itu hanya disediakan tempat duduk biasa, dengan mejanya. Tidak mewah. Semua tamu dari kalangan apapun, tempatnya sama di ruang tersebut. Tidak ada ruang  khusus bagi  tamu penting, misalnya. Di pandangan Kiai Muhyiddin semua tamu penting.

Kesederhanaan memang tampak dalam kehidupan santri Kiai Umar Sumberwringin itu. Dalam melayani tamu juga apa adanya. Bahkan kalau tidak ada santri, dirinya terkadang membawa sendiri minuman dan kue dari dalam untuk dipersembahkan kepada tamunya.

Kesederhanaan Kiai Muhyiddin juga bisa dilihat dari aktivitas  perjalanannya untuk memenuhi undangan. Jika mendapat undangan di luar kota, misalnya di Jakarta, Bogor dan sebagainya, Kiai Muhyiddin tak pernah mau naik pesawat. Dia lebih memilih naik kereta kelas bisnis. Ketika itu Kiai Muhyiddin hendak ke Jakarta untuk memenuhi undangan NGO, beliau naik kereta Gumarang. Di dalam kereta juga berdesak-desakan dengan pedagang dan penumpang umum. Kalau  kantuk datang, dia tidur sekenanya di kursi kereta.

Kiai Muhyiddin memang bersahaja, kendatipun peluang hidup 'lebih' juga sangat besar. Apalagi posisinya, kerap kali menjadi referensi politik para pejabat publik, baik di daerah, regional maupun pusat. Sekian kali beliau ditawari umroh, selalu ditolaknya dengan halus. Beliau hanya haji satu kali selama hidup.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, aktivitas Kiai Muhyiddin di luar pesantren sudah dikurangi. Untuk undangan acara-acara Aswaja, sering didelegasikan kepada ustadz Idrus Ramli dan beberapa pengurus LBM dan Aswaja Center NU Jember. Sedangkan untuk undangan pengajian, juga dikurangi, lebih-lebih di luar kota. Beliau sekarang fokus mengurus pesanten Nurul Islam (Nuris) Antirogo, Jember dibantu putranya, Ra Robith Qashidi. Alumni Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir inilah yang akan meneruskan kiprah  Kiai Muhyiddin ke depan. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Jumat 8 Juli 2016 13:27 WIB
Kue Tradisional Lebaran yang Makin Langka di Temanggung
Kue Tradisional Lebaran yang Makin Langka di Temanggung
Temanggung, NU Online
Seperti halnya banyak aspek lain yang bersifat tradisional kian lama makin hilang, begitu pula soal makanan tradisional sebagai salah satu kekayaan tradisi bangsa juga makin langka. Di antara makanan tradisional yang kini kian langka tersebut adalah kue Cucur. Kue yang bentuknya bulat mirip piringan cakram dan berwarna cokelat agak gosong di bagian tepinya ini terbuat dari bahan utama tepung terigu atau tepung beras, gula merah atau gula jawa.

Meski tidak terlalu sulit dalam pembuatan kue cucur ini, namun membutuhkan proses dan ketelatenan. Misalnya selain masing-masing bahan-bahanya setelah dicampur harus diuleni atau diaduk berulangkali, sebelum tahap penggorengan memakai wajan harus pula diendapkan dahulu sampai beberapa jam.  

Barangkali kecenderungan orang sekarang yang lebih memilih hal-hal yang praktis dan instan menyebabkan makin langkanya jenis kue tradisional semacam Cucur dan sejenisnya itu. Berdasarkan pengamatan kami, kue Cucur ini sulit didapatkan dengan cara pembelian serta sulit pula ditemukan dijual di pasaran mulai supermarket, minimarket sampai kios-kios makanan dan warung kecil.   

Kendati demikian, di beberapa daerah tertentu di Jawa masih ada warga yang tetap menjaga kelestarian kue tradisional Cucur ini terutama sebagai salah satu sajian khas  saat hari raya lebaran.

Misalnya Di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah, setidaknya di dua kecamatan yaitu Kecamatan Tretep dan Wonoboyo. Di dua kecamatan tersebut masih bertahan tiap kali lebaran menyajikan makanan khas berupa kue Cucur ini. Para ibu rumah tangga di dua daerah kecamatan tersebut tidak merasa cukup bila sajian atau hidangan makanan hari raya semuanya dari hasil membeli di pasar atau memesan di suatu ketring, sehingga mereka merasa perlu ada di antara hidangan kue lebaran itu merupakan produk buatannya sendiri walau untuk itu cukup memakan waktu dan tenaga. Maka kue Cucur salah satu produk kue bikinan sendiri itu.  

Umumnya para ibu rumah tangga itu menjelang lebaran akan membuat kue Cucur dalam jumlah lumayan banyak. Di samping dimaksudkan sebagai hidangan hari lebaran, kue Cucur ini khususnya di desa-desa pegunungan Kecamatan Tretep akan dibagikan ke kerabat, tetangga dan kenalannya walau berdomisili di luar desa sebagai simbol mempererat hubungan yang baik.  

Di antara kelebihan kue cucur ini ialah walaupun tidak dikemas atau dibungkus dengan peranti apa pun namun dapat tahan lama tidak basi hingga beberapa bulan. Hanya perlu dipanaskan kembali untuk tetap menjaga agar kue ini tetap tahan meski sudah cukup lama pembuatannya. (M. Haromain/Fathoni)   

Kamis 7 Juli 2016 23:30 WIB
Gubernur Maluku Terharu, Non-Muslim Bantu Rayakan Idul Fitri
Gubernur Maluku Terharu, Non-Muslim Bantu Rayakan Idul Fitri
ilustrasi, beritamalukuonline.com

Ambon, NU Online
Gubernur Maluku, Said Assagaf, terharu menyaksikan warganya melayani saudaranya sesama warga Maluku yang berbeda agama. Bentuknya sederhana saja, yaitu pengojek sepeda motor beragama Kristen mengantarkan umat Islam setempat pada perayaan Idul Fitri 1437 Hijriah kali ini.

Walau "cuma" dalam bentuk antaran ojek, tapi bagi Assagaf, hal itu sangat bermakna. Bahwa kesadaran saling mengasihi dan menjaga hubungan baik di antara umat berbeda agama di provinsi kepulauan itu makin mengental.

"Saya terharu karena masyarakat semakin tinggi kesadarannya mengenai hubungan baik antarumat beragama sebagai warisan leluhur yang harus diteladani," katanya, ketika bersilaturahim bersama masyarakat, di Kantor Gubernur Maluku, di Ambon, Rabu.

Jalinan keharmonisan antarumat beragama itu karena kesadaran saling melengkapi dan menghargai, sehingga hal itu patut dibanggakan.

"Bayangkan tukang ojek asal pangkalan Kudamati, Kecamatan Nusaniwe melayani penumpang di kawasan Kebun Cengkih, Kecamatan Sirimau. Sehingga tercermin jalinan keharmonisan antarumar beragama karena semua merasa orang basudara (saudara)," ujar dia.

Keharmonisan jalinan kebersamaan sesama tukang ojek ini pun telah terlaksana saat umat Kristiani setempat merayakan Natal, sementara pengojek beragama Islam mengantarkan mereka.

"Saya bangga memiliki warga yang mendukung program Pemprov Maluku menjadikan daerah ini sebagai laboratorium kerukunan antarumat beragama, baik skala nasional maupun internasional," kata Assagaf.

Apalagi, sedang dicari lokasi untuk merealisasikan program membangun permukiman multikultur yang didukung Presiden Joko Widodo.

"Jadi permukiman multikultur akan dihuni suku dari Aceh hingga Papua dengan warganya memiliki lima agama yang diakui pemerintah," ujarnya.

Gubernur juga memuji pengamanan malam takbiran oleh Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku dan biasanya saat malam menjelang perayaan Natal para remaja masjid yang bertugas.

"Sungguh Maluku memiliki budaya yang bernilai sehingga masing-masing warga perlu menyadari untuk melestarikannya," kata dia.

Salah satu pengojek asal Kudamati, Joseph, mengemukakan, "Saya saat mengantar seorang ibu hingga Batumerah juga dipersilakan masuk ke rumah, disajikan minuman, kue bahkan diajak makan bersama." (Antara/Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG