IMG-LOGO
Tokoh

KH Ahmad Dahlan: Ahli Falak Nusantara

Kamis 25 Agustus 2016 22:0 WIB
Bagikan:
KH Ahmad Dahlan: Ahli Falak Nusantara
Makam KH Ahmad Dahlan berada di sisi timur Makam KH Sholeh Darat di Makam Bergota Semarang.

Salah satu ulama Nusantara yang dikenal ahli dalam bidang ilmu falak adalah KH Ahmad Dahlan. Kiai Dahlan lahir di Termas Pacitan Jawa Timur 1862 dan wafat di Semarang 1911. Makam beliau berada di sisi timur Makam KH Sholeh Darat di Makam Bergota Semarang. Menyebut nama Ahmad Dahlan memang orang menjadi tertuju pada sosok pendiri Muhammadiyah. Dan ternyata dua sosok bernama yang sama itu, KH Ahmad Dahlan Termas dan KH Ahmad Dahlan Yogyakarta, sama-sama mengaji di Pondok Pesantren KH Sholeh Darat.

KH Ahmad Dahlan Termas (sebagian orang menyebut KH Ahmad Dahlan Semarang) merupakan putra dari Abdullah bin Abdul Mannan bin Demang Dipomenggolo I yang merupakan keturunan Ketok Jenggot punggawa Keraton Surakarta, tokoh cikal bakal berdirinya daerah Termas. Dipomenggolo I merupakan seorang santri ahli agama yang berdarah bangsawan yang mendirikan Pesantren Semanten. Salah satu putra Dipomenggolo bernama Mas Bagus Sudarso juga dikirim belajar agama di Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo. Di pesantren yang juga mengkaji budaya ini diasuh Bagus Burhan atau Ronggowarsito.

Kakak dari KH Ahmad Dahlan adalah KH Mahfudz Termas (1842-1920) dan adiknya bernama KH Dimyati Termas (wafat 1934). Tiga bersaudara ini memiliki keilmuan yang sangat luar biasa. Dunia pesantren sangat mengakui peran besar kakak-beradik ini dalam keilmuan-keilmuan agama Islam terutama paham ahlussunnah wal jama’ah.

Sosok KH Ahmad Dahlan yang sangat pandai tidak bisa dilepaskan dari kiprah keluarganya. Keluarga Termas memang sudah dikenal melahirkan ulama Nusantara yang sangat berkontribusi besar dalam dunia pesantren. Misalnya KH Mahfudz Termas dikenal sebagai ulama yang memiliki puluhan karya kitab dan spesialis di bidang hadits, telah mencetak murid yang menjadi ulama pesantren. 

Keahlian KH Ahmad Dahlan Termas dalam bidang ilmu falak ditandai dengan penyebutan namanya dengan sebutan KH Ahmad Dahlan Alfalaky. Kepandaiannya dalam ilmu agama, menjadikannya diambil sebagai menantu KH Sholeh Darat. Ia dinikahkan dengan putri KH Sholeh Darat bernama RA Siti Zahra dari jalur istri RA Siti Aminah binti Sayyid Ali. Dari pernikahan ini, pada tahun 1895, melahirkan anak bernama Raden Ahmad Al Hadi yang kelak ketika dewasa menjadi tokoh Islam di Jembrana Bali.

KH Ahmad Dahlan memulai pendidikannya dari para kiai yang ada di Termas kemudian melanjutkan belajar kepada kakaknya KH Mahfudz Termas yang ada di Makkah. Saat di tanah suci inilah KH Ahmad Dahlan bersahabat dengan ahli falak Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari Bawean Madura (wafat 1921). Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari mempunyai karya Kitab Muntaha Nataiji al Aqwal.

Dalam buku Materpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1320-1945 karya Zainul Milal Bizawie disebutkan bahwa KH Ahmad Dahlan dan Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari berangkat menuju beberapa wilayah Arab dan menuju ke Al Azhar Kairo. Di Kairo keduanya berjumpa dengan dua ulama Nusantara: Syaikh Jamil Djambek dan Syaikh Ahmad Thahir Jalaludin. Selama di Kairo keduanya mengkhatamkan kitab induk ilmu falak karya Syaikh Husain Zaid Al Mishri, Al Mathla’ fi Al Sa’id fi Hisabi al Kawakib ‘ala Rashdi al Jadid yang ditulis awal abad 19.

Setelah selesai belajar di Arab, kemudian ia pulang ke tanah air. Berdasarkan saran dari kakaknya, sesampai di tanah air KH Ahmad Dahlan bersama dengan Syaikh Hasan Asy’ari diminta untuk belajar agama dengan KH Sholeh Darat di Semarang. Maka pesan itu dilaksanakan. KH Ahmad Dahlan mengaji dengan KH Sholeh Darat di Semarang. Dan sudah menjadi tradisi para ulama Nusantara, para santri yang sudah belajar di Arab tetap diminta belajar di Indonesia lagi, terutama dengan KH Sholeh Darat atau KH Cholil Bangkalan.

Karya-karya di bidang Falak yang dilahirkan oleh KH Ahmad Dahlan adalah: Tadzkiratu al Ikhwan fi Ba’dli Tawarikhi wal ‘Amali al Falakiyati (selesai ditulis 1901), Natijah al Miqat (selesai ditulis 1903) dan Bulughu al Wathar (selesai ditulis 27 Dzul Qa’dah 1320 di Darat Semarang). Ditengarai, masih banyak karya-karya KH Ahmad Dahlan yang sampai sekarang belum terlacak. 

Dalam kitab Tadzkiratu al Ikhwan fi Ba’dli Tawarikhi wal ‘Amali al Falakiyati ditegaskan oleh Zainul Milal Bizawie sebagai kitab hisab awal bulan pertama yang ditulis oleh ulama Nusantara. Ini menjawab atas dugaan selama ini bahwa kitab hisab awal bulan yang pertama ditulis adalah Sullam Nayyirin yang baru ditulis 1925. Pola kitab karya KH Ahmad Dahlan masih menggunakan angka Abajadun dengan memakai Zaij Ulugh Beik.

Kitab Natijah al Miqatberisi tentang kaidah ilmu falak tentang penggunaan rubu’ mujayyab dalam penentuan awal waktu shalat dan arah kiblat. Dalam kitab ini juga dirangkumkan pemikiran-pemikiran guru KH Ahmad Dahlan: Syaikh Husain Zaid Mesir, Syaikh Abdurrahman bin Ahmad Mesir, Syaikh Muhammad bin Yusuf Makkah dan KH Sholeh Darat. Kemudian pada tahun 1930, kitab Natijah al Miqatdisyarahi oleh Syaikh Ihsan Jampes (wafat 1952) dengan kitabnyaTashrihu al Ibarat.

Kitab Bulughu al Watharini merupakan kitab falak pertama yang ditulis ulama Nusantara dengan sistem haqiqi tahqiqi. Kitab ini selesai ditulis bersamaan dengan kitab Muntaha Nataij al Aqwal karya Syaikh Hasan Asy’ari Bawean. Induk kitab yang dirujuk dalam membuat Bulughu al Wathardan Muntaha Nataij al Aqwal berasal dari ilmu zaij kitab Al Mathla’ fi Al Sa’id fi Hisabi al Kawakib ‘ala Rashdi al Jadid karya Syaikh Husain Zaid Al Mishri.

Khazanah keilmuan falak yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan dan Syaikh Hasan Asy’ari Bawean ini yang turut serta mewarnai perkembangan ilmu falak di Pondok Pesantren. Dinamika keilmuan falak di dunia pesantren selalu merujuk pada kajian-kajian ilmiah ulama Nusantara yang mampu mengembangkan ilmu falak yang berasal dari Arab.

KH Ahmad Dahlan dalam kesehariannya, bersama keluarga menempati rumah di sekitar Masjid Agung Kauman Semarang. KH Ahmad Dahlan selain dikenal sebagai ulama, juga ahli dalam bidang dagang dan tergolong berekonomi kuat (punya banyak toko di Pasar Johar). Bekal itulah yang digunakan untuk berjuang membangun dakwah Islam di Kota Semarang. Dan sepeninggal KH Sholeh Darat pada tahun 18 Desember 1903, Pondok Pesantren Darat diasuh oleh KH Ahmad Dahlan.

Selama kurang lebih delapan tahun, KH Ahmad Dahlan menggantikan guru sekaligus mertuanya mendidik para santri yang belajar ilmu agama di Pondok Pesantren Darat. Dengan segala dedikasi penuh, para santri yang mengaji di Pondok tersebut diajar sebagaimana cara KH Sholeh Darat mendidik. Termasuk KH Ahmad Dahlan mengajarkan ilmu falak kepada para santri-santrinya dengan menggunakan tiga kitab falak yang ditulisnya.

Keahlian ilmu falak yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan tidak pernah lepas dari keahlian falak yang dimiliki oleh KH Sholeh Darat. Dalam beberapa kisah disebutkan bahwa KH Sholeh Darat yang merupakan guru dari ulama Jawa ini sangat tepat dalam menghitung waktu shalat dan penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawwal. 

Proses penegasan dalam penentuan waktu shalat dan Ramadhan ia tegaskan dalam beberapa karyanya. Termasuk keterbukaan KH Sholeh Darat dalam mengawal tradisi “Dugderan” di Kota Semarang sebagai bentuk kepedulian ilmu falak dan ilmu sosial. Dimana ketika masyarakat Semarang ingin menyambut kehadiran Ramadhan dirayakan dengan bunyi-bunyi bedug dan petasan, maka disebut dug der (dug bunyi bedug dan der bunyi petasan).

Keahlian falak yang dimiliki KH Sholeh Darat adalah ketika diminta menghitung jumlah palawija yang ada di dalam karung oleh Belanda. Dengan sangat cepat berdasar ilmu hitung falaknya, maka KH Sholeh Darat memberikan jawaban dengan tepat. Kekaguman Belanda pada prediksi jumlah isi palawija itulah yang menjadikan Belanda kagum dengan ilmu falak KH Sholeh Darat.

Putra KH Ahmad Dahlan yang bernama Raden Ahmad Al Hadi berdakwah menuju Loloan Timur Jembrana Bali adalah karena mendapatkan isyarat dari KH Cholil Bangkalan (1820-1925) selaku gurunya. Selain itu, setelah KH Ahmad Dahlan wafat, Ibunya menikah lagi dengan KH Amir dan pindah ke Simbang Kulon Pekalongan. Dengan bekal ilmu agama yang dimiliki itu, putra KH Ahmad Dahlan bernama Ahmad ini berdakwah ke Bali. 

Sebagaimana ayahnya, Raden Ahmad Al Hadi sangat senang dengan ilmu pengetahuan agama. Walaupun sejak kecil sudah dilatih berdagang di Pasar Johar Semarang, namun Raden Ahmad Al Hadi tetap semangat mengaji. Sehingga di usia 16 tahun ketika ia ditinggal wafat KH Ahmad Dahlan ia ikut belajar di Pondok Pesantren ayah tirinya, KH Amir. Setelah itu ia merantau dari pondok ke pondok hingga pernah belajar Makkah.

Sebagaimana dijelaskan oleh KH Fathur RA (anak kandung Raden Ahmad bin Ahmad Dahlan), bahwa Raden Ahmad sangat tinggi minat belajarnya. Pondok Pesantren yang dijadikan tempat mencari ilmu adalah: Pondok Pesantren Kaliwungu (berteman dengan KH Abul Choir selama dua tahun), Pondok Pesantren Buntet Cirebon (belajar ilmu silat), Pondok Pesantren Kiai Umar Sarang (belajar ilmu alat), Pondok Pesantren KH Munawwir Krapyak Yogyakarta (belajar Al Qur’an), Pondok Pesantren KH Dimyati Termas, Pondok Pesantren KH Idris Jamsaren Solo.

Setelah tamat dari Pondok Manbaul Ulum Jamsaren Solo dengan bekal Beslit dari Governoor Belanda Jawa Tengah, Raden Ahmad melanjutkan belajar ke Makkah dan Madinah berguru dengan pamannya sendiri, KH Mahfudz Termas. 

Sepulang dari Arab, Raden Ahmad masih mengaji dengan KH M Hasyim Asy’ari di Jombang (satu tahun) dan KH Cholil Bangkalan Madura (satu tahun). Saat di Bangkalan inilah ia bertemu dengan KH Kusairi Shiddiq (mertua KH Abdul Hamid Pasuruan). Perintah Kiai Cholil pada Raden Ahmad adalah menuju Bali bertemu dengan murid Kiai Cholil yang bernama Tuan Guru Haji Muhammad di Loloan Timur Jembrana Bali. Dan ia jalani hingga mendirikan Pondok Pesantren Manba’ul Ulum di Jembrana Bali. Nama “Manba’ul Ulum“ adalah tabarukan dengan almamaternya saat mondok di Jamsaren.Wallahu a’lam.


M. Rikza Chamami

Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dan Dosen UIN Walisongo




Tags:
Bagikan:
Senin 22 Agustus 2016 8:31 WIB
Mengenal Mbah Ghozaly bin Lanah, Pendiri Pesantren Sarang
Mengenal Mbah Ghozaly bin Lanah, Pendiri Pesantren Sarang
Ilustrasi: Pesantren Ma'hadul Ulumisy Syar'iyyah (MUS). Foto wajah KH Ghozai bin Lanah hingga kini belum ditemukan
KH Ghozaly bin Lanah lahir di Madura tahun 1184 H atau sekitar 1770 M. Masa kecil beliau lebih akrab dipanggil Saliyo. Pada masa remajanya beliau nyantri di pesantren Dukuh Belitung Desa Kalipang Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang diasuh oleh Kiai Mursyidin.

Pada suatu hari datanglah seorang santri dari Pesantren Makam Agung Tuban yang beranama Jawahir, ia adalah santri Kiai Ma'ruf yang hendak pulang, namun singgah di Belitung, dan santri tersebut menginap di kamar Saliyo. Menurut literatur sejarah yang ada, Jawahir adalah seorang santri yang mahir dalam bidang ilmu fiqih. Pada saat itu mereka berdiskusi tentang ilmu fiqih dan nahwu, sebelum berdiskusi mereka telah berkonsensus, siapa yang kalah akan mengaji kepada si pemenang. Dalam diskusi tersebut akhirnya tidak ada yang menang atau yang kalah. Maka dengan keputusan mereka bersama, akhirnya mereka sepakat bertukar tempat, Saliyo menimba ilmu di Makam Agung Tuban dan Jawahir di Belitung.

Setelah sekian lama Saliyo menimba ilmu di Makam Agung bersama Kiai Ma'ruf, akhirnya sang kiai mengevaluasi para santrinya dengan pertanyaan mengenai ilmu nahwu. Sebelum melontarkan pertanyaan kepada santrinya, Kiai Ma'ruf berjanji kalau ada yang bisa menjawab, akan dijadikan saudara iparnya.

Setelah pertanyaan tersebut dilontarkan oleh sang kiai, keadaan berubah menjadi hening karena tidak ada satu pun santri yang menyahut untuk menjawabnya. Akhirnya ada salah seorang santri yang berkata: "Nyuwun sewu, Yai, wonten santri ingkang saget jawab, asmanipun Saliyo ingkang dipun laqobi Tumpul (Maaf, Yai, ada santri yang bisa menjawab, namanya Saliyo atau yang dijuluki Tumpul, red).”

Karena pertanyaan Kiai Ma’ruf merupakan bidang ilmu keahlian Saliyo, maka tidak menjadi hal yang sulit untuk menjawabnya. Akhirnya kiai menepati janjinya dan mengangkat Saliyo menjadi saudara iparnya, dijodohkan dengan Pinang (putri dari KH Muchdlor Sidoarjo). Tidak ada kuasa untuk Saliyo menolak kehendak dari sang kiai, sebagai santri yang selalu mengharap ridlo sang kiai. Di sisi lain, Saliyo berkesempatan untuk mendalami ilmu fiqih yang memang sebelumnya belum sempat untuk didalami. Hingga akhirnya Saliyo diizinkan pulang.

Setelah kembali ke Sarang, beberapa saat kemudian beliau mendapatkan tanah wakaf dari seorang dermawan (ayah Kiai Muhsin Sarang). Kemudian beliau mendirikan pondok dan masjid, yang sekarang dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Ma'hadul Ilmi Asy-Syar'ie (MIS).

Beberapa tahun kemudian kira-kira pada abad 12 H, beliau pergi ke Tanah Suci dengan mengarungi samudra yang menghabiskan waktu 7 bulan lamanya. Sesampainya di Tanah Suci ternyata para jamaah haji telah melakukan wuquf di Arafah, sehingga ia pun harus menunggu waktu 1 tahun lamanya untuk menunaikan ibadah haji kembali. Kesempatan itu tidak disia-siakannya, Saliyo gunakan untuk menuntut ilmu kepada para ulama di Makkah. Sampai akhirnya beliau mampu menulis kitab "Tafsir Jajalain" yang kini masih tersimpan rapi di Pondok Pesantren MIS Sarang. Sebagai tafa'ul, sekembalinya beliau dari tanah suci berganti nama menjadi Ghozaly.

Perkembangan Pondok Sarang


Meski Kiai Ghozaly telah tiada, bukan berarti pondok pesantren itu tutup. Perjuangan Kiai Ghozaly diteruskan oleh menantunya yang bernama KH Umar bin Harun. Sejak itu, nama Pondok Pesantren Sarang semakin dikenal oleh banyak orang baik masyarakat lokal maupun luar daerah.

Pada saat pondok pesantren berkembang, Kiai Umar tak lagi sanggup meneruskan perjuangan orang tuanya karena sakit. Kemudian beliau meninggal pada 1890. Setelah pergantian kepemimpinan, kendali pesantren dipegang oleh KH Fathurrohman (putra KH Ghozaly) hingga 1962.

Selanjutnya, pimpinan pesantren berikutnya adalah KH Syu'aib yang dibantu oleh dua putranya, KH Achmad dan KH Imam Kholil.

Setelah Kiai Syu'aib meninggal, Pondok Pesantren Sarang itu dibagi menjadi dua, yaitu Pondok Pesantren Ma'had Ilmisy Syar'i (MIS) yang diasuh oleh KH Imam Kholil dan Pondok Pesantren Ma'hadul Ulumisy Syar'iyyah (MUS) yang diasuh oleh KH Achmad dan KH Zuibair Dahlan. Generasi pimpinan berikutnya adalah KH Abdurrochim. (Aan Ainun Najib)

Sumber:
Buku Al-Shibghah (Penyusun M-Qta Crew Tahun 1427 H), Sarang
Suara Merdeka (2 Nopember 2004)

Ahad 21 Agustus 2016 9:0 WIB
KH Ridwan Mujahid, Pendiri NU Asal Semarang
KH Ridwan Mujahid, Pendiri NU Asal Semarang
Ilustrasi: Logo NU klasik. Foto wajah KH Ridwan Mujahid hingga kini masih dalam proses pelacakan

Mengenang kembali sosok pendiri Nahdlatul Ulama (NU) asal Semarang bernama KH Ridwan Mujahid sangat dibutuhkan. Belum banyak orang mengetahui sosoknya. KH Ridwan Mujahid berasal dari Kauman Semarang. Sebagaimana disebutkan oleh Agus Tiyanto, KH Ridwan Mujahid adalah keturunan dari kiai Lasem yang sama dengan kerabat KH Makshum dan KH Baidlawi yang bersambung nasabnya hingga Mbah Sambu. Silsilah KH Ridwan Mujahid yang didapatkan Amirul Ulum dari KH Maimun Zubair dalam buku "Muassis Nahdlatul Ulama" adalah: KH Ridwan bin KH Mujahid bin KH Baidlawi bin Kiai Abdul Lathif bin Kiai Abdul Bar bin Kiai Abdul Alim bin Sayyid Abdurrahman (Mbah Sambu Lasem). Makam KH Ridwan Mujahid berada di Pemakaman Umum Bergota (tepatnya di selatan Makam KH Sholeh Darat, satu area makam keluarga H. Abu Bakar Kauman).

Dalam buku “Kemelut di NU Antara Kiai dan Politisi” karya Abdul Basith Adnan disebutkan peran besar KH Ridwan Mujahid. Jasanya dalam membentuk organisasi ulama pesantren bersama KH M Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah tidak dapat dilupakan. Ulama yang semula berkumpul untuk membahas persoalan negeri Hijaz bernama Komite Hijaz, berubah nama dengan Nahdlatul Ulama.

Usaha mengenalkan NU di Semarang bagi KH Ridwan Mujahid awalnya tidak mudah. Namun berkat ajaran Islam ahlussunnah wal jama’ah yang ditinggalkan oleh KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (KH Sholeh Darat), maka NU mudah dikenal dan diikuti oleh warga Semarang. Sehingga ketika NU diresmikan pada tahun 1926, masyarakat Semarang dan sekitarnya mudah menerima dan mengakar dalam sanubari (Amirul Ulum: 2014).

KH Ridwan Mujahid adalah salah satu murid KH Sholeh Darat. Perkenalan KH Ridwan Mujahid dengan KH M Hasyim Asy’ari lebih karena keduanya merupakan murid KH Sholeh Darat saat mondok di Pesantren Darat Semarang. Maka perjuangan mendirikan NU merupakan hasil dari kerjasama para murid sesepuh ulama Nusantara semisal: KH Cholil Bangkalan, KH Sholeh Darat Semarang, KH Nawawi Banten, KH Mahfudz Termas dan ulama lainnya.

Murid KH Sholeh Darat lainnya yang berjuang menegakkan Ahlussunnal wal Jama’ah di Semarang antara lain KH Ridwan bin Mujahid, Kiai Sya’ban bin Hasan, Kiai Thahir Mangkang, Kiai Sahli Kauman, Kiai Ali Barkan, Kiai Abdullah Sajad dan lain-lain. Anasom dalam papernya “KH Saleh bin Umar dan Pondok Pesantren Darat” menyebutkan bahwa salah satu karya KH Ridwan Mujahid Semarang adalah “I’anatul ‘Awam fi Mufhimmati Syara’ Al-Islam”.

KH Ridwan Mujahid selain dikenal sebagai Kiai yang berjuang dalam pengembangan organisasi NU juga dikenal mengembangkan dakwah di Pesantren. Salah satu muridnya yang juga bersama-sama mendirikan NU adalah KH Ma’shum Ahmad Lasem Rembang. Dengan demikian semakin nyata, bahwa perjuangan keagamaan, dakwah dan pesantren menjadi semangat yang dimiliki oleh KH Ridwan Mujahid.

Keakraban KH Ridwan Mujahid dengan para pendiri NU lainnya sudah tidak asing. KH Ridwan Mujahid bersama ulama Jawa Tengah lainnya, KHR Asnawi Kudus dan KH Kamal Hambali Kudus turut serta hadir dalam deklarasi pendirian NU pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M di kediaman KH Abdul Wahab Chasbullah Kertopaten Surabaya.

Di antara ulama yang hadir dalam pendirian NU di Surabaya berasal dari Semarang, Kudus, Tegal, Jombang, Sidoarjo, Pasuruhan, Bangkalan Madura, Gresik, Bangil,  Mojokerto dan Mesir. Mereka antara lain: KH Abdul Wahab Chasbullah, KH M Hasyim Asy’ari, KHR Muntaha (menantu KH Cholil Bangkalan), Kiai Mas Nawawi, KHR Asnawi, KH Kamal Hambali, KH Ridwan Mujahid, KH Muhammad Zubair Gresik, Syaikh Ahmad Ghonaim Al Mishri dan lain-lain.

Oleh para pendiri NU, KH Ridwan Mujahid diamanahi sebagai Musytasyar Syuriyah dalam struktut Pengurus NU periode pertama bersama dengan: KH Muhammad Zubair Gresik, KHR Muntaha Bangkalan Madura, KH Mas Nawawi Sidogiri, Syaikh Ahmad Ghonaim Al Mishri, KHR Asnawi Kudus dan KH Kamal Hambali Kudus. Adapun Rois Akbar dipegang oleh KH M Hasyim Asy’ari dan Katib KH Abdul Wahab Chasbullah.

Keberadaan KH Ridwan Mujahid dalam struktur NU semakin membawa daya tarik bagi masyarakat Semarang. Maka KH Ridwan Mujahid mengajak KH Abdullah dan KH Showam untuk mendirikan NU Kota Semarang. Tepat tanggal 24 April 1926, pengurus NU Cabang Kota Semarang berdiri dan dilantik oleh Katib Syuriyah KH Abdul Wahab Chasbullah yang berpusat di Surabaya. Lokasi pelantikan berada di Alun-Alun Kota Semarang yang berada di depan Masjid Agung Kauman Semarang.

Keberadaan resmi NU Cabang Semarang ini menjadi titik perjuangan para Kiai dalam mengenalkan Islam ahlussunnah wal jama’ah.Dan pergerakan NU Kota Semarang menjadi ringan karena ditopang oleh murid-murid KH Sholeh Darat yang sudah lebih dulu mengenalkan ahlussunnah wal jama’ah sebelum NU lahir dan berdiri di Semarang.

Walapun sudah dilantik dan resmi berdiri di Semarang, oleh karena NU belum memiliki gedung, maka koordinasi NU masih secara tradisional dari Masjid ke Masjid. Di antara Masjid yang sering digunakan untuk koordinasi NU adalah Masjid Nahdlatul Ulama di Jomblang Kecamatan Candisari Kota Semarang. Zainul Milal Bizawie (2016) mencatat sejak 1916 sudah berdiri Madrasah Nahdlatul Wathan di Surabaya dan mempunyai Cabang di Semarang yang bernama Madrasah Akhul Wathan. Oleh Choirul Anam (2015) lokasi Madrasah Cabang Nahdlatul Wathan di Semarang berada di Jomblangan Kidul.

Dalam catatan Amirul Ulum disebutkan bahwa NU Kota Semarang hingga tahun 1950-an masih menempati sekretariat di rumah-rumah pengurus. Di antara tempat yang dijadikan bascamp koordinasi pengurus NU adalah di rumah KH Irhas (Ketua Syuriyah tahun 1950-an). Pada tahun 1970-an NU Semarang memiliki gedung di Jalan Sudirman dari hasil wakaf. Anasom menjelaskan, sejak 1992 hingga sekarang, NU Semarang menempati gedung di Jalan Puspogiwang Semarang.

Kematangan organisasi KH Ridwan Mujahid dalam berkhidmah kepada NU ditunjukkan dengan kesiapan Semarang sebagai tuan rumah Muktamar NU keempat. Muktamar NU keempat adalah pertama kalinya Muktamar yang digelar di luar Kota Surabaya. Dikisahkan bahwa dalam kegiatan Muktamar NU keempat ini, KH Ridwan Mujahib berperan kuat dalam mensukseskan.

Muktamar NU keempat digelar pada 12-15 Rabiuts Tsani 1348 H/17-20 September 1929 M di Hotel Arabistan Kampung Melayu Semarang. Muktamar di Semarang tergolong sukses karena dihadiri 1.450 peserta terdiri dari 350 Kiai, 900 pengawal Kiai dan 200 pengurus Tanfidziyah. Saat Muktamar keempat di Semarang sudah terdaftar: 63 Cabang (13 Jawa Barat, 27 Jawa Tengah dan 23 Cabang Surabaya dan Madura).

Penutupan Muktamar Semarang juga sangat meriah karena digelar di Alun-Alun Semarang dengan dihadiri 10.000 jama’ah. Muktamar Semarang dihadiri langsung oleh Rais Akbar KH M Hasyim Asy’ari dinilai sebagai tonggak awal perkenalan NU daerah-daerah di luar Surabaya (Choirul Anam: 2015).

Melihat sepak terjang yang tidak kenal lelah dari KH Ridwan Mujahid, maka semangat ini patut ditiru oleh para generasi muda saat ini dalam memperjuangkan NU. Termasuk belum terungkapnya kisah-kisah lain dari KH Ridwan Mujahid masih perlu diperdalam. Sehingga dibutuhkan waktu lagi untuk melacak kiprahnya dalam semangat mendirikan NU dan menyebarkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

M. Rikza Chamami, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dan Dosen UIN Walisongo

Rabu 3 Agustus 2016 11:0 WIB
KH Mahfudz Cholil Tokoh Pejuang Kemerdekaan dari Lasem
KH Mahfudz Cholil Tokoh Pejuang Kemerdekaan dari Lasem
Makam KH Mahfudz Cholil Lasem.
Kakak alm Mbah Abdus Salam, Pak Udin berpenampilan sederhana dan rendah hati putra Kiai Mahfudz mewakili keluarga turun langsung selama jalannya renovasi. Makam pejuang tanpa pamrih itu yang telah ditata rapi oleh Pengurus Masjid semakin nyaman bagi peziarah dengan dibangun lantai kramik oleh pihak keluarga. 

Letak makam di sebelah selatan Makam Mbah Sambu, hanya berjarak 6 meter. Mudah ditemui, jika berjalan menuju pintu masuk makam Mbah Sambu, sebelumnya peziarah akan menemukan makam Kiai Mahfudz. Di Komplek Masjid Jami Lasem juga terdapat makam tokoh perang sabil yang dikenal juga dengan nama perang kuning tahun 1751 yaitu KH Ali Baidlowi atau Ki Joyo Tirto, timur makam Mbah Sambu

Kiai Mahfudz kakak Kiai Mansyur ayah dari Gus Qayyum. Putra KH Cholil Lasem salah satu pendiri NU, terbilang Keponakan Mbah Ma'shoem Lasem, merupakan putra Kyai Abdur Rasyid mantan Kepala Desa Soditan yang selama hidupnya tercatat sebagai Kontraktor pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, sehingga banyak warga Lasem diikutkan bekerja. 

Untuk mengenangnya, dulu tokonya di Alun-alun Lasem diberi nama Toko Tanjung Perak, kemudian dibongkar terkena pelebaran jalan raya Lasem-Jatirogo. Jiwa pejuang KH Mahfudz Cholil juga menurun dari kakek jalur ibu yaitu juga bernama Kyai Mahfudz ayah dari KH Sahal Mahfudz Kajen Pati, yang gugur dalam Perang Palagan Ambarawa melawan penjajah, wilayah perjuangan Panglima Besar Jendral Soedirman. 

Dari garis ibu juga ada pertalinan kerabat dengan KH Abdullah Salam Kajen dan KH Syansuri Badawi Denanyar.  Teman seperjuangan Kyai Mahfudz Cholil antara lain KH A Hamid Syarif Pohlandak, KH Zuber ayah KH Maemun Zuber Sarang, dan Kolonel Suyono mantan Bupati Jember.

Selama masa perjuangan di Kab Rembang hidup berpindah-pindah, bergrilya di Watu Pecah, Sedan, Lasem dll, sehingga Pak Udin anaknya lahir di Luar Lasem. Kyai Mahfudz lahir tahun 1920, wafat tahun 1973, pada usia 53 tahun. Beliau biasa disapa Gus Fud, di akhir hidupnya banyak berhidmat di Masjid Jami Lasem aktif mengelola dan merenovasi Madrasah Jailaniyah.

Pasca perjuangan fisik, di masa damai mengundurkan diri dari barak militer kembali ke pesantren atau pengabdian di masyarakat berpangkat Letnan, sebagian teman beliau mengurus status veteran, ada pula yang melebur/ masuk TNI melalui proses seleksi pangkat, tes baca tulis dan lain-lain. Sebagaimana tertulis dalam sejarah Laskar Mujahidin Hizbullah, PETA, BKR, TKR sampai pembentukan TNI.

Tahun 1966 beliau menjadi Kordinator Latihan Tutup Tahun Wisuda AKABRI dulu bernama AMN, Posko latihan berpusat di Soditan Lasem. Berupa latihan darat, laut dan terjun payung di Pemotan, Sedan dan Lapangan sekarang jadi  Pasar Lasem. 

Dihadiri langsung Jenderal Ahmad Taher selaku Gubernur AKMIL, pemerintah kemudian memberikan Piagam Penghargaan atas suksesnya latihan tersebut. Ahmad Taher kemudian menjadi menteri, termasuk Jenderal Agum Gumelar menantunya dan anaknya. (Abdullah Hamid)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG