IMG-LOGO
Nasional
1000 HARI MBAH SAHAL

Para Santri Didorong Lanjutkan Perjuangan KH Sahal Mahfudh

Senin 3 Oktober 2016 17:0 WIB
Bagikan:
Para Santri Didorong Lanjutkan Perjuangan KH Sahal Mahfudh
Pati, NU Online
Peringatan Haul dan 1000 hari wafatnya KH MA. Sahal Mahfudh menjadi momentum bagi santri-santri beliau untuk melanjutkan perjuangan. Hal ini, disampaikan KH Malik Madani (Dosen UIN Yogyakarta, Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2010-2015) di Pesantren Maslakul Huda, Ahad (2/10).

Dalam tahlil umum, sebagai puncak agenda Haul, dihadiri oleh KH Kafabihi Mahrus (Pesantren Lirboyo), KH Nafi Abdillah, KH Zaky Abdillah (Kajen), KH Moh Khoiruzzad (Kencong, Jawa Timur), KH Aniq Muhammadun, Bupati Pati H. Haryanto, jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Pengurus Masjid Agung Jawa Tengah dan ribuan santri.

KH Abdul Ghaffar Rozien, pengasuh Pesantren Maslakul Huda, mengucapkan terima kasih kepada para kiai, santri dan warga yang hadir untuk mendoakan Kiai Sahal. "Terima kasih atas semua yang rawuh. Semoga menjadi kebaikan untuk kita semua," ungkap Gus Rozien, yang kini sebagai Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU.

Dalam ceramahnya, Kiai Malik Madani mengungkapkan bahwa sosok Kiai Sahal adalah orang ulama langka. "Kiai Sahal harus menjadi teladan bagi kita semua, beliau orang 'alim yang langka. Kiai Sahal lahir dari keluarga kiai besar, namun tidak terjebak pada bayang-bayang kebesaran masa lalu. Justru, Kiai Sahal mampu tegak berdiri untuk membangun kesuksesan," terang Kiai Malik.

Ketika menjadi Katib Aam Kiai Sahal, Kiai Malik Madani mendapatkan banyak pelajaran berharga. Di antaranya dalam hal kedisiplinan, visi, niat pengabdian, dan konsistensi. "Dalam segala hal, saya sebenarnya tidak pantas memberi ceramah pada agenda penting ini. Tapi, saya beranikan demi kecintaan dan pengabdian saya kepada Kiai Sahal," terang Kiai Malik.

Dalam kisah yang disampaikan, Kiai Malik Madani sangat kagum dengan sosok Kiai Sahal. "Saya menjadi sekretaris Kiai Sahal, di jajaran Syuriah PBNU, sebagai Katib Aam. Pada waktu itu, Kiai Sahal menjadi Rais Aam. Saya belajar banyak dari Kiai Sahal, beliau itu guru saya. Santri-santri harus belajar dari teladan dan keilmuan Kiai Sahal," ungkap Kiai Malik Madani.

Dalam informasi yang disampaikan panitia, Tahlil Umum menjadi puncak agenda dari rangkaian acara yang diselenggarakan Panitia 1000 Hari wafatnya Kiai Sahal. Sebelumnya, diselenggarakan Seminar dan Call Paper Fiqh Sosial (Pusat FISI/IPMAFA), Temu Alumni, serta peresmian Ma'had Aly Pesantren Maslakul Huda. Menteri Agama, H. Lukman Hakim Saifuddin meresmikan berdirinya Ma'had Aly ini. Ma'had Aly  Maslakul Huda, menjadi percontohan untuk belajar Ushul Fiqh dan ilmu Fiqh, yang menjadi basis ilmu yang dikembangkan Kiai Sahal untuk para santrinya. (Munawir/Fathoni)

Tags:
Bagikan:
Senin 3 Oktober 2016 22:54 WIB
Pergunu Berikan Beasiswa untuk Pelajar Thailand Selatan
Pergunu Berikan Beasiswa untuk Pelajar Thailand Selatan
Jakarta, NU Online 
Ketua Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta Aris Adi Leksono melepas pelajar muslim Thailand Selatan yang merupkan calon mahasiswa penerima beasiswa dari Pimpinan Pusat Pergunu (Senin, 03/10). 

Pelajar tersebut mendapatkan beasiswa untuk program perkuliahan tingkat S1 di Institut Agama Islam KH Abdul CHalim, Komplek Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.

"Alhamdulillah tahun ini, DKI diberikan kuota lebih banyak dari Pengurus Pusat Pergunu, tidak hanya untuk wilayah DKI Jakarta saja, tapi juga untuk pelajar luar negeri. Khusus untuk Thailand Selatan, tahun ini 10 pelajar akan belajar di Institut Agama Islam KH Abdul Chalim milik Kiai Asep Saifuddin Halim, Ketua Umum PP PERGUNU," terang Aris sesaat setelah serah terima calon mahasiswa, di Provinsi Yala, Thailand Selatan, melalui siaran pers.

Lebih lanjut Aris menjelaskan sudah dua tahun ini Pergunu aktif memberikan beasiswa jenjang sarjana kepada pelajar, baik dalam maupun luar negeri. Sampai saat ini pelajar Thailand Selatan sudah berjumlah 15 orang yang akan dan sedang mengikuti perkuliahan di Pacet Mojokerto. 

Mereka, kata dia, setelah mengikuti tahap seleksi yang dilakukan PW Pergunu DKI Jakarta, diarahkan mengambil jurusan yang dibutuhkan ketika mereka kembali ke Thailand Selatan. Rata-rata memilih jurusan Pendidikan Agama Islam, Dakwah dan Komunikasi Islam.

"Beasiswa ini semakin menunjukan peran strategis NU dalam memberikan manfaat kepada sesama, terutama di mancanegara. Pelajar Thailand Selatan ketika lulus, diharapkan kembali ke wilayah masing-masing untuk berperan dalam memberikan pencerahan di masyarakat, terutama dalam penguatan faham Ahlussunah wal-Jama’ah An-nahdliyah," Wakil Ketua STAINU Jakarta.

Pemberian beasiswa ini memiliki manafaat jangka panjang, terutama dalam konteks kaderisasi NU. Sebagai gambaran sampai saat ini, pelajar Thailand Selatan yang belajar di Indonesia melalui jalur beasiswa perguruan tinggi NU sudah berjumlah 350 orang.

Serah terima mahasiswa Thailand Selatan ini bersama dengan pelantikan PCINU Thailand Selatan. Hadir dalam acara ini, Katib Syuriah PBNU, KH Mujib Qulyubi, Wakil Sekretaris PBNU Masduki Baidowi, Ketua Persatuan Madrasah Swasta se-Thailad Selatan, Ketua Persatuan Imam Masjid se-Thailad Selatan. (Red: Abdullah Alawi)


Senin 3 Oktober 2016 19:0 WIB
Simposium Internasional Manassa Kaji Suluk Iwak Telu Sirah Sanunggal
Simposium Internasional Manassa Kaji Suluk Iwak Telu Sirah Sanunggal
Simbol iwak telu sirah sanunggal.
Jakarta, NU Online
Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) menggelar Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara ke-16 dengan menggandeng Perpustakaan Nasional RI (PNRI). Kegiatan yang dilaksanakan September 2016 akhir itu menghadirkan para Filolog internasional diantaranya mengkaji Suluk Iwak Telu Sirah Sanunggal dalam Naskah Syatariyah wa Muhammadiyah (SWM) di Cirebon yang ditulis dan dibawakan oleh Dr Mahrus El-Mawa, Filolog lulusan Universitas Indonesia (UI).

Mahrus mengungkapkan, di tengah riset tentang tarekat Syatariyah di Cirebon, terdapat ungkapan dari salah seorang mursyid, bahwa ilustrasi dalam SWM dengan iwak telu sirah sanunggal (tiga ikan satu kepala, trimina) itu disebut pula sebagai suluk Syatariyah. Hanya saja, dalam berbagai naskah dan kajian literatur, belum ditemukan dengan jelas, bahwa trimina itu disebut sebagai suluk Syatariyah. 

“Tulisan ini menganalisis bagaimana iwak telu sirah sanunggal dalam SWM itu dapat disebut sebagai suluk Syatariyah di Cirebon yang berpengaruh di daerah lainnya,” terang Mahrus, Pendiri Pusat Kajian Cirebon IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Pria yang juga aktif sebagai Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (PP LP Ma’arif NU) ini juga menjelaskan, SWM merupakan salah satu kitab panduan tarekat Syatariyah dari seorang guru bernama Raden Muhammad Nurullah Habibuddin. Habibuddin memberikan ijazah Tarekat Syatariyah kepada ketiga anaknya, Partakusuma, Jayadikusuma dan Partasuwarma. 

“Naskah SWM yang dikaji ini berasal dari silsilah Partakusumah. Pemilik naskah, Mohammad Hilman, menceritakan bahwa naskah ini diperoleh dari ayahnya, yang juga mursyid Syatariyah, bernama Pangeran Ibrahim atau Syaikh Khaliluddin (wafat 2003). Pangeran Ibrahim memperolehnya dari Partadikusumah (wafat 1960-an) atau dikenal juga dengan nama Partakusuma dengan gelar kemursyidannya, Badriddin,” papar Mahrus.

Dalam silsilah naskah SWM, terang Mahrus, terdapat beberapa nama tokoh penting dalam dunia tarekat yaitu Abdullah bin Abdul Qahhar dan Syaikh ‘Alim ar-Rabbani (Syaikh Ahmad Qusyasyi).  Abdullah bin Abdul Qahhar dikenal sebagai penasihat Sultan Banten pada abad ke-18,  guru tarekat Syatariyah dan beberapa tarekat lainnya, baik di Cirebon, Cianjur, maupun Banten. 

“Ia menghasilkan beberapa karya yang cukup terkenal, seperti kitab Fath al-Mulk Liyasila Ila Malik al-Muluk ‘Ala Qa’idat Ahl al-Suluk. Bahkan, menurut temuan penelitian terakhir, Abdullah bin Abdul Qahhar juga pernah tinggal di Mindanao dan menjadi mursyid,” jelasnya.

Ilustrasi 3 ikan 1 kepala 

Adapun ilustrasi trimina, terang Mahrus, tiga ikan satu kepala atau iwak telu sirah sanunggal (ITSS) merupakan kreasi dari Syaikh Ismail dari Arab.  Gambar ITSS dalam teks SWM dapat menjadi keunikan tersendiri karena letaknya berbeda dengan naskah-naskah lain di Jawa yang mencantumkan ITSS, misalnya Lamongan, Ngawi, dan Gresik.

Ilustrasi ITSS disebut tauhid trimina karena terdapat penjelasan berkaitan dengan unsur-unsur ketauhidan. Dalam teks SWM, ilustrasi ITSS itu digambarkan untuk menjelaskan relasi hamba (kawula) dan Tuhan (gusti) pada saat pertanyaan tentang “orang yang mengetahui Tuhannya menjadi tidak tahu kepada dirinya, bagaimana tingkahnya?”. Dari pertanyaan itu lalu seorang murid hendaknya dapat memahami antara zat (Allah), sifah (ruh), dan af’al (jasad) sebagai satu kesatuan yang diibaratkan dengan tiga ikan satu kepala.

Selain membahas kajian per variabel dalam naskah SWM, Mahrus juga menjelaskan secara integral antara Suluk Cirebon dengan Suluk Iwak Telu Sirah Sanunggal. Di titik ini, sebagai bagian dari tarekat, suluk iwak telu berkaitan dengan zikir dan wirid Syatariyah. Seperti disebutkan dalam teks-teks Syatariyah Cirebon, zikir dan wirid tersebut disimbolkan dengan huruf Lam Alif yang diibaratkan sebagai bahu, dada, dan perut. 

Kedua ilustrasi tersebut menurut Mahrus sebagai suluk Syatariyah hampir sama dengan temuan penelitian pada LOr 7378 tentang 41 Suluk Cirebonan. Hanya saja, dalam 41 suluk itu tidak ada suluk dari lafal-lafal tersebut, tetapi dipengaruhi oleh ajaran Martabat Tujuh.

Ilustrasi tiga ikan satu kepala dapat dianggap menjadi ciri khas Syatariyah Cirebon dengan silsilah Abdullah bin Abdul Qahhar di dalamnya. Akan tetapi, ungkap Mahrus, ilustrasi tiga ikan tersebut tidak hanya di Cirebon saja, sebab ditemukan pula di Drajat Lamongan, Jawa Timur, yaitu naskah milik Kiai H. Muhammad Bakrin. Naskah tersebut ditulis sekitar abad ke-17.  Pada halaman 82 naskah Drajat ini ada kalimat yang menunjukkan bahwa naskah ini mempunyai kaitan asal-usul dengan Cirebon.

Di akhir penjelasannya, dia menyimpulkan bahwa iwak telu sirah sanunggal dalam naskah SWM dapat disebut sebagai suluk Syatariyah di Cirebon. Dengan suluk iwak telu sirah sanunggal dari Cirebon ini telah tersebar ajaran tarekat Syatariyah ke berbagai daerah, baik di Jawa Barat, Jawa Timur, maupun lainnya, seperti Mindanao. Hal itu tercermin pula melalui sosok Abdullah bin Abdul Qahhar, yang menjadi ciri dari Syatariyah dengan ilustrasi iwak telu sirah sanunggal. 

(Red: Fathoni)

Senin 3 Oktober 2016 14:35 WIB
TV Swiss Minta GP Ansor Jelaskan Radikalisme Agama di Indonesia
TV Swiss Minta GP Ansor Jelaskan Radikalisme Agama di Indonesia
Jakarta, NU Online
Reporter TV Swiss meliput organisasi-organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia seperti Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Juga organisasi-organisasi sayap ormas tersebut, di antaranya Gerakan Pemuda Ansor yang merupakan badan otonom kepemudaan NU.

TV Swiss yang menerjunkan dua reporter dan dua fotografer tersebut mewawancarai Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat GP Ansor Adung Abdul Rachman dengan pengantar bahasa Inggris dan diterjemahkan seorang penerjemah, di ruangan kerjanya, kantor GP Ansor, Jakarta pada Jumat (30/9).

Sebelum wawancara, berlangsung diskusi singkat dengan Adung. Reporter melontarkan pertanyaan apa itu Gerakan Pemuda Ansor, bagaimana cara membentengi negara dari paham-paham Islam radikalisme yang begitu gencar diberitakan beberapa tahun ini.

Menurut Adung, Gerakan Pemuda Ansor menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman dan kebangsaan, serta menyebarkan pemikiran Islam rahmatan lil allamin, Islam Nusantara dan Islam Ahlussunah wal-Jama’ah.

Adung manambahkan, GP Ansor memiliki koordinasi dengan 32 Pimpinan Wilayah hingga ke tingkat desa. Juga memiliki keanggotaan khusus bernama Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.

Reporter tersebut kemudian menanyakan bagaimana tanggapan GP Ansor terhadap kelompok-kelompok radikal yang beberapa kali menyuarakan syariat Islam

Adung menjawab, kehadiran mereka tentu menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia yang majemuk. Namun, GP Ansor melihat jumlah mereka masih minoritas.

“Kami sangat percaya diri bahwa Indonesia tidak terpengaruh dengan ideologi mereka. Kami membentengi diri dengan kegiatan, menjaga anggota kami, masyarakat kami dari radikalisme karena kami cinta Indonesia, apa pun agama suku, bahasa, budaya, mereka mencintai Indonesia,” jelasnya.

Ini, kata dia, agak berbeda dengan Timur Tengah. Mereka satu agama, tidak majemuk, tapi berperang satu sama lain. Oleh karena itu, kami tidak menginginkan paham berperang ala Timur Tengah masuk ke dalam Indonesia.

Reporter itu kembali bertanya, dari Timur Tengah pengaruh paham radikalisme mulai populer dan mulai kencang terdengar lima belas tahun terakhir ini. Mereka tidak pernah ada di Indonesia?

Menurut Adung, gerakan Wahabi yang berasal dari Timur Tengah itu gencar mengekspor gagasan dan paham mereka di Indonesia bahkan ke Eropa. Mereka berusaha menguasai imam-imam masjid di benua itu. Mereka juga ingin menguasai Indonesia yang mayoritas muslim.

Dengan dukungan dana yang kuat, lanjutnya, serta sarjana-sarjana muda yang dikader di Timur Tengah, mereka memanfaatkan alam demokrasi Indonesia yang membebaskan setiap orang menyampaikan gagasan dan pemikiran.

“Itu yang membuat mengapa mereka terdengar lantang. Apalagi muncul media sosial seperti facebook, twitter dan saluran media TV yang notabene dikuasai secara langsung oleh mereka. Maka ini yang menjadi tantangan bagi kader-kader gerakan Pemuda Ansor maupun kader NU untuk mengimbagi serta memberantas paham-paham yang menebar kebencian, kekerasaan serta radikalisme di negara republik indonesia ini,” jelasnya. (Noval Albram/Abdullah Alawi)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG