Tak Ada Kiai dan Doktor yang Mengaku

Tak Ada Kiai dan Doktor yang Mengaku
Silaturrahim Nasional (Silatnas) Madrasah Tasywiquth Thullab (TBS), Kudus, Jawa Tengah pada Sabtu, (23/7) diikuti ribuan alumnus madrasah berbasis pesantren ini. TBS adalah lembaga besar. Tidak sedikit lulusannya yang telah menjadi kiai, pengasuh pesantren, menjadi guru, profesor dan lain sebagainya. Di antara mereka ada Prof. Dr. Ahmad Rofiq, Direktur pascasarjana UIN Wali Songo Semarang, Prof. Khotibul Umam, Dr. Abdul Muhayya, Dr. Sirril Wafa yang menjabat sebagai anggota komisi fatwa MUI pusat dan lain sebagainya.

Pagelaran yang betema "Ngaji Bareng Masyayikh TBS" ini banyak diselingi slentingan humor khas NU yang mengundang gelak tawa peserta. Namun, keadaan menjadi berubah tatkala Kiai Arifin Fanani menyampaikan paparan sebuah kajian. Dengan tiba-tiba ia bertanya kepada seluruh hadirin "Siapa yang di sini kiai?" semua pendengar diam tak ada yang berani angkat bicara meskipun tak sedikit dari mereka ketika di rumah masing sudah menjadi kiai.

Kiai Arifin melanjutkan pertanyaan kedua "Siapa yang doktor?" Keadaan semakin senyap. Hadirin tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun termasuk para akademisi yang hadir di lokasi. Namun, keadaan berubah tatkala pengasuh Pesantren MUS-YQ ini menyampaikan satu pertanyaan terakhir "Siapa yang santri?" kemudian disambut dengan angkat tangan semua alumnus TBS yang hadir dengan senyum mengembang di antara mereka.

Menurut Kiai paruh baya ini menjelaskan bahwa hal ini menunjukkan betapa tinggi derajat murid. Seberapa pun besar nama murid, tidak ada yang boleh mengaku besar di hadapan sang guru. Semuanya harus menunduk mengaku sebagai murid. "Guru membanggakan murid itu boleh. Yang tidak boleh adalah murid dengan pangkat dan gelarnya, merasa lebih hebat dari gurunya," jelas Kiai Arifin. (Ahmad Mundzir/Abdullah Alawi)

BNI Mobile