IMG-LOGO
Nasional

Kuliah Umum UNUSIA dan STAINU Jakarta Bahas Pancasila dan Kesadaran Politik

Senin 5 September 2016 17:30 WIB
Bagikan:
Kuliah Umum UNUSIA dan STAINU Jakarta Bahas Pancasila dan Kesadaran Politik
Jakarta, NU Online
Sekolah Tinggi Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menggelar kuliah umum di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Senin (5/9) siang. 

Hadir sebagai pembicara adalah Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia, Gumilar Rosliwa Somantri. Alumni Universiteit Bielefeld, Jerman dan Rektor UI itu membawakan tema ‘Pancasila dan Kesadaran Politik’. 

Ketua STAINU Jakarta H Syahrizal Syarif memaparkan, kuliah umum ini bertujuan membekali dan mengingatkan mahasiswa, bahwa selama di kampus mereka akan mempelajari satu bidang ilmu, tetapi juga tidak lepas dari karakter ahlussunah wal jamaah, yang salah satunya adalah berperan dan peduli dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Wawasan akan kehidupan berbangsa, akan membentuk sikap dan perilaku mahasiswa baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat,” terang pria yang juga Ketua PBNU itu.

Sementara itu, Rektor Unusia M. Maksoem Mahfoedz mengatakan, kesadaran tentang Pancasila bagi mahasiswa merupakan hal yang sangat penting. Ia menceritakan salah satu pengalamannya sebagai dewan dosen di sebuah kampus, di mana para mahasiswanya berbalikan sikap dengan yang diajarkan dan menjadi prinsip Pancasila. 

Alih-alih menjaga Pancasila, para mahasiwa itu malah menentang dan mengharamkan Pancasila. “Padahal nilai mata kuliah Pancasila mereka A,” sesal Wakil Ketua Umum PBNU ini.

Guru Besar UGM ini kemudian mengatakan, sebagai warga NU, mahasiswa Unusia dan STAINU Jakarta sangat penting untuk memegang dan menjaga Pancasila.

Sebelum mengakhiri sambutan, Prof Maksoem meneriakkan dengan penuh semangat, “Siapa kita?” yang disambut meriah hadirin, “NU.” Kemudian, “NKRI” yang dijawab “Harga mati!” 

Selanjutnya, “Pancasila!” Dijawab, “Jaya!”

Ruangan tempat berlangsungnya acara pun menjadi gemuruh. Lebih-lebih setelah Prof Maksoem berteriak lantang, “Kampus kita….” 

Teriakan itu pun disambut tak kalah lantangnya oleh hadirin, “Kampus Nusantara, kampusnya NU, santri, dan rakyat Indonesia!”

Selain mahasiswa dan dosen STAINU Jakarta dan Unusia, sejumlah tokoh NU turut hadir dalam kuliah umum tersebut, termasuk Katib Syuriyah PBNU, KH Mujib Qulyubi, Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Thailand, H Alee Mateh, dan Pembantu Ketua (Puka) I Bidang Akademik STAINU Jakarta, Imam Bukhori. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Bagikan:
Senin 5 September 2016 23:1 WIB
HARI SANTRI NASIONAL
PBNU Intruksikan PCNU dan Ranting Bacakan Shalawat Nariyah 1 Miliar
PBNU Intruksikan PCNU dan Ranting Bacakan Shalawat Nariyah 1 Miliar

Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama akan mengintruksikan Cabang-cabang NU sampai Ranting untuk membacakan Shalawat Nariyah secara serentak dari Aceh sampai Papua. PBNU menargetkan, bacaan tersebut akan mencapai 1 miliar kali.

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Ishfah Abidal Aziz intruksi tersebut dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada tanggal 22 Oktober. “Nanti kita akan kirim surat intruksi ke seluruh Cabang NU. Cabang mengintruksikkan sampai ranting,” katanya di gedung PBNU, Jakarta, Senin (5/9) setelah rapat kepanitian peringatan HSN.

Dalam intruksi tersebut, lanjutnya, PBNU meminta pembacaan Shalawat Nariyah dilakukan secara serentak pada tanggal 21 Oktober malam. “Selain PCNU dan Ranting, PBNU juga akan meminta majelis ta’lim, majelis shalawat, dan pesantren untuk melakukan hal itu,” tambahnya.

Ditanya jatah jumlah bacaan masing-masing PCNU, Ranting dan majelis-majelis, serta pesantren, menurut Ishfah, hal tersebut belum ditentukan. “Belum ada pembagian, belum ditentukan,” katanya.

Yang jelas, lanjutnya, ini adalah salah satu cara dari NU untuk  mendoakan bangsa agar lebih baik. “Bangsa kita harus disirami Shalawat Nariyah supaya lebih baik. Pengaruhnya sangat baik. Ini bagian dari upaya kita,” tambahnya.  

Ishfah menambahkan, sebelum membaca Shalawat Nariyah secara serentak tersebut, dianjurkan untuk mendoakan para pahlawan yang gugur dalam merebut dan memperjuangkan kemerdekaan.  (Abdullah Alawi)


Senin 5 September 2016 21:2 WIB
Sembilan Fatser Ikuti Pendidikan Kebanseran
Sembilan Fatser Ikuti Pendidikan Kebanseran
Tulungagung, NU Online

Komandan Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna (Satkornas Banser) Ir H Alfa Isneini mengingatkan kesatuannya untuk menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan GP Ansor dan lingkungan sekitarnya. Karenanya GP Ansor juga harus bekerja sama dengan pihak-pihak terkait. Alfa juga mengapresiasi kehadiran sejumlah Fatayat Serbaguna yang menjadi peserta Pendidikan Terpadu Dasar (DTD), Jumat-Ahad (2-4/9).

Acara pelatihan diikuti sekitar 150 peserta dari ranting di sekitar Pimpinan Anak Cabang Kalidawir Kabupaten Tulungagung. Yang istimewa dari 150 peserta ada sembilan orang anggota Fataya NU yang bergabung untuk mengikuti latihan.

“Kami sendiri atas nama pelatih ibaratnya makan buah simalakama. Tidak diterima mereka ngeyel. Diterima, belum ada aturan yang baku tentang Fatser. Sambil menunggu aturan, maka biar mereka ikut,” ungkap Kasatkorcab Banser Tulungagung Drs Yoyok Mubarok.

Sementara Alfa mengimbau, “Lingkungan di mana anggota Banser berada harus aman dari berbagai gangguan. Stabilitas harus mantap. Jangan sampai di lingkungan Anda semua ada teroris.”

Tugas Banser selain itu adalah menumbuhkan terwujudnya semangat pengabdian, kebersamaan, solidaritas dan silaturahmi sesama anggota Banser dan GP Ansor dan komponen masyarakat yang lain. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Senin 5 September 2016 20:36 WIB
Ulama Lebanon: Tantangan Berat Islam Timbul dari Islam Sendiri
Ulama Lebanon: Tantangan Berat Islam Timbul dari Islam Sendiri
Jakarta, NU Online
Ketua Front Amal Islam Lebanon Syekh Zuhair Al-Junaid mengatakan, saat ini umat Islam menghadapi tantangan yang sangat berat, yaitu tumbuhnya gerakan yang mengkafirkan sesama umat Islam hingga menghalalkan pembunuhan.

“Ini tantangan berat karena bersumber Islam sendiri,” tegasnya saat bersilaturahim ke PBNU yang diterima Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di ruangannya, PBNU, Jakarta, Senin sore (5/9).

Karena ini persoalan serius, lanjutnya, sehingga kelompok-kelompok yang bervisi untuk perdamaian seperti NU dan Front Amal Islam untuk merapatkan barisan dengan menyebarkan Islam rahmatan lil alamin.

NU dan Front Amal Islam, lanjutnya, memiliki prinsip dasar yang sama, yaitu sama-sama Islam Ahlussunah wal-Jamaah yang moderat. Semakin intensif bekerja sama, maka akan  semakin cepat untuk mengkampanyekan Islam damai.

Kerja sama itu, menurut dia, bisa melalui pembinaan terhadap masjid-masjid di negara masing-masing serta di kawasan Eropa dan Amerika. Pembinaan masjid dengan ajaran Islam rahmatan lil alamin, Islam yang mengajarkan kedamaian. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG