IMG-LOGO
Opini

Siapakah Ahlussunnah wal Jama'ah?

Sabtu 3 September 2016 9:8 WIB
Bagikan:
Siapakah Ahlussunnah wal Jama'ah?

Oleh Maulana Syekh Ali Jum'ah

Ahlussunnah Wal Jamā'ah (Aswaja) membedakan antara teks wahyu (Al-Qur'an dan Sunnah), penafsiran dan penerapannya, dalam upaya melakukan tahqīq manāth (memastikan kecocokan sebab hukum pada kejadian) dan takhrīj manāth (memahami sebab hukum). Metodologi inilah yang melahirkan Aswaja.

Aswaja adalah mayoritas umat Islam sepanjang masa dan zaman, sehingga golongan lain menyebut mereka dengan sebutan: "Al-'Āmmah (orang-orang umum) atau Al-Jumhūr", karena lebih dari 90 persen umat Islam adalah Aswaja.

Mereka mentransmisikan teks wahyu dengan sangat baik, mereka menafsirkannya, menjabarkan yang mujmal (global), kemudian memanifestasikannya dalam kehidupan dunia ini, sehingga mereka memakmurkan bumi dan semua yang berada di atasnya.

Aswaja adalah golongan yang menjadikan hadis Jibrīl yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahīh-nya, sebagai dalil pembagian pilar agama menjadi tiga: Iman, Islam dan Ihsān, untuk kemudian membagikan ilmu kepada tiga ilmu utama, yaitu: akidah, fiqih dan suluk. Setiap imam dari para imam Aswaja telah melaksanakan tugas sesuai bakat yang Allah berikan.

Mereka bukan hanya memahami teks wahyu saja, tapi mereka juga menekankan pentingnya memahami realitas kehidupan. Al-Qarāfī dalam kitab Tamyīz Al-Ahkām menjelaskan: Kita harus memahami realitas kehidupan kita. Karena jika kita mengambil hukum yang ada di dalam kitab-kitab dan serta-merta menerapkannya kepada realitas apapun, tanpa kita pastikan kesesuaian antara sebab hukum dan realitas kejadian, maka kita telah menyesatkan manusia.

Disamping memahami teks wahyu dan memahami realitas, Aswaja juga menambahkan unsur penting ketiga, yaitu tata cara memanifestasikan atau menerapkan teks wahyu yang absolut kepada realitas kejadian yang bersifat relatif. Semua ini ditulis dengan jelas oleh mereka, dan ini juga yang dijalankan hingga saat ini. Segala puji hanya bagi Allah yang karena anugerah-Nya semua hal baik menjadi sempurna.

Inilah yang tidak dimiliki oleh kelompok-kelompak radikal. Mereka tidak memahami teks wahyu. Mereka meyakini bahwa semua yang terlintas di benak mereka adalah kebenaran yang wajib mereka ikuti dengan patuh. Mereka tidak memahami realitas kehidupan. Mereka juga tidak memiliki metode dalam menerapkan teks wahyu pada tataran realitas. Karena itu mereka sesat dan menyesatkan, seperti yang imam Al-Qarāfī jelaskan.

Aswaja tidak mengafirkan siapapun, kecuali orang yang mengakui bahwa ia telah keluar dari Islam, juga orang yang keluar dari barisan umat Islam. Aswaja tidak pernah mengafirkan orang yang salat menghadap kiblat. Aswaja tidak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan tidak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram).

Aswaja menerima perbedaan dan menjelaskan dalil-dalil setiap permasalahan, serta menerima kemajemukan dan keragaman dalam akidah, atau fiqih, atau tasawuf:
(mengutip 3 bait dari Al-Burdah):

"Para nabi semua meminta dari dirinya.
Seciduk lautan kemuliaannya dan setitik hujan ilmunya.
Para nabi sama berdiri di puncak mereka.
Mengharap setitik ilmu atau seonggok hikmahnya.
Dialah Rasul yang sempurna batin dan lahirnya.
Terpilih sebagai kekasih Allah Pencipta manusia.
"

Aswaja berada di jalan cahaya terang yang malamnya seterang siangnya, orang yang keluar dari jalan itu pasti celaka.
 
Aswaja menyerukan pada kebajikan, dan melarang kemungkaran. Mereka juga waspada dalam menjalankan agama, mereka tidak pernah menjadikan kekerasan sebagai jalan.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa Al-Asy'arī, bahwa Rasulullah SAW. bersabda: "...hingga seseorang membunuh tetangganya, saudaranya, pamannya dan sepupunya.", Para sahabat tercengang: "Subhānallah, apakah saat itu mereka punya akal yang waras?" Rasulullah menjawab: "Tidak. Allah telah mencabut akal orang-orang yang hidup pada masa itu, sehingga mereka merasa benar, padahal mereka tidaklah dalam kebenaran."

Rasulullah juga bersabda: "Barangsiapa yang keluar dari barisan umatku, menikam (membunuh) orang saleh dan orang jahatnya, ia tidak peduli pada orang mukmin juga tidak menghormati orang yang melakukan perjanjian damai (ahlu dzimmah), sungguh dia bukanlah bagian dari saya, dan saya bukanlah bagian dari dia."

Aswaja memahami syariat dari awalnya. Mereka memahami "Bismillāhirrahmānirrahīm" (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Allah Menyebutkan dua nama-Nya, yaitu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah tidak mengatakan: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Membalas dan Maha Kuat". Justru Allah menyampaikan pesan keindahan dalam keindahan (melalui Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm). Allah tidak mengenalkan diri-Nya dengan keagungan-Nya SWT.

Kami belajar "Bismillāhirrahmānirrahīm" di Al-Azhar. Para ulama Al-Azhar saat menafsirkannya menjelaskan dengan banyak ilmu. Mereka menjelaskan "Bismillāhirrahmānirrahīm" dari banyak perspektif ilmu: fiqih, mantiq (logika), akidah, suluk dan balaghah. Mereka sabar duduk menjelaskannya dengan begitu lama dan panjang, hingga kita menyangka bahwa penjelasan mereka tidak ada ujungnya.

Kemudian, setelah musibah (teror golongan radikal) ini menimpa, kita baru memahami bahwa metode mengajar ulama Al-Azhar itu merupakan kebenaran. Mereka membangun piramida (ilmu kita) sesuai cara yang benar: membangun pondasi piramida dari bawah, hingga sampai pada ujung lancipnya yang berada di atas. Sementara kelompok radikal membalik cara membangun piramida (ilmu mereka, ujungnya di bawah, dan pondasinya di atas) hingga piramida itu runtuh mengenai kepala mereka sendiri.

Aswaja tidak memungkiri peran akal, bahkan mereka mampu mensinergikan akal dan teks wahyu, serta mampu hidup damai bersama golongan lain. Aswaja tidak pernah membuat opini umum palsu (memprovokasi). Mereka tidak pernah bertabrakan (melakukan kekerasan) dengan siapapun di jagad raya. Aswaja justru membuka hati dan jiwa mereka untuk semua orang, hingga mereka berbondong-bondong masuk Islam.

Para ulama Aswaja telah melaksanakan apa yang harus mereka lakukan pada zaman mereka. Karena itu kita juga harus melaksanakan kewajiban kita di zaman ini dengan baik. Kita wajib memahami teks wahyu, memahami realitas dan mempelajari metode penerapan teks wahyu pada realitas.

Aswaja memperhatikan dengan cermat 4 faktor perubahan, yaitu: waktu, tempat, individu dan keadaan. Al-Qarāfī menulis kitab luar biasa yang bernama Al-Furūq untuk membangun naluri ilmiah (malakah) hingga kita mampu melihat perbedaan detail.
Awal yang benar akan mengantar pada akhir yang benar juga. Karena itu, barangsiapa yang mempelajari alfabet ilmu (pondasi awal ilmu) dengan salah, maka ia akan membaca dengan salah juga, lalu memahami dengan salah, kemudian menerapkan dengan salah, hingga ia menghalangi manusia dari jalan Allah tanpa ia sadari. Inilah yang terjadi (dan yang membedakan) antara orang yang belajar ilmu bermanfaat, terutama Al-Azhar sebagai pemimpin lembaga-lembaga keilmuan, dan antara orang yang mengikuti hawa nafsunya, merusak dunia dan menjelekkan citra Islam serta kaum muslimin.

Pesan saya kepada umat Islam dan dunia luar: Ketahuilah bahwa Al-Azhar adalah pembina Aswaja. Sungguh oknum-oknum (yang membencinya) telah menyebar kabar keji, dusta dan palsu bahwa Al-Azhar telah mengalami penetrasi (dan lumpuh). Mereka ingin membuat umat manusia meragukan Al-Azhar sebagai otoritas yang terpercaya, hingga mereka tidak mau kembali lagi kepada Al-Azhar sebagai tempat rujukan dan perlindungan.

Al-Azhar tetap berdiri dengan pertolongan Allah SWT, dibawah pimpinan grand syaikhnya. Setiap hari Al-Azhar berusaha untuk mencapai tujuan-tujuan mulianya, juga membuka mata seluruh dunia, menyelamatkan mereka dari musibah (radikalisme) yang menimpa.
Al-Azhar tidak disusupi dan tak akan lumpuh selamanya hingga hari akhir, karena Allah Yang membangunnya dan melindunginya. Allah juga Yang mentakdirkan orang-orang pilihan-Nya untuk mejalankan manhaj Aswaja di Al-Azhar, meski orang fasik tidak menyukainya.

Doakanlah untuk kami, semoga Allah memberi kami tuntunan taufīq agar kami bisa melakukan hal yang dicintai dan diridhoi-Nya.
 
Doakan agar kami mampu menyebar luaskan agama yang benar ini, dengan pemahaman dan praktek yang benar juga, dan semoga kami mampu menjelaskan jalan yang penuh cahaya ini kepada umat manusia, sesuai ajaran Rasulullah.

Doakan kami semoga Allah membimbing kita semua -di muktamar ini, dan pasca muktamar- semoga muktamar ini bisa menjadi awal perbaikan citra Islam di kalangan korban Islamophobia, baik muslim maupun non-muslim.


*) Tulisan ini disampaikan pada sambutan pembukaan Muktamar Ahlussunnah wal-Jama'ah di Chechnya, 25 Agustus 2016. Dialihbahasakan ke bahasa Indonesia oleh KH Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriyah PBNU

Tags:
Bagikan:
Sabtu 3 September 2016 4:1 WIB
Membaca Jejak Pembumian Wahyu oleh Wali Songo
Membaca Jejak Pembumian Wahyu oleh Wali Songo
Ilustrasi: lukisan Wali Songo.
Oleh Ubaidillah Achmad

Sehubungan dengan tema ini, karena terinspirasi pesan seorang guru yang berpesan kepada penulis. Dalam pesan ini berisi, agar menjaga pesan Nabi Muhammad, berisi: betapa banyak orang yang membaca Al Qur'an, sementara itu Al Quran telah melaknatnya. Bagi kebanyakan pembaca memahami teks hadis ini dikaitkan dengan tata cara membaca Al Quran, seperti bacaan tajwid dan makharijul huruf. Selama ini belum ada yang mengaitkan teks hadis ini dengan model menginternalisasikan nilai dan membentuk kesadaran teks kewahyuan pada sikap dan perilaku subjek yang hendak berupaya dekat dengan Allah.

Secara akademis, pembaca teks kewahyuan tidak mudah mengartikan teks Al Quran. Yang bisa secara langsung dan valid memahami maksud makna kewahyuan dari teks Al Quran, adalah Allah sendiri. Karenanya, banyak model penafsiran yang berbeda beda antara Ulama yang satu dengan Ulama yang lainnya. Perbedaan ini sering menjadi sumber diskursus di kalangan umat Islam. Dalam konteks mengukur kebenaran, telah menimbulkan dua sikap keberagamaan: pertama, sikap konfrontatif terhadap perbedaan penafsiran. Kedua, sikap merayakan perbedaan terhadap penafsiran teks kewahyuan.

Oleh karena itu, dalam upaya meminimalisir dua sikap ini, sebaiknya para pembaca tidak mengambil posisi di antara dua perbedaan. Selain itu, ada keputusan fundamental tentang teks kewahyuan, yaitu Allah sebagai sumber muthlak kebenaran. Dengan demikian, yang lainnya, adalah berupaya memperkirakan kebenaran teks kewahyuan. Model pembacaan yang paling dekat, adalah dengan memasuki kawasan teks kewahyuan dan merasakan kawasan yang ditunjuk teks relasinya dengan prinsip suci ketuhanan, kemanusiaan, dan kesemestaan. Karena sumber mutlak kebenaran makna, adalah Allah, maka model pembacaan belum menjamin ketepatan interpretatif dari para pembaca teks kewahyuan Al Qur'an.

Dari sini model pembacaan ada dua: pembacaan melalui jalan yang lebih dekat dan melalui jalan yang jauh. Jalan yang dekat, dengan memasuki kawasan kewahyuan. Jalan yang jauh, dengan merujuk pada penerjemahan para penafsir atau mereka yang sudah pernah memasuki kawasan kewahyuan. Jalan yang jauh ini bisa dengan melalui jalan para Ulama dan pembaca yang lain. Sedangkan, jalan yang dekat bisa melalui dengan mengalami langsung berada di kawasan kewahyuan. Misalnya, dengan mengambil kawasan kewahyuan kata yang terdapat dalam Al Qur'an: wajaahidu biamwalikum wa amfusikum fisabilillah.

Dalam konteks ayat yang masyhur di kalangan umat Islam tersebut, seseorang bisa memasuki kawasan teks kewahyuan dengan cara berikut: melakukan langsung berkorban dengan harta dan segenap jiwa dan raga untuk selalu berkomitmen berada di Jalan Allah. Dalam konteks ini, istilah harta dan segenap jiwa dan raga bisa berupa komitmen menapaki jejak kenabian tanpa cindera mata, tanpa penghargaan, pujian, dan hal hal yang terkait dengan materi atau kehendak kekuasaan. Jejak yang bukan jejak kenabian ini disebut dengan jejak yang digelayuti rasa cemburu yang melahirkan penyakit hati, iri, benci dan kekerasan personal dan komunal.

Sedangkan, jejak kenabian tanpa cindera mata, adalah totalitas pengabdian, pembebasan, dan pencerahan kepada umat manusia. Hal ini akan dirasakan apabila antara pengikut jejak jejak kenabian dan subjek dampingan jejak kenabian memasuki ruang kawasan kewahyuan, seperti prinsip menjaga: relasi suci kosmologis, kemanusiaan, keadilan dan persamaan antar umat manusia. Ruang kawasan kewahyuan ini yang disebutkan dalam teks Al Quran dengan Istilah kawasan jalan Allah (Sabilillah).

Jika ada yang menolak kata sabilillah, adalah bentuk kawasan kewahyuan yang diantaranya meliputi prinsip tersebut, lalu persoalann yang dapat dijadikan pertanyaan, jalan Allah yang mana yang dapat dijadikan alat ukur atau instrumen para pengikut jejak kenabian. Karena ketidak jelasan menunjuk instrumen kawasan kewahyuan pada teks kewahyuan, maka para penafsir dan pembaca teks kewahyuan berebut penafsiran yang disematkan pada kepentingan kelompok sendiri.

Sehubungan dengan persoalan ini, para Walisongo mengambil bentuk kawasan kewahyuan, berupa prinsip prinsip keutamaan tersebut di atas (relasi kosmologi, kemanusiaan, keadilan, dan persamaan). Paradigma pengambilan bentuk kawasan kewahyuan perspektif Walisongo inilah yang menjadi fundasi pribumisasi Islam Walisongo. Karenanya, para pengikut Walisongo lebih elegan dan terbuka terhadap perbedaan dan selalu merayakan perbedaan di tengah kompleksitas kehidupan masyarakat.

Dalam realitas keberagamaan dan studi teks kewahyuan, telah banyak ditemukan konflik agama dan kekerasan tersistem. Hal ini dikarenakan adanya pemahaman spekulatif yang berhenti pada teks kewahyuan, penafsiran teks kewahyuan dengan teks penafsiran yang tercerabut dari akar kawasan kewahyuan. Dengan demikian, teks kewahyuan justru menjadi penghalang prinsip nilai yang ditunjuk teks kewahyuan. Model penafsiran seperti ini, lebih mudah dijadikan sebagai sumber konflik dan ideologis. Model penafsiran yang seperti ini, juga akan mudah dibelokkan oleh para pembajak agama kenabian dan kewahyuan untuk kepentingan kekuasaan dan kapitalisme global. 

Jadi, teks sabilillah sebagaimana tersebut di atas memiliki kawasan teks, berupa komitmen sikap pada prinsip menjaga relasi suci kosmologis, menjaga kemanusiaan, persamaan, dan keadilan. Karenanya, jika sessorang tidak berada pada komitmen sikap pada prinsip tersebut, maka telah berada di luar kawasan jalan Allah. Jalan Allah tidak hanya Ibadah murni merasa dihadapan Allah (ihsan) yang terkait dengan rukun Islam dan keyakinan kepada Allah. Selain jalan Allah berupa kawasan ritual ini, juga bisa berbentuk sikap komitmen menjaga relasi kosmologis, kemanusiaan, keadilan, dan persamaan.

Sehubungan dengan dua pemaknaan kewahyuan sebagaimana yang diuraikan di atas, sama sama bermanfaat, namun yang bisa berlaku universal, adalah dengan segera berjalan pada jalan sebuah kawasan kewahyuan. Karena dengan lelaku atau segera mengalami berada dikawasan kewahyuan, maka seseorang akan merasakan nilai kenabian dan berada dalam kehendak Allah. Sebagai contoh, seseorang akan mengalami kesulitan merasakan arti kemanusiaan hanya dengan mendiskusikan pandangan tentang kemanusiaan, Namun seseorang akan merasakan berada dalam kepedulian dan merasakan nilai kemanusiaan, apabila sedang turut berinteraksi dengan gerakan dan pergolakan memperjuangkan nilai kemanusiaan.

Dalam konteks kawasan kewahyuan ini, kita dapat memahami, bahwa Al Quran berbeda dengan kitab kitab yang lain atau juga berbeda dengan arsip atau dokumentasi perkantoran atau pedoman kerja. Al Quran merupakan teks penjelas yang langaung melalui firman Allah, berisi prinsip nilai dan prinsip yang secara langsung melekat pada diri manusia. Artinya, sebelum ada prinsip yang ditunjuk wahyu, prinsip itu telah mengakar kuat dalam kepribadian manusia relasinya dengan Allah dan unsur kesemestaan.

Membumikan Kawasan Kewahyuan

Walisongo memiliki kekhasan yang berbeda dengan para Ulama tasawuf yang lain di Timur. Para Ulama tasawuf telah banyak menafsirkan kewalian dengan pengertian yang sangat spekulatif yang sulit dimaknai oleh masyarakat awam. Sedangkan, Walisongo mengaktualkan makna kewalian tanpa mendefinisikan arti kewalian, namun lebih menawarkan pada sikap melakukan pembebasan dan pencerahan kepada masyarakat. Peran ini, sama dengan yang dilakukan oleh para Nabi Pembebas dan pencerah.

Para Walisongo telah menjadikan keberadaannya sebagai mediator yang menghubungkan antara raja ke rakyat dan rakyat ke raja. Selain itu, Walisongo juga mampu menguatkan kedua relasi antara raja dan rakyat dengan Allah Jalla Jalaluhu. Implikasi adanya bangunan antara relasi raja-rakyat dengan Allah, adalah perlunya menerima prinsip kebenaran universal, karena setiap kebenaran universal bersumber dari Allah. Prinsip kebenaran universal ini, telah ditekankan dalam teks kewahyuan yang tidak akan berbeda dengan model kearifan lokal dan prinsip nilai kebenaran ideologi-ideologi besar dunia.

Meskipun demikian, Walisongo memahami prinsip ritual dan model peribadatan yang diajarkan Nabi Muhammad. Hal ini telah disampaikan kepada mereka yang secara khusus ingin mengikuti ritual keberagamaan Walisongo. Aktivitas ritualistik ini pun telah didesain oleh Walisongo, berupa ritual keagamaan agama Islam yang ramah terhadap kearifan lokal dan pandangan pandangan masyafakat jawa yang sentralistik terhadap ketokohan seseorang.

Di luar konteks ritualistik, Walisongo secara langsung mampu memadukan teks kewahyuan dengan prinsip kebenaran yang bersifat universal. misalnya, yang terkait dengan prinsip  sistem kekuasaan mutlak Allah, kemanusiaan, keadilan, dan persamaan. Karenanya, untuk menyebut sistem kekuasaan mutlak ini, para Walisongo menyebutnya dengan istilah Gusti Ingkang Akarya Jagat, Gusti Ingkang Murbahing Dumadi. Banyak istilah untuk menyebut Asma Allah di beberapa suluk para Walisongo dengan menggunakan istilah masyarakat Jawa.

Jadi, pribumisasi Islam Walisongo bukan merupakan model pribumisasi yang liar dan tidak berdasarkan paradigma yang matang. Pribumisasi Islam Walisongo merupakan model pribumisasi yang memiliki akar sejarah kenabian dan kerasulan Muhammad. Selain itu, pribumisasi walisongo juga memiliki akar sejarah dari kultur masyarakat Jawa. Pribumiaasi walisongo ingin membentuk kesadaran manusia memilih jalan Allah, berupa jalan yang berada pada kawasan kewahyuan. Kawasan kewahyuan bukan yang berhenti pada penafsir dan kepentingan komunal atau kepentingan para penguasa pembajak makna suci pada kawasan suci kewahyuan.

Sama seperti para Nabi pembebas, bermula dari kawasan suci ini ingin mengajak siapa pun melakukan yang terbaik untuk kelangsungan relasi suci kosmologis, kemanusiaan, keadilan dan persamaan. Karenanya, model pribumisasi walisongo bersifat terbuka dan siap berdialog dengan model kearifan lokal dan ideologi ideologi besar dunia. Jika sesuai bisa berintegrasi, namun jika tidak sesuai, maka tetap bisa beradaptasi. Yang terpenting jangan ada kekerasan dan ancaman kemanusiaan di tengah kehidupan umat manusia. Model pribumisasi Islam ini yang sekarang menjadi sumber Islam Nusantara.

Penulis adalah Khadim Omah Kongkow As-Syiffah Pamotan Rembang, Dosen FITK UIN Walisongo Semarang, Penulis buku Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng.
Rabu 31 Agustus 2016 14:0 WIB
Memaknai Kalimat "Tuhan Tidak Pernah Tidur"
Memaknai Kalimat
Oleh Ananta Damarjati

Pada saat-saat tertentu, kalimat "Tuhan tidak pernah tidur" terdengar sangat teduh dan seolah mampu mencerabut hampir separuh beban hidup. Dalam alam bawah sadarnya, manusia beriman memang dapat dengan haqqul yaqin mengaktualisasikan kalimat ini dalam konteks keseharian. Yang menarik serta hampir bisa dipastikan, kemunculan kalimat itu dalam kesadaran diri manusia cenderung insidentil dan mencerminkan potensi psikologisnya yang khas.

Bisa dibilang, kalimat itu muncul sebagai salah satu tindak bahasa manusia, sangat konotatif. Dan biasanya, kalimat itu tercetus dengan perasaan khawatir, gelisah atau waswas, pahit, getir, dan sebagainya. Yang jelas ketika itu --simplifikasinya-- manusia berada dalam posisi tidak diuntungkan, didzalimi, pasrah, hampir kalah, dan situasi pelik lain yang terlihat mustahil bagi manusia untuk dapat diselesaikan.

Dibalik itu muncul sosok “Maha Sempurna” yang terkesan sangat dimonopoli; bahwa Dia sedang bersama saya kali ini, Dia tahu saya yang benar, maka anda memusuhi pihak yang salah, dan ribuan kalimat imajiner lain yang jika memang betul seperti itu, samasekali tidak membawa penyelesaian. Karena makna denotatifnya sangat tidak berhubungan dengan ide atau representasi psikis yang ditimbulkan kalimat tersebut kepada kesadaran.

Sebagaimana kritik Feuerbach terhadap agama. Bahwa manusia beragama karena terikat oleh alam. Manusia lemah sedangkan alam yang didapatinya sangat kuat dan ganas. Oleh karena itu untuk mengatasi, tepatnya, untuk membebaskan diri dari alam yang ganas ini manusia membayangkan suatu kekuatan berpribadi sempurna.

Dengan bayangan ini manusia mampu mengatasi segala macam penderitaannya. Ringkasnya, bayangan Allah hanyalah refleksi dari jiwa manusia yang sengsara. Seorang yang miskin mempunyai tuhan yang kaya, orang-orang cinta damai memiliki tuhan yang belas kasih. (Andi Muawiyah Ramly, 69:2009).

Pada titik selanjutnya terlihat bahwa, kalimat "Tuhan tidak tidur" kurang lebih hanya menjadi salah satu bentuk tindakan manusia yang konotasinya tidak menampilkan hakikat kalimatnya. Makna yang ditimbulkan pun tidak terikat, tergantung posisi dan kegunaan, sedang mencari keadilan kah, atau terhimpit ekonomi kah, menghadapi fitnah kah, dan lain-lain.

Dan, jika bicara kegunaan serta posisinya, sepintas terasa kalimat itu tidak terdeskripsi dengan jelas. Posisinya kabur kepalang tanggung karena ada pada titik ambivalensi antara takdir Tuhan dan ikhtiar manusia. Kegunaannya, sementara ini belum ada yang lebih tepat dari sekedar penegasan tentang situasi sulit yang sedang dihadapi manusia.

Kalau boleh disederhanakan, bercocok tanam, mencangkul, memupuk jelas ikhtiar seorang petani, manusia. Tiga bulan kedepan bisa panen atau tidak itu takdir Tuhan. Jika mengacu pada contoh ini, logika kalimat "Tuhan tidak tidur" bisa jadi muncul ketika ditengah jalan dijumpai serangan hama wereng yang sangat masif, padahal keluarga petani kecil itu sedang sangat membutuhkan panen untuk menopang biaya hidup.

Jika kalimat itu muncul dalam sinetron hari ini, niscaya penonton akan dibuat geram karena bersamaan dengan itu ada tokoh protagonis yang sedang nelangsa ditimpa musibah dahsyat, bisa jadi disebabkan serangan dari tokoh antagonis. Biasanya, oleh sutradara dramatisasi kalimat itu diletakkan sebelum titik klimaks. 

Sayangnya dunia manusia dan bahasanya tidak berada dalam tataran logika sinetron, yang punya ribuan cara untuk mengeluarkan Tuhan dari mesin cetaknya dengan rating dan iklan sebagai titik pijaknya. Kalaupun dunia nyata ada persamaan dengan beberapa situasi sinetron, hal itu tak lebih dari sekedar kemiripan sebagaimana kemiripan dalam sebuah keluarga besar.

Fenomena kalimat itu dalam keseharian, sekali lagi, persis di tengah antara takdir dan ikhtiar, status quo yang tak terdefinisikan. Dalam tataran aksiologi, kemunculannya selalu berdenyut di atas ambivalensi makna sebagai bentuk pelarian psikis (untuk tidak menyebutnya sebagai fatalis). Sehingga setelah kalimat itu terlontar, keburaman melihat permasalahan hidup terkesan semakin nyata, sulit untuk dilanjutkan.

Sebenarnya bukan menjadi masalah serius jika "Tuhan tidak tidur" muncul sebagai pelarian psikis dan berhenti disitu, fitrah manusia memang lemah, hina, tak berdaya sehingga butuh sebuah pertolongan. Dalam ilmu tassawuf hal ini menjawab pernyataan Feuerbach, sekaligus membalik paradigma antropologis barat umumnya yang berbunyi "aku berpikir maka aku ada" dengan "aku tidak ada maka Dia ada".

Masalahnya, tidak ada kejelasan posisi aku sebagai mahkluk dan Dia sebagai Tuhan dalam kalimat itu. Di sini saya bukan bermaksud untuk mendikotomiskan antara takdir dengan ikhtiar, antara berdzikir dan berpikir. Melainkan sekedar urun rembug tentang bagaimana memahami kedua hal itu sekecil apapun tindakannya. Apalagi kedua hal tersebut tidak boleh ditinggal salah satunya.

Pada kalimat itu jelas ada sebuah tindak dzikir, ingat kepada Tuhan. Idealnya hal ini patut diimbangi dengan intuisi, pengetahuan tentang konsep, kebenaran dan pemecahan masalah dalam kegiatan berpikir. Sehingga tidak terjadi paradigma yang keliru dalam memandang sebuah masalah.

Dalam berpikir, intuisi akan mengidentifikasi dirinya. Apakah --dalam hal ini terucapnya kalimat Tuhan tidak tidur-- itu sebagai ilham, waswas, atau struktur kejiwaan manusia itu sendiri. Ibnu Qayyim al-Jauziyah (Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, hal 292:2002), secara tegas membedakan antara ilham dan waswas menjadi empat.

Pertama, ilham dapat menghantarkan seseorang untuk berbuat sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT dan rasulnya, sedangkan waswas sebaliknya. Kedua, ilham dapat mendatangkan kepasrahan, penyadaran, dan hasrat untuk bermuwajahah kepada Allah SWT. Sedangkan waswas menuju pada musuh-musuh Nya. Ketiga, ilham dapat menerangi ruangan batin yang dapat melapangkan dada. Sedangkan waswas dapat mendatangkan kegelapan batin yang menyesakkan dada. Keempat, ilham dapat mendatangkan ketenangan dan ketenteraman. Sedang waswas mendatangkan keresahan dan kegoncangan.

Atau, sejauh yang bisa saya tangkap dari pernyataan di atas. Ibnu Qayyim mengingatkan bahwa dalam hal dzikir, ingat saja tidak cukup. Apalagi jika tergelincir menjadi dzikir tapi tidak ingat. Dalam bahasa lain, Lillah saja tidak cukup, karena setelah itu wajib untuk juga sadar Billah. Maka penting untuk memahami sebuah persoalan dengan berpikir intuitif. Itupun harus dipilah lagi antara intuisi yang benar atau menyesatkan.

Berdasarkan asumsi ini, status quo dalam kalimat "Tuhan tidak tidur", dengan kekhasan perspektif, pengalaman serta harapan yang ada di dalamnya, rasanya menjadi penting untuk ditimbang ulang penggunaannya. Apakah dengan mengucap kalimat itu disertakan pula kesadaran intuitif, Billah, untuk mendapat sebuah ilham. Atau malah timbul dari rasa waswas dan bisikan nafsani, al-khawatir.

Memang dalam satu kalimat saja bisa menimbulkan beribu penafsiran. Tapi semua bisa salah, termasuk tulisan ini. Yang jelas dalam tulisan ini hanyalah makna denotatif bahwa Tuhan, Allah SWT tidak pernah tidur, tertidur bahkan mendengkur. Lah, kalau Tuhan tidur, siapa yang berani membangunkan?

Ananta Damarjati
Penulis adalah Alumni Ponpes Kedunglo, Kediri. Anggota aktif Lingkar Studi “Matakuhati” Semarang.

Jumat 26 Agustus 2016 8:0 WIB
Pembangunan Desa dan Peran IPNU
Pembangunan Desa dan Peran IPNU
Ilustrasi (www.amusingplanet.com)
Oleh Achmad Faiz MN Abdalla

Secara regulasi, desa nyaris dilupakan selama puluhan tahun. Desa tidak mampu menjadi kekuatan ekonomi karena perhatian pemerintah terhadap desa sangat terbatas. Data Kemendesa tahun 2015, dari seluruh desa di Indonesia yang berjumlah 74.093 desa, masih ada 39.086 desa (52,78 persen) yang masuk kategori desa tertinggal. Sementara data BPS menyebutkan, masih ada 10.985 desa yang belum memiliki Sekolah Dasar (SD). Adapun untuk pelayanan kesehatan dasar, masih ada 117 kecamatan yang belum memiliki Puskemas atau Puskesmas Pembantu.

NU yang berbasis di pedesaan sedikit banyak tentu terdampak dengan keadaan tersebut. Tidak dipungkiri, peran NU sangat besar dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara. NU telah menjadi garda terdepan terhadap berbagai persoalan bangsa. Namun, peran NU dicemaskan tergerus seiring melemahnya soliditas dan daya tahan NU akibat kemiskinan struktural massa NU di pedesaan.

Masa reformasi pun bergulir. Otonomi Daerah menjadi bagian penting agenda reformasi. Dalam perkembangannya, terbitlah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Undang-undang tersebut mengamanahkan paradigma baru dalam membangun desa sebagai bagian penting pembangunan nasional. Setelah berpuluh tahun dipunggungi, akhirnya desa mendapat penguatan yuridis. Hal itu pun dipertegas dengan Nawa Cita Presiden Jokowi, yakni membangun Indonesia dari pinggiran.

Komitmen Pemerintah telah ditunjukkan dengan adanya Dana Desa. Tahun 2016 ini, Dana Desa naik menjadi Rp 46,98 triliun. Ditambah Alokasi Dana Desa (ADD) dari Pemerintah Daerah, maka rata-rata setiap desa akan mengelola dana tidak kurang dari Rp 1 Milyar.

Namun yang harus dipahami, selain Dana Desa, gerakan dan partisipasi masyarakat juga harus terbangun dengan baik. Menurut Marwan Jafar (2015), ada tiga prinsip yang harus diterapkan dalam membangun desa, yaitu government, movement dan culture. Artinya, dibutuhkan sinergi yang baik antara keseriusan pemerintah dengan gerakan masyarakat dalam membangun desa. Semua itu harus mengedepankan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

Membangun partisipasi dan gerakan masyakarakat, harus dimulai dari pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pembangunan desa. Dalam teori ilmu hukum, pengetahuan masyarakat akan sebuah peraturan merupakan indikator tercapainya kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap peraturan tersebut. Karena itu, masyarakat minimal memahami hal-hal mendasar tentang kedesaaan, seperti kelembagaan desa, hak-hak masyarakat desa, pembangunan partisipatif, dan lainnya.

Sebagai contoh, seringkali masyarakat tidak mendapatkan laporan yang transparan mengenai hasil aset desa dan sumber Pendapatan Asli Desa (PADes) lain. Bahkan banyak aset desa yang tidak diatur di dalam Perdes (Peraturan Desa), sehingga pemanfaatannya untuk kesejahteraan masyarakat seringkali tidak terpenuhi dengan baik. Masyarakat desa umumnya hanya diam, karena tidak dibekali pengetahuan yang cukup. Dengan demikian, dibutuhkan pengetahuan yang baik agar terbangun partisipasi dan pengawasan masyarakat yang baik.

Peran IPNU


NU secara sosiologis tentu bertanggung jawab terhadap penguatan unsur movement tersebut. Di samping karena berbasis di pedesaan, juga karena politik kebangsaan NU untuk mendukung pemerintah dalam program pembangunan nasional. Menurut Marwan Jafar, Resolusi Jihad yang ditelurkan dari pemikiran Kiai Hasyim Asya'ri harus dikontekstualisasikan dengan era pembangunan saat ini, yakni dengan membangun Indonesia dari desa-desa.

Sebagai salah satu badan otonom (banom) NU, IPNU tentu diharapkan berperan serta dalam penguatan gerakan masyarakat tersebut. Setidaknya, ada dua alasan mengapa IPNU harus mengambil peran strategis tersebut.

Pertama, membangun desa haruslah menjadi visi keindonesiaan, tidak sekadar visi pemerintah. Generasi muda harus dikenalkan perihal urgensi pembangunan desa sebagai salah satu dimensi penting pembangunan nasional. Harus ada ruang pemahaman bagi generasi muda, baik melalui pendidikan formal atau organisasi pelajar seperti IPNU. Dengan begitu, pembangunan desa tidak bersifat parsial, berhenti pada tatanan regulasi dan unsur government, namun bersifat menyeluruh, dengan membangun kesadaran generasi muda sebagai upaya penting membangun partisipasi dan gerakan masyarakat.

Kedua, IPNU memiliki basis struktural yang menjangkau sampai ke tingkat ranting (desa). Tidak jelas, berapa jumlah riil IPNU ranting yang terdata. Namun umumnya, struktur IPNU hampir dapat ditemukan di setiap struktur ranting NU. Keadaan ini harus dimanfaatkan dengan baik. Terlebih, masih banyak desa yang tidak memiliki karang taruna sebagai lembaga pemberdayaan anak muda. Keberadaan IPNU tentu akan sangat membantu pemerintah dalam mengoptimalkan peran anak muda untuk bersinergi membangun desa.

Untuk itu, perlu digagas kajian tentang desa di lingkungan IPNU. Secara rutin, perlu diadakan diskusi yang membahas pembangunan desa. Pemerintah Desa setempat atau alumni-alumni IPNU yang telah berkiprah di pemerintahan dapat digandeng untuk menyelenggarakan kajian desa tersebut. Materi yang dibahas mulai yang berkaitan pemerintahan, semisal kelembagaan desa, Peraturan Desa, Dana Desa, APBDes atau  BUMDes; Perencanaan Pembangunan Desa, meliputi RPJMDes, RKPDes dan penggalian serta pengembangan potensi desa; dan materi-materi yang berkaitan dengan kearifan lokal desa.

Berbekal pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh dari kajian tersebut, IPNU diharapkan dapat berperan aktif dalam Musyawarah Desa, khususnya dalam perumusan RPJM Desa, RKP Desa dan APB Desa. Di samping itu, juga dapat berperan aktif dalam pemberdayaan ekonomi desa melalui BUMDesa serta membangun sinergi dengan elemen masyarakat desa lainnya dalam mengawasi penggunaan dana desa. Dengan begitu, IPNU dapat memberikan peran nyata dalam pembangunan desa.

Penulis adalah pelajar NU Gresik

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG