IMG-LOGO
Wawancara

Ini Sejumlah Ciri Islam Nusantara

Sabtu 16 Juli 2016 0:3 WIB
Bagikan:
Ini Sejumlah Ciri Islam Nusantara
Wartawan NU Online Ahmad Asmu‘i menemui Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Rembang KH Adib Bisri Hattani (Gus Adib) di jalan KH Bisri Mustafa, Leteh, Kabupaten Rembang. Keduanya terlibat dalam diskusi seputar wajah Islam Nusantara. Berikut ini petikan dialog keduanya.

Gus, apa yang menyebabkan perbedaan Islam Nusantara dan Islam di Timur Tengah?

Sebetulnya banyak hal yang membedakan antara Islam di Nusantara dan negara Islam yang ada di Timur Tengah. Lebih tepatnya letak geografis juga berpengaruh terhadap pola perkembangan dan sifat-sifat keagamaan dari satu negara satu ke negara yang lain.

Meskipun kemudian tidak sampai perbedaan itu membawa hal yang asasi. Hal yang asasi misalnya shalat, kewajiban shalat. Setiap umat Islam di berbagai negara semua sama dalam hal shalat. Hal asasi lainya seperti zakat, dan sebagainya. Tidak ada yang berbeda.

Dalam perkembanganya kemudian ada hal-hal yang menjadi berbeda dengan Islam yang ada di Nusantara. Misalnya ketakziman terhadap ulama, penghormatan terhadap guru, dan penghormatan terhadap orang lain.

Dalam hal penghormatan budaya Islam di Nusantara memberikan pembelajaran adat ketimuran kepada generasi muda. Contoh tatakrama antara murid dan seorang guru. Misalnya ada seorang murid mempunyai guru yang bernama amin. Etikanya si murid memanggil gurunya dengan sebutan “Pak Amin?”

Lalu yang benar seperti apa Gus?

Yang benar etika seorang santri dan murid memanggilnya harus “Pak Guru”, bukan “Pak Amin.”

Siap yang mengajarkan etika santri seperti itu Gus?

Ini sudah menjadi tradisi sejak zaman Syekh Hasyim Asy'ary. Jadi ini merupakan budaya dan tradisi NU.

Apa saja yang membuat Islam di Nusantara dan Timur Tengah tampak berbeda?

Ada banyak hal yang membedakan Islam di Nusantara dan di Timur Tengah. Contoh yang membedakan Islam di berbagai belahan dunia di antaranya sifat-sifat kesukuan, sifat kekabilahan, dan beberapa lainya. Ini yang membuat Islam terasa berbeda di belahan dunia bahkan antarnegara.

Di Timur Tengah kedua sifat ini sangat mempengaruhi gaya beragama yang ada di sana.

Yang paling menonjol membedakan Islam di Nusantara dan yang ada di Timur Tengah Gus?

Ini yang sangat penting yaitu cara pengelolaan konflik di suatu Negara Islam. Nah ini yang menjadi penting yang membedakan negara Islam di Nusantara dan di Timur Tengah adalah bagaimana mengelola suatu konflik.

Kenapa demikian Gus?

Model pengelolaan konflik di Timur Tengah dianggap sebagai konflik agama. Misal Islam, Syi'ah versus Suni dan lain sebagainya. Kemudian orang yang tidak memahami kondisi di Timur Tengah menganggap bahwa konflik yang terjadi merupakan konflik agama.

Orang kemudian mencari alternatif Islam yang lain karena salah pemahaman. Padahal konflik yang terjadi di Timur Tengah adalah murni konflik politik membawa nama agama.

Apakah gaya beragama dari Timur Tengah dapat diterapkan di Nusantara seutuhnya Gus?

Tidak, karena gaya beragama Islam yang ada di Timur Tengah hari ini belum tentu semurni apa yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad SAW tempo dulu.

Apa ketidakmurnian ini salah?

Tidak, ini sunatullah. Ini sudah terjadi dan merupakan proses yang sejak awal sudah diantisipasi oleh kanjeng Nabi Muhammad Saw. Sejak dini Rasulullah Saw sudah memberikan batas-batas.

Bagikan:
Senin 11 Juli 2016 12:1 WIB
Sejumlah Langkah GP Ansor Mandirikan Organisasi
Sejumlah Langkah GP Ansor Mandirikan Organisasi
H Yaqut Cholil Qoumas (kanan).
Di tengah perubahan dan tantangan kemajuan teknologi informasi, GP Ansor sebagai organisasi masa depan NU sekaligus NU masa depan, dituntut terus melakukan upaya untuk meningkatkan kemandirian organisasi sebagai visi besar. Berikut wawancara NU Online dengan Ketua Umum PP GP Ansor, H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Tutut) di Rembang, Jawa Tengah.

Kenapa harus masuk Ansor, terutama Gus Tutut memilih menjadi Ketum Ansor?

Saya ini orang NU, saya lahir dan besar dari tradisi keluarga yang alirannya jelas, NU. Saya mengabdi di Ansor itu juga tidak lepas karena saya ingin agar apa yang saya terima sepanjang hidup saya ini dapat saya tularkan kepada anak cucu saya nanti. Dan juga menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah kalau perlu sampai hari kiamat. Kalau ditanya kenapa saya harus menjadi Ketum Ansor, karena Ansor adalah masa depan NU dan juga NU masa depan.

Yang kedua ini masalah pengabdian. Jadi hidup itu baru lengkap setelah kita punya pengabdian, apalagi bicara Ansor ini pengabdiannya luas, satu pengabdian terhadap Nahdlatul Ulama, dan yang kedua pengabdian terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi manusia yang tidak punya pengabdian dan tidak memberikan pengabdian terbaik dalam hidupnya mau jadi apa?

Kenapa lebih memilih Ansor, bukan ormas Islam yang lain Gus?

Yang pertama Ansor organisasi yang terkenal, dan merupakan satu-satunya organisasi pemuda terbesar di dunia. Yang jumlah anggotanya mencapai sekitar 1,7 juta orang dari sabang sampai merauke, tidak ada organisasi pemuda di dunia yang anggotanya sebesar Ansor. Tetapi bukan itu yang menjadi tujuan. Melainkan saya ini orang NU. Tidak mungkin saya masuk organisasi kepemudaan atau organisasi Islam di luar NU. 

Apa visi dan misi pengurus Ansor hari ini di bawah komando Gus Tutut?

Kalau ditanya mengenai visi misi, tentu visi besar kita jelas "Kemandirian Organisasi". Jadi periode yang lalu, periodenya sahabat Nusron Wahid itu ada tiga "Kaderisasi, Revitalisasi nilai-nilai dan tradisi ke-NU-an, Mendistribusikan kader sesuai dengan bidang keahliannya". Nah, itu kita turunkan menjadi sebuah misi, yaitu kemandirian organisasi. 

Kenapa begitu, karena jika organisasi ini mandiri, maka kita tidak perlu lagi tergantung dengan kekuatan-kekuatan diluar kita, yang sering kali berbeda dengan visi organisasi. Bahkan kadang berbeda dengan aqidah yang kita yakini.

Kalau bisa mandiri tentu organisasi bisa lebih leluasa ke mana arah kita menentukan kebijakan organisasi. Visi besarnya ya itu, kita akan tetap melakukan kaderisasi, kita akan tetap melakukan revitalisasi nilai-nilai dan tradisi ke-NU-an, dan terus mendistribuasikan kader sesuai dengan bidang keahliannya sebagai gambaran utuh atas kemandirian organisasi yang sedang kita bangun mulai dari semua tingkatan.

Melalui apa Gus, Ansor mewujudkan kemandirian organisasi?

Ikhtiar yang kita lakukan itu banyak. Kita sedang menggarap industri komunitas namanya. Kita persiapkan Insyaallah tahun depan sudah ramai ke semua cabang. Indusri komunitas, misalnya Ansor Rembang. Jumlah anggota ansor Rembang katakanlah seribu, kita akan mencoba memenuhi kebutuhan sehari-hari contoh kecil sabun mandi yang bisa digunakan kalangan internal kita. Kita akan memberikan fasilitas pelatihan dan peralatanya supaya kader Ansor bisa memproduksi sendiri sesuai dengan kebutuhannya.

Kalangan internal kan tidak terbatas kepada Ansor, kalau kita kembangkan kalangan internal bisa masuk ke pondok pesantren, kan santrinya banyak. Selama ini mereka beli dari luar, yang kita tidak tahu produsennya siapa, keuntungannya untuk apa, kan kita gak ngerti. Tahun depan kita akan melakukan itu. Kalau kita bisa produksi sendiri yang paling sederhana. Buat sendiri dan dikonsumsi sendiri kan keuntungannya bisa kita kembangkan sendiri misalnya dikembangkan menjadi bentuk Baitul Mal wat Tamwil (BMT).

Misalnya, ada kader Ansor yang ingin usaha punya keinginan kuat tetapi sulit mengakses permodalan, kan bisa dibantu melalui BMT nya Ansor. Inikan lama-lama bisa bergulir dengan baik. Saya kira organisasi ini akan mandiri dengan cepat. Ini kita berbicara baru satu produk saja yaitu sabun. Belum ngomong shampo, yang gampang-gampang saja kita bikin sendiri.

Apa tidak terlalu cepat dan memberatkan Gus, Ansor berbicara produksi dan permodalan untuk kemandirian?

Tidak, jadi kita sudah ketemu dengan salah satu vendor atau pengusaha yang memang memproduksi dengan skala komunitas dalam skala kecil, mereka sudah siap bekerja sama dengan Ansor. Dan kita sudah koordinasi dengan lembaga keuangan besar yang siap menjadi bapak asuh untuk usaha komunitas Ansor.

Kalau setiap cabang bisa melakukan ini, mendorong kemandirian organisasi mulai tingkat cabang ini luar biasa. Ansor kedepan itu sudah luar biasa, bukan hanya menghidupi organisasi tetapi juga anggota dan kadernya. Misalnya begini, kalau berbicara industri kecil dan skala komunitas, kan masing-masing anggota di ranting bisa menjadi agen, ini kan  bisa menjadi pemasukan.

Contoh yang lain itu kita bikin aplikasi Ansor, di aplikasi Ansor ada berita tentang kegiatan Ansor se-Indonesia, ada juga toko online jual beli yang isinya ada pemasaran hasil-hasil produksi dari sahabat-sahabat Ansor se-Indonesia, dan bisa juga jual beli pulsa. Jadi selama ini kita punya asumsi, kita melihat teman-teman di daerah banyak yang memiliki usaha. 

Jadi kita melihat di Tegal itu ada teman yang membuat sarung Ansor, atau ada yang bikin batik di Madura, tapi mereka ini kesulitan marketing di pemasaran. Karena kesulitan di pemasaran mereka hanya memasarkan di skala lokal, paling bisa keluar hanya sampai Pemalang, Brebes tidak bisa ke mana-mana.

Melalui aplikasi Ansor ini, kita fasilitasi pemasaranya bisa se-Indonesia. Kita jual beli lewat aplikasi. Ini salah satu contoh. Saya kira namanya industri, usaha apapun kuncinya itu kan ada dua, yang pertama di modal dan pasar. Kalau modal kita bisa penuhi dengan cara pengumpulan di BMT, kemudian membiayai kadernya sendiri, lalu jaringan pasarnya kita siapkan. Nah itu luar biasa dan belum pernah dipikirkan sebelumnya.

Pilot project-nya mau dimulai dari mana Gus?

Kita akan bikin pilot projek di enam titik, maka saya bilang ranting baru bisa tahun depan. Pilot projek enam titik dalam waktu dekat salah satunya di Rembang, yang sudah saya siapkan. Hasil pilot projek nanti akan kita evaluasi kekurangannya di mana. Akan kita perbaiki sebelum kita luncurkan secara luas. Salah satunya Rembang, Pekalongan, Batang dan yang ketiga saya lupa. Pilot projek ini berupa pelatihan dan peralatan.

(Ahmad Asmu'i/Fathoni)

Kamis 7 Juli 2016 5:2 WIB
Mudik Dilandasi Tuntunan Agama
Mudik Dilandasi Tuntunan Agama

Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran telah menggerakkan umat Islam Indonesia dari kota-kota besar maupun kecil ke desa-desa. Jutaan orang bergerak hampir bersamaan melalui darat, laut, dan udara. Mereka ingin berkumpul bersama keluarga, bermaafan dan menikmati ketupat dan opor ayam.  

Bagaimana penjelasan tentang fenomena mudik untuk berlebaran bersama keluarga di kampung halaman sehingga menjadi fenomena yang tak terhendarkan setiap tahun? Apa sebenarnya yang menjadi dasar mereka melakukan itu?

Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, Yogyakarta Kiai M. Jadul maula memberikan sebagian penjelasannya kepada Abdullah Alawi. Berikut petikannya:

Kenapa orang Islam Indonesia mudik saat lebaran? Apa itu tuntutan agama atau budaya?

Tujuan utama mudik adalah sungkem kepada orang tua dan silaturrahim kepada kerabat dan handai taulan. Budaya mudik ini jelas dilandasi oleh tuntunan agama yaitu bakti kepada orang tua dan menjaga tali silaturrahim dengan sanak keluarga dan kerabat. Momentumnya juga bagus yaitu Idul Fitri, merayakan kembalinya manusia ke dalam fitrah.

Apa di negara-negara Islam lain juga demikian, semisal di Arab, Mesir dan lain-lain?

Ada, tapi bentuk, intensitas dan ekspresinya lain-lain. Di negara-negara lain biasanya suasana Idul Fitri terbatas, habis shalat Ied mereka datang ke rumah orang tua dan makan-makan bersama keluarga.

Di Indonesia lebih meluas, massif. Tekanannya pada saling memaafkan, tidak hanya pada orang tua dan keluarga dekat, tapi juga keluarga besar (trah) dan lebih luas lagi saudara sedaerah dan bangsa. Ini adalah proses penyatuan dalam kebhinekaan, didasari pribadi-pribadi yang sedang ingin membersihkan diri dan hati.

Faktor apa bisa meluas seperti itu?

Ini adalah warisan pengajaran leluhur yang memberikan dasar-dasar pengamalan agama yang berdimensi persatuan dan kerukunan sosial, bukan individual.

Leluhur ini maksudnya Wali Songo atau lebih tua lagi?

Wali-wali Nusantara. Penghormatan kepada leluhur, bahkan sampai pada pemujaan itu juga merupakan bentuk religiusitas yang sangat tua di Nusantara.

Pada Lebaran ada ketupat. Kehadirannya identik dengan Lebaran. Apa yang khas dari makanan ini sehingga bisa seperti itu?

Ketupat itu, Jawanya kupat, mengandung pesan ajaran: Ngaku lepat (mengaku salah) dan Laku lapat (empat tindakan amal). Laku yang empat itu adalah lebaran (selesai puasa), luberan (zakat fitrah), leburan (bermaafan) dan laburan (kembali putih, fitri).

Bungkusnya adalah daun kelapa (janur) yang dijalin melambangkan belitan dosa dan kesalahan. Ia mesti dibelah dan akan tampak dalamnya yang berwarna putih lambang kesucian dari dosa. Kupat = laku papat

Kalau perkiraan, ketupat itu sejak kapan adanya?

Setahu saya sejak para wali itu, tapi mungkin aja sebelumnya sudah ada. Tapi penggunaan ketupat kaitannya dengan perayaan lebaran itu jelas dari para wali.


Selasa 5 Juli 2016 10:12 WIB
Agus Sunyoto Berbicara Tradisi Lebaran dan Sejarah Ketupat, Seperti Apa?
Agus Sunyoto Berbicara Tradisi Lebaran dan Sejarah Ketupat, Seperti Apa?
KH Agus Sunyoto/channel164
Setiap tiba Hari Raya Idul Fitri, masyarakat muslim di Indonesia mengisinya dengan beragam kegiatan, seperti mudik ke kampung halaman, membagikan makanan, dan ziarah kubur. Dipandang dari segi kebudayaan, tradisi tersebut tidak berasal dari Arab, negara di mana agama Islam berasal.

Budayawan dan Sejarawan Agus Sunyoto, memiliki perspektif tersendiri. Terkait hal itu, Kontributor NU Online Kendi Setiawan mewawancarai kiai yang juga Ketua Lesbumi PBNU tersebut. 

Soal Lebaran Idul Fitri ini, kalau kita amati terutama masyarakat Jawa sangat heboh misalnya dengan agenda beli baju baru dan pulang kampung. Ini bagaimana asal muasalnya?

Ini sebenarnya pengaruh China. Sebelum warga pribumi memeluk agama Islam, orang China yang tinggal di Majapahit sudah memeluk Islam lebih dulu. Di China sana ada kebiasaan kalau lebaran pulang kampung. Termasuk menyulut petasan, bagi-bagi angpao, itu kan pengaruh Bangsa China. Kita sekarang menganggap Bangsa China itu beragama Konghucu. Padahal sebelum pribumi menjadi muslim, Bangsa China sudah menjadi muslim lebih dahulu.

Tradisi-tradisi yang mereka selenggarakan selama beratus-ratus tahun di Indonesia mempengaruhi orang Indonesia.

Apakah pengaruh tersebut ada sisi baiknya?

Pasti, pasti ada sisi baiknya. Tradisi pulang kampung lebaran membuat orang bersilaturahim. Orang yang bermusuhan dan berada di tempat jauh dapat menjalin silaturahim. Juga orang-orang dari desa terangkut ke daerah baru sebagai pekerja. Jadi ini dilihat dari interaksi sosial mereka. Hampir sebelas bulan uang beredar hanya di Ibu Kota. Selama Idul Fitri, atau sekitar 7 hari sebelum dan 7 hari sesudah Idul Fitri, uang beredar sampai ke desa-desa. Dari situlah devisa itu menyebar.

Jadi tradisi lebaran ini lebih banyak sisi positifnya?

Saya kira banyak sisi positifnya. Sisi positif atau negatif kan tergantung ada manfaatnya atau tidak. Tradisi itu berkembang tergantung pendukung tradisi, bila merugikan dan tidak bermanfaat, ya ditinggalkan saja. Selama ini masyarakat masih konsen dengan tradisi ini. Dari tingkat atas sampai bawah masih akrab dengan halal bihalal. Ini memang sesuatu yang baru yang tidak ada di tempat lain. 

Tradisi yang khas dan tidak ada di tempat lain juga adalah membagi-bagikan makanan. Negara Indonesia itu negara yang berlimpah makanan. Karena itu dalam kosakata di bahasa Melayu, Bali dan bahasa daerah lainnya tidak ditemukan kosakata yang sama artinya dengan ‘miskin’. Kosakata ‘miskin’ itu asalnya dari bahasa Arab. ‘Fakir’ juga dari bahasa Arab. 

Di Indonesia peristiwa apa pun diperingati dengan membagikan makanan. Sudah naluri orang Indonesia. Orang baru melahirkan anak, semua tetangga diundang untuk makan; kemudian setelah tujuh hari ada lagi makan bersama. Lalu setelah anak mengalami fase puput puser (mengeringnya kulit atau ujung pusar pada bayi) ada doa-doa. Nanti ada selapanan, makan-makan lagi.  Wilayah Indonesia itu tidak ada gurun, jadi tidak ada kemiskinan.  Ya aslinya Indonesia tidak ada orang miskin, karena negara ini berlimpah makanan. 

Lebaran Idul Fitri juga sama. Jangankan Idul Fitri, pada malam likuran di bulan puasa juga orang-orang sudah berbagi makanan. Ini wujud kesyukuran orang Indonesia. Hanya saja mental orang Indonesia yang sering memiskinkan diri. Padahal aslinya kaya, terbukti dengan saling berbagi makanan. Di kota Malang tempat saya tinggal, di beberapa titik muncul pasar takjil selama bulan Ramadhan, dan selalu habis.

Nah, kalau tradisi membuat ketupat itu bagaimana?

Itu asli sini (Indonesia). Di luar negeri tidak ada. Itu sebetulnya diambil dari satu hadits. Man shoma ramadhana tsumma atba‘ahu syi’ta minsyawwalin fakaana shama kasiyaamidahron. (Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti telah berpuasa selama setahun penuh). 

Orang yang berpuasa seperti itu disebut kafah atau kafatan, artinya sempurna. Nah, orang Indonesai menyebutnya kupat (ketupat). Itu sebabnya orang Indonesia setelah berpuasa Syawal, ada hari raya ketupat, artinya hari raya sempurna.

Bila diamati dari satu sisi tradisi Idul Fitri itu kadang-kadang membuat orang seperti berbuat pamer. Antisipasinya bagaimana bagi orang Muslim?

Sebetulnya budaya pamer itu adalah ciri masyarakat petani. Ahli Antropologi dan  Sosial pasti tahu bahwa masyarakat petani ketika panen ingin memamerkan hasil kerja mereka. Kita tidak mendapati budaya pamer di kota-kota besar, seperti di Surabaya pamer itu tidak ada. Di desa-desa kuat dengan karakter pamer. Itu yang memang harus diluruskan. Tapi memang dari hal ini lebih banyak sisi positinya, seperti pengembangan ekonomi.

Jadi bisa dikatakan dalam perayaan Lebaran Idul Fitri banyak pertunjukan budaya, begitu?

Ya, itu ekspersi orang setelah hampir setahun penuh sibuk bekerja. Juga sebagai ungkapan kerinduan kepada tanah leluhur. Satu hal yang terjadi juga menjelang Idul Fitri atau pada Hari Raya Idul Fitri itu ada ziarah kubur. Saya saja yang sekarang tinggal di Malang harus balik ke Surabaya untuk menziarahi makam bapak, kakek, dan nenek. Semua orang saya rasa begitu, itu yang tidak bisa dicegah. Dan saya kira bagi NU ini tidak masalah, justru tradisi-tradisi lebaran seperti ziarah kubur ini memperkuat NU.

(Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG