IMG-LOGO
Nasional

KPAI: Pelaku dan Germo Gay Anak Bisa Dihukum Mati

Kamis 1 September 2016 15:54 WIB
Bagikan:
KPAI: Pelaku dan Germo Gay Anak Bisa Dihukum Mati
Jakarta, NU Online
Ketua Komisi Perlidungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Sholeh mengapresiasi keberhasilan bareskrim Mabes Polri dalam mengungkap kasus prostitusi gay dengan korban anak di Bogor, Jawa Barat. Hal itu menurutnya sebagai wujud perlindungan anak. KPAI bersama Tim Bareskrim kemudian melakukan koordinasi penanganan kasus tersebut.

"Tidak sedikit komunitas para gay berkembang dan menyasar anak sebagai korban. Bahkan kemudian ada komunitas anak, salah satunya komunitas Gay Brondong yang berada di Bogor ini," ujar Niam di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (31/8).

Kasus ini harus menjadi alarm bagi kita soal seriusnya ancaman kejahatan seksual yang bentuknya semakin beragam, termasuk homoseksualitas dan gay berbayar. Berdasarkan pengembangan penyidikan, korban mencapai 99 orang dari satu germo.

"Ini jumlah yang sangat fantastis. Fakta ini perlu membangkitkan kesadaran kolektif kita bahwa ancaman kejahatan seksual itu sudah sangat serius," tegasnya.

KPAI melihat anak-anak yang jadi korban harus segera memperoleh rehabilitasi dan pemulihan agar tidak terus dalam kemenyimpangan seksual. Anak yang diamankan, secara umum kondisinya sehat, dan merupakan laki-laki sejati, tetapi karena lingkungannya, kemudian terjerumus dalam kemenyimpangan. Perlu langkah cepat untuk pemulihan agar tidak terus dalam kemenyimpangan. Jika tidak ditangani serius, potensial untuk menjadi pelaku.

Menurut dia, germo yang jadi pelaku serta kaum gay yang jadi pelanggannya perlu dikenakan pasal 81 Perppu 1/2016 tentang perubahan atas UU Perlindungan anak, yang mengatur hukuman pidana hingga hukuman mati, hukuman seumur hidup, atau penjara minimal 10 maksimal 20 tahun. Pelaku adalah residivis yang atas kejahatan serupa, korbannya lebih dari satu sehingga terpenuhi unsur untuk pemberatan.

“Si pencabul harus dikejar. Ini ada semacam manajemennya. Jaringan dan sindikatnya harus dibongkar," ujar Dosen Pascasarjana UIN Jakarta ini.

Kejadian tersebut, lanjutnya, harus dijadikan momentum perang total terhadap kejahatan seksual. Modus kejahatan seksual semakin beragam, mulai perkosaan, trfficking, pencabulan, sodomi, hingga prostitusi gay. Ini fenomena gunung es, yang harus ditangani secara utuh. Pencabulan sesama jenis telah merusak masa depan dan mental anak. Fisik dan psikis anak dirusak atas nama kebebasan

"Pencabulan sesama jenis akan melahirkan dampak yang jauh lebih berat karena disamping fisik dia merusak mental.Ini harus dijadikan momentum untuk perangi kejahatan seksual pada anak, sekaligus wujud kongkrit dukungan atas kebijakan Presiden yang menegaskan kejahatan seksual terhadap anak sebagai kejahatan luar biasa, dan mempelopori dengan menerbitkan Perppu." (Red: Abdullah Alawi)

Bagikan:
Kamis 1 September 2016 23:30 WIB
Kiai Said: NU dan Polri Sudah Lama Berpacaran
Kiai Said: NU dan Polri Sudah Lama Berpacaran
Surabaya, NU Online
Kerja sama antara NU dan Polri tidak sekadar hitam di atas putih. Di tingkat bawah sinergitas NU dan Polri begitu melekat. NU memiliki kiai kampung yang selalu mengajarkan kedamaian dan ketabahan di masyarakat sekitar. Sedangkan Polri diamanatkan undang-undang sebagai penjaga keamanan dan mengayomi masyarakat.

Demikian pandangan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam acara penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bidang pencegahan konflik sosial dengan Polri di gedung Mahameru Markas Polisi Daerah Jawa Timur, Surabaya, Kamis (1/9). Prosesi penandatanganan dilakukan oleh dirinya dan Kapolri Jendral Tito Karnavian.

"NU dan Polri sudah lama menjalin kerja sama. NU sudah lama berpacaran dengan Polri dan ini tanda tangan saja, bisa dikatakan ini pernikahan sirinya," kelakar Kiai Said.

Salah satu contoh, di saat ada kejadian di tengah masyarakat, para kiai atau tokoh masyarakat setempat tidak pernah main hakim sendiri, pastinya akan dilaporkan kepolisian. "Tidak hanya itu, Polri juga meminta kepada tokoh masyarakat untuk mencegah terjadinya konflik sosial di lingkungannya," jelas Kiai asal Cirebon ini.

Selain itu, Kiai Said meminta kepada Kapolri untuk mengusut tuntas 20 pesantren yang terlibat dan terindikasi mengajarkan ajaran ekstrem, termasuk yang gemar memvonis bid’ah. "Kalau ini dibiarkan akan menjadi bibit-bibit baru radikalisme, karena mereka beranggapan membunuh orang bid'ah itu boleh," terang kiai Said di hadapan 700 peserta dari unsur pengurus NU dan polisi.

Maka dari itu, lanjutnya, NU dan Polri harus berterima kasih kepada kiai kampung. Berkat merekalah Indonesia ini aman, tentram dan damai. Karena kiai kampung tidak pernah mengajarkan kebencian, apalagi merakit bom. "Kalau ada yang bertengkar dengan cepatnya kiai kampung ini meminta mereka bersalaman," tegas Kiai Said.

"Kalau ada kiai kampung seperti itu, maka tidak perlu lagi ada BNPT atau Densus 88," pungkasnya. (Rof Maulana/Mahbib)

Kamis 1 September 2016 21:1 WIB
Gagal di LSN, Tim Sepakbola Santri Bisa Ikuti Gubenur Jatim Cup
Gagal di LSN, Tim Sepakbola Santri Bisa Ikuti  Gubenur  Jatim  Cup
Agus Malvien (tengah)

Kediri, NU Online
Bagi tim Liga Santri Nusantara (LSN) yang tidak lolos ke babak 32 nasional, tidak perlu berkecil hati karena akan ada kejuaraan Gubenur Jawa Timur Cup. Kejuaraan tersebut akan diselenggarakan pada minggu ketiga September 2016 di Stadion Brawijaya Kediri.

“Yang akan ikut adalah para peserta Liga Santri Nusantara  juara 2 dan 3.  Yang sudah juara pertama tidak boleh ikut, begitu juga yang sudah tersisih. Kecuali tuan rumah,’’ ujar Agus Malvien panitia Region Jatim II kepada NU Online di sela-sela final di Stadion Brawaijaya  kediri, Rabu sore (31/8).

Dalam pertandingan tersebut akan menggunakan sistem setengah kompetisi sehingga semua peserta bisa saling  ketemu di lapangan.

”Jadi nanti kita pakai sistem setengah kompetisi. Kemarin ada 17 tim yang ikut. Nanti setidaknya ada 16 tim yang akan ikut,’’ ungkapnya.

Kompetisi ini diadakan, lanjut cucu KH Machrus Ali dari Pesantren Lirboyo Kediri ini dalam rangka meningkatkan tali silaturahim bagi para santri pondok pesantren.”Kita bangun ukhuwah melalui olahraga,’’ kata pengasuh pesantren Mahrusiyah Lirboyo Kediri ini.

Putra KH Imam Yahya Machrus Ali ini menyebutkan, sudah melakukan koordinasi dengan  Gubenur Jawa Timur Pak Sukarwo.  Menurutnya Gubenur sangat mengapresiasi rencana kegiatan ini. Bahkan ia berjanji mau hadir  padaacara pembukaan nanti.

”Pak De Karwo janji  mau datang untuk membuka acara kompetisi nanti,’’ tambahnya. (imam kusnin ahmad/abdullah alawi)



Kamis 1 September 2016 20:1 WIB
PWNU Sulsel Minta UIM Jadi Pusat Kaderisasi Pencak Silat
PWNU Sulsel Minta UIM Jadi Pusat Kaderisasi Pencak Silat

Makassar, NU Online
Pimpinan Wilayah Ikatan Pencak SIlat Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan secara resmi menerima atlet yang mengikuti Kejuaraan Nasional dan Festival Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa yang dilaksanakan di Padepokan Taman Mini Indah Indonesia, Jakarta 21-25 Agustus 2016, di Aula Universitas Islam Makassar pada Kamis (1/9).

Ketua PSNU Pagar Nusa Sulawesi Selatan Muhammad Said dalam sambutannya berterima kasih kepada Ketua Tanfidziyah NU Sulsel, Prof Iskandar Idy dan Rektor UIM, Majdah MZ Agus Arifin Nu'mang yang telah membantu dan mendukung atlet kejurnas IPSNU Pagar Nusa Sulawesi Selatan.

Ia melaporkan Pagar Nusa Sulawesi Selatan mengirimkan 10 atlet di Kejurnas dan Festival yang diadakan oleh PP IPSNU Pagar Nusa. Dari 10 peserta ada 5 peserta yang mendapatkan juara, yakni Maulfi Al-Haq mendapatkan juara I Kategori Tanding Kelas D remaja dan menjadi atlet terbaik dengan hadiah umrah.

Sementara Muhammad Ikhsan mendapatkan juara II kategori tanding kelas E remaja, Yuspi Utari yang juga mahasiswa Fakultas Teknik UIM mendapat juara III kategori tanding kelas B dewasa, Fadli mendapatkan juara III kategori tanding kelas C remaja, dan Ikrar Wisaldi Saiful mendapatkan juara III kategori tanding kelas B dewasa.

Ketua Tanfidziyah PWNU Sulsel Iskandar Idy dalam sambutannya berterima kasih kepada seluruh atlet Pagar Nusa yang telah mengharumkan nama baik Sulawesi Selatan di kancah nasional, tentunya ini menjadi motivasi untuk Pagar Nusa Sulawesi Selatan yang dulu dikenal tempat lahirnya pendekar-pendekar NU.

Di sisi lain selaku Ketua Umum Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali berharap kepada Pimpinan Wilayah Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa Sulawesi Selatan untuk menjadikan Universitas Islam Makassar sebagai pusat kaderisasi Pencak Silat NU Pagar Nusa dengan sendirinya akan lahir dari UIM calon-calon pesilat yang akan menjaga dan membesarkan NU di Sulawesi Selatan.

Tampak hadir pada penyambutan tersebut Pejabat Sementara Rektor UIM Saripuddin Muddin, Wakil Rektor III yang juga Ketua Ketua Majelis Pendekar Pagar Nusa Sulsel, Abd Rahim Mas P Sanjata, Wakil Ketua Pagar Nusa Sulsel, Mahyus, Wakil Ketua Pagar Nusa Sulsel Hasan Basri, dan Pelatih Tim Kejurnas Pagar Nusa Sulsel, Salmah Abdullah. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG