IMG-LOGO
Fragmen

Tiga Ulama yang Memprediksi Kemerdekaan Indonesia

Selasa 16 Agustus 2016 11:32 WIB
Bagikan:
Tiga Ulama yang Memprediksi Kemerdekaan Indonesia
Ulama Indonesia, jauh sebelum 17 Agustus 1945 sudah memprediksikan negeri ini akan mengalami gangguan dan akhirnya mampu meraih kemerdekaan. Gangguan terhadap harkat dan martabat bangsa ini, tak lain untuk menguji semangat persatuan dan kesatuan. Tanpa adanya lawan yang merampas marwah bangsa Indonesia, maka persatuan sangat sulit diciptakan. 

Namun dengan hadirnya penjajah, maka seluruh warga bangsa merasa memiliki dan meminta kembali hak pribumi. Oleh para ulama, masyarakat yang beragama Islam diajak melakukan serangkaian mujahadah, istighatsah, tirakat dan doa bersama agar Indonesia selamat dari penjajahan dan bisa merdeka.

Dari kisah para ulama terdahulu, ada banyak cerita menarik tentang penjajahan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Salah satunya adalah tiga orang ulama yang sudah memberikan isyarat tentang kondisi Indonesai jauh-jauh hari sebelum diserang Belanda, Jepang dan merdeka. Kisah ini dijelaskan oleh Zainul Milal Bizawie dalam bukunya “Masterpice Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama Santri 1830-1945”.

Pertama, KH Abdus Syakur Senori Tuban (wafat 1359 H/1940 M). Kyai Syakur dikenal sebagai teman akrab KH Hasyim Asy’ari yang memiliki ilmu kasyf. Dengan ilmu yang dimilikinya, Mbah Syakur membuat sya’ir tentang kedatangan tentara Jepang dan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 M/1365 H. Padahal lima tahun sebelum merdeka, Mbah Syakur sudah wafat. Syair karya Mbah Syakur adalah:

ارخ اليفا في غشسا * صفر فكل بالواحد
بقتالهم وسيوفهم * ولججهم وتعاند
وفي رجب ترى عجبا * وفي الشهر الذي بعده
وفي رمضان همهمة * وهدَّة بعده هدَّة
وفي شوَّال يشول القوم * ويسكن في ذوي القعدة
وفيها يخرج الهادي * امام الحق لا بعده

Tarikhkanlah bahwa Jepang akan menjinakkan Nusantara pada tahun غشسا ghisy-syisa

(Jika dihitung dengan hisabul jummmal adalah 1361 H/1942 M)

Ia sebagai kolonial yang menyengsarakan bangsa Indonesia

Silih berganti, peperangan, adu senjata dan perihnya mengarungi samudera.

Ketika bulan Rajab (1365 H/Juni 1945) telah terjadi keajaiban, kemudian semakin lumpuh pada bulan Sya’ban (Juli 1945).

Kemudian pada bulan Ramadan (17 Agustus 1945) datanglah masa gembira ria (proklamasi) bagi bangsa Indonesia.

Dan pada bulan Syawwal (September 1945), penderitaan Nusantara semakin membaik.  Posisi Indonesia semakin tenang dengan kemerdekaannya pada bulan Dzul Qa’dah (Oktober 1945)

Di bulan inilah Allah menampilkan sosok pemimpin yang dapat mengayomi masyarakatnya (Soekarno), seorang pemimpin sejati yang tidak ada duanya.

Kedua, Syaikh Ibrahim bin Husain Buengcala Kuta Baro Aceh. Pada tahun 1288 H/1871 M, Syaikh Ibrahim menyatakan: “Negeri di bawah angi (Nusantara) istimewanya akan lepas daripada tangan Holanda (Belanda), sesudah China bangsa lukid (mata sipit, maksudnya bangsa Jepang). Maka Insya Allah ta’ala pada tahun 1365 H (1945 M) lahir satu keajaan yang adil dan bijaksana dinamakan al-Jumhuriyah al-Indunisiyah yang sah”. Kalimat ini dinyatakan 71 tahun sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Tentunya Syaikh Ibrahim memberikan isyarat kepada masyarakat Aceh agar menghormati proses perjuangan bangsa hingga meraih kemerdekaan dengan sempurna.

Dan ketiga, KH Chasbullah Sa’id Jombang (ayahanda KH Abdul Wahab Chasbullah). Setelah melakukan tirakat dan riyadlah yang cukup panjang, Mbah Chasbullah meninggalkan tulisan pendek yang ditutupi dengan kain satir di menara Masjid Pondok Induk (Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang). 

Menjelang wafatnya, Mbah Chasbullan memberikan pesan pada salah seorang santrinya: “Lek misale aku mati, omongno nang Wahab kongkon buka tulisan nak menara tahun 1948; kalau misalnya aku sudah meninggal, katakan pada Wahab untuk membuka tulisan di menara tahun 1948”. Setelah menyampaikan pesan itu, beberapa bulan Mbah Chasbullah wafat. 

Maka sesuai dengan pesan Abahnya, KH Abdul Wahab Chasbullah membuka isi pesan itu pada 1948. Proses membuka isi pesan itu diiringi dengan pembacaan shalawat burdah yang diikuti juga oleh segenap santrinya. Ternyata isi pesan Mbah Chasbullah sangat singkat, yakni tulisan: حر تم  (hurrun tammun, artinya kemerdekaan yang sempurna). Dan ternyata tahun 1948, kemerdekaan Indonesia sudah diakui oleh dunia dan agresi militer Belanda juga sudah sukses dipukul mundur.

Usaha riyadlah dan tirakat dalam mendukung kemerdekaan sejati itu selalu dilakukan oleh Mbah Chasbullah dengan menyuruh santrinya i’tikaf dan membaca amalan shalwat burdah selama sehari penuh. Sedangkan Mbah Chasbullah memilih berdoa dan riyadlah di rumahnya dengan khusyu’ penuh harapan.

Tiga sosok ulama yang memiliki ilmu kasyaf ini patut untuk dijadikan ‘ibrah bahwa para Kyai sangat peduli dalam proses perjuangan bangsa Indonesia. Karena ilmu yang dimiliki oleh Kyai lebih banyak agama, maka proses keagamaan itu yang menjadi dominan dilakukan. Semangat dalam membaca tanda alam dan isyarat dari Allah itulah yang selalu diasah. Sehingga wajar bila para Kyai sudah memberikan prediksi tentang kondisi bangsa ini jauh hari sebelum kemerdekaan.

Sebagai anak bangsa yang sudah menerima kemerdekaan, tentunya patut menghargai usaha para pendahulu yang telah berjuang untuk bangsa ini. Kemerdekaan dan kebahagiaan hidup dalam suasana Indonesia semacam ini membuat hidup tenang dan bebas beraktivitas apapun. Maka sudah sewajarnya kemerdekaan ini diisi dengan hal positif dari memperkuat persatuan bangsa, memperluas wawasan nusantara, menambah ilmu pengetahuan dan menjaga tumpah darah dengan segenap cinta bangsa.***

M. Rikza Chamami, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang & Dosen UIN Walisongo Semarang.



Tags:
Bagikan:
Senin 15 Agustus 2016 13:19 WIB
Dua Ulama Pencipta Lagu Kemerdekaan Khas Pesantren
Dua Ulama Pencipta Lagu Kemerdekaan Khas Pesantren
Oleh M. Rikza Chamami

Dunia pesantren mengenal rabithah (hubungan guru-murid) yang sangat kuat. Guru selalu menjadi inspirasi para santri-santrinya yang pernah mengaji. Demikian pula guru, selalu senang jika melihat para santrinya sukses berkhidmah di tengah masyarakat luas. Tugas sebagai guru seakan tuntas memiliki generasi penerus. Santri juga merasa gembira karena dapat meneruskan manfaat ilmu dari para guru-gurunya.

Demikian pula tampaknya yang dirasakan oleh guru-murid yang sama-sama berjuang meraih kemerdekaan Republik Indonesia dan mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Siapakah dia? KHR Asnawi Kudus (1861-1959 M) dan KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971). Dua tokoh pesantren ini dikenal sebagai sosok guru dan murid yang saling mendukung satu dan lainnya dalam segala hal perjuangan menegakkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

KHR Asnawi adalah salah seorang guru dari KH Abdul Wahab Chasbullah ketika mencari ilmu di Makkah bersama KH Bisri Sjansuri Jombang, KH Dahlan Pekalongan, KH Kamal Hambali Kudus, KH Mufid Kudus dan KH Ahmad Muchid Sidoarjo (Minan Zuhri: 1983). KHR Asnawi sangat lama bermukim di Makkah menjadi guru di Masjidil Haram dan mengajar ilmu agam di rumah pondokannya.

Demikian pula KH Abdul Wahab Chasbullah disebutkan mulai belajar di Makkah sejak usia 27 tahun dan mukim selama lima tahun (Ubaidillah Sadewa: 2014). Di antara guru Mbah Wahab selain KHR Asnawi selama belajar di Makkah adalah Syaikh Mahfudz Termas (tasawwuf dan ushul fiqih), Syaikh Mukhtaram Banyumas (Fathul Wahab), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (fiqih), Syaikh Baqir Yogyakarta (manthiq), Syaikh Asy’ari Bawean (ilmu hisab), Syaikh Sa’id Al Yamani (nahwu), Syaikh Sa’id Ahmad Bakry Syatha (nahwu), Syaikh Abdul Karim Al Daghestany (Kitab Tuhfah), Syaikh Abdul Hamid Kudus (ilmu ‘arudl dan ma’ani) dan Syaikh Umar Bajened (fiqih).

Dari sisi nasab, kedua Kiai ini sama-sama keturunan dari Walisongo. KHR Asnawi keturunan dari Sunan Kudus Sayyid Ja’far Shodiq dan KH Abdul Wahab Chasbullah adalah keturuan dari Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri). Sehingga sangat wajar, dalam bidang perjuangan dan keilmuan antara keduanya sangat memiliki kemiripan. Semangat dalam mencari ilmu dan ketegasan dalam menjalankan hukum agama juga menjadi komitmen keduanya.

Salah satu perjuangan yang tidak pernah dilupakan oleh kedua Kiai ini adalah dalam mengusir penjajah. Kekuatan ilmu dan santri yang dimilikinya, baik di Kudus dan Jombang digerakkan untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Kedaulatan Indonesia sangat dibela mati-matian. Apalagi penjajah hadir di bumi Indonesia sangat mengganggu hak asasi manusia dan membawa misi menghanguskan Islam yang sudah dipeluk oleh penduduk Indonesia.

Sejak masih ada di Makkah, KHR Asnawi dan KH Abdul Wahab Chasbullah sudah merancang bagaimana Indonesia yang terjajah oleh Belanda itu bisa merdeka. Mbah Asnawi bersama dengan Mbah Wahab, KH Abbas Jember dan KH Dahlan Kertosono mendirikan Sarekat Islam (SI) Cabang Makkah. Gerakan nasionalisme sudah digaungkan dari tanah haram dengan menguatkan eksistensi SI dalam merespon pergerakan nasional. Sepulangnya ke Indonesia, dua Kiai ini masih menggelorakan cinta tanah air dan bertekad mengusir penjajah.

KHR Asnawi yang merupakan Penasehat SI Cabang Kudus dengan gagah berani membuat fatwa: “Haram hukumnya menyamai pakaian Belanda (bercelana, berjas, berdasi dan bertopi)”. Fatwa ini diindahkan oleh semua penduduk Kudus dan sekitarnya. Dalam memperjuangkan hak muslim di Kudus, KHR Asnawi pernah dipenjara oleh Belanda, karena fitnah penjajah “geger pecinan”.

Dan justru dari balik jeruji penjara, dakwah KHR Asnawi semakin kuat dan semua santri membala mati-matian dengan membenci penjajah dan minta KHR Asnawi dibebaskan. Semangat kebangsaan ditanamkan oleh KHR Asnawi kepada murid-muridnya. Mbah Asnawi mendirikan organisasi dan madrasah sebelum kemerdekan: Jam’iyyatun Nashihin, Nahdlatul Ulama dan Madrasah Qudsiyyah.

Hal yang sama juga dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Organisasi SI masih digeluti selama berada di Surabaya. Gerakan nyata Mbah Wahab dalam mendukung kemerdekaan sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Kemerdekaan dan hengkangnya penjajah menjadi komitmen Mbah Wahab yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Indonesia, Islam dan kerukunan bangsa Indonesia perlu diwujudkan.

Persinggungan dan keakraban Mbah Wahab dengan Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, W. Wondoamiseno, Hendrick Sneevliet, Alimin, Muso, Abikusno Tjokrosujono dan Soekarno membuatnya semakin kuat merancang pergerakan cinta tanah air. Termasuk peran Mbah Wahab dalam mendirikan Islam Studie Club bersama Dr Soetomo pada 1920. Termasuk Mbah Wahab mulai mendirikan organisasi  dan madrasah sebelum kemerdekaan: Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan dan Nahdlatut Tujjar.

Karya Lagu Pesantren

Di antara wujud kebanggaan dan kecintaan KHR Asnawi dan KH Abdul Wahab Chasbullah ditunjukkan dengan karya seninya. Dua kiai ini dikenal sebagai sosok yang ‘alim dalam agama dan ahli membuat syi’ir (lagu khas pesantren berbahasa Arab). Apalagi dalam catatan sejarah, Mbah Wahab belajar ilmu ‘arudl (membahas cara membuat sya’ir berbahasa Arab) dengan KH Abdul Jalil sejak di Makkah. Dan dunia pesantren memang tidak pernah melupakan ilmu ‘arudl dan ilmu balaghah (badi’, ma’ani dan bayan).

Karya pesantren berupa syi’ir kemerdekaan yang dikarang oleh KHR Asnawi sudah sangat masyhur di kalangan santri Kudus. Syi’ir kemerdekaan (mudah disebut sebagai Lagu Kemerdekaan khas pesantren) itu adalah:

لَحُرَّةٌ فِي انْدُنْسِيَا * بَدَتْ لَدَى إِنْسَانِيَا
وَأَهْلُهَا مُنْفَرِحُوْ * نَ فَرَحًا أَبَدِيَا
لِنَيْلِهَا قَدْ جَاهَدُوْا * أَنْفُسَهُمْ مَا بَاقِيَا
تَحْتَ يَدَيْ كُولُونِيَالْ * يَابَانِ وَالـهُولَنْدِيَا
وَمِنْهُمُو قَدْ أُعْزِرُوْا * إِلَى دِيْكُولْ إِيْرِيَانْ جَايَا
وَمِنْهُمُو قَدْ أُدْخِلُوْا    * فِي السِّجْنِ قَلْبًا مَرْضِيَا
فَإِنَّهُمْ قَدْ أَخْلَصُوا * خِدْمَتَهُمْ وَطَنِيَا
تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ أَفْئِدَ * ةُ الشَّعْبِ عَوْنًا جَلِيَّا
لِأُمَّةٍ وَوَطَنٍ * يُقَدِّمُوْا بِلَادِيَا
جَزَاهُمُوْ إِلَـهُنَا * أَعْمَالَهُمْ مُرَبِّيَا
حُرِّيَّةَ الفِكْرِ الَّتِيْ * تَنَالُ دِيمُوْكْرَاسِيَا
عَدَالَةً خَيْرِيَّةً * عِمَارَةَ اقْتِصَادِيَا

Sungguh kemerdekaan telah jelas bagi bangsa Indonesia
Seluruh bangsa bergembira selamanya
Karena untuk mendapatkan itu dibutuhkan perjuangan total
Dibawah jajahan kolonial Jepang dan Belanda
Ada yang diasingkan di Digul Irian Jaya
Ada juga yang dipenjara dengan penuh kepedihan
Sungguh mereka benar-benar ikhlas mengkhidmahkan diri untuk negara
Jiwa kebangsaan menggerakkan mereka berjuang secara nyata
Demi bangsa dan negara
Semoga Tuhan membalas perjuangan mereka
Dengan menjaga kemerdekaan berpendapat yaitu demokrasi
Menuju kemakmuran keadilan sosial

Adapun lagu kebangsaan yang dikarang oleh KH Abdul Wahab Chasbullah sudah sangat masyhur dan akan menjadi “Lagu Perjuangan Nasional”, yaitu:

يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن
حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان
وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان
اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن
إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ
أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا
كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا
طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا

“Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai bangsaku!
Indonesia negriku
Engkau Panji Martabatku
S’yapa datang mengancammu
‘Kan binasa dibawah dulimu!”

Karya Mbah Wahab ini ada yang menyebutkan dikarang sejak 1916 (versi Cak Anam) dan digemakan sejak 1934 (versi Ubaidillah Sadewa). Keduanya jelas menunjukkan bahwa karya lagu pesantren ini berada pada posisi sebelum kemerdekaan. Dalam buku “Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1830-1945” karya Zainul Milal Bizawie (2016: 55) terdapat kalimat tambahan dalam karya Mbah Wahab, yakni:

Jangan kalian menjadi orang terjajah
Sungguh kesempurnaan dan kemerdekaan
Harus dibuktikan dengan perbuatan

Karya pesantren dari dua Kiai ini menjadikan nyata, bahwa komitmen Kiai dalam mendorong kemerdekaan dan merayakannya menjadi bagian yang utuh. Maka rasanya terharu sekaligus bangga mendengar "Yahlal Wathan" karya KH Abdul Wahab Chasbullah Jombang menjadi Lagu Nasional. Dan guru Kiai Wahab bernama KHR Asnawi Kudus juga memiliki Syi'ir Proklamasi Kemerdekaan, Shalawat Kebangsaan dan Syi'ir Nasionalisme menyambut IR Soekarno sebagai Presiden RI.

Zainul Milal Bizawie menegaskan bahwa: “Setiap langkah Mbah Wahab yang dinamis, beliau selalu meminta nasehat dan saran dari Kiai Asnawi Kudus. Apalagi dengan keberadaan KH Hasyim Asy’ari yang selalu hati-hati dan penuh pertimbangan. Dalam kedinamisan dan pergerakannya, Mbah Wahab selalu minta saran Mbah Asnawi yang lebih aktif dan dinamis”. Disinilah titik temu Mbah Asnawi dan Mbah Wahab. Keduanya menggambarkan isi hati dan muatan dakwah Islamnya dalam lagu-lagu yang isinya hampir memiliki kesamaan.

Hubungan guru & murid ini kompak dalam mendarmabaktikan ilmu 'arudl-nya untuk Indonesia dengan lagu-lagu kemerdekaan khas Pondok Pesantren. Mbah Asnawi dan Mbah Wahab adalah sosok Kiai yang benar-benar menunjukkan bahwa bangsa Indonesia itu harus pandai dan harus dihibur dengan lagu khas pesantren untuk menyemangati cinta bangsa sekaligus mengenang jasa para pahlawan. Semoga lahir Asnawi dan Wahab baru di bumi Nusantara ini. Wallahu a’lam.

Penulis adalah alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus, Pjs Ketua Umum IPNU tahun 2009 & Dosen UIN Walisongo

Senin 15 Agustus 2016 9:1 WIB
Sultan Hadiwijaya dan Lahirnya LSM Menurut Gus Dur
Sultan Hadiwijaya dan Lahirnya LSM Menurut Gus Dur
Membaca sejarah masa lalu bagi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak sekadar mengetahui dan memahami peristiwa dan kejadian yang telah lewat. Menariknya, di samping dapat memetik pelajaran atau hikmah dari sejarah masa lalu, tidak kalah pentingnya lagi adalah bahwa di tangan Gus Dur sejarah masa lalu juga mampu dihubungkan ke dalam  konteks masalah kehidupan kekinian.

Misalnya dalam tulisan Gus Dur yang termuat dalam bukunya yang berjudul Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur (terbitan LKiS: 2010). Dalam salah satu kolom dalam buku tersebut Gus Dur dengan cerdik mampu menghubungkan atau mengaitkan sejarah Sultan Hadiwijaya atau yang terkenal dengan nama Jaka Tingkir dengan fenomena munculnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Perkembangan LSM di Indonesia yang jumlahnya bahkan sudah meruyak sejak era Orde Baru tersebut menurut KH. Abdurrahman Wahid, bukanlah sebagai fenomena baru. Karena sejarah masa lampau bangsa ini kalau disimak dengan teliti sebenarnya telah memperlihatkan adanya asal-usul LSM itu.        

Dalam masyarakat Jawa, tradisi LSM tercermin dalam episode kelanjutan pertentangan antara Sultan Hadiwijaya melawan menantunya, Sutawijaya. Sutawijaya yang memenangkan pertarungan fisik akhirnya menggunakan gelar Panembahan Senopati ing Alogo Sayyidin Ponotogomo Khalifatullah ing Tanah Jawi, dan menjadikan dirinya sebagai pembangun dinasti Mataram awal.

Sebaliknya Sultan Hadiwijaya yang dikalahkan sang menantu itu lari ke ibunya yang berada di pulau Madura. Sultan yang bergelar Pangeran Karebet dan juga Jaka Tingkir ini memperoleh empat puluh buah kesaktian atau kanuragan dari ibunya yang kini dimakamkan di Astana Tinggi, di sebuah pulau yang kini masuk dalam daerah Kabupaten Sumenep.

Dalam perjalanan kembali dari pulau Madura ke Pajang, Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir singgah di Pulau Pringgoboyo (sekarang masuk Kabupaten Lamongan) dan malam harinya mendapat impian/vision dari gurunya yang melarang dirinya kembali ke Pajang untuk memperebutkan takhta kerajaan. Mimpi tersebut juga mengirim pesan kalau hal itu dilakukan Ia hanya akan menjadi korban nafsu kekuasaan belaka.

Setelah mempercayai pesan dalam mimpinya itu, dengan sendirinya Hadiwijaya kemudian menahan diri dan mengembangkan sesuatu yang baru, yang harus dilakukannya tidak dari pusat kekuasaan di Pajang, melainkan dari tempat ia berada, yaitu di Pringgobayan.

Dengan demikian lahirlah sebuah tradisi baru yaitu adanya LSM di luar pusat kekuasaan pajang. Posisi seperti itu meminjam istilahnya Taufik Abdullah disbut sebagai hubungan multi-kratonik. Dalam hubungan sperti ini, selama kraton kecil menyatakan kedudukan nominal kpada kraton besar sudah dianggap cukup. Bahwa pihak periperal mengembangkan diri dalam pola yang tidak dikehendaki oleh pusat kekuasaan adalah ssuatu yang baru dalam sejarah bangsa indonesia.    

Hubungan periperial-pusat yang tidak simetris ini justru dipergunakan untuk pengembangan Islam tanpa merugikan agama hindu dan budha yang sedang berkuasa saat itu. Sedikit demi sedikit agama baru yang datang kemudian mengambil alih kehidupan agama-agama terdahulu, tanpa menimbulkan perbenturan yang berarti. Dengan cara ini, sesuatu yang baru telah menggantikan hal lama tanpa ada perbenturan politik yang dahsyat.

Dengan menelusuri sejarah dan latar belakang munculnya LSM seperti di atas, Gus Dur akhirnya mengimbau terhadap keberadaan berbagai LSM saat ini yang pada umumnya bergerak di akar rumput supaya lebih mengembangkan jati dirinya sendiri, yaitu dengan langkah tidak harus selalu mengikuti pola LSM-LSM internasional. Dengan kata lain Gus Dur menekankan agar mereka menggunakan cara dan gaya hidup masing-masing yang benar-benar berasal dari rakyat. (M. Haromain)

(Red: Fathoni)

Jumat 5 Agustus 2016 19:30 WIB
Kisah Nyai Wahid Hasyim Mendidik Gus Dur dan Kelima Adiknya
Kisah Nyai Wahid Hasyim Mendidik Gus Dur dan Kelima Adiknya
Nyai Wahid Hasyim dan keluarga/Dok: Perpustakaan PBNU.
Tidak ada yang berat di pundak Nyai Hj Sholehah, ibu Abdurrahman Addakhil yang saat ini dikenal sebagai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan kelima adik Gus Dur saat ditinggal untuk selama-lamanya oleh suami tercinta KH Abdul Wahid Hasyim. Wahid Hasyim wafat pada 19 April 1953 dengan meninggalkan 6 orang anak yang masih duduk di sekolah dasar.

Keenam anak tersebut yaitu Abdurrahaman Addakhil berusia 14 tahun dan baru lulus sekolah dasar saat itu. Konon nama ini berasal dari nama tokoh Bani Umayyah yang mendirikan Daulah Umayyah di Andalusia. Kedua, Aisyah berusia 12 tahun dan baru kelas 5 sekolah dasar, ketiga Salahuddin Al-Ayyubi yang kini dikenal Salahuddin Wahid berusia 10 tahun dan baru kelas 3 sekolah dasar.

Keempat, Umar Al-Faruq berusia 9 tahun dan baru duduk di kelas 2 sekolah dasar, kelima Lilik Khadijah yang baru berusia 5 tahun dan masih belajar di taman kanak-kanak, terakhir Muhammad Hasyim yang saat itu masih di dalam kandungan Nyai Sholehah yang baru berusia 3 bulan.

Ketika itu mereka menempati rumah di Jalan Matraman Barat atau di Taman Amir Hamzah. Perasaan sedih kala itu memang menggelayut dalam diri Nyai Sholehah ketika 6 orang putra-putrinya ditinggal KH Wahid Hasyim padahal mereka masih memerlukan kasih sayang seorang ayah. Wahid Hasyim meninggal dunia akibat kecelakaan mobil yang menimpanya saat perjalanan antara Jakarta dan Bandung.

Beban untuk mendidik hingga menyekolahkan keenam anaknya itu betul-betul sangat dirasakan oleh Nyai Sholehah karena tidak banyak peninggalan suaminya selain ilmu dan perjuangan yang tiada tara. Nyai Sholehah menuturkan, suaminya adalah seorang pejuang yang tentunya tidak banyak perhatiannya pada harta benda selain keikhlasan. Pada saat itu, kisahnya, kondisi dan keadaan negara tidak semaju sekarang ini.

“Jadi, walaupun jadi Menteri juga tidak banyak uang. Wal hasil tidak ada persiapan ekonomi apa-apa dan tidak meninggalkan warisan harta yang cukup untuk keperluan hidup dan pendidikan anak-anak,” tutur Nyai Sholehah (Risalah Islamyah, 1977: 28).

Namun demikian, bagi Nyai Sholehah yang terpenting suaminya telah meninggalkan ilmu pengetahuan dan pelajaran hidup yang sangat berharga untuk bekal anak-anaknya di masa yang akan datang. Hal ini menjadi keyakinan dirinya dalam setiap usaha yang dilakukannya agar keenam anaknya dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, termasuk ketika Nyai Sholehah membuka usaha jualan beras. 

“Dalam usaha dagang beras itu, seingat saya bisa mendapat keuntungan Rp2,50 alias seringgit tiap kuintalnya,” ujar Nyai Sholehah (1977: 29).

Uang satu ringgit kala itu memang bukan uang yang sedikit sehingga usaha dagangnya itu mampu mencukupi bagi kehidupan dan pendidikan anak-anaknya. Usaha dagang beras terbilang sukses, Nyai Sholehah juga berusaha membuka usaha-usaha lainnya, seperti usaha leveransir (semacam jasa penyedia barang, red) bagi pembangunan Tanjung Priok kala itu.

Bagi Nyai Sholehah, meskipun suaminya seorang menteri, pejuang bangsa dan salah satu perumus dasar negara Indonesia, tidak lantas membuatnya bergantung pada sederet kiprah dan prestasi tersebut. Biarlah bangsa Indonesia yang menilai, mengingat, atau bahkan memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi KH Wahid Hasyim. Dalam hal inilah Nyai Sholehah berprinsip bahwa tidak ada usaha yang tidak pantas dalam mencari rezeki halal, tentu asal usahanya halal pula. 

Atas kerja kerasnya tersebut, Nyai Sholehah berhasil mencukupi kebutuhan bagi pendidikan keenam anaknya. Apalagi 6 anaknya tersebut terbilang anak-anak yang cerdas dan sholeh. Semua anaknya itu dididik dan disekolahkan di Jakarta untuk pertama kali, kemudian ada yang melanjutkan ke Jawa Tengah (Pesantren Tegal Rejo), ITB, dan Mesir.

Dalam hal pendidikan agama, ketika suaminya masih hidup, anak-anak Nyai Sholehah sering mengaji kepada ayahnya  sendiri di tengah kesibukannya menjabat sebagai Menteri Agama. Tradisi shalat jamaah pun diterapkan betul oleh Nyai Sholehah untuk mewujudkan kedisiplinan anak-anaknya. Setiap maghrib harus berjamaah, lalu dilanjut dengan mengaji Al-Qur’an bersama-sama. Khusus malam Jumat, mereka juga diharuskan membaca tahlil secara berjamaah.

Dalam pandangan Nyai Sholehah, pendidikan agama sangat penting dalam membina moral anak-anak sehingga peran apapun yang dijalani anak-anaknya kelak, mereka tetap terjaga untuk taat kepada Tuhannya. Selain itu, pendidikan rohani juga mampu menjadikan anak tidak mudah minder (kecil hati) karena Islam mendidik manusia berhati besar tetapi tidak sombong.

Pendidikan berharga yang selalu ditekankan oleh Nyai Sholehah juga terkait dengan berusaha menjadi diri sendiri, beramal dengan karya sendiri, tidak menggantungkan dan membonceng orang lain, terutama membonceng kebesaran orang tua. Karena menurutnya, lebih baik menjadi orang besar karena karyanya sendiri daripada menjadi besar karena orang tuanya. Oleh sebab itu dalam pandangan Nyai Sholehah, bekal akhlak dan ilmu pengetahuan mempunyai peran yang sangat penting.

(Fathoni)

Disarikan dari Majalah Risalah Islamyah Jakarta, Edisi Nomor 7-IX, tahun 1977. 
 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG