IMG-LOGO
Nasional

Miris, Hasil Riset Sebut 10 Juta Orang Indonesia Setuju Konsep Negara Islam

Selasa 27 September 2016 18:0 WIB
Bagikan:
Miris, Hasil Riset Sebut 10 Juta Orang Indonesia Setuju Konsep Negara Islam
Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini
Jakarta, NU Online
NU Online dan INFID (International NGO Forum on Indonesia Development) bermaksud mengumumkan kepada publik mengenai kesempatan untuk mengikuti kompetisi esai dan multimedia yang bertujuan mengampanyekan Islam ramah, moderat dan damai terutama di dunia maya. 

Dalam konferensi pers peluncuran kompetisi esai dan video tersebut, Selasa (27/9) di Gedung PBNU Jakarta hadir Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, Pimred NU Online Achmad Mukafi Niam, Direktur Eksekutif INFID Sugeng Bahagijo, awak media, dan para aktivis orgnaisasi pemuda.

Dalam paparannya, Helmy Faishal mengungkapkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lee Kuan Yeuw School Singapura yang merilis data dari View Research Center. Hasil penelitian ini memngungkapkan bahwa 4 persen dari penduduk Indonesia atau tepatnya adalah 10 juta orang Indonesia setuju konsep negara Islam. Angka tersebut adalah para pemuda dan kaum urban.

“Mereka sepakat dan mendukung konsep Negara Islam (Islamic State) yang kita kenal ISIS. Ini jumlah yang besar sekali yang membuktikan bahwa Indonesia berada pada pusaran radikalisme global,” ujar Helmy. 

Sehingga menurut Helmy, upaya penanggulangan radikalisme bukan hanya tanggung jawab Nahdlatul Ulama, tetapi juga menjadi tugas seluruh elemen bangsa demi keutuhan bangsa dan negara Indonesia agar Pancasila dan UUD 1945 sebagai pondasi persatuan tetap kokoh.

Untuk menanggulangi problem radikalisme global yang terus menggerogoti keutuhan bangsa, menurut Helmy, perlu ada langkah-langkah konkret, baik dari civil society maupun pemerintah. Karena arah gerakan ini menyasar para pemuda sebagai pengguna besar media sosial dan dunia maya.

“Kami dari NU sudah bolak-balik menyampaikan kepada pemerintah untuk melakukan law enforcement karena semua sudah diatur dalam UU Terorisme. Kelompok-kelompok radikal secara jelas tidak mengakui dasar negara Pancasila yang sebenarnya sudah bisa diambil tindakan hukum,” papar Helmy. (Fathoni)

Tags:
Bagikan:
Selasa 27 September 2016 19:3 WIB
LSN 2016
Liga Santri Region Maluku-Papua Dibuka
Liga Santri Region Maluku-Papua Dibuka
Jakarta, NU Online
Pertandingan Liga Santri Nusantara Regional Maluku-Papua telah dimulai ditandai dengan tendangan kickoff oleh Wakil Bupati Maluku Tengah Muhammad Yunus, Senin (26/9). Tampak hadir perwakilan Koni Maluku Tengah, perwakilan Camat, Kordinator Region Maluku, panitia pelaksana, dan bebepa panitia LSN tahun 2016.

Muhammad Yunus mengapresiasi langkah Kemenpora dalam menyelenggarakan kompetisi sepakbola untuk pesantren dan santri. "Kami sangat mengapresiasi itikad baik Menpora Imam Nahrawi dalam menyelenggarakan Liga Santri ini," katanya.

Lebih lanjut orang nomor dua di Maluku tengah itu mengatakan bahwa liga santri penting untuk mencari bibit unggul di segmen yang khusus yakni pesantren. "Bagaimana kita tahu bahwa pesantren tidak hanya ruang mencari ilmu tapi di sana juga ditempa penguatan mental, fisik dan keterampilan santri," ungkapnya.

Yunus mengatakan, pemerintah daerah berkomitmen dan siap jika LSN tahun 2017 di taruk di Maluku lagi.

Koordinator Region LSN Region Maluka-Papua Hamzah Rahayan berterima kasih karena panitia pusat telah mempercayakan liga santri ke Maluku Tengah. “Ini merupakan penghargaan bagi kita karena Maluku Tengah dipercaya sebagai tuan ruan rumah," katanya.

Walaupun Maluku dan Papua sangat sedikit sebaran pesantrennnya, tapi hal itu tidak mengurangi semangat untuk melaksanakan liga santri demi kemajuan olahraga khususnya pembinaan usia dini di semua lini.

Liga Santri Nusantara Region Maluku-Papua akan diikuti oleh delapan tim pondok pesantren. Turnamen seri daerah ini akan berlangsung 26 September sampai 3 Oktober 2016. (Red Alhafiz K)

Selasa 27 September 2016 16:39 WIB
Tradisikan Ziarah, Panglima TNI Ajak Prajurit Belajar dari Sejarah
Tradisikan Ziarah, Panglima TNI Ajak Prajurit Belajar dari Sejarah
Panglima TNI ziarah ke makam Gus Dur dan keluarga.
Jombang, NU Online
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo membangun tradisi baru dalam peringatan hari ulang tahun TNI. Menyongsong HUT ke-71 TNI, Gatot mengajak seluruh Panglima Komando Utama (Pangkotama) untuk berziarah ke makam para mantan Presiden dan Panglima TNI.

Di Jawa Timur, Gatot mengajak sekitar 40 jenderal tersebut berziarah ke makam Presiden Soekarno di Blitar dan KH Abdurrahman Wahid dan keluarga di Tebuireng Jombang, Selasa (27/9). Semua kepala staf dari ketiga kesatuan juga tampak mendampingi kunjungan tersebut. 

Rombongan ziarah yang dipimpin Panglima TNI tiba di Kompleks Pesantren Tebuireng sekitar pukul 11:30 WIB dan langsung disambut oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) beserta Nyai Farida Salahuddin. Seluruh jajaran Majelis Keluarga Pesantren Tebuireng juga turut menyambut kedatangan rombongan Panglima TNI ini.

Kepada wartawan, pria kelahiran Tegal 13 Maret 1960 ini menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan hasil diskusi dengan seluruh kepala staf. Tujuannya, agar seluruh prajurit TNI senantiasa mengenang sejarah perjuangan kemerdekaan dan meneladani sikap para pahlawan.
 
Sebagaimana diketahui dalam berbagai literatur sejarah, setelah TNI terbentuk pada 5 Oktober 1945, bala tentara NICA berusaha menguasai kembali Indonesia dengan membonceng Pasukan Sekutu. "Saat itulah, beberapa orang menghadap Kiai Hasyim Asy'ari untuk meminta fatwa beliau. Kemudian lahirlah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, yang mewajibkan seluruh warga dalam radius yang belum boleh menjamak shalat untuk berperang melawan penjajah. Fatwa itu menegaskan, perang untuk mengusir penjajah hukumnya fardlu 'ain," tegas alumnus Akabri 1982 ini.

Pada 9 November, sebenarnya tentara dan rakyat sudah siap bertempur. Tapi oleh Kiai Hasyim diminta menunda dulu. "Kiai Hasyim meminta agar semua pasukan menunggu Kiai Abbas dari Cirebon, yang beliau juluki sebagai Singa dari Jawa Barat,” jelasnya.

Sejarah kemudian mencatat, terjadilah peristiwa perang yang sangat heroik pada 10 November, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. "Karena semangat yang heroik dan pantang menyerah, perjuangan dengan senjata tradisional melawan senjata termodern pada saat itu berhasil kita menangkan. Bahkan pimpinan pasukan penjajah tewas di medan perang saat itu," ujar Gatot.

Dengan mengenang sejarah, Gatot Nurmantyo berharap prajurit TNI dapat mencontoh kegigihan para pahlawan dalam menghadapi situasi yang semakin sulit. "Bung Karno mengatakan, perjuangan saya tidak berat karena hanya mengusir penjajah. Tapi perjuanganmu nanti akan lebih berat karena melawan bangsamu sendiri," terangnya mengutip ungkapan Sang Proklamator.

Dengan tradisi ziarah ini, mantan KSAD ini berharap TNI dan kalangan pesantren dapat bergandengan tangan untuk menghadapi tantangan pembangunan. "Pantang menyerah, komitmen, penuh dedikasi dan yang paling penting berjuang dengan ikhlas, tanpa kepentingan apa pun," pungkasnya. (Humas Pesantren Tebuireng/Fathoni)

Selasa 27 September 2016 15:33 WIB
Wisuda Ke-5, STAINU Jakarta Komit Cetak Sarjana Aswaja Profesional
Wisuda Ke-5, STAINU Jakarta Komit Cetak Sarjana Aswaja Profesional
Suasana Wisuda Ke-5 STAINU Jakarta.
Jakarta, NU Online
Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar Wisuda Ke-5 tingkat sarjana (S1) dan diploma (D3), Selasa (27/9) di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Dalam prosesi penting tahunan inilah STAINU Jakarta berkomitmen untuk terus mencetak para sarjana Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah secara profesional.

Dalam sambutannya, Ketua STAINU Jakarta H Syahrizal Syarif mengatakan bahwa persaingan global di segala bidang semakin nampak. Tantangan ini sangat diperhatikan oleh STAINU Jakarta untuk mencetak sebanyak mungkin lulusan-lulusan berkualitas secara akademik. 

Selain itu, tambahnya, lulusan berkualitas yang dihasilkan STAINU Jakarta tidak akan meninggalkan akar tradisi dan budaya masyarakat Indonesia yang berkembang selama berabad-abad. 

“Hal ini hanya bisa dilakukan para lulusan jika dibekali dengan Aswaja yang memiliki karakter moderat, ramah, dan toleran. Pemahaman ini bahkan sudah menjadi kurikulum wajib di STAINU Jakarta,” ujar Syahrizal.

Dia juga mengungkapkan bahwa perguruan tinggi yang dipimpinnya ini secara terus menerus akan melakukan reformasi perkuliahan secara digital. Selama ini sistem di STAINU Jakarta telah terintegrasi secara digital. Ke depan, imbuhnya, STAINU juga akan segara menerapkan sistem E-Learning.

Di akhir sambutannya, Syahrizal berpesan kepada para wisudawan dan wisudawati agar menjadi sarjana yang berperan nyata di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya dituntut bekerja pada bidangnya, tetapi juga bekerja secara profesional apapun bidang yang digelutinya.

Hadir dalam wisuda ini antara lain, Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Menpora RI H Imam Nahrawi, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua BP3TNU H Marzuki Usman, Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi, Ketua PP LP Ma’arif NU H Arifin Junaidi, para Dosen dan Civitas Akademika STAINU Jakarta.

Wisuda ke-5 ini, STAINU Jakarta berhasil mencetak 248 lulusan sarjana dan diploma dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Perbankan Syariah, dan Ahwalul Syakhsiyah. (Fathoni) 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG