IMG-LOGO
Tokoh

KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo

Senin 19 September 2016 22:56 WIB
Bagikan:
KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo

KH Chudlori lahir di Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah dari pasangan Muhammad Ikhsan dan Mujirah. Ia anak kedua dari sepuluh bersaudara. Muhammad Ikhsan adalah penghulu Tegalrejo pada masa penjajahan Belanda. Ayah Muhammad Ikhsan bernama Abdul Halim, juga penghulu zaman Belandayang sangat dihormati. Abdul Halim menangani urusan agama di Magelang meliputi kecamatan Candimulyo, Martoyudan, Mungkid, dan Tegalrejo.

Pada tahun 1923, seteleh menyelesaikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), lembaga pendidikan setingkat Sekolah Dasar zaman Belanda, Chudlori kecil dikirim ayahnya ke pesantren Payaman yang diasuh KH Siroj. Ia menghabiskan 2 tahun di pesantren tersebut. Kemudian pindah ke pesantren Koripan di bawah asuhan Kiai Abdan. Tapi kemudian pindah lagi ke pesantren Kiai Rahmat di daerah Gragab hingga tahun 1928.

Kehausan akan ilmu agama, ia kemudian nyantri ke Tebuireng yang waktu itu diasuh Hadrotussyekh KH Hasyim Asy'ari. Di pesantren pendiri NU tersebut, ia mempelajari beragam kitab.

Saat di Tebuireng, ayah Chudlori mengirim uang sebanyak Rp. 750,- per bulan, tetapi ia hanya menghabiskan Rp.150,- dan mengembalikan sisanya. Chudlori hanya makan singkong dan minum air yang digunakan untuk merebus singkong tersebut. Dia melakukan ini dalam rangka riyadlah, amalan yang biasa dilakukan para santri.

Cerita lainnya tentang Chudlori, di kamarnya di Tebuireng, ia membuat kotak belajar khusus dari papan tipis dan menempatkan kotak tersebut diantara loteng dan atap. Kapan saja bila ingin menghafal atau memahami pelajarannya, Chudlori naik dan duduk di atas kotak sehingga bisa berkonsentrasi dengan baik. Kotak ini sempit, tidak nyaman dan berbahaya untuk duduk. Jadi dengan kedisiplinan dia dapat belajar setiap hari hingga tengah malam. Kapan saja tertidur sebelum tengah malam, dia menghukum dirinya sendiri dengan berpuasa pada hari berikutnya tanpa makan sahur

Kemudian pada tahun 1933, ia pindah lagi Bendo, Pare, Kediri, menjadi santri Kiai Chozin Muhajir. Di situ ia belajar fiqih dan tasawuf seperti kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Empat tahun berikutnya, ia mengaji di pesantren Sedayu, belajar ilmu membaca Al-Qur’an selama 7 bulan. Pada tahun 1937, ia nyantri lagi ke Lasem, Jawa Tengah, yang diasuh KH Ma'shum dan KH Baidlowi.

Setelah menikahi putri KH Dalhar Watucongol, ia sempat mengajar di pesantren mertuanya tersebut. Namun mengajarkan ilmu agama di kampung halamannya adalah cita-citanya yang menggebu-gebu sehingga ia selalu melakukan mujahadah dan meminta petunjuk Allah Swt untuk niatnya itu.

Setelah mendapat petunjuk dan membicarakan kepada mertuanya, kemudian pada 15 September 1944 KH Chudlori pulang kampung dan mendirikan pesantren di Tegalrejo. Masyarakat desa itu, ketika ia mendirikan pesantren, terbelah menjadi yang pro dan kontra. Kalangan yang pro gembira karena ada anak kampungnya yang menyebarkan ajaran agama. Sebaliknya yang kontra, lebih karena antipati terhadap penyebaran Islam.

Sebagai kiai yang digembleng bertahun-tahun, Chudlori tetap tegar menghadapi kalangan yang kontra. Ia tetap menjalankan misinya mengembangkan syariat Islam.

Awalnya, Chudlori tak memberikan nama khusus pada pesantrennya, namun pada tahun 1947, atas saran teman-teman seperjuangannya, ia menamainya dengan Asrama Perguruan Islam (API). Nama itu merupakan hasil istikharahnya. Dengan nama itu, ia berharap santri-santrinya kelak akan jadi api penerang umat dalam kegelapan.

Pada tahun 1947, ketika Belanda melakukan Agresi Militer, Pesantren API menjadi benteng perjuangan mempertahankan kemerdekaan oleh para gerilyawan. Bahkan Chodlori yang kini sudah bergelar kiai, mengizinkan santrinya untuk turut berjuang. Aktivitas belajar-mengajar dihentikan untuk sementara waktu.

Karena perjuangan itu diketahui Belanda, pesantrennya kemudian dibakar habis. Santri, keluarga, dan Kiai Chudlori sendiri mengungsi dari satu desa ke desa lain. Kemudian di tahun 1949, ia kembali ke desanya dan mebangun kembali pesantren. Prmbangunan kali ini, dibantu warga masyarakat yang telah bersimpati pada perjuangannya. Santri pun bertambah banyak. Pada tahun 1977, ia memiliki sekitar 1500 santri. Di tahun tersebut, pesantren API sedang berkembang pesat, tapi di tahun itu pula Kiai Chudlori dipanggil yang Kuasa. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)


Bagikan:
Ahad 18 September 2016 10:1 WIB
KH Idham Chalid, Putra Pelosok Jadi Pemimpin Nasional
KH Idham Chalid, Putra Pelosok Jadi Pemimpin Nasional

H Mahbub Djunaidi, kolumnis kenamaan itu, dalam tulisannya yang kocak “Wajah”, menggambarkan KH Idham Chalid sebagai berikut: perawakannya tipis tak ubahnya dengan umumnya pedagang batu permata dari Banjar.

Meski demikian, menurut Ketua Umum PB PMII pertama tersebut, Kiai Idhamlah yang memegang rekor paling lama menduduki kursi kekuasaan politik negeri ini sejak tahun 1956. Dan paling lama pula menjabat ketua NU. Idham memiliki kelincahan logika tinggi.

KH Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1921 M di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan. Ia adalah anak sulung dari lima bersaudara dari H Muhammad Chalid. Saat usianya baru enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.

Keterkaitannya dengan NU dimulai pada tahun 1952 ketika ia aktif dalam Gerakan Pemuda Ansor, organisasi kepemudaan dibawah NU. Dua tahun kemudian ia dipercaya memegang jabatan Sekretaris Jenderal PBNU. Kemudian menjadi Ketua Umum PBNU. Mulai mengemban amanat itu, Idham otomatis sebagai tokoh termuda saat berusia 34 tahun yang pernah memimpin PBNU. Ia memimpin NU pada tahun 1956 sampai tahun 1984. Kepemimpinannya selama 28 tahun adalah sebuah catatan dan prestasi yang fenomenal baik pada masa tersebut maupun masa kini.

Kepemimpinan Idham di PBNU mematahkan mitos Jawa dan luar Jawa. Juga menghapus mitos bahwa Ketua Umum PBNU harus memiliki darah biru, yang dapat diartikan sebagai keturunan ulama besar yang terpandang.  

Ayah Idham hanya berprofesi sebagai penghulu di pelosok Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin. Keluasan pergaulan, kemahiran retorika serta kepiawan dalam melobi mengantarkan Idham sebagai tokoh besar pemimpin nasional. Idham menjadi pemimpin besar baik di masa Orde Lama maupun Orde Baru karena kapasitas personal, kegigihan dalam perjuangan serta kemauan keras untuk memberikan sumbangsih terbaik bagi bangsa dan agama.

Pada masa Perang Kemerdekaan, Idham berjuang di Kalimantan Selatan. Ia bergabung dengan badan perjuangan Serikat Muslim Indonesia (Sermi). Kemudian dengan Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan (SOPIK). Bersama dengan Komandan Divisi IV ALRI, Letnan Kolonel Hassan Basri, ia mendirikan Fonds Nasional Indonesia Kalimantan. Ia ikut bergerilya bersama anggota divisi IV ALRI, bahkan diangkat sebagai penasihat. Pada bulan Maret 1949 ia ditangkap Belanda dan baru dibebaskan pada bulan November.

Dalam bidang pendidikan, pada tahun 1940, Idham menjadi guru di Madrasah Pondok Modern Gontor, bekas almamaternya. Setelah kembali ke daerah kelahirannya di Kalimantan Selatan pada tahun 1944, ia memimpin Normaal Islam School. Ia juga menghimpun sejumlah pesantren dengan mendirikan Ittihad Al Ma’ahid Al Islamiyyah. Kegiatan di dunia pendidikan masih dilanjutkan Idham ketika ia sudah menjadi pimpinan NU. Pada tahun 1956 ia mendirikan perguruan Islam Darul Ma’arif di Jakarta dan pada tahun 1960 mendirikan Pendidikan Yatim Darul Qur’an di Cisarua, Bogor.

Di bidang pemerintahan, beberapa kali Idham Chalid duduk dalam kabinet dengan jabatan antara lain Wakil Perdana Menteri dalam kabinet Ali Sastroamidjojo II (1956-1957) dan kabinet Juanda (1957-1959). Menteri Utama bidang Kesejahteraan Rakyat dalam Kabinet Ampera I (1966-1967), Menteri Negara Kesejahteraan dalam Kabinet Ampera II (1967-1968), Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Pembangunan I (1968-1973). Selain itu, ia juga pernah menjadi Ketua DPR (1968-1977) dan Ketua MPR (1972-1977), Ketua DPA (1978-1983).

Peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University Kairo, Mesir ini yang yang mampu berperan ganda dalam satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi, wafat pada 11 Juli 2010. Ia dimakamkan di Pesantren Darul Quran, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Setahun kemudian, KH Idham Chalid diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, bersama dengan 6 tokoh lain, berdasarkan Keppres Nomor 113/TK/Tahun 2011 tanggal 7 November 2011. Ia merupakan putera Banjar ketiga yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional setelah Pangeran Antasari dan Hasan Basry. Dan kini, sebentar lagi akan menghiasi mata uang Rupiah 5.000. (Abdullah Alawi)


Rabu 14 September 2016 11:1 WIB
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung

KH Ruhiat atau dikenal dengan panggilan Abah Ruhiat lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat 11 November 1911 dan wafat pada tanggal 28 November 1977 bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397.

Ayah Ruhiat bernama Abdul Gofur dan ibunya Umayah. Ia adalah Rais Syuriyah PCNU Tasikmalaya, pendiri Pesantren Cipasung Tasikmalaya, sebuah pesantren yang kelak dilanjutkan putranya KH Ilyas Ruhiat yang menjadi Rais Aam PBNU setelah Muktamar NU di Cipasung pada tahun 1994.

Pada usia belia, ia belajar ilmu agama di pesantren Cilenga, sebuah pesantren terkenal saat itu, yang diasuh oleh KH Sobandi atau Syabandi yang merupakan murid dari KH Mahfudz Tremas. Ia mengaji di pesantren tersebut dari tahun 1922 sampai tahun 1926. kemudian ia melanjutkan pengembaraan mencari ilmu ke pesantren-pesantren lain.

Pada tahun 1927 sampai dengna tahun 1928, ia mengaji ke Pesantren Sukaraja Garut dibawah asuhan KH Emed, Pesantren Kudang Cigalontang, Tasikmalaya asuhan KH Abbas Nawawi, dan Pesantren Cintawana asuhan Kiai Toha.  Dengan demikian, silsilah keilmuannya bersambung dengan tokoh-tokoh NU lain yang juga berguru ke kiai tersebut.

Pada tahun 1931, Ruhiat bermukim di Cipasung. Kemudian mengajar santri dan masyarakat sekitar tempat itu. Mulanya mengajar di masjid untuk selanjutnya membangun pesantren yang masih berdiri hingga sekarang. Pesantren tersebut didirikan secara resmi pada tahun 1932 dengan nama Pesantren Cipasung.

Dalam mengajarkan ilmu-ilmu pesantren, Ruhiat menggunakan ngalogat dengan bahasa Sunda. Ia berpandangan, dengan santri yang berbahasa Sunda maka harus digunakan bahasa Sunda. Santri pertamanya berjumlah sekitar 40 orang. Mereka adalah para santri yang dititipkan gurunya dari Cilenga.  

KH Ruhiat dipandang sebagai seorang kiai yang berpikiran maju pada zamannya, terutama dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1935, ia mendirikan Madrasayah Diniyah. Pada tahun 1937, mendirikan Kursus Kader Muballighin wal Musyawirin. Pada tahun 1949 mendirikan Sekolah Pendidikan Islam.

Pada tahun 1953 mendirikan Sekolah Rendah yang kemudian berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah. Pada tahun 1959 mendirikan Sekolah Menengah Pertama Islam dan ditembah Sekolah Menengah Atas Islam. Serta pada tahun 1969 mendirikan Sekolah Persiapan IAIN yang kemudian berubah menjadi MAN.   

Selain sebagai seorang kiai pendidik, Ruhiat adalah seorang pejuang gerakan kebangsaan yang melawan penjajahan Belanda. Ia pernah ditangkap Belanda dan dipenjara di Sukamiskin Bandung (1941) dan di Ciamis (1942). Pada masa penjajahan Jepang, ia tersangkut pemberontakan yang dilakukan sahabatnya, KH Zainal Mustofa sehingga ia kembali dipenjara di Tasikmalaya (1944). Pada masa Revolusi kemerdekaan lagi-lagi ia dipenjara Belanda (1949).  

Sebagai kiai yang berjuang untuk kemerdekaan, pada tahun 1945, setelah mendengar Proklamasi Kemerdekaan, Ruhiat pergi ke alun-alun Tasikmalaya. Dia kemudian berdiri tegap di atas babancong, podium terbuka yang tak jauh dari pendopo kabupaten. Ia berpidato, menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih bangsa Indonesia cocok dengan perjuangan Islam. Oleh karena itu, kata dia, kemerdekaan harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya.  

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Ia menolak tawaran menjadi salah seorang imam DI. Ia menampik gerakan yang disebutnya mendirikan negara di dalam negara itu, karena melihatnya sebagai bughat (pemberontakan) yang harus ditentang. Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu DI, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya. (Abdullah Alawi)



Selasa 30 Agustus 2016 18:1 WIB
Enas Mabarti, Penulis dan Politisi NU dari Garut
Enas Mabarti, Penulis dan Politisi NU dari Garut

Enas Mabarti dikenal sebagai staf pengajar perguruan tinggi swasta di Kabupaten Garut, politisi serta penulis di beberapa penerbitan. Pers bahkan kerap memposisikan dirinya sebagai kolumnis, karena cukup produktif memaparkan analisanya termasuk dikenal sebagai wartawan hutan karena kerap menulis di majalah Kehutanan.

Semasa kuliah di jurusan FISIP UGM Yogyakarta, ia nyantri di Pondok Pesantren Krapyak pimpinan KH Ali Ma’shum. Pada masa itu, ia aktif di Gerakan Pemuda Ansor. Ketika pulang kampung ia melanjutkan aktivitasnya dengan menjadi ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU kabupaten Garut.

Dalam politik, dosen politik Universitas Garut (Uniga) ini pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) II (1982-1987) perwakilan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan pada tahun 1999 menjadi ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sekaligus Ketua PCNU.

Dalam dunia kepenulisan, Enas berkarya sejak duduk di bangku SMA. Karyanya dimuat Pikiran Rakyat, Sipatahoenan, majalah bahasa Sunda Mangle, dll. Ia juga pernah menjadi wartawan Bina Rimba Perhutani (1978-1988). Selain itu, pria yang dijuluki lelaki sutra karena melankolis ini, sering menerjemahakan Al-Quran dalam bentuk puisi.

Bakatnya dalam sastra, dituangkannya dengan menulis buku Rencep Sidem Gunem, sebuah buku berbahasa Sunda. Buku yang pernah dimuat secara berkala di majalah Mangle tersebut mengungkap masalah sehari-hari menjadi bahan renungan. Kemuadian dituangkan dalam bentuk tulisan yang dilengkapi ayat-ayat Al-Qur’an, Hadits Nabi Muhammad dan qaul-qaul ulama. Alhasil, tulisan itu berbuah ajaran moral dengan gaya yang indah penuh artistik.  

Sebagai seorang politikus, Enas menuangkan pemikirannya dalam Elmu Politik keur Warga NU  (Ilmu Politik untuk warga NU). Posisi buku itu sangat unik. Pertama, Enas menulis dalam bahasa Sunda di tengah jarangnya penulisnya menggunakan bahasa daerah. Kedua, yang dibahas adalah masalah politik. Tentu saja Enas berniat warga nahdliyin di Kabupaten Gaut khususnya, dan urang Sunda pada umumnya, melek politik.

Dalam buku tersebut, ilmu politik harus dengan tujuan ibadah. Enas menyebutkan pondasi untuk berpolitik warga nahdliyin adalah kaluhungan (ketinggian) ilmu, kaimanan jeung (dan) kaahlian, takwa.

Enas Mabarti meninggal pada bulan April tahun 2014. Sebagai bentuk kecintannya kepada Sunda, ia berwasiat kepada keluarganya agar honorarium karya-karyanya disumbangkan untuk pengembangan Pusat Studi Sunda (PSS) . (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG