IMG-LOGO
Opini

Habib Luthfi, Kanzus Sholawat, dan Kepiawaiannya Bermusik


Senin 1 Agustus 2016 15:00 WIB
Bagikan:
Habib Luthfi, Kanzus Sholawat, dan Kepiawaiannya Bermusik
Oleh Much. Ngisom Cholil

Untuk mengumpulkan santri santrinya yang saat ini tersebar di seluruh penjuru tanah air, setiap bulan maulud, Habib Luthfi menggelar acara mauludan di samping untuk memperingati hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW, juga untuk mengumpulkan para santrinya  yang ribuan jumlahnya. Acara mauludan yang digelar selalu lebih semarak dibanding tahun-tahun sebelumnya, sehingga Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyempatkan hadir secara khusus bersama menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Apalagi beberapa kegiatan penunjangnya seperti  nikah masal, pawai panjang jimat dan pentas musik samer El Balasik asal Jember Jawa Timur dua malam berturut turut, menjadikan suasana peringatan terasa lebih hidup.

Bahkan, untuk menjamu ribuan tamu yang hadir pada acara mauludan, Habib Luthfi tidak mengalami kesulitan yang berarti. Pasalnya, segala 'ubo rampe' hidangan seperti kambing, beras, dan lain lain sudah disiapkan santri-santrinya dari berbagai pelosok di tanah air. Sehingga panitia tinggal mengatur dan mendistribusikan saat acara berlangsung. Bahkan sejak 10 tahun terakhir terjadwal secara rutin menggelar maulid keliling di beberapa daerah dan saking padanya jadwal hingga bulan Syawal masih ada kegiatan maulid Rasulullah SAW.

Kegiatan mauludan yang digelar pada tahun 1437 Hijriyah kemarin merupakan kegiatan rutin tahunan santri santri Habib Luthfi. Bahkan jauh sebelumnya telah pula diadakan, meski secara sederhana. Namun sejak lima belas tahun terakhir, dimana sejak dibangunnya gedung Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan dr. Wahidin Pekalongan, kegiatannya semakin intensif. Tidak saja peringatan mauludan saja yang digelar. Akan tetapi beberapa kegiatan lainnya seperti pengajian malam reboan, Rabu pagi dan Minggu pagi selalu mengisi gedung Kanzus Sholawat.

Sebegitu pentingkah acara itu sehingga menjadi magnet bagi masyarakat secara luas? kegiatan peringatan mauludan memang tidak bisa dilepaskan dari sosok Habib Muhammad Luthfi bin Ali Yahya yang oleh santri santri senior di panggil abah. Sebagai ulama berpengaruh, beliau sering menjadi rujukan pendapat, baik masalah sosial, politik, ekonomi, budaya dan keagamaan. Sehingga rakyat jelata hingga pejabat tinggi pun seringkali datang ketemu beliau untuk sekadar silaturahim hingga minta fatwa.

Suatu ketika Jamal Mirdad seorang seniman musik asal Jepara mampir ke rumah Habib Luthfi. Oleh Habib kemudian diantar ke salah satu sudut ruangan yang berisi seperangkat alat musik dan hasil rekaman suaranya, tampak sekali kekaguman Jamal atas suara dan kreasi musik yang dihasilkan. Pasalnya untuk mencapai tingkat kualitas yang diperlukan hingga masuk dapur rekaman diperlukan berbagai persiapan, ternyata Habib Luthfi tidak memerlukan waktu yang cukup lama.

Sebagai ulama yang sangat disegani oleh masyarakat, musik sudah merupakan bagian dari kehidupan Habib Luthfi. Apalagi ayahandanya juga seniman musik yang amat disegani pada waktu itu, sehingga tidak heran jika Habib Luthfi di samping ahli dibidang agama juga mahir memainkan seperangkat alat musik, terutama piano.

Bagi Habib, bermusik adalah sebuah sarana untuk bergaul dengan siapa saja, terutama dengan anak-anak muda dan komponen masyarakat yang heterogen, bagaimana membuat daya tarik sehingga mereka mengikuti kita. Apalagi para pendahulu ulama salaf juga pernah menekuni bidang musik, seperti Jalaluddin Ar Rumi dengan bermusik dapat lebih mendekatkan diri kepada Sang Khaliq.

Musik yang menurut sebagian ulama dianggap bid'ah dan haram, justru oleh Habib Luthfi menjadi hiburan sehari-hari. Tidak saja sebagai penikmat musik, akan tetapi beliau juga ahli memainkan alat-alat musik dan mengarang lagu, terutama alat musik piano/organ. Di rumahnya saat ini saja ada seperangkat alat musik gambus yang siap dimainkan sewaktu-waktu. Bahkan untuk mengaktualisasikan hobinya, Habib Luthfi memiliki satu grup musik gambus yang biasa disebut “marawis”. Puluhan lagu irama padang pasir mengalun melalui dentingan jari-jari seorang ulama besar, siap menyirami kalbu yang gersang oleh denyut nadi kehidupan dunia yang semakin tak menentu.

Bahkan untuk memberikan nuansa lain pada peringatan maulid, Habib tak segan segan memanggil grup musik ternama seperti Balasyik asal Jember Jawa Timur, juga menggelar pentas wayang kulit dengan dalang Ki Enthus Susmono dari Tegal. Maka lengkaplah kehidupan seorang ulama Habib Luthfi bin Ali bin Yahya yang ahli dalam bidang agama dan membaur dengan masyarakat dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya. Sesekali dalam waktu senggangnya, dirinya selalu menyempatkan menekan tombol tut tut piano yang berada di salah satu ruangan rumahnya dan mengalunlah dentingan irama padang pasir yang cukup dikenal dan akrab di telinga kita, baik irama klasik maupun modern.

Penempatan kembali muktamar thariqoh ke-10 Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah di Pekalongan pada tahun 2005 kemarin sempat memunculkan kecurigaan dari berbagai pihak dengan ingin tampilnya kembali Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya sebagai Rais Aam Jatman. Pasalnya
pada muktamar ke-9 lima tahun silam juga telah digelar di tempat yang sama dan menghasilkan Habib Luthfi bin Yahya sebagai Rais Aam. Meski akhirnya muktamirin sepakat kembali mememilih dan menunjuk Habib Luthfi untuk menjadi Rais Am yang kedua kalinya. Akan tetapi tudingan itu ditepis oleh Habib Luthfi. Yang jelas keinginan Pekalongan sebagai tuan rumah bukan atas kehendak dirinya, akan tetapi merupakan keputusan rapat pleno pengurus Idarah Aliyah.

Sebenarnya Lampung juga telah menyatakan siap, akan tetapi para pengurus yang sudah sepuh-sepuh itu keberatan jika muktamar diletakkan di luar Jawa. Akhirnya Pekalongan kembali ditunjuk sebagai tuan rumah, ujar Habib suatu ketika. Hal ini tak lain adalah semata-mata demi kemudahan pelaksanaan saja. Baginya, jabatan merupakan amanah dan tidak bisa diminta-minta. Dimanapun tempatnya, dirinya menyatakan siap diposisikan. Pasalnya, seseorang yang ingin berjuang bukan harus pada jabatan ketua
umum saja. Artinya, pengabdian dan perjuangan dapat dilakukan seseorang sesuai dengan kemampuannya masing masing dan saya siap mendukung siapapun yang terpilih, ujarnya.

Bahkan pada saat digelarnya Musyawarah Daerah (Musda) MUI Kota Pekalongan, Habib Luthfi tidak berada di Pekalongan, beliau malah sedang ada acara di Jawa Timur. Toh demikian seluruh peserta musda sepakat menempatkan kembali Habib Luthfi menjadi Ketua Umum MUI Kota Pekalongan untuk yang kedua kalinya di gedung Kanzus Sholawat sebagai pusat kegiatan keagamaan di Kota Pekalongan. Kehadiran gedung Kanzus Sholawat sejak sepuluh tahun terakhir ini telah memberikan andil yang tidak sedikit terhadap penanaman nilai-nilai keagamaan kepada generasi penerus Islam melalui perbagai kegiatan yang digelar setiap hari, mingguan maupun tahunan.

Bangunan gedung yang cukup megah bantuan dari para aghniya yang peduli terhadap perkembangan Islam di Kota Pekalongan telah mampu menjadi magnet tidak saja bagi masyarakat di Kota Pekalongan dan sekitarnya. Akan tetapi masyarakat dari berbagai penjuru yang setiap hadir hadir secara  bergelombang baik untuk sekadar transit setelah menempuh perjalanan jauh maupun untuk menemui tokoh ulama kharismatik yakni Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Belum lagi masyarakat tidak jarang menggunakan untuk keperluan sosial, tempat diskusi hingga kajian-kajian
keagamaan seperti pengajian Selasa malam khusus untuk bapak-bapak, pengajian Rabu pagi khusus untuk ibu-ibu, pengajian Jumat Kliwon maupun majelis-majelis tahunan seperti nikah maulid dan peringatan maulid Nabi Agung Muhammad SAW hingga tempat penyelenggaraan kegiatan tingkat
nasional yakni Muktamar Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An-Nahdliyyah ke-9 dan ke-10.

Melihat nilai manfaat yang dirasakan masyarakat cukup nyata, tentu saja pengurus/pengelola Gedung Kanzus Sholawat berusaha untuk dapat memenuhi segala sarana maupun prasaran yang menjadi penunjang kegiatan agar masyarakat yang hadir dapat merasa nyaman. Bahkan Kanzus Sholawat sebagai pusat kegiatan keagamaan telah berkali kali dikunjungi oleh Mursyid Thariqah manca negara, duta besar negara sahabat hingga Presiden RI DR Susilo Bambang Yudhoyono beserta Hj Ani Yudhoyono dan beberapa menteri Kabinet Indonesia bersatu. (*)


KEGIATAN KANZUS SHOLAWAT

Mingguan :
• Pengajian rutin Selasa malam “Kitab Ihya Ulumuddin”
• Pengajian rutin Rabu pagi “Kitab Fathul Qorib”

Bulanan :
• Pengajian rutin Jum’at Kliwon pembacaan kitab “Jami’ Ushulil Aulia”
• Pengajian Jum’at Legi pembacaan “Dalailul Khoirot”
• Ahad Pahing pengajian thariqah khusus ibu-ibu.

Tahunan :
•    Peringatan Maulid Nabi Agung Muhammad SAW
• Nikah Maulid
• Pawai Panjang Jimat Pekalongan
• Pembacaan Dalailul Khoirot
• Pembacaan Kitab Ihya Ulumuddin dan manaqib
• Khotmil Qur’an
• Rangkaian Haflah Maulid Rasulullah di 60 tempat
• Halal bi Halal tanggal 2 Syawwal

Sekretariat :
Jalan dr. Wahidin 70 Pekalongan Jawa Tengah Phone / Fax. 0285-427997


*)  Penulis adalah Ketua PC LTN NU Kota Pekalongan dan kontributor NU Online tinggal di Kota Pekalongan Jawa Tengah

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG