IMG-LOGO
Nasional
SOWAN KIAI (II)

Tak Pernah Tahu Rasanya Kenyang Makan

Jumat 8 Juli 2016 6:1 WIB
Bagikan:
Tak Pernah Tahu Rasanya Kenyang Makan

Selepas maghrib pertengahan Februari tahu ini, saya bersama seorang teman sowan kepada kiai besar negeri ini. Ia pernah menjadi Ketua Umum Majelis Ulama (MUI) Pusat dan memimpin ormas terbesar dunia, yaitu menjadi Pejabat Rais ‘Aam PBNU zaman Tanfidziyah KH Abdurrahman Wahid. Dialah KH Ali Yafie.  

Maghrib dengan sisa-sisa hujan waktu itu. Bintaro, Jakarta Selatan, basah. Jalanan lengang karena hari itu libur. Kami sampai ke kediaman kiai kelahiran Sulawesi Selatan yang telah berusia 90 tahun tersebut tak lebih 20 menit selepas azan.

Kami berjamaah shalat maghrib dengan imam salah seorang putranya, Helmi Ali. Tak lama kemudian Kiai Ali Yafie diperiksa tekanan darah oleh keluarganya. Itu hal rutin yang dilakukan kepadanya tiap menjelang malam. Tak ada penyakit serius yang mendera masa tuanya. Tidak ada. Ia tak banyak beraktivitas lagi karena memang telah tua.   

Itulah salah satu yang menjadi pertanyaan kami ketika mengorol dengan kiai berperawakan kurus tersebut.

Helmi Ali kemudian memapah Kiai Ali Yafie ke ruangan tengah. Ia berbaju batik panjang, bercelana hitam, bersandal, dan tentu saja berkopiah hitam. Duduk dia di sebuah kursi, di depan sebuah lemari yang berderet buku-buku.

Setelah bersalaman dengannya, teman saya langsung bertanya, bisanya istirahat tiap pukul berapa? Kiai Ali menjawab, rata-rata tidur pukul 11 malam. Suaranya masih terdengar jelas.

Teman saya menyusul dengan pertanyaan lain. Apa resepnya menjaga kesehatannya. Ia menjawab hiduplah dengan teratur, makan dan istirahat yang teratur. Teratur. Dan tak pernah kenyang makan dan minum.

Menurut pengakuannya, ia tak pernah tahu rasanya kenyang makan dan minum sampai setua ini. Tak pernah. “Makan teratur tidur teratur. Kita dididik oleh ayah tidak boleh kenyang,” katanya.

Sementara untuk menjaga ingatan, ia adalah orang yang tak pernah berhenti membaca kitab kuning dan buku. Buku apa saja. Mulai dari fikih, sastra, politik, sosial, sampai cerita silat. Panjang umur, kiai. Semoga sehat selalu. Dan tentu saja Al-Qur’an.

“Bagi saya membaca buku adalah kewajiban pertama karena ayat pertama itu iqro, bacalah. Sebelum orang disuruh sembahyang, disuruh membaca dulu. Buat saya itu, kewajiban mutlak. Jadi Saya tidak pernah tidak membaca dalam satu hari,” jelasnya.

Suatu saat saya akan menceritakan bagaimana Kiai Ali Yafie dengan buku. Bagaimana pula hubungannya dengan kiai yang dianggap ayahnya sendiri, KH Bisri Sansoeri, Rais ‘Aam PBNU pada masa Orde Baru. Ia merasa dikader dalam fikih oleh kiai yang salah seorang pendiri NU tersebut. (Abdullah Alawi)


Bagikan:
Jumat 8 Juli 2016 13:8 WIB
Husni Kamil Malik, Capek Berpolitik, Ingin Miliki Warung Bakso
Husni Kamil Malik, Capek Berpolitik, Ingin Miliki Warung Bakso
ilustrasi, kpu.kotabandarlampung.go.id
Jakarta, NU Online
"Saya ingin punya warung bakso, istri saya kan jago masak dan bakso bikinannya enak sekali. Saya sudah capek sama politik."

Dari ribuan kalimat wawancara dengan Husni Kamil Manik, selama meliput di lingkungan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sejak empat tahun belakangan ini, kalimat itu tiba-tiba terlintas di benak penulis sesaat setelah mendengar kabar duka kepergiannya untuk selamanya. Demikian catatan obituari dari seorang wartawan yang bertugas di kantor KPU, Fransiska Ninditya, seperti dikutip dari laman antaranews.com

Ya, sejak masa persiapan dan pelaksanaan kegiatan pemilihan umum (pemilu), baik itu pemilu anggota legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden, Husni dan enam komisioner KPU lainnya memang dekat dengan para pewarta.

Semua jenis pertanyaan yang dilontarkan para pekerja media selalu dijawabnya dengan sabar dan tenang. Bahkan, jika di antara kami masih belum puas dengan penjelasannya, dengan murah hati Husni mempersilakan para pewarta untuk menemuinya ke ruang kerjanya. 

Dengan telaten, Husni akan menjawab semua pertanyaan wartawan dan bahkan tidak segan menjelaskan mengenai tren politik yang terjadi di Indonesia melalui proses pemilihan umum.

Sepak terjangnya di dunia kepemiluan memang tidak dapat dipungkiri lagi. Sejak tercatat sebagai mahasiswa program Sarjana Sosial Ekonomi di Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Husni muda sudah aktif dalam berbagai kegiatan politik di kampus.

Setelah menyelesaikan program sarjananya, Husni pun juga sering terlibat dalam kegiatan pemantauan pelaksanaan pemilihan umum. Pemilu pertama yang dia amati adalah pada tahun 1999, dimana pada saat itu dia tergabung dalam Forum Rektor Seluruh Indonesia.

Karir kepemiluannya tercatat sebagai Anggota Pembina Aliansi Pemantau Pemilu Independen (APPI) Sumatera Barat pada 1999; Koordinator Divisi Sosialisasi, Pengembangan, Pendidikan dan Penyebaran Informasi KPU Sumatera Barat pada 2003 - 2008; Ketua Pokja pada Pemilihan Gubernur Sumatera Barat dan Pilpres di wilayah Sumatera Barat, dan masih banyak karir politik kepemiluan lainnya.

Dia juga sering membuat karya tulis yang dimuat di harian nasional dengan judul Perpustakaan Pemilu, Politisasi Perempuan dan Suara Terbanyak, Caleg Terpidana, Demam Democracy 2.0 dan Sosialisasi Pemilu 2009, Penyuluh Pemilu, Saatnya Pemilih Mencentang, Transparansi Dana Kampanye, Politik Anggaran dan Anggaran Politik, Pemilu Kepala Daerah Serentak 2010 serta Liarnya Isu Partisipasi Pemilih. 

Pengalamannya dalam kegiatan kepemiluan itu membawa Husni terpilih sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Sumatera Barat selama dua periode, yakni pada 2003 - 2008 dan 2008 - 2013.

KPU telah menjadi bagian dari sejarah kehidupan pria kelahiran Medan, 18 Juli 1975 itu. Pada saat dia menjadi staf di Kantor KPU Kota Padang, Husni bertemu dengan cinta pertama dan terakhirnya yang kini menjadi ibu dari ketiga anaknya. Dia adalah Endang Mulyani, perempuan kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah.

Asal daerah istrinya itu pula yang membuat Husni bercita-cita untuk menyudahi perannya di kepemiluan dan beralih menjadi wiraswasta dengan membuka warung bakso.

Belum sempat menyelesaikan jabatan periode keduanya di KPU Provinsi Sumatera Barat, Husni harus ke Jakarta untuk mengembang amanah sebagai Ketua KPU RI 2012 - 2017. Husni pun tercatat sebagai Ketua KPU RI termuda di Indonesia di usianya yang ke-37 pada saat dilantik.

Semasa jabatannya di KPU Pusat, Husni merupakan sosok pemimpin yang begitu tenang, apalagi di tengah hiruk pikuk Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada 2014 lalu.

Bahkan, selama proses rekapitulasi perolehan suara Pemilu Legislatif dan Pilpres yang berlangsung alot sekali pun dia tetap tenang.

Juga ketika muncul isu terkait tuduhan bahwa dia adalah saudara ipar Wakil Presiden Jusuf Kalla, Husni tenang-tenang saja karena memang tidak ada kaitannya antara jabatannya dengan hasil Pilpres pada saat itu.

Kepada para wartawan, Husni tidak jarang dicecar pertanyaan-pertanyaan yang mendiskreditkan dirinya. Namun dia tetap berusaha menjawab pertanyaan tersebut dengan santai dan tidak pernah tersulut emosinya.

Kini, sosok tenang dan berwibawa itu sudah tiada. Husni Kamil Manik meninggal dunia Kamis malam (7/7) pukul 21.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) karena sakit.

Beberapa tahun terakhir, Husni mengaku terkena diabetes, sehingga itu membuat dia harus menjalani pola makan diet dan rajin berolahraga supaya gula darahnya terjaga.

Namun penyakit yang dideritanya itu tidak banyak diketahui oleh orang di sekitarnya. Di hadapan kerabat dan sahabat, dia tidak pernah menunjukkan rasa sakitnya.

Beberapa saat sebelum meninggal dunia, Husni menyempatkan diri menghadiri acara buka puasa bersama Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dan Keluarga Besar Masyarakat Sumatera Barat di Istana Wakil Presiden Jakarta Pusat.

Dalam kesempatan itu, Husni masih tampak bugar dan bercengkerama dengan sahabat-sahabatnya.

Namun, kehendak Tuhan berkata lain. Rabu malam (6/7), usai merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga, Husni mengeluhkan kondisi tubuhnya yang melemah sehingga harus dibawa ke Rumah Sakit Siaga Raya di dekat kediaman dinasnya di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan.

Menurut diagnosis dokter rumah sakit, Husni menderita infeksi abses akibat virus dan menjalar ke organ tubuhnya yang lain.

Pihak RS Siaga Raya kemudian merujuknya ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) dengan peralatan dan tenaga medis yang lebih mutakhir. Sebelum berpindah ke RSPP pun Husni sempat pulang ke rumah untuk bertemu dengan anak-anaknya.

Namun, kondisi tubuh Husni semakin menurun meskipun telah dirawat di Unit Rawat Intensif RSPP, hingga akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 21.10 WIB.

Pada saat menjadi komisioner KPU Provinsi Sumbar periode kedua, Husni tidak menyelesaikan jabatannya karena dia terpilih sebagai komisioner KPU RI periode 2012 - 2017.

Kini, Husni pun belum sempat menuntaskan amanahnya sebagai Ketua KPU RI karena Tuhan lebih menyayanginya dengan mengangkat semua penyakit yang dideritanya.
 
Di lingkungan NU, ia pernah menjadi sekretaris PWNU Sumatra Barat periode 2010-2015. Karena itu, kepergiannya juga menimbulkan duka bagi warga NU. PBNU mengeluarkan instruksi kepada seluruh wilayah dan cabang untuk mendoakan almarhum.
 
Selamat jalan, Pak Husni. Red Mukafi Niam
Kamis 7 Juli 2016 18:8 WIB
SOWAN KIAI (I)
Gus Mus: Wayang, Keindahan yang Tak Menabrak Fikih
Gus Mus: Wayang, Keindahan yang Tak Menabrak Fikih
Ilustrasi: kwikku.com

Dakwah itu harus sekreatif Wali Songo. Ketika di Jawa gandrung dengan kesenian, Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, menciptakan suatu yang karya monumental, yaitu wayang.

Menurut KH Mustofa Bisri, wayang adalah suatu karya kesenian yang diupayakan bahwa keindahan itu tidak menabrak rambu-rambu fikih. Tentu ada perbedaan pendapat di antara para wali. Tapi mereka berkoordinasi dengan baik sekali.  

Gus Mus menyebut, ada hadits yang dipakai ulama-ulama keras yang berbunyi, “Siapa yang menggambar manusia, nanti akan disuruh memberi nyawa kepada gambarnya itu.”

Nah, wayang ini tidak bisa disebut manusia, sementara disebut gambar binatang juga tidak bisa. “Tapi orang yang melihat menganggap itu manusia atau binatang. Itu hebatnya,” kata Gus Mus ketika disowani tim Ekspedisi Islam Nusantara pada April lalu.  

Ia menjelaskan, tidak ada manusia yang tangannya melebihi dengkul seperti tangannya wayang. Tak ada juga manusia yang tubuhnya gepeng seperti wayang. “Tapi orang yang menonton merasa itu manusia. Itu luar biasa. Itu satu keindahan yang luar biasa,” jelasnya.

Wayang tersebut dipakai Sunan Kalijaga untuk berdakwah. Konon, kata Gus Mus, Sunan Kalijaga sendiri yang mendalang, kemudian orang datang. Nilai-nilai ajaran itu dikemas sedemikian rupa dalam cerita dari Hindu dengan latar Mahabharata dan Ramayana.

Meski demikia, dalam wayang ceritanya sudah penuh dengan muatan-muatan ajaran Islam, tentang keikhlasan, tentang kemanusiaan, tentang buruknya khianat. (Abdullah Alawi)


Kamis 7 Juli 2016 12:17 WIB
Ketika Telor Asin dan Bawang Merah Tenggelam dalam Kemacetan Horor
Ketika Telor Asin dan Bawang Merah Tenggelam dalam Kemacetan Horor
Kendaraan lumpuh di depan pintu Tol Brexit.
Brebes, NU Online
Tradisi mudik sudah melekat bagi masyarakat Indonesia pada saat momen Idul Fitri atau Lebaran tiba. Mereka berbondong-bondong melakukan perjalanan secara serentak pada waktu-waktu tertentu menuju kampung halaman dengan menggunakan berbagai moda transportasi, baik darat, laut, maupun udara.

Setiap tahun, tradisi pulang kampung secara bersamaan ini menimbulkan kemacetan parah di berbagai titik jalan, baik di jalur Pantai Utara (Pantura) maupun di jalur selatan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, titik kemacetan yang paling disorot oleh masyarakat di seluruh Indonesia adalah di Brebes, tepatnya di pintu Tol Brebes Timur atau yang kini sedang populer disebut tol Brexit (Brebes Exit).

Tol ini belum lama diresmikan oleh Presiden Jokowi menjelang bulan puasa. Tujuannya agar para pemudik bisa melewati tol ini sehingga seluruh kendaraan tidak terkonsentrasi di jalur pantura. Namun, harapan tersebut bagai api jauh dari panggang. Kemacetan berpuluh-puluh kilometer tidak ada yang menyangka. 

“Bahkan Kabupaten Brebes seperti lahan parkir massal saking banyak dan panjangnya kemacetan,” ujar salah satu warga Brebes asal Kecamatan Losari bernama Imam Sibaweh, Rabu (6/7). 

Dari sisi waktu tempuh, dari Jakarta ke Brebes yang normalnya bisa ditempuh 6-7 jam saja, saat itu bisa memcapai berhari-hari sehingga para pemudik bingung dan tak tahu harus melakukan apa ketika mereka membutuhkan makan, minum, buang air kecil dan besar, serta hal yang paling krusial yaitu mengisi bensin. Macet salah satu faktor penyebab bahan bakar boros. Sedangkan kendaraan mereka sama sekali tidak bisa bergerak sehingga dilaporkan harus menempuh jarak puluhan meter dengan berjalan kaki.

Untuk memenuhi segala kebutuhan para pemudik tersebut, sebagian warga Brebes ada yang membuka ‘toilet dadakan’ di pinggir jalan maupun menjual bensin eceran dengan harga selangit per liter, yaitu Rp50.000/liter. Terlihat tidak manusiawi karena seolah menambah penderitaan para pemudik. Namun dari sisi ekonomi sah-sah saja, sebab harga barang ditentukan berdasarkan tinggi rendahnya permintaan (demand). 

Brebes menjadi sorotan publik apalagi ketika dilaporkan ada 12 orang, termasuk bayi berumur 1 tahun yang meninggal karena berhari-hari di dalam mobil. Bahkan kota yang khas dengan produksi telor asin dan bawang merah-nya tak banyak disorot dari sisi produk khas asli daerah Brebes ini. Telor asin dan bawang merah seolah tenggelam bersama karut-marutnya kondisi macet. Padahal setiap tahun, para pedagang dan produsen telor asin mendapat berkah melimpah dari penjualan produk tersebut. Karena bagi para pemudik yang melintasi Brebes, kurang afdhol jika belum membawa oleh-oleh telor asin dan bawang merah.

Dari berbagai keuntungan yang berhasil diraup sebagian warga Brebes, mereka juga mengalami kesulitan bermobilitas sebagai dampak dari kemacetan horor tersebut. Gerak langkah mereka sangat terbatas ketika hendak menuju saudara yang rumahnya terletak di seberang jalan, menuju pasar, pusat perbelanjaan, dan stasiun pengisian bensin. 

“Macet membuat saya kesulitan membeli bensin di POM,” ujar Tapsir Cipto, warga Brebes yang bermukim di Kecamatan Tanjung.

Warga Brebes juga semakin nelongso (sengsara) ketika semua jalur mengalami kemacetan, baik dari arah Jakarta maupun dari arah sebaliknya. Hal ini dikarenakan karena para pemudik, terutama yang menggunakan sepeda motor banyak yang terpaksa mendobrak bambu pembatas jalan untuk mengisi jalur kanan yang terlihat lengang. Akibatnya, warga Brebes dan masyarakat lain yang menggunakan jalur tersebut untuk melakukan mobilitas jadi terkena imbas macet.

Banyak cerita-cerita dari sisi lain yang bisa diungkapkan, misal ketika para pemudik motor juga memenuhi jalan setapak di tengah sawah karena sudah pasti kena macet jika lewat jalur normal, yakni Pantura. Warga Brebes sangat berharap kepada pemerintah agar kondisi tidak manusiawi ini bisa teratasi kendati semestinya hal ini juga bisa diantisipasi dari awal. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa titik macet horor yang mencapai 6 kali lipat waktu tempuh normal ada di Tol Brexit ketika kendaraan tersendat di loket tol. Sebab ketika mencapai Kabupaten Pemalang, pemudik menemukan  titik urai volume kendaraaan. Di titik inilah sistem pembayaran tol super cepat harus dibangun.

“Ketika melihat fakta kondisi macet yang tidak wajar itu, bila perlu pemerintah langsung membuka gerbang tol dan menggratiskan pembayaran,” ujar Amran, salah satu warga yang bermukim di Pantura Losari, Brebes. (Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG