IMG-LOGO
Nasional

Menag: Perang Lawan Radikalisme Jalan Terus

Rabu 16 November 2016 6:1 WIB
Bagikan:
Menag: Perang Lawan Radikalisme Jalan Terus
Jakarta, NU Online
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan program deradikalisasi harus terus berjalan karena tindakan radikal berpotensi terjadi di banyak tempat di Indonesia seperti terjadinya aksi pelemparan bom molotov di sebuah gereja di Samarinda, Kalimantan Timur.

"Untuk menangkal aksi-aksi terorisme dan ekstremisme itu adalah proses yang tidak pernah selesai dan harus terus kita lakukan," kata Lukman di Jakarta, Selasa (15/11).

Dia mengatakan Indonesia merupakan wilayah yang sangat luas berikut dengan besarnya keragaman masyarakat dan jumlah populasi yang tidak sedikit. Deradikalisasi harus tetap dilakukan dan tidak boleh berhenti.

Atas terjadinya sejumlah aksi teror di berbagai tempat di Indonesia, Lukman mengatakan dengan terjadinya ledakan di gereja baru-baru ini seharusnya menjadi pembelajaran.

Pembelajaran itu adalah supaya masyarakat tidak terprovokasi atau terpancing melakukan aksi-aksi sepihak seperti membalas atau melakukan tindakan yang dapat menimbulkan persoalan baru.

"Jadi saya berharap supaya kita menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian untuk mereka dalam waktu yang cepat dapat mengungkap para pelaku. Dan saya yakin Polri kita memiliki kemampuan untuk itu," kata dia.

Lukman mengatakan pihaknya memantau dan mencermati kejadian terkini karena di era globalilasi dan media sosial masyarkat dapat menerima informasi-informasi dengan mudah.

Informasi tersebut cenderung membanjiri publik dengan beberapa di antaranya tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.

"Oleh karena itu, tentu aparat penegak hukum kita, intelejen kita akan terus mengikuti, memantau secara ketat ke depannya," kata dia.

Terkait tindakan teror, Lukman menduga perbuatan itu dilakukan oleh pihak-pihak yang mencoba mengusik serta merusak kedamaian, kerukunan dan ketenteraman di Indonesia.

"Kami di Kemenag berupaya menjaga kerukunan umat beragama, terus berkordinasi dengan aparat penegak hukum dan juga dengan tokoh-tokoh ormas-ormas keagamaan bagaimana dapat lebih meningkatkan kemampuannya serta lebih melakukan deteksi dini kalau ada," katanya. (Antara/Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Rabu 16 November 2016 22:30 WIB
Kasus Ahok, Proses Pendewasaan Politik
Kasus Ahok, Proses Pendewasaan Politik

Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal PBNU Ahmad Helmy Faishal Zaini mengapresiasi pihak Kepolisian RI yang telah bekerja dengan baik terkait kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaya Purnama (Ahok). Proses hukum terus berlangsung hingga sampai saat ini sudah pada tahap ditetapkannya Ahok sebagai tersangka.

“Pertama saya menghormati dan mengapresiasi langkah-langkah yang diambil Kepolisian,” katanya di depan sejumlah wartawan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (16/11) sore.

Ia menilai langkah-langkah Kepolisian tersebut sebagai bukti bahwa Presiden tidak melakukan intervensi, namun justru sebagai bagian dari cara Presiden dalam mengelola situasi saat ini.

Helmy berharap agar semua pihak dapat menenangkan diri, dan tidak begitu saja ikut dalam satu tindakan yang dapat memperkeruh situasi.

“Saat ini banyak berkembang perang di media sosial. Informasi yang masuk harus dicerna dulu, jangan langsung di-share. Karena kalau langsung di-share sebenarnya kita bisa menimbulkan fitnah terhadap pihak lain,” terangnya sesaat setelah pembukaan Rapat Kerja Nasional Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU).

Menurut mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal ini, Ahok telah menghadapi persoalannya secara kesatria dengan menghargai dan mengikuti proses persidangan. “Ini bagian dari proses pendewasaan politik kita ke depan,” tegas Helmy.

Saat menerima kunjungan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan, Rabu (16/11) petang, Helmy juga menyerukan kepada rakyat Indonesia untuk menyerahkan persoalan ini kepada pihak penegak hukum sebagai konsekuensi dari hidup di negara hukum. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Rabu 16 November 2016 22:1 WIB
Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga
Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga
Foto: ilustrasi pesantren.
Jakarta, NU Online
Sejak dahulu kala perkembangan dan kemajuan dunia Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh besar pondok pesantren. Setiap pondok pesantren di Indonesia memiliki figur sentral ulama yang enggan disebut-sebut sebagai ulama, sehingga mereka lebih nyaman apabila dipanggil kiai, ajengan, guru, tuan guru, Abuya dan sebagainya.

Demikian disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin, Rabu (16/11). Ia menulis pernyataannya itu dalam akun Facebook pribadinya. 

Menurutnya, ulama sebagai figur sentral di pondok pesantren bukan sekedar bertanggung jawab mentransfer ilmu-ilmu dasar agama, melainkan lebih penting dari itu adalah contoh teladan terbaik di hadapan para santrinya. 

“Ulama di pondok pesantren adalah teladan mereka, karena ulama adalah manusia yang mendedikasikan hidupnya untuk senantiasa meneladani Rasulullah SAW, baik dari sisi ilmunya maupun akhlaknya,” tulis Gus Ishom.

Dengan demikian, lanjutnya, dari dunia pondok pesantren akan dan telah terlahir generasi yang bermanfaat bagi manusia lainnya, yang bukan saja pandai mengutip ayat atau hadits Nabi, melainkan lebih penting dari itu menjadi "santri" yang mampu untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. sepanjang hayatnya, sehingga ia pun menjadi contoh teladan terbaik bagi masyarakat sekitarnya.

“Saya sebut sebagai pesantren asli Indonesia, karena para kyai pengasuhnya selalu memberikan keteladanan akan arti penting mencintai tanah air Indonesia. Karena bumi Indonesia adalah tempat yang wajib dijaga keamanannya agar agama dapat terjaga dengan cara diajarkan dengan sebenar-benarnya dan dilaksanakan dengan sempurna,” urainya.

Terbukti tidak terhitung jasa para kiai dan para santri yang telah berjihad mengusir penjajah dari bumi kita, selain mengusir sejauh mungkin penyakit kebodohan dari jiwa manusia sebagai salah satu sebab pengganggu keamanan negara.

“Saya sebut pesantren asli Indonesia, karena sejak dahulu kala hingga kini nama-nama pondok pesantren itu meskipun terkadang ada nama Arabnya, namun lebih sering populer disebut nama daerah tempat lokasinya, seperti pondok pesantren Bangkalan (Madura), pondok pesantren Langitan (Tuban), pondok pesantren Lirboyo (Kediri), pondok pesantren Ploso (Kediri), pondok pesantren Tebu Ireng (Jombang), pondok pesantren Kempek (Cirebon), pondok pesantren Buntet (Cirebon), pondok pesantren Babakan Ciwaringin (Cirebon), pondok pesantren Leler (Banyumas), pondok pesantren Kesugihan (Cilacap) dan masih sangat banyak yang tidak bisa disebutkan lagi,” papar kiai muda asal Lampung ini.

Pendek kata, tambahnya, untuk menjadi pusat tafaqquh fiddin (pendalaman ajaran agama Islam) yang berasal dari dunia Arab maka tidak harus mengimpor apa saja yang berbau budaya Arab, melainkan bahwa dunia pondok pesantren tetap tidak pernah keluar dari berkomitmen untuk menjaga dan menjunjung tinggi budaya lokal. 

Dia menjelaskan, menjadi seorang muslim Indonesia itu tidak mesti harus seperti orang Arab dengan segala budayanya. Sehingga tepat dan benarlah ungkapan kaidah fikih, bahwa tidak patut keluar dari adat kebiasaan orang di sekitar kita sepanjang adat istiadat itu tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Pondok pesantren di Indonesia adalah hasil budaya asli bangsa Indonesia yang biasanya secara turun temurun diwariskan. Maka sebagai "barang warisan", setiap pondok pesantren yang ada mestilah dijaga dari kepunahan, harus terus dikembangkan dan "lebih dicanggihkan" agar tidak tergerus atau terpinggirkan oleh kompleksitas perkembangan zaman. 

“Jika tidak dipelihara, maka pondok pesantren "barang warisan" itu akan habis atau akan menjadi barang antik seperti keris sakti yang kehebatannya hanya bisa menjadi bahan cerita untuk berbangga-bangga dari para pewaris "Gus atau Kang" dunia pondok pesantren,” tutup Gus Ishom. (Red: Fathoni)

Rabu 16 November 2016 21:45 WIB
Mbah Maimoen: Kalau Ingin Maju, Buat Bersatu Tapi Tetap Boleh Beda
Mbah Maimoen: Kalau Ingin Maju, Buat Bersatu Tapi Tetap Boleh Beda
KH Maimoen Zubair.
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair merasa prihatin karena selama ini perbedaan justru dijadikan pemicu perseturuan di antara Umat Islam dan umat agama lain. 

Menurutnya, perselisihan atau perseteruan adalah bawaan manusia. Melekatkan identitas agama dan etnis hanya akan menimbulkan konflik apalagi jika sudah dibumbui oleh kepentingan politik praktis.

“Selisih itu bawaan manusia. Oleh karena itu kalau ingin maju, buat bersatu tapi tetap boleh beda. Beda tapi satu. Hal itu sesuai dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Mbah Maimoen seperti dilansir Majalah Nahdlatul Ulama AULA edisi November 2016.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini menuturkan, jika hanya Islam, tidak akan mampu mempersatukan perbedaan di Indonesia. Menurutnya, nasional harus disinergikan dengan keislaman sehingga beda tapi sama, sama tapi beda.

Kiai kharismatik yang kini telah berusia 88 tahun ini juga memberikan penegasan bahwa agama mengajarkan, dalam perbedaan ada titik-titik kebersamaan. Semua agama mengajarkan kebaikan, sebab agama ada empat titik persamaan.

Pertama menjaga jiwa. Jiwa itu ruh yang menjadi kehidupan. Semua agama melarang mendzolimi orang lain, apalagi membunuh,” ujar Mbah Maimoen.

Kedua, lanjutnya, adalah akal. Semua agama menjunjung akal. Sebab manusia dimuliakan oleh Allah SWT karena mempunyai akal. Tidak ada agama tanpa pendidikan. Ketiga, keturunan. Pernikahan itu bukan Islam saja. 

“Semua penganut agama menikah dengan ajaran agamanya masing-masing sehingga anaknya menjadi keturunan yang sah,” jelasnya.

Keempat, tandasnya, manusia harus menjaga bahwa dirinya merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling mulia. Berangkat dari poin ini, Mbah Maimoen memberikan pesan bahwa manusia jangan menghinakan diri dan agamanya dengan perilaku buruk dan tidak menghargai perbedaan. Karena hal itu hanya akan meruntuhkan persatuan. (Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG