IMG-LOGO
Nasional

Sejumlah Argumen Fiqih Mengapa Hukuman Mati Diterapkan

Kamis 4 Agustus 2016 9:1 WIB
Bagikan:
Sejumlah Argumen Fiqih Mengapa Hukuman Mati Diterapkan
KH Munawir, Ketua LBM PWNU Lampung
Pringsewu, NU Online
Islam secara tegas mensyariatkan hukuman qishash, meliputi potong tangan, rajam, hingga hukuman mati. Hukuman mati sebagai sanksi hukum atas tindak kejahatan pembunuhan. Hukuman mati juga diterapkan untuk berbagai tindak kejahatan berat tertentu. Hukuman mati atas kejahatan berat yang sangat keji merupakan peringatan dan ancaman keras bagi siapa pun agar tidak melakukannya.

Pro dan kontra hukuman mati sampai sekarang menjadi perdebatan yang tidak berujung. Pihak yang setuju penerapan hukuman mati mempunyai argumen yang rasional dan faktual, tetapi pihak yang tidak setuju tentu tidak kurang alasan.

Menurut Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU Provinsi Lampung KH Munawir, hukuman mati bisa dilakukan dengan didasari memberikan ta'zir kepada pelaku.

"Hukuman mati sebagai Ta'zir adalah hukuman atas pelanggaran-pelanggaran berat namun tidak menyebabkan Had dan Qishas, seperti tindak kejahatan yang membahayakan orang banyak atau mengancam keamanan negara dan lain lain," katanya.

Hukuman mati yang diterapkan dalam syariat Islam menurutnya merupakan bukti upaya serius untuk melindungi manusia dalam hak mereka untuk mendapatkan keselamatan dan kemaslahatan di dunia dan akhirat dan memberantas kejahatan berat yang menjadi bencana kemanusiaan. 

Misalnya, hukuman mati bagi pelaku pembunuhan dan bandar narkoba. Sanksi hukuman mati itu merupakan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, dan menjadi pelajaran paling efektif bagi orang lain supaya tidak berbuat hal yang sama.

Gus Nawir, begitu ia biasa dipanggil, menambahkan bahwa hakikat disyariatkannya hukuman mati ini adalah bahwa hukuman mati tidak dapat dinyatakan melanggar HAM terkait dengan hak hidup seseorang. Akan tetapi hukuman mati justru memberantas pelanggaran HAM yang menjadi bencana kemanusiaan terkait hak hidup banyak orang. 

"Ini dikarenakan hak asasi yang dimiliki seseorang tidaklah berlaku seluas-luasnya, akan tetapi dibatasi oleh hak asasi orang lain. Artinya hak kebebasan yang dimiliki seseorang dibatasi dengan kewajiban untuk menjaga dan menghormati hak orang lain," tegas kiai muda ini Rabu, (3/8).

Ia mengingatkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi akal, keturunan, harta, nyawa, dan agama, yang dimiliki seseorang, oleh karenanya hal ini sangat dilindungi dan tidak boleh dirusak oleh siapapun.

Sehingga menurut Kiai yang juga Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Lampung ini perlu dipahami bahwa hukuman mati pada hakikatnya dimaksudkan untuk beberapa hal seperti memelihara dan melindungi kehidupan dari kejahatan yang mengancamnya. 

Selain itu hukuman mati juga dapat memberantas tuntas kejahatan yang tidak dapat diberantas dengan hukuman yang lebih ringan dan merupakan tindakan preventif agar orang lain tidak melakukan tindak kejahatan serupa, 

"Memberikan perlindungan manusia atas hak-hak mereka untuk mendapatkan, keselamatan, keamanan dan kemaslahatan mereka. Memberikan jaminan keadilan kepada para korban juga salah satu tujuan dari hukuman ini. Dan ini tidak dimaksudkan sebagai upaya balas dendam," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Bagikan:
Kamis 4 Agustus 2016 17:0 WIB
Haul KH Abdul Manan Dipomenggolo, Peretas Jejaring Ulama Nusantara
Haul KH Abdul Manan Dipomenggolo, Peretas Jejaring Ulama Nusantara
Pacitan, NU Online
Tidak banyak catatan riwayat hidup dan perjuangan KH Abdul Manan Dipomenggolo yang berhasil dikumpulkan. Padahal beliau mempunyai banyak kapasitas sebagai ulama besar. Selain pendiri Pesantren Tremas Pacitan, beliau juga peretas jejaring intelectual chains generasi ulama-ulama Nusantara.

“Sungguh sangat disayangkan, tokoh sehebat KH Abdul Manan Dipomenggolo riwayatnya terlewatkan begitu saja. Padahal bila diteliti lebih dalam, ketokohan dan peran KH Abdul Manan Dipomenggolo sangat luar biasa,” demikian disampaikan pengasuh Pesantren Tremas Pacitan KH Luqman Harits Dimyathi saat membacakan Manaqib dalam rangka peringatan Haul ke-147 dari wafatnya pendiri pertama Pesantren Tremas Al Magfurlah KH Abdul Manan Dipomenggolo di Makam Bukit Semanten Pacitan, Senin (1/8) lalu.

Kiai luqman mengatakan, sulit dibayangkan, KH Abdul Manan Dipomenggolo merintis pesantren sejak zaman kolonial Belanda (1830 M), namun hingga kini masih tetap istiqamah sebagai pusat peradaban keilmuan. Sehingga muncul pertanyaan,  sebenarnya tirakat apa yang pernah dilakukan oleh beliau sehingga pesantren yang didirikanya masih kokoh berdiri, keturunanya banyak yang menjadi ulama, seperti Syekh Mahfudz Attarmasi, Kiai Dimyathi dan Kiai Dahlan Al Falaki Attarmasi, hingga beliau diakui sebagai salah satu peretas jejaring ulama Nusantara.

“Hal ini yang harus terus direnungkan dan digali oleh generasi yang akan datang,” ungkap Katib Syuriyah PBNU itu.

Dihadapan ribuan peziarah, Kiai Luqman mengulas kembali tentang riwayat pendidikan KH Abdul Manan Dipomenggolo, yang diketahui pernah belajar di Pesantren Tegalsari Ponorogo dan di Universitas Al Azhar Mesir pada tahun 1850-an. Menurut catatan sejarah dari buku Jauh di Mata Dekat di Hati, Potret Hubungan Indonsia-Mesir, terbitan KBRI Kairo tahun 2010, KH Abdul Manan Dipomenggolo berguru kepada Grand Syeikh Al Azhar ke-19, Ibrahim Al Bajuri. KH Abdul Manan Dipomenggolo dikenal sebagai generasi pertama orang Indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar Mesir. 

“Yang menarik untuk direnungkan disini, bagaimana cara dan usaha KH Abdul Manan Dipomenggolo hingga dapat mengenyam pendidikan di Al Azhar Kairo Mesir. Padahal waktu itu masih dalam masa penjajahan kolonial Belanda, bagaimana bisa seorang santri Pacitan, dari daerah yang sangat tertinggal dan jauh dari pusat peradaban, mampu belajar hingga ke universitas tertua di dunia itu,” kata Koordinator Gerakan Ayo Mondok itu.

Kiai Luqman menambahkan, kalau bukan karena sesungguhan dan kegigihan KH Abdul Manan Dipomenggolo untuk membangun peradaban pesantren di Pacitan khususnya Indonesia, tidak mungkin KH Abdul Manan Dipomenggolo dapat belajar hingga ke luar negeri, hingga memiliki reputasi keilmuan yang luas. Bahkan pengembaraannya dalam menuntut ilmu ke luar negeri akhirnya diikuti oleh putera dan cucunya, seperti yang paling masyhur, Syekh Mahfudz Attarmasi.

“Maka tidak bisa diragukan lagi keluasan ilmu yang telah diperoleh KH Abdul Manan Dipomenggolo. Sanad keilmuan yang dimiliki oleh KH Abdul Manan Dipomenggolo, kesemuanya bersambung hingga kepada Rasulullah SAW,” pungkasnya.

Dzikra Haul KH Abdul Manan Dipomenggolo berlangsung khidmat. Dihadiri oleh ribuan peziarah, yang terdiri dari para santri Pesantren Tremas Pacitan dan Pesantren Al Fattah Kikil. Tampak hadir para Kiai, seperti KH Fuad Habib, KH Muhammad Habib, KH Burhanuddin HB, KH Rotal Amin, Gus Muhammad Bin Kiai Harir Demak, Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo, dan para alumni dari berbagai daerah. (Zaenal Faizin/Zunus)

Kamis 4 Agustus 2016 16:16 WIB
Selamat Datang Bulan Dzulqa’dah 1437 H!
Selamat Datang Bulan Dzulqa’dah 1437 H!
Ilustrasi (radar bangka)
Jakarta, NU Online
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan ikhbar bahwa awal bulan Dzulqa’dah 1437 hijriah jatuh pada Kamis ini (4/8), persisnya sejak Rabu tadi malam, berdasarkan hasil rukyat hilal dari berbagai tempat.

Ketua LF PBNU KH A. Ghazalie Masroeri melaporkan, tim rukyat hilal berhasil pada Rabu petang berhasil melihat hilal antara lain di Pondok Pesantren Baytul Hikmah Pasuruan, Jatim dengan perukyat Ustadz M Inwan Nudin; serta di Pantai Cibeas Pelabuhan Ratu Sukabumi, Jabar (KH Yahya dan para perukyat lainnya).

Ikhbar ini sesuai dengan prediksi LF PBNU sebagaimana data hisab yang tercatat dalam almanak PBNU bahwa awal bulan Dzulqa’dah jatuh pada Kamis Legi dengan ketinggian hilal 050 19’ 51” dari markaz Jakarta.

Kiai Ghazalie mengapresiasi keterlibatan warga NU dari berbagai daerah dalam proses observasi bulan sabit kali ini. “Terima kasih atas partisipasi dan kontribusi Nahdliyyin,” ujarnya.

Dzulqa’dah merupakan bulan ke-11 dalam kalender hijriah. Bulan ini merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan (asyhur hurum) seperti yang disebutkan Al-Qur’an.

Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu‘in menjelaskan, bulan paling utama untuk ibadah puasa setelah Ramadhan ialah bulan-bulan yang dimuliakan Allah dan Rasulnya. Yang paling utama ialah Muharram, kemudian Rajab, lalu Dzulhijjah, terus Dzulqa‘dah, terakhir bulan Sya‘ban. (Mahbib)

Kamis 4 Agustus 2016 15:56 WIB
Nasihat Sukses Gus Dur kepada KH Fuad Affandi, Apa Itu?
Nasihat Sukses Gus Dur kepada KH Fuad Affandi, Apa Itu?
KH Fuad Affandi Kabupaten Bandung
Bandung, NU Online
Sosok KH. Abdurrahman Wahid banyak menginspirasi kehidupan orang-orang. Bukan hanya orang kecil. Sosok sekaliber KH. Fuad Affandi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ittfaq Kabupaten Bandung pun banyak terinspirasi oleh pemikiran tokoh bangsa yang akrab dipanggil Gus Dur itu. Pada peringatan #HarlahGusDur 4 Agustus 2016 ini, Mang Haji sapaan akrabnya tak ketinggalan ikut mengungkapkan kesan khususnya terhadap Gus Dur.

"Tadi pagi ramai-ramai anak-anak ngomongin Gus Dur. Ternyata ada keramaian di internet soal Hari Lahir Gus Dur. Alfatihah untuk beliau. Insya Allah Gusti Allah menerima amal-amal baiknya dan menghapus dosa-dosanya," terang murid ulama Legendaris Lasem Mbah Maksum itu kepada NU Online, Kamis (4/8) melalui telpon.

Inspirasi Gus Dur

Mang Haji, demikian panggilan akrab ulama yang dikenal sebagai ilmuwan bidang teknologi pertanian ini menyatakan punya kesan yang mendalam pada sosok Gus Dur. Secara khusus pada tahun 1980an saat bertemu Gus Dur di Surabaya ia diberikan motivasi.

"Hal yang membekas dalam diri saya saat beliau bilang, Kiai Fuad, kalau sudah punya keinginan baik, jangan terhalang oleh kenyataan yang ada. Saya camkam betul soal itu. Saya buktikan dengan kelemahan saya yang tidak sekolah nyatanya saya mampu bikin sekolah. Kenyataan pada saya bukan sarjana pertanian, saya bisa menjadikan pertanian berkah untuk hidup," terangnya.

Menurut Mang Haji, nasihat Gus Dur terhadap dirinya seperti itu tentu bukan asal-asalan dan mudah diterapkan. Pasalnya untuk benar-benar mampu melewati rintangan dalam setiap usaha itu selalu butuh prinsip-prinsip yang setiap orang harus membangun sendiri. Sebab menurutnya, jika Gus Dur berkeyakinan bahwa setiap keinginan baik pasti akan tercapai, maka Kiai Fuad Affandi merasa harus membangun etos hidup yang luar biasa berat dilakukan tetapi menjadi kewajiban.

"Untuk berhasil dengan cita-cita yang kita inginkan itu maka saya tetapkan sebuah pedoman khusus. Sebagai santri yang di sana-sini banyak kekurangan, maka untuk menutupi kekurangan itu saya berpikir, tak boleh ada sejengkal tanah yang menganggur. Tak boleh ada sehelai sampah yang ngawur (terberai)," jelasnya.

Dua prinsip ini menurut Mang Haji Fuad dalam praktiknya akan bisa menutupi kekurangan-kekurangan diri manusia. Misalnya, jika setiap waktu dimanfaatkan untuk belajar maka akan pintar sekalipun tidak sekolah tinggi. Belajar sendiri. Baca koran, baca buku, baca kitab tambahan, ikut kursus dan lain sebagainya. Kemudian jangan sampai ada sampah yang ngawur dimaksudkan untuk melihat setiap hal yang ada di hadapan kita harus dikelola sampai menjadi nilai lebih.

"Banyak potensi di sekitar kita yang dibiarkan seakan-akan sampah sehingga kita tidak mendapatkan apa-apa. Jangankan sampah, tai sapi pun bisa jadi rezeki kalau kita sanggup berdayakan otak," katanya. (Yus Makmun/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG