IMG-LOGO
Nasional

Kabar Duka, Kiai Mas Subadar Wafat

Sabtu 30 Juli 2016 20:33 WIB
Bagikan:
Kabar Duka, Kiai Mas Subadar Wafat
Jakarta, NU Online
Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un, kabar duka bagi warga NU karena salah seorang kiainya, KH Mas Subadar, Pasuruan wafat malam ini. Ia adalah salah seorang Rais Suriyah PBNU. Ia wafat pada Sabtu malam (30/7) sekitar pukul 19.41. 

Kabar tersebut langsung tersebar di ragam media sosial Nahdliyin. Termasuk di grup-grup Watshapp. Ketika dikonfirmasi kepada pengurus Lembaga Bantsul Masail PBNU H Mahbub Ma’afi di Jakarta, ia membenarkan wafatanya kiai tersebut. 

KH Mas Subadar sangat dikenal di kalangan jam’iyyah umat Islam terbesar di Indonesia ini. Ia sering mengemban tugas-tugas khusus di organisasi tersebut. Di forum kiai, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Besuk, Pasuruan, Jawa Timur sering ditunjuk sebagai juru bicara. Sikapnya yang teguh dan senantiasa berpegang teguh pada koridor kajian fiqh klasik itulah yang menyebabkan sering dilibatkan dalam bahstul masa’il  yang diselenggarakan NU.

Tutur katanya juga halus, argumentatif, dan mampu menyesuaikan diri dengan bahasa masyarakat yang dihadapi. Ini membuat masyarakat di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur sering mendatangi pengajian yang diisinya. Mereka tertegun menyimak ceramah dan orasinya. 

Ia lahir pada 1942 di sebuah desa Besuk, Kejayan, Pasuruan dari pasangan KH Subadar dan Hj. Maimunah. Pada usia 3 bulan (1942), ia telah yatim karena ditinggal wafat sang ayahanda, KH Subadar. Sehingga ia banyak belajar mandiri dengan diasuh oleh ibundanya yakni Hj Maimunah. (Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Sabtu 30 Juli 2016 22:38 WIB
Kelola Tabungan Emas, Upaya LKKNU untuk Kemaslahatan
Kelola Tabungan Emas, Upaya LKKNU untuk Kemaslahatan
Jakarta, NU Online
“LKKNU yang mengurusi kemaslahatan seluruh keluarga (ayah, ibu, dan anak). Salah satu upaya kemaslahatan itu adalah dengan pengembangan ekonomi. Oleh karena itu LKKNU menyambut baik rencana kerja sama dengan PT Pegadaian yang mengeluarkan produk investasi Tabungan Emas.”

Demikian dikatakan Ketua Pengurus Pusat Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (PP LKKNU), Ida Fauziah dalam sambutan pada pengenalan produk (product knowledge) Emas Sebagai Instrumen Investasi di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Sabtu, (30/7) sore. 
 
Ida menyampaikan product knowledge tersebut merupakan realisasi dari kesepakatan kerja sama antara PT Pegadaian dengan PBNU yang dilakukan sebelumnya. Ida menyebut pertemuan ini sebagai bentuk dari tugas dan fungsi LKKNU dalam menerjemahkan visi dan misi NU. 

Berbicara tentang NU, Ida mengatakan telah banyak berkontribusi untuk Indonesia. Dalam bidang pendidikan misalnya, NU memiliki 21.000 madrasah yang dikelola melalui Lembaga Maarif NU, 10.000 pondok pesantren yang berada di bawah RMI, serta perguruan tinggi NU yang telah berdiri di setiap propinsi di Indonesia. Dalam bidang kesehatan, juga telah didirikan rumah sakit-rumah sakit yang dikelola NU. 

“Dan LKKNU yang punya perhatian terhadap seluruh anggota keluarga, merasa sangat penting membantu perekonomian keluarga serta seluruh masyarakat,” tegas perempuan yang juga Ketua Fraksi PKB.

Sementara itu, Sekretaris LKKNU, Alissa Wahid yang memoderatori diskusi mengungkapkan upaya pengembangan ekonomi sangat penting untuk dilakukan. Ia menyebut ada aktivis IPNNU yang tidak bisa meneruskan pendidikan di perguruan tinggi karena kesulitan ekonomi.

“Seandainya seluruh warga NU tahu bagaimana cara mengelola perekonomian, tentu persoalan semacam itu dapat teratasi, serta NU dapat memberi kemaslahatan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar,” harap Alissa.

Alissa mengatakan dalam upaya membentuk kemaslahatan keluarga yang diharapkan akan berdampak pada kemaslahatan lingkungan, LKKNU mengampanyekan dalam setiap keluarga terdiri dari ayah yang saleh, ibu yang salehah, anak yang abrar, lingkungan yang baik, dan rezeki yang halal dan cukup.

Dengan demikian dalam usaha mencari rezeki yang halal dan cukup, perlu dilakukan pengembangan ekonomi. Menurut Alissa upaya pengembangan ekonomi dilakukan dengan menambah income, dan mengelola income yang sudah ada. 

“Pengenalan emas sebagai instrumen investasi seperti yang diadakan PT Pegadaian merupakan pengelolaan income yang tepat,” kata Alissa. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)
Sabtu 30 Juli 2016 21:23 WIB
Jenazah Kiai Mas Subadar Dimakamkan Besok Pukul 13.00 WIB
Jenazah Kiai Mas Subadar Dimakamkan Besok Pukul 13.00 WIB
Jakarta, NU Online
Meninggalnya Kiai Mas Subadar, salah satu rais syuriyah PBNU, merupakan kabar duka yang mengejutkan warga NU. Bagi masyarakat, warga NU, maupun alumni pesantren Besuk Kejayan Pasuruan yang ingin memberikan penghormatan terakhir diberi kesempatan sampai Ahad (31/7), pukul 13.00 sebelum jenazah dikebumikan di pemakaman Sladi yang merupakan pemakaman keluarga.

Ahmad Ladun Khobir, salah satu keluarga yang dihubungi NU Online menjelaskan, almarhum menderita penyakit kanker pankreas. Sebelumnya, Kiai Mas Subadar dirawat di RS Darmo selama 14 hari. 

“Beliau baru saja dibawa pulang dari Surabaya dan tiba di rumah sekitar maghrib sampai akhirnya meninggal sekitar pukul 7.40-an,” katanya.

Pada Rapat Pleno PBNU yang berlangsung di Cirebon baru-baru ini, seluruh peserta diminta turut mendoakan Kiai Mas Subadar yang sedang diinformasikan sakit sehingga tidak bisa hadir pada pertemuan tersebut. 

Gus Ladun menjelaskan, saat ini sudah banyak pelayat yang berdatangan ke rumah duka, utamanya para alumni pesantren yang lokasinya di seputar Pasuruan. Sementara para santri membaca Yasin dan Qur’an di masjid pesantren. 

Almarhum meninggal dalam usia 74 tahun. Almarhum memiliki 9 orang anak, satu orang meninggal saat masih kecil. Sekitar dua tahun yang lalu, salah seorang anaknya juga meninggal sehingga saat ini, yang masih hidup tujuh orang, dua laki-laki dan lima perempuan (Mukafi Niam) 
Sabtu 30 Juli 2016 18:1 WIB
Perlindungan Pekerja di Era Digitalisasi Ekonomi Perlu Kepastian
Perlindungan Pekerja di Era Digitalisasi Ekonomi Perlu Kepastian
Irham Ali (kiri)

Jakarta, NU Online
Kepastian perlindungan bagi pekerja di era digitalisasi ekonomi perlu dipikirkan serius. Demikian penegasan Irham Ali Saifuddin, dari Departemen Pendidikan dan Ketenagakerjaan PP GP Ansor, di Jakarta, Sabtu (30/7).

Menurut Irham, digitalisasi ekonomi meliputi semua lini, mulai transportasi, media, hiburan dan seterusnya merupakan potret dari masa depan dunia kita atau future of work. Dimana selain akan memudahkan manusia melalui efesiensi, ketepatan, kecepatan dan tingginya produktivitas, teknologi juga akan memakan korban tenaga kerja konvensional.

"Masa depan dunia kita tidak lagi dibatasi pada hubungan industrial. Makin ada migrasi besar-besaran dari pola formal menjadi ekonomi informal dalam dunia industri. Rantai pasok global akan diwarnai dengan sistem kerja dengan pola hubungan industrial yang absurd," paparnya.

Contoh konkrit dari beragam jasa transportasi online. "Kita dihibur dengan istilah 'kemitraan', padahal mas-mas dan mbak-mbak driver itu jelas-jelas pekerja. Celakanya, faktor produksi seperti sepeda motor, mobil hingga bbm yang seharusnya menjadi bagian dari employer (pengusaha) malah dibebankan kepada pekerja. Ini celaka 13 milyar. Itu tantangan kita ke depan," kata Irham lagi.

Fakta lain, imbuhnya, kerja di jasa transportasi online atau industri IT seperti web developer sudah tidak kenal dengan namanya jam kerja. "Bahkan orang harus memiliki lebih dari satu pekerjaan untuk mencukupi kebutuhannya. Artinya, selain memiliki lebih dari satu hubungan kerja, ia juga 'dipaksa' dengan jam-jam kerja yang lebih panjang," kata dia lagi.

Ia menambahkan, produktivitas yang tinggi berkat bantuan digitalisasi, akan langsung memukul daya bargain manusia sebagai pekerja untuk mendapatkan upah yang lebih layak. Digitalisasi akan membuat upah menjadi sangat kompetitif atau semakin murah.

"Pada tahun 2030 dimana kita akan mengalami ledakan jumlah penduduk muda yang tentu saja merupakan angkatan kerja muda kita. Jika tidak disikapi dengan bijak dari sekarang, demographic deviden atau bonus demografi yang semestinya bisa menjadi berkah bagi perekonomian Indonesia, bisa berbalik arah menjadi musibah," demikian Irham Ali Saifuddin. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG