IMG-LOGO
Opini

Bagaimana Negara Merespon Gerakan Ideologis Non-Pancasila?

Kamis 4 Agustus 2016 8:0 WIB
Bagikan:
Bagaimana Negara Merespon Gerakan Ideologis Non-Pancasila?
Oleh Mohamad Muzamil

Aparat keamanan dinilai berbagai kalangan masih ragu-ragu dalam menghadapi gerakan kelompok masyarakat yang menyebarluaskan paham yang bertentangan dengan paham (ideologi) Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Penilaian itu misalnya terungkap dalam berbagai pertemuan sosialisasi gerakan deradikalisasi  antara pemerintah dan tokoh masyarakat serta tokoh agama yang akhir-akhir ini sering dilakukan pemerintah dan masyarakat di berbagai daerah.

Aparat sendiri merasa tidak bisa berbuat banyak terhadap gerakan yang mengatasnamakan gerakan hak asasi manusia (HAM). Hal ini bisa dipahami karena tindakan aparat harus dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, atau istilah populernya disebut "sesuai dengan prosedur".

Dalam mengantisipasi gerakan yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI, selama ini aparat melakukan tindakan pencegahan dan deradikalisasi serta penegakan hukum. Kebijakan ini misalnya diterapkan Kapolri melalui pembentukan Satgas Kontra Radikal dan Deradikalisasi sejak tanggal 20 April 2015.

Karena itu bagaimanakah cara mengantisipasi gerakan ideologis tersebut agar persatuan dan kesatuan bangsa ini tetap lestari serta mampu mencapai cita-cita dan tujuan nasional?

Gerakan Ideologis

Sejak reformasi sosial politik tahun 1997/1998, gerakan ideologis selain Pancasila yang sebelumnya tidak mendapat ruang untuk bergerak, menemukan momentum untuk bangkit kembali di Indonesia tercinta ini. Ideologi-ideologi tersebut adalah kiri radikal, ideologi kanan, dan Islamisme.

Kalau ideologi kiri dan kanan bersumber dari pemikiran sekuler maka ideologi islamisme bersumber dari gerakan keagamaan Islam. Masing-masing ideologi tersebut tidak semuanya radikal, tetapi juga ada yang moderat.

As'ad Said Ali, mantan Wakil Ketua BIN, pernah menyebutkan ada dua jenis gerakan kiri radikal, yaitu anarkis marxisme dan populisme kiri. Gerakan kiri yang pertama hakikatnya tidak percaya pada demokrasi, karena bagi mereka, demokrasi hanya menguntungkan kaum kapitalis liberal. Sedangkan jenis kedua inti perjuangannya adalah persamaan sosial dan ekonomi. Mereka menginginkan bentuk demokrasi partisipatoris dari bawah sebagai strateginya.

Berbeda dari kiri radikal, gerakan ideologi kanan radikal menginginkan bentuk demokrasi elitis dan melihat demokrasi dari atas sebagai yang paling bisa dijalankan. Gerakan ini juga ada variannya yaitu kanan konservatif dan kanan liberal. Termasuk gerakan kanan konservatif adalah konservatisme ellitis dan nasionalisme puritan. Sedangkan kanan liberal adalah liberalisme itu sendiri dan kini berkembang menjadi neo liberalisme.

Ideologi kanan tersebut sama-sama menginginkan penguasaan aset melalui pembentukan lembaga-lembaga multinasional yang strategis guna memengaruhi kebijakan publik di negara-negara berkembang sesuai dengan mekanisme pasar. Dengan demikian, menurut mereka, negara tidak boleh campur tangan dalam pembangunan ekonomi dan keuangan.

Setelah reformasi, gerakan kanan tersebut nyata-nyata efektif bekerja di Indonesia karena saat ini sekitar 85 persen saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah dikuasai swasta.

Selain itu saat ini akibat perkembangan teknologi informasi, budaya masyarakat awalnya taat pada nilai-nilai tradisi, kini menjadi semakin jauh dari nilai-nilai tradisional.

Sementara itu umat Islam yang mayoritas di negeri ini kekuatannya telah terpolarisasi cukup tajam antarberbagai gerakan Islam. Satu sisi ada sebagian yang menginginkan Islam sebagai sistem negara, dan di sisi yang lain menghendaki Islam tidak perlu jauh memasuki sistem negara, tetapi cukup substansi ajaran-ajarannya. Polarisasi gerakan Islam ini telah berlangsung lama sejak  negeri ini merumuskan ideologi dan bentuk negara yang akhirnya muncul penghapusan tujuh kata dalam piagam jakarta.

Meskipun sampai saat ini pola gerakan kedua yang tampil menjadi arus utama di negeri ini, namun akibat kebijakan aparat sekarang yang kurang tegas telah turut andil dalam menyuburkan pola gerakan Islam model pertama. Bahkan kementerian agama dan kementerian pendidikan sendiri seringkali mengaku "kecolongan" terhadap munculnya kurikulum dan "bahan ajar" yang berbau formalisme Islam.

Semakin Kompleks

Dengan melihat kategori-kategori ideologis tersebut, menjadi nyata bagi kita bahwa hubungan negara dengan ideologi-ideologi gerakan yang saat ini berkembang tampak semakin kompleks. Sementara itu setelah reformasi peran Negara semakin melemah akibat amandemen UUD 1945 menjadi UUD tahun 2002.

Akibat amandemen terhadap UUD 1945 tersebut muncul peraturan perundang-undangan di berbagai bidang dan sektor kehidupan yang semangat, cita-cita dan tujuannya bertentangan dengan pembukaan UUD 1945, yang di dalamnya terdapat rumusan tentang peran negara dan Pancasila. Jadi tampak adanya ketidaksesuaian antara ideologi negara, UUD dan peraturan perundang-undangan di bawahnya serta realitas kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan saat ini.

Karena itu terjadilah krisis di negara kita saat ini, baik ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Haruskah hal ini kita biarkan berlarut-larut tanpa adanya upaya yang sistematis dan massif untuk mengambil sikap tegas dan bukan sikap keras dalam merealisasi cita-cita para pendiri bangsa dan negara ini sebagaimana tertulis dalan pembukaan UUD 1945?

Penulis adalah Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah

Bagikan:
Kamis 4 Agustus 2016 21:56 WIB
Antusiasme Menyambut “Pokemon Go” Jadi Titik Revolusi Teknologi Realitas Maya
Antusiasme Menyambut “Pokemon Go” Jadi Titik Revolusi Teknologi Realitas Maya
ilustrasi: pokemongo.com
Oleh Mohammad Zikky*
Fenomena booming-nya game “Pokemon Go” akhir-akhir ini menjadikan dunia seakan terhipnotis dengan keunikan permainannya yang berbasis lokasi nyata dengan peta digital. Berbagai media cetak dan elektronik dengan hiruk pikuk memberitakan Game ini dan secara viral menyebar ke berbagai kalangan di seluruh penjuru dunia. Game buatan John Hanke ini sudah diunduh 10 juta lebih dalam minggu pertama saat pertama diluncurkan John dan timnya pada tanggal 6 Juli 2016 di Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru. John Hanke butuh waktu 20 tahun sampai akhirnya bisa menciptakan game yang fenomenal ini. Dia memulainya dari menciptakan game pertamanya MMO (Massively Multiplayer Online Game) yang disebut ‘Meridian 59’ pada tahun 1996, disaat John Hanke masih berstatus sebagai mahasiswa. Meskipun kemudian Hanke menjual game tersebut ke perusahaan 3DO dengan alasan untuk mengejar passion-nya di dunia peta digital (terbukti dengan karya ciptanya bernama Keyhole, sebuah layanan peta dunia dengan 3D foto udara yang terhubung ke GPS untuk pertama kalinya pada tahun 2000 serta lahirnya Google Earth pada tahun 2004), John Hanke dengan pengalamannya di dunia game akhirnya berpikir kembali untuk menciptakan game yang berbasis lokasi nyata dengan peta digital menggunakan teknologi GPS sehingga lahirlah game ‘Ingress’ tahun 2012 dan yang paling mutakhir adalah Pokemon Go dengan teknologi tambahan Augmented Reality (AR) pada mini-games di dalamnya.

Game ini menjadi menarik dan viral karena ini merupakan game mobile pertama kali yang menggunakan dua konsep teknologi termutakhir, yaitu AR (Augmented Reality); sebuah teknologi yang mampu menggabungkan obyek 3D pada dunia virtual ke dalam dunia nyata, serta teknologi game yang berbasis lokasi riil dan memanfaatkan teknologi GPS (Global Positioning System). Dua teknologi ini (AR dan GPS) sebenarnya bukan merupakan teknologi baru, tercatat dalam sejarah bahwa teknologi AR sudah dimulai sejak tahun 60-an pada bidang sinematografi bernama Senosorama dan teknologi GPS sendiri sudah dirancang sejak tahun 70-an dan diaktifkan untuk umum mulai tahun 1995 untuk digunakan dalam berbagai macam keperluan navigasi. Seiring dengan berkembangnya perangkat cerdas seperti smartphone dan teknologi internet cepat nirkabel, ide memanfaatkan AR dan GPS pada sebuah game yang nyata telah hadir untuk memberikan revolusi baru bagaimana menggabungkan keduanya menjadi game yang fantastis.

Masa depan telah dimulai dari Pokemon Go

Game “Pokemon Go” hadir seakan menjadi antitesis bahwa teknologi game/video game umumnya dimainkan dalam posisi diam, sehingga stigma yang muncul bahwa orang yang kebanyakan main game adalah orang yang malas bergerak dan keluar dari interaksi dunia nyata. Game Pokemon Go hadir dengan prasyarat harus dimainkan di luar (outdoor/ masih dalam deteksi sinyal GPS) dan mengharuskan pemain bergerak serta menjembut atribut-atribut game-nya pada lokasi tertentu di dunia nyata. Game ini menurut saya menjadi salah satu titik revolusi teknologi penggabungan dunia virtual dan dunia nyata yang begitu imersif, dan pastinya ke depan tidak hanya dimanfaatkan untuk game, namun bisa untuk hal lain di berbagai bidang, misalkan untuk checkpoint pengambilan kupon virtual lomba gerak jalan, virtual check point bersepeda/touring, tiket virtual gerbang jalan tol, dan lain sebagainya yang sangat membantu dan berguna untuk membantu beberapa pekerjaan manusia.

Mengantisipasi dampak buruk dan ambil manfaatnya

Banyak pemberitaan baik di media cetak dan elektronik akhir-akhir ini yang menyatakan bahwa ada beberapa pemain Pokemon Go yang membahayakan dirinya ketika berburu Pokemon seperti menyebabkan kecelakaan, nyasar ke tempat asing, dan bahkan menjadi sasaran pencopet/ perampok. Dalam berbagai sejarah revolusi teknologi, hadirnya teknologi baru pasti akan menghadirkan pisau bermata dua; dia akan bermanfaat jika digunakan dengan sebaik-baiknya dan berdampak buruk jika disalahgunakan. Pemain Pokemon Go yang mengalami dampak buruk kebanyakan adalah mereka yang tercandukan dengan buta dan lupa akan rambu-rambu alam nyata yang ada di sekitarnya. Banyak pemain game ini yang berkendara kemudian berhenti tiba-tiba karena menemukan Pokemon, sehingga terjadilah benturan kendaraan lain dari belakang dan celaka. Dan beberapa kejadian lain yang intinya adalah kurang antisipasi terhadap kemungkinan terjadi hal yang tidak diinginkan.

Kemudian persoalan keamanan data dan foto lokasi, memang ini bisa terjadi bagi sebagian orang yang bertugas di tempat steril, seperti misalkan paspampres atau penjaga benda-benda pusaka yang memang disterilkan dari pengambilan foto dan rekaman lainnya. Saya kira memang perlu ada kekhawatiran, namun logikanya memang lokasi-lokasi tersebut seharusnya memang sudah disterilkan dari kamera digital dan sejenisnya, apalagi bermain Pokemon Go yang menggunakan teknologi AR (menyatukan 3D Pokemon dengan latar belakang gambar kamera belakang handphone). Namun saya kira pemerintah dan masyarakat kemudian tidak terlalu paranoid dengan game ini, asalkan bijak maka akan baik-baik saja dan pada hakikatnya sama dengan kekhawatiran kemunculan internet dulu, kita tahu bahwa banyak kekhawatiran yang berlebihan, terutama kekhawatiran bebasnya akses pornografi dan sejenisnya. Namun seiring berjalannya waktu, kita sekarang sudah memperoleh kemanfaatan yang lebih dari internet dari pada mudharot-nya, meskipun masih ada saja yang menyalahgunakan.

Terlepas dari kontroversi manfaat dan dampak buruk teknologi game tersebut, game ini telah menjadikan dunia maya dan dunia nyata menyatu dalam genggaman. Pemain game yang biasanya hanya berdiam, diharuskan berjalan-jalan jika ingin bermain game ini, hal ini akan baik untuk kesehatan karena bisa sambil lalu berolah raga. Bahkan jika ingin misinya sukses besar seperti menangkap Pokemon Legend, pemain game ini diharuskan mengunjungi tempat-tempat penting yang telah ditentukan dan biasanya adalah ikon-ikon landmark/wisata besar di negeri tempat kita bermain. Potensi tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan ikon landmark negara kita kepada wisatawan asing yang hobi bermain game Pokemon Go, tentunya melalui prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan The Pokémon Company.

Jika pemerintah mampu mengedukasi masyarakat dengan baik sehingga tidak terjadi lagi dampak buruk pada pemain game ini, maka potensi game ini bisa dijadikan media promosi tempat penting yang ada di negara ini, seperti tempat wisata, ikon kota yang potensial namun belum dikenal orang banyak, dan berbagai pengenalan tempat/daerah lainnya yang ingin dipromosikan dengan menjadikan tempat tersebut sebagai tempat diletakkannya atribut-atribut penting game Pokemon, seperti tempat Pokemon Legend, yang mengharuskan pemainnya datang langsung untuk memperolehnya.

Ke depan penulis berharap, revolusi teknologi mixing dunia virtual-dunia nyata berbasis GPS ini akan bisa dikembangkan menjadi teknologi tepat guna yang bisa dimanfaatkan dalam segala hal yang bisa membantu pekerjaan manusia sehari-hari dengan tepat, smart, efisien, dan membawa kemaslahatan yang lebih besar.

* Deklarator Computer Society of Nahdlatul Ulama (CSNU), Wk. Sekretaris LPTNU Jatim, sekaligus Dosen dan Kepala Laboratorium Studio Game di Prodi Teknologi Game, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)
Kamis 4 Agustus 2016 18:0 WIB
Belajar Keberagaman dari Seorang Gus Dur
Belajar Keberagaman dari Seorang Gus Dur
Oleh Guntur Pribadi

Ketika kita membincang atau membaca tentang Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur, apa yang ada dipikiran kita setelah mendengar atau membaca biografi sang pejuang kemanusiaan tersebut? Jawabannya, mungkin saja ada yang tidak terlalu minat. Mungkin ada yang biasa-biasa saja. Atau mungkin pula ada yang sangat menikmatinya tentang semua hal dari sosok Gus Dur.

Memang baiknya mengenal Gus Dur tidak sekadar ikut-ikutan. Apalagi pembacaannya tidak imbang. Karena akan sulit menemukan sisi lain dari Gus Dur yang menyimpan banyak karakter, baik itu sebagai bagian dari bangsa ini. Sebagai ulama. Sebagai kiai. Sebagai pemimpin. Maupun sebagai manusia yang memiliki selera humor.

Jika ingin mengenal Gus Dur, ada baiknya memang kita harus banyak referensi. Paling tidak menelusuri riwayatnya diperlukan ‘perjalanan’ yang tidak berkutat hanya pada tekstualitas mengenai segala hal tentang Gus Dur. Diperlukan pula kemampuan mengaktualisasikan pemikiran-pemikirannya melalui aktivitas-aktivitas sosial yang berpihak kepada kaum lemah.

Membuka riwayat sepak terjang Gus Dur, baik itu ketika ia menjadi aktivis santri, aktivis pemuda, aktivis sosial, hingga ketika dipercaya memimpin Nahdlatul Ulama (NU) dan juga sebagai seorang pemimpin negara, kita tentunya akan banyak menemukan dan belajar dari sikap atau cara berpikir Gus Dur yang penuh pengabdian terhadap umat dan bangsa.

Membaca pemikiran Gus Dur tidak cukup pula sekadar tekstual. Karena tentu tidak akan banyak didapatkan dari nilai-nilai yang ada dalam pemikirannya jika pembacaan terhadap Gus Dur dengan sekadarnya saja atau hanya sebagai pengagum Gus Dur tanpa dasar.

Gus Dur yang seringkali dinilai kontroversial akan sangat tepat bila dalam hal pembacaan teradap pemikirannya dilakukan secara kontekstual dan mendalam. Mengapa? Karena lompatan berpikir Gus Dur yang kerap melampaui batasnya tidaklah mudah dipahami tanpa model pembacaan yang kontekstual dan mendalam.

Artinya secara kontekstual dan mendalam pembacaan terhadap pemikiran Gus Dur sangat penting untuk kepentingan hari ini dan ke depan Indonesia, terlebih dalam menghadapi ancaman disintegrasi dan peminggiran kemanusiaan. Karena, sebagai bangsa dengan suku, etnis, budaya, dan bahkan agama yang pluralistik, bukanlah tidak mungkin potensi ancaman perpecahan itu ada.

Pentingnya melakukan pembacaan terhadap pemikiran Gus Dur secara kontekstual dan mendalam tersebut, tentu saja sebagai upaya menangkal potensi-potensi perpecahan dengan memahami nilai-nilai kebersamaan dan keberagaman yang ditanamkan oleh Gus Dur. Seperti kita tahu, Gus Dur sendiri seringkali menyerukan pentingnya persatuan bangsa, kebersamaan umat, toleransi, hingga menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

Khusus perhatiannya terhadap soal-soal kemanusiaan di negeri ini, Gus Dur dalam sepak terjangnya tak dapat dipungkiri memiliki komitmen tinggi dalam hal itu. Upayanya menentang dan juga melakukan ‘pembongkaran’ tembok-tembok diskriminasi kemanusiaan setidaknya telah mengantarkan bangsa ini kemudian mampu melek terhadap ketidakadilan yang telah lama dilakukan oleh penguasa, terutama di masa rezim Orde Baru berkuasa.

Satu contoh upaya Gus Dur ‘membongkar’ tembok diskriminasi adalah mengenai soal kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan keyakinananya. Di era Gus Dur, jumlah agama yang diakui negara bertambah menjadi enam yakni dengan masuknya Kong Hu Cu. Sebelumnya hanya lima agama yang diakui oleh negara. Bukan hanya itu saja, Gus Dur juga membebaskan masyarakat Kong Hu Cu menjalankan ibadah agamanya dan merayakannya secara terbuka.

Kita tahu, di masa rezim Orde Baru diskriminasi terhadap etnis Tionghoa terjadi. Namun, di era Gus Dur ruang kemerdekaan dalam menjalankan agama dan keyakinannya bagi kaum Tionghoa itu dibuka.

Perjuangan Gus Dur mengenai kemanusiaan dan kebebasan menjalankan ibadah jika dilakukan pembacaan secara mendalam melebihi tekstualitas pemikirannya, tentu akan banyak kita temukan nilai-nilai kesadaran dalam beragama yang diajarkan dan diwariskan oleh seorang Gus Dur kepada kita.

Pemikiran dan sikap humanis Gus Dur dalam urusan kemanusian tentu bukan tanpa alasan. Gus Dur tidak buta dalam memahami ajaran-ajaran Islam. Justru berangkat dari keimanan yang dimilikinya itu, Gus Dur menyampaikan gagasan dan sikapnya dengan tidak melepaskan landasan-landasan agama yang menyertai.

Sebagai misal dalam hal keberagaman, Gus Dur memahaminya adalah sebagai keharusan. Bagi Gus Dur, keberagaman itu adalah rahmat yang telah digariskan Allah. Karena itu, menolak keberagaman atau kemajemukan adalah pengingkaran terhadap pemberian ilahi.

Dari sini, kita kemudian dapat kembali belajar dari Gus Dur yang ramah dan damai dalam mengaktualisasikan teks-teks agama. Cara-cara semacam ini pulalah yang sesungguhnya diperlukan pada bangsa yang memiliki keberagaman suku, etnis, budaya, bahasa, hingga agama.

Beragama dengan penuh kedamaian, menghormati perbedaan, menjunjung keadilan, dan menghargai kemanusiaan, adalah di antara cara beragama dari seorang Gus Dur dalam membumikan ajaran-ajaran Islam untuk kepentingan umat dan bangsa.

Untukmu, Gus. Al-Fatihah...

Penulis adalah pegiat LBH dan Alumni UIN (dulu IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Saat ini tinggal di Kalimantan Timur.

Rabu 3 Agustus 2016 16:0 WIB
Semangat Kebangsaan Ulama Thariqah
Semangat Kebangsaan Ulama Thariqah
Syekh Adnan Al-Afyuni (Syiria) saat membacakan 15 kesepakatan ulama thariqah dunia tentang bela negara
Oleh Mohamad Muzamil

Sebagai umat Islam kita patut bersyukur atas terselenggaranya Konferensi Internasional Bela Negara yang diselenggarakan Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Muktabaroh al-Nahdliyah (Jatman) bekerja sama dengan Kementerian pertahanan RI tanggal 27-29 Juli di Pekalongan. Konferensi yang dihadiri ulama thariqah dari 40 Negara tersebut menghasilkan 15 poin kesepakatan penting, agar umat Islam dan segenap komponen bangsa di dunia ini mencintai negaranya masing-masing serta mendorong terwujudnya kerja sama internasional dalam mewujudkan perdamaian, keadilan dan kemakmuran.

Kesepakatan dalam konferensi internasional tersebut mencerminkan kedalaman dan keluasan serta pengamalan ilmu yang dimiliki ulama thariqah. Ulama thariqah bukan semata-mata menguasai ilmu tasawuf semata namun juga mengusai ilmu tauhid dan syari'ah secara lengkap serta menguasai ilmu-ilmu untuk kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat.

Dengan demikian ulama thariqah adalah kumpulan orang-orang yang muwahid (memahami dan mengamalkan tauhid), faqih (memahami dan mengamalkan syari'ah) dan shufi (memahami dan mengamalkan al-ihsan). Mereka termasuk orang-orang yang selalu beriman dan bertaqwa kepada Allah, menebarkan semua kebahagiaan dan kebaikan dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat kelak.

Mereka termasuk orang-orang pilihan Allah yang dikehendaki-Nya diberikan ilmu, hikmah dan keutamaan-keutamaan serta istiqomah dalam ibadah dan kebaikan. Mereka sama sekali tidak menaruh syak wasangka kepada siapa pun utamanya kepada orang-orang yang belum mendapat petunjuk sekalipun. Justru para ulama tersebut memiliki rasa kasih sayang yang besar kepada umat sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasalam mencintai umat manusia.

Mereka selalu berikhtiar dan mendo'akan kepada semua umat manusia di dunia ini agar mendapatkan hidayah, keadilan dan kemakmuran dalam kehidupannya.

Dalam menjalankan amar ma'ruf nahi munkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah keburukan), mereka melakukannya dengan hikmah, kearifan dan tanpa tindakan kekerasan. Mereka tidak memiliki kepentingan pribadi kecuali semata-mata mengharap ridha Allah Ta'ala.  Mereka selalu berbuat baik kepada siapa pun sebagaimana Rasulullah dan para sahabatnya serta para al-salaf al-shalih melakukannya dalam sejarah yang telah lampau.

Para ulama thariqah selalu berprasangka baik kepada siapa pun. Jika mereka melihat orang yang lebih tua maka mereka beranggapan bahwa orang yang lebih tua itu telah memiliki amal kebaikan yang sangat banyak. Sedangkan jika mereka melihat orang yang lebih muda maka mereka menganggap bahwa yang masih muda belum memiliki dosa dan kesalahan yang banyak. Hal ini menjadi karakter yang luar biasa dari ulama thariqah karena diilhami sultan auliya Syekh Abdul Qadir al-Jailani radliyallahu anh. Pernah suatu ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani pulang dari shalat jama'ah di masjid. Dalam perjalanan ia bertemu seorang pemuda yang sedang dalam kondisi mabuk karena minuman keras. Waktu itu dalam hati Syekh Abdul Qadir al-Jailani terlintas dalam pikirannya (tidak dikatakan): "Pemuda kok mabuk-mabukan". Alangkah terkejutnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pemuda itu mengatakan dengan lantangnya: "Hai Syekh, anda ditakdirkan Allah termasuk orang yang al-alim al-allamah dan rajin beribadah. Bagaimana jika anda ditakdirkan Allah seperti saya yang pemabuk ini?" Seketika itu pula Syekh Abdul Qadir menangis mohon ampun kepada Allah Ta'ala.

Semangat Kebangsaan

Semangat kebangsaan para ulama thariqah diilhami dari semangat Rasulullah dalam mencintai umatnya. Karena begitu besar rasa cinta Rasulullah kepada umat atau bangsanya, Rasulullah tidak ingin adanya pertumpahan darah yang akan memakan korban akibat ancaman dan perilaku keras orang-orang kafir Quraisy. Berdasarkan wahyu dari Allah, Rasulullah memerintahkan kepada umatnya untuk hijrah ke Habasyah. Setelah itu diperintahkan untuk hijrah ke Yatsrib atau Madinah.

Hijrah Rasulullah dan para sahabatnya ke Madinah bukan untuk menjajah sebagaimana orang-orang imperialis, tetapi untuk melaksanakan perintah Allah dan adanya pertolongan dari penduduk Madinah yang disebut kaum Anshar. Rasulullah dan para sahabatnya (kaum muhajirin) dapat hidup rukun dan bekerjasama dalam membentuk peradaban baru yang damai atas dasar nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta'ala.

Kaum muhajirin bukan hanya bekerjasama dengan kaum anshar yang muslim tetapi juga kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani di Madinah. Mereka saling memperkuat satu sama lainnya dan membentuk pertahanan yang kokoh di Madinah dari serangan musuh. Ini lah contoh sebuah peradaban yang agung dan sangat mulia yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

Semangat cinta tanah air juga dilakukan para ulama di Nusantara ini sejak datangnya kaum penjajah. Hal ini misalnya dilakukan para Wali Songo pada abad ke-15 masehi dengan adanya perlawanan Raden Fatahillah kepada penjajah Portugis di Batavia, kemudian disusul perlawanan dari kesultanan yang ada di nusantara ini seperti Sultan Hasanudin, Sultan Agung Hanyukrokusumo, Sultan Ternate, Tidure dan sebagainya yang kesemuanya adalah atas bimbingan dan nasihat dari para ulama thariqah.

Setelah itu pada awal abad ke-19, muncul Pangeran Diponegoro dari kasultanan Mataram Yogyakarta, yang melakukan perlawanan kepada penjajah Belanda di tanah air pada tahun 1825-1830. Pangeran Diponegoro adalah termasuk pengamal thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Kemudian perjuangan kemerdekaan Indonesia dilanjutkan oleh ulama thariqah seperti Syekh Yusuf almakasari, Syekhuna Mbah Kholil Bangkalan, Hadratus Syekh KH M Hasyim Asy'ari, Syekh Hasyim bin Yahya, Syekh KH Abdul Wahab Hasbullah, Syekh Subkhi Parakan, dan masih banyak lagi ulama thariqah hingga Indonesia dapat merdeka seperti sekarang ini.

Semangat dan cinta tanah air seperti ditunjukkan oleh para ulama thariqah tersebutlah yang harus diwarisi oleh generasi sekarang dan mendatang, guna mewujudkan perdamaian dan keadilan seluruh umat manusia. Wallahu a'lam.

Mohamad Muzamil, pernah tabarukan di Pesantren Al-Fattah Setinggil, Al-Istiqomah Kembangan, dan Futuhiyah Mranggen, Demak.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG