IMG-LOGO
Fragmen

Cara KH Sholeh Darat Ajarkan Islam ke Kalangan Awam

Ahad 13 November 2016 8:2 WIB
Bagikan:
Cara KH Sholeh Darat Ajarkan Islam ke Kalangan Awam
Kepedulian KH Sholeh Darat terhadap masyarakat awam dalam memahami agama Islam sangat besar sekali. Itulah yang membuat kenapa seluruh karya Mbah Sholeh yang terpublikasi, semuanya menggunakan bahasa lokal (Jawa dengan tulisan Pegon).

Dengan penuh kesadaran, Mbah Sholeh melihat kebanyakan orang awam di Jawa kesulitan memahami bahasa Arab untuk mengkaji isi kitab-kitab salaf. Maka menerjemahkan karya para ulama Arab, ia lakukan dalam rangka memandaikan penduduk Jawa.

Tradisi keilmuan di Arab oleh Mbah Sholeh juga sangat dijunjung tinggi. Dimana kitab terkecil disebut matan, dilanjutkan syarah dan hasyiyah. Maka keruntutan belajar itu harus dijalani secara bertahap. Maka, ditegaskan bahwa orang yang belajar kitab Arab harus membaca matan kitab dahulu, baru dilihat syarahnya. Dan itu pun harus dilakukan secara berulang-ulang hingga memahami isi Matan kitab.

Dalam posisi yang demikian, Mbah Sholeh khawatir bahwa orang Jawa Ajam akan bingung memahami kalimat Arab terutama ketika sudah menjadi syarah.

Termasuk ada pendapat ulama yang menyebutkan: "Wajib 'ain bagi orang yang membaca syarah untuk memahami ilmu alat: nahwu dan sharaf". Sebab dalam kitab syarah selalu berisi hadits dan Al-Qur'an, maka wajib paham ilmu alat agar benar dalam memahami bacaan dan i'rab-nya.

Ketika orang merasa bodoh (bodo, dedel: Jawa), maka oleh Mbah Sholeh disarankan tidak perlu membaca kitab berbahasa Arab. Ia cukup belajar agama dengan kitab-kitab berbahasa Jawa. Sebab yang diinginkan adalah memahami  isi agama, bukan bacaan lafadz Arab.

Maka untuk mempercepat pemahaman keagamaan orang Jawa, Mbah Sholeh meminta untuk belajar kitab berbahasa Jawa. Misalnya membaca dan belajar karya Mbah Sholeh bernama kitab Maj'muatus Syari'ah dan kitab Munjiyat. Ketika orang sudah paham dua kitab ini, maka sudah dianggap cukup dan tidak tergolong hamba Allah yang durhaka.

Jika masih ada waktu luang dan ilmu pengetahuannya mencukupi, setelah paham isi kitab berbahasa Jawa maka ia boleh belajar nahwu, sharaf, ilmu lughah, manthiq, badi', ma'ani, bayan, arudl, fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadits dan ilmu madzhab.

Sungguh bijaksana sekali kepedulian Mbah Sholeh bagi kaum awam agar tetap berilmu. Keterangan ini diambil dari kitab Minhajul Atqiya' karya Mbah Sholeh halaman 346-349.*)

M Rikza Chamami, Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

Bagikan:
Sabtu 12 November 2016 9:1 WIB
Kiai As’ad di Mata Mahbub Djunaidi
Kiai As’ad di Mata Mahbub Djunaidi
Penulis kesohor kelahiran Jakarta, H Mahbub Djunaidi (1933-1995) memiliki kedekatan khusus dengan KHR As’ad Syamsul Arifin. Dan sepertinya ada ketaatan yang khusus pula dari Mahbub kepadanya. 

Dalam sebuah tulisannya di tahun 1985, karena ditelepon Kiai As’ad untuk menghadap ke Situbondo, Mahbub mengupayakan datang. Padahal dalam tulisan itu, ia yang telah hijrah dari Jakarta ke Bandung, mengaku ngantuk. Dan Situbondo bukanlah kota yang dekat. Dari Surabaya saja mesti naik bus menempuh perjalanan 200 km. 

“Buat orang Bandung seperti saya, kota Situbondo itu jauhnya bukan alang-kepalang. Membayangkannya saja sudah ngos-ngosan,” katanya pada koran Eksponen 7 April 1985 yang berjudul Lagi-lagi Situbondo. 

Penulis novel Dari Hari ke Hari dan Angin Musim ini, dalam tulisan lain mengungkap sosok Mustasyar Aam PBNU tersebut: 

“Kepada saya, sang kiai ngobrol penuh jenaka tentang romantika masa mudanya. Kepada saya, kiai bicara perihal keadaan negara dan pikiran pemecahan masalah tingkat tinggi. Kepada saya, kiai mempersoalkan apa yang pernah ditulis Suzanne Keller dalam dia punya “Beyond the Rulling Class”-nya: pengelompokan elite golongan atas dengan segala akibatnya. Kepada saya, kiai menandaskan keblingeran Ayatullah Khomeini.”

Ungkapan Mahbub tersebut, menunjukkan horizon ilmu pengetahuan Kiai As’ad tidak hanya kitab kuning mellul, melainkan juga ilmu umum. Kiai As’ad mampu mengkritik tokoh-tokoh dunia waktu itu. 

Lanjutan tulisan tersebut, dengan menunjukkan kehebatan Kiai As’ad, sekaligus mengkritik Sutan Takdir Alisyahbana (STA). Seperti diketahui, STA menolak fondasi pendidikan nasional berdasrakan dari pesantren, tapi seharusnya dari Barat. Pendapat STA berlawanan dengan tokoh-tokoh senior seperti Soetomo, Tjindarbumi, Adinegoro, Sanusi Pane, dan Ki Hajar Dewantara. Silang pendapat mereka diabadikan dalam Polemik Kebudayaan yang didokumentasikan Achdiat Kartamihardja. 

Di sisi lain, tulisan Mahbub yang dimuat Tempo, 27 Februari 1982 ketika Orde Baru sedang giat-giatnya menganggap agama sebagai residu. Agama dalam hal ini, adalah kalangan Nahdliyin (pesantren). Kalangan penghambat dan beban pembangunan. 

Dengan tulisan itu pula, Mahbub sepertinya ingin menunjukkan kepada Orba bahwa kalangan pesantren itu pemahamannya tidak bisa dikatakan penghambat pembangunan. Lihatlah Kiai As’ad dengan pemikirannya. Mahbub menunjukkan bukti tersebut: 

“Dan kepada saya, Kiai As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo ini memikirkan cara bagaimana menerapkan teknologi madya kaum nelayan sepanjang lor Jawa dan seantero Madura dengan pulau-pulau yang tak sanggup saya hafal namanya. Jika ada waktu luang, baik juga Prof. Sutan Takdir Alisyahbana bertukar pandangan dengan beliau seraya santap capcay di rumah makan turis Pasirputih,” ujar Mahbub pada tulisan ”Di Suatu Masa, Sebuah Persoalan” tersebut. 

Hubungan Kiai As’ad dan Mahbub Djunaidi diakui Isfandiari, anak bungsu Mahbub. Kepada sebuah media online, Isfan menyampaikan kesaksian persentuhan ayahnya dengan kiai tersebut. 

“Paling teringat saat bertemu kali pertama dengan Kiai As’ad Syamsul Arifin di Situbondo, kiai kharismatik yang berselera humor tinggi, juga toleran. Ia pernah mengajak saya ke “gubuknya” di sudut pesantren yang saat itu sudah megah. Kediamannya hanya terdiri atas dipan dan perabot seadanya. Sangat sederhana. Saat itu saya saksi hidup persahabatan ayahnya dengan Kiai As’ad,” katanya. (Abdullah Alawi)


Senin 7 November 2016 9:1 WIB
Bagaimana Subhan ZE Mendidik Kader NU?
Bagaimana Subhan ZE Mendidik Kader NU?

Bagi Ahmad Zainaldi Zainal Asjikin, rumah di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, itu tak mungkin dilupakan. Ya, rumah di Jalan Banyumas nomor 4. Ia hampir tiap minggu ke rumah itu. Kadang dua minggu atau sebulan sekali. Jika lama tidak datang karena tugas-tugas sekolah, maka ketika datang lagi akan ditanya pemilik rumah itu, “kamu kemana saja?”

Pemilik rumah yang bertanya tersebut, adalah Subhan ZE, tokoh NU (waktu itu partai) fenomenal di zamannya. Ketika ia dinonaktifkan dari NU, seorang kiai besar di Yogya berkomentar, "NU tanpa Subhan, menjadi partai tahlilan."  

Ahmad Zainaldi Zainal Asjikin, selanjutnya Zainal karena ia memang suka dipanggil begitu, adalah salah seorang pelajar yang ditakdirkan bisa berguru langsung kepada Subhan ZE. Berguru dengan cara menyimak perkataan dan perbuatan Subhan secara informal

Zainal aktif ke rumah Subhan sejak usia 18 tahun, ketika menjadi Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Ia pergi Sabtu sore ke Jakarta. Pulang kembali ke rumahnya Ahad sore.

Pada tahun 1968, rumah Subhan adalah tempat nongkrongnya para aktivis baik muda maupun tua. Tempat parkirnya para intelektual, baik muda maupun tua. Tempat datangnya segala kalangan.

“Dan rame terus. Seperti pasar. Di antara tokoh NU, rumah gerakan itu rumah Pak Subhan, dan yang datang itu bukan hanya orang NU,” kata pria kelahiran 1951 ini.  

Di rumah Subhan berkumpul orang-orang yang di kemudian hari menjadi tokoh nasional seprti Adnan Buyung Nasution, Cosmas Batubara, Mar’i Muhammad, Zamroni, Asnawi Latif, Tosari Wijaya, dan lain-lain.

Setiap orang yang datang ke rumah itu, harus makan. Wajib. Subhan akan marah jika ada tamunya tidak makan. Sehingga itu menjadi kesepatakan tidak resmi bagi tamunya untuk bersedia makan. Dapur rumah itu pun selalu mengepulkan asap setiap waktu.  

Suatu ketika Zainal bertanya kepada Subhan, “Kenapa setiap orang yang datang ke rumah ini harus makan terlebih dahulu sebelum ngobrol?”

“Bodoh kamu! tolol kamu!” jawab Subhan sambil tangannya mendorong jidat Zainal.

“Orang yang lapar itu, kalau ngomong tidak akan bener!” terang Subhan.

Kode kedua, menurut Zainal, jangan pulang mengeluh tidak mempunyai ongkos sebab Subhan akan tersinggung.

“Jangan bilang tidak punya ongkos. Dia (Subhan) akan tersinggung karena tanpa diminta, pasti akan dikasih karena beliau itu berbagi dengan semua orang,” ujar pria yang mengaku mewajibkan diri membaca buku minimal dua jam sehari.   

Suatu ketika, Zainal dan salah seorang temannya, atas nama pengurus IPNU datang ke rumah itu. Ia menceritakan bahwa IPNU Karawang akan mengadakan kegiatan.

“Jadi kegiatan itu tanggal berapa? Ini uang untuk kegiatan, ini untuk sangu (ongkos) di jalan,” begitu kata Subhan.  

Apa makna di balik itu? Menurut Subhan, kamu saya kasih seperti itu (dengan dua uang terpisah), agar kamu tidak korupsi! Tidak korupsi!

***

Di masa tuanya, Zainal mengenang pertemuan-pertemuan itu sebagai pelajaran politik sejak usia dini. Dan memang ia menjadi politikus selama 27 tahun di Partai Persatuan Pembangunan dan 11 tahun di Partai Kebangkitan Bangsa. Ia sempat jadi anggota DPRD kabupaten dan provinsi. Namun sekarang pensiun dari partai mana pun.

Bagi Zainal, teladan tokoh NU yang urgen sekarang dan makin langka adalah tokoh senior dan hebat masih mau menemui anak muda yang sedang tumbuh dan belajar.

Sedangkan tokoh lama seperti Subhan melakukannya. Subhan yang kalau adu debat soal ekonomi tak ada yang bisa melawan argumentasinya. Subhan yang waktu itu kaya-raya dan flamboyan, tapi tak menutup diri. Subhan yang waktu itu tokoh teras di organisasi kiai. Subhan yang waktu itu disegani pemerintah Orba. Disegani kawan dan lawan. Namun masih ngemong kader IPNU.  

Hal yang sama, Zainal dapatkan kepada tokoh NU lain seperti KH Idham Chalid, Asrul Sani, Usmar Ismail, KH Ahmad Syaichu. Mereka care. Mereka menerima. Mereka mengajak bicara dan diskusi.  

“Dan hebatnya tokoh dulu, kita bisa diterima. Dia (Idham Chalid) waktu itu menteri, tapi saya bisa diterima,” kata pria beranak empat ini yang dinobatkan sebagai Ketua Cabang IPNU termuda tahun 1968 oleh Ketua Umum IPNU Asnawi Latif pada pelatihan tingkat nasional di Lampung.

Menurut Zainal, pertemuan dengan tokoh-tokoh itu diawali dengan keberanian untuk bertemu. Pada waktu Ketua Cabang IPNU, ia memberanikan diri meminta bantuan dana ke Jakarta. Ia datang ke rumah Subhan. Dan terjadilah peristiwa-peristiwa itu.  

Yang jelas, dalam benak aktivis PMII tahun 70-an ini, sikap egaliter, sering memarahi, ngomelin, berbagi dengan semua orang adalah hal yang diingat dari Subhan. Dan itu menjadi pendidikan politik baginya.

Peran politik Subhan, kata Zainal, waktu itu adalah meyakinkan partai NU dan partai-partai lain untuk mengikuti Pemilu 1971. Pemilu tahun itu adalah pemilu paling "jahanam" dalam ingatannya karena kecurangan-kecurangan partai yang berafiliasi dengan pemerintah sudah dilakukan jauh hari. Maka partai politik lain enggan mengikutinya.

Namun Subhan berpikiran lain. Betapapun liciknya partai lain, Partai NU harus ikut agar rakyat tahu betapa pentingnya pemilu yang benar. (Abdullah Alawi, disarikan dari wawancara dengan Ahmad Zainaldi Zainal Asjikin di gedung PWNU Jawa Barat Jumat 5 November 2016-11-06


Sabtu 5 November 2016 12:30 WIB
Inilah Lirik Mars Hizbullah, Lagu Penyemangat Melawan Penjajah
Inilah Lirik Mars Hizbullah, Lagu Penyemangat Melawan Penjajah
Ilustrasi (loka-majalah.com)
Awal November tahun 1945, melalui Muktamar umat Islam seluruh Indonesia, beberapa keputusan dibuat, antara lain menjadikan Hizbullah dan Sabilillah sebagai organisasi kelaskaran. Di tiap-tiap daerah kemudian juga dibentuk badan kelaskaran Hizbullah yang dipelopori oleh para kiai.

Sebagai panglima pusat ditunjuklah dua tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Zainul Arifin sebagai panglima Hizbullah dan KH Masjkur sebagai panglima Sabilillah. Pasukan Hizbullah dan Sabilillah ini, selain Barisan Kiai, menjadi salah satu wadah pasukan dari kalangan santri yang ikut serta dalam perjuangan meraih dan mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Untuk memberi semangat kepada para pasukan Hizbullah, diciptakan sebuah lagu bernada mars, yang kemudian menjadi lagu “Mars Hizboellah”. Lagu ini diciptakan oleh seorang tentara Hizbullah dari Yogyakarta, Asrori Arif. Berikut lirik “Mars Hizboellah” :

Barisan Hizboellah tentara Toehan
Penegak agama-Nya
Bagi kepentingan Noesa dan Bangsa
Negara Indonesia
                 Sekarang soedah tibalah waktoenya
                 Menggempoer moesoeh kita
                 Jang akan memperboedak bangsa kita
                 Dengan hati jang moerka
Reff : 2x
Madjoelah pahlawan bangsaku
Serboe ‘kan moesohmu
Mesti pasti kamoe djaja
Moesohlah jang binasa

(Ajie Najmuddin)

Sumber terkait: Buku “Hizbullah Surakarta 1945-1950” (Soepanto, 1992)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG