IMG-LOGO
Daerah

Di Gorontalo, Lebaran Ketupat Kini Tak Hanya Dirayakan Keturunan Jawa

Rabu 13 Juli 2016 10:58 WIB
Bagikan:
Di Gorontalo, Lebaran Ketupat Kini Tak Hanya Dirayakan Keturunan Jawa
Gorontalo, NU Online
Masyarakat di sejumlah wilayah di Provinsi Gorontalo sejak Selasa malam hingga Rabu pagi merayakan Lebaran Ketupat, yang biasanya diadakan sepekan setelah Idul Fitri.

"Sejak beberapa tahun terakhir, perayaan ketupat tidak hanya dilaksanakan oleh masyarakat Gorontalo keturunan Jawa, namun sudah sebagian besar warga Gorontalo terutama di Kabupaten Gorontalo, Bone Bolango dan Kota Gorontalo," kata Dono salah seorang warga Desa Sombari Kabupaten Gorontalo, Rabu.

Dikatakan, jika biasanya Lebaran Ketupat hanya dirayakan oleh warga Gorontalo keturunan Jawa, namun saat ini sudah hampir semua warga terutama di beberapa wilayah melaksanakannya.

Saat ini perayaan ketupat dirayakan oleh sebagian besar warga Gorontalo, bahkan ada warga daerah lain ikut datang ke Gorontalo, kata Dono.

Uyun salah seorang warga Desa Yosonegoro Kabupaten Gorontalo mengatakan, dalam perayaan ketupat tersebut hampir semua rumah penduduk menyediakan makanan seperti ketupat, nasi bulu, opor ayam, sate, dodol.

Serta jenis makanan lainnya, yang disuguhkan kepada para tamu ataupun sanak famili yang datang merayakan Lebaran Ketupat tersebut.

Selain merupakan silaturahmi, tamu juga akan disuguhkan dengan berbagai macam jenis makanan oleh tuan rumah.

Gafar warga Kabupaten Bone Bolango mengatakan, jika sebelumnnya perayaan ketupat hanya dilaksanakan di Kabupaten Gorontalo, namun sejak beberapa tahun terakhir sudah menyebar ke Kota Gorontalo dan Bone Bolango.

Pada puncak acara biasanya dilaksanakan di Yosonegoro Kabupaten Gorontalo yakni dengan mengadakan lomba pacuan kuda dan karapan sapi, kata Gafar. 

Perayaan Lebaran Ketupat, saat ini sudah menarik warga di luar Provinsi Gorontalo seperti Sulawesi Utara, Tengah dan Selatan bahkan ada dari Kalimantan dan Pulau Jawa serta turis manca negara. (Antara/Mukafi Niam)
Tags:
Bagikan:
Rabu 13 Juli 2016 21:5 WIB
Ratusan Aktivis Ma'arif NU Kotagajah Gelar Pertemuan Halal Bihalal
Ratusan Aktivis Ma'arif  NU Kotagajah Gelar Pertemuan Halal Bihalal
Lampung Tengah, NU Online
Ratusan anggota Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah memadati kediaman Ahmad Dahlan di Desa Purwosari, Kecamatan Batanghari Nuban, Rabu (13/7). Pemerhati dan praktisi pendidikan di lingkungan NU ini mengadakan pertemuan halal bihalal dan silaturahmi di sini.

Sekretaris LP Maarif NU Kotagajah H Subroto mengatakan, silaturahmi yang dirangkai dengan halal bihalal ini sudah berlangsung sejak tahun 1990-an. Pertemuan ini diikuti seluruh anggota keluarga besar dewan guru dan staf tata usaha mulai dari jenjang MTs, MA dan SMK di lingkungan LP Maarif NU.

"Agenda halal bihalal digelar secara bergiliran, dimulai dari yang paling sepuh atau senior yang telah lama mengabdi di lembaga pendidikan ini. Pertemuan ini juga diawali dengan istighotsah," tambahnya.

Halal bihalal LP Ma'arif NU Kotagajah dihadiri beberapa tokoh NU seperti pengasuh Pesantren Al-Falah Bandar Jaya Terbanggi Besar KH Abdul Aziz, Wakil Ketua PCNU Lampung Tengah H Ali Mustofa, Wakil Ketua LP Ma'arif NU Lampung Tengah Usman Gatri, Rais Syuriyah MWCNU Kotagajah Kiai Damanhuri, Ketua LP Maarif NU Kotagajah KH M Baedlowi, Ketua MWCNU Kotagajah Kiai Imron Rosyadi, Ketua Muslimat NU Kotagajah Dra Sunarti, Ketua GP Ansor Kotagajah Ahmad Syamsul Hidayat, Ketua Fatayat NU Kotagajah Siti Maysaroh.

Saat ini LP Ma'arif NU Kotagajah telah memiliki tiga unit pendidikan formal. Pertama, MTs Ma'arif 02 Kotagajah dengan 48 dewan guru. Kedua, MA Ma'arif 9 Kotagajah dengan 51 dewan guru. Ketiga, SMK Ma'arif 5 Kotagajah dengan 39 dewan guru. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Rabu 13 Juli 2016 18:2 WIB
Koleksi Al-Quran di Masjid Al-Fairus Pekalongan
Koleksi Al-Quran di Masjid Al-Fairus Pekalongan
Pekalongan, NU Online
Bagi para pemudik Lebara yang melewati Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mungkin Anda sempat melihat bangunan masjid megah di sebelah utara Jl Dr Sutomo, tepatnya persis sebelum melewati terminal. Atau bahkan Anda justru sudah singgah di masjid tersebu, yakni Masjid Al-Fairus.

Masjid Al-Fairus menjadi salah satu tempat persinggahan favorit para pemudik. Selain menyediakan area istirahat yang luas dan nyaman, para pengunjung juga dapat melihat aneka koleksi Al-Quran dari berbagai negara, yang diletakkan di salah satu sudut bangunan.

NU Online berkesempatan melihat berbagai koleksi tersebut saat kami menyambangi tempat ibadah yang diresmikan pada tahun 2005 itu, Senin (11/7) lalu. Koleksi Al-Quran dengan beragam ukuran tersebut, dipajang rapi di dalam sebuah almari kaca.

Letak almari yang ditempatkan di luar masjid sehingga para pengunjung dapat leluasa untuk melihatnya. Pada rak paling bawah, terdapat tulisan : “Kumpulan Al-Qur’an Cetakan dari Terbesar di dunia sampai Terkecil”.

H Abdullah Machrus, Ketua Yayasan Al Fairus, menjelaskan aneka koleksi Al-Quran tersebut merupakan koleksi pribadi miliknya, yang kemudian dihibahkan kepada Yayasan Al-Fairus.

Dipaparkan dia, saat ini, koleksi Al Quran cetak di Masjid Al Fairus ada sekitar 45 buah. “Yang terbesar yang dari Indonesia, sedangkan Al-Quran cetak terkecil dapat dari negara Suriah. Setiap berpergian ke luar negeri, saya selalu menyempatkan diri ke toko buku untuk membeli Al Quran di negara tersebut,” ungkap dia.

Selain melihat koleksi Al-Quran, para pengunjung di Masjid Al-Fairus juga dapat membeli oleh-oleh khas Pekalongan yang dijual di kios-kios yang terletak di sekitar kompleks masjid. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Rabu 13 Juli 2016 13:3 WIB
Hari Raya Ketupat, Pedagang Janur dan Kupat Panen Raya
Hari Raya Ketupat, Pedagang Janur dan Kupat Panen Raya
Probolinggo, NU Online
Kehadiran Hari Raya Idul Fitri sangat dinanti-nantikan bagi sekelompok orang, salah satunya para pedagang janur kuning dan ketupat yang kerap menjajakan barang dagangannya. Pasalnya, para pedagang ketupat/kupat dan janur kuning yang mayoritas berasal dari daerah pegunungan ini bisa meraup penghasilan lebih banyak dari hari-hari biasanya, terutama pada Hari Raya Ketupat.

Hari Raya Ketupat yang jatuh sepekan setelah Idul Fitri membawa berkah tersendiri bagi pedagang janur dan ketupat. Mereka “panen raya” karena komoditas jualannya laku keras.

Seperti yang dirasakan oleh Hamidah (33), warga Desa Condong, Kecamatan Gading, Probolinggo, Jawa Timur. Pedagang janur dan ketupat yang biasa memasarkan dagangannya di Pasar Condong ini mengaku sejak beberapa hari menjelang Lebaran Ketupat, barang yang dijualnya laku keras.

“Alhamdulillah, ada berkah tersendiri setiap datangnya Hari Raya Idul Fitri. Sebab inilah para pedagang janur dan ketupat bisa memperoleh tambahan penghasilan. Dalam sehari paling sedikit saya bisa menjual 1.000 ketupat jadi dan ratusan ikat janur,” katanya, Selasa (12/7).

Hamidah menerangkan bahwa saat ini masyarakat lebih suka membelu ketupat kosongan yang sudah jadi dari pada membeli janurnya. Sebab mereka tidak perlu susah-susah menganyam untuk membuat ketupat. Terlebih selisih harganya tidak terlalu besar antara ketupat kosongan dengan janurnya.

“Kebetulan masyarakat lebih banyak yang suka praktis dan tidak mau susah-susah membuat sendiri. Oleh karena itu, biasanya saya selalu sibuk membuat ketupat agar tidak sampai kehabisan,” jelasnya.

Harga satu ikat ketupat berisi 10 ketupat jelas Hamidah sangat bervariasi tergantung dari besar dan kecilnya ketupat. Rata-rata harganya berkisar antara Rp 2.500 hingga Rp 3.000. “Yang jelas Hari Raya Ketupat membawa berkah bagi kami para penjual janur dan ketupat kosongan,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG