IMG-LOGO
Nasional

Demo 2 Desember Sarat Kepentingan Politik

Ahad 20 November 2016 9:13 WIB
Bagikan:
Demo 2 Desember Sarat Kepentingan Politik
Sekretaris Ansor Jatim, Ahmad Tamim.
Surabaya, NU Online
Seluruh elemen bangsa hendaknya dapat menahan diri terhadap permasalahan di negeri ini. Jangan sampai ada pihak yang ingin menekan aparat dengan maksud terselubung. Termasuk rencana demo yang akan dilakukan 2 Desember 2016 mendatang.

Penegasan ini disampaikan Sekretaris PW GP Ansor Jawa Timur, H Ahmad Tamim setelah mendapatkan informasi yang menyebutkan akan ada rencana demo oleh beberapa elemen di Jakarta, Jumat (2/12) mendatang. "Semua elemen bangsa semestinya tidak mempertaruhkan nilai-nilai dasar kebhinekaan Indonesia hanya dengan tujuan yang tidak beralasan," katanya, Sabtu (19/11).

Mantan Ketua PC GP Ansor Blitar ini berpendapat bahwa tuntutan sebagian umat Islam yang menuntut penanganan kasus yang diduga menistakan agama oleh Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) telah ditindak lanjuti pemerintah. 

"Polisi telah melakukan tindakan hukum, bahkan terlihat melakukan langkah yang sangat cepat dalam penanganan kasus ini," ungkap Gus Tamim, sapaan akrabnya.

Umat Islam dianggap sudah tidak relevan lagi menekan polisi untuk melakukan tindakan hukum sebagaimana yang diinginkan. "Polisi terlihat cukup serius dan tidak main-main dalam penanganan kasus ini, bahkan telah berjanji untuk secepatnya membawa kasus ke pengadilan," sergah anggota DPRD Jatim tersebut.

Dalam pandangan Gus Tamim, yang disampaikan oleh Kapolri sangat jelas. "Masyarakat semestinya harus sabar menunggu, apalagi umat Islam juga sudah diwakili beberapa pihak dan ikut dalam gelar perkara," terangnya. Hal tersebut, lanjutnya, tentu saja memperjelas substansi masalah untuk dikaji dan dianalisis hingga dapat dijadikan rujukan oleh anggota tim penyelidik kepolisian.

Justru Gus Tamim curiga bahwa aksi 2 Desember mendatang sudah tidak murni lagi sebagai gerakan dalam dimensi membela Islam, tetapi sudah mulai ditunggangi kepentingan lain (politis, red). "Ya, karena sudah hilang relevansi tuntututannya," tandasnya.

Terhadap rencana tersebut, negara harus berani tegas dan tidak didikte kepentingan segelintir orang. "Semua anggota masyarakat harus membela tindakan negara bila ada sekelompok orang yang sudah mulai mengancam keselamatan, terutama dalam eksistensi pengakuan kebhinekaan," tegasnya.

Sebagai bagian tidak terpisahkan dari bangsa ini, jutaan anggota Ansor Jawa Timur akan siap membela bila negara diganggu dan diancam kepentingan yang merusak. "Ansor akan menjadi garda terdepan membela kebhinekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Tags:
Bagikan:
Ahad 20 November 2016 22:4 WIB
Di Era Globalisasi Kerja Keras dan Rasa Syukur Dibutuhkan
Di Era Globalisasi Kerja Keras dan Rasa Syukur Dibutuhkan
Jakarta, NU Online
Era globalisasi menuntut orang di masa kini untuk bekerja keras dan memberikan yang terbaik kepada masyarakat. Untuk sampai ke sini keimanan dan rasa syukur atas apa yang dimiliki menjadi modal pendorong untuk bekerja keras.

Demikian disampaikan James Riyadi dalam seminar perekonomian di tengah rangkaian Rakernas II PBNU di Jakarta, Sabtu (19/11) siang.

“Di era globalisasi ini kita butuh produktif dan efisien. Modal kita adalah iman. Kalau hedonis dan materialis, itu gampang dan mudah. Tetapi ambisi ini yang ditanamkan adalah racun di tengah masyarakat kita,” kata James di hadapan sedikitnya 100 peserta Rakernas II PBNU di Jakarta.

Menurutnya, iman adalah faktor utama kemajuan. Pelajaran yang perlu ditanamkan di tengah adalah keimanan dan rasa syukur. Dengan keduanya masyarakat akan terdorong untuk memberikan kerja terbaiknya ke tengah masyarakat.

“Para kiai NU sangat berperan besar menguatkan keimanan dan rasa syukur. Ajari anak-anak bersyukur agar ia memberikan yang terbaik di bidangnya masing-masing,” kata James.

Ia mengajak segenap masyarakat untuk tidak minder karena setiap orang memiliki modalnya masing-masing. “Kata kuncinya adalah produktif dan efisien. Jangan hedonis dan materialis,” kata James. (Alhafiz K)

Ahad 20 November 2016 21:3 WIB
Orang Tua Jangan Paksakan Anak di Luar Talenta Khasnya
Orang Tua Jangan Paksakan Anak di Luar Talenta Khasnya
Jakarta, NU Online
Orang tua memiliki peran besar dalam membuka jalan bagi kesuksesan anak di masa depan. Mereka dapat mendukung ke mana kecenderungan talenta anak mereka. Orang tua karenanya tidak boleh memaksakan kehendaknya dengan mengarahkan anak mereka pada suatu bidang tertentu.

Demikian disampaikan James Riyadi dalam seminar perekonomian di tengah rangkaian Rakernas II PBNU di Jakarta, Sabtu (19/11) siang.

“Setiap orang memiliki 100 lebih talenta. Tetapi dari semua talenta itu anak memunyai talenta yang khas,” kata James.

Untuk mendapatkan hasil maksimal, orang tua harus mendukung kekhasan talenta anak. Pengarahan dan pembentukan ini akan sangat menentukan hasil dari kemajuan anak ke depan. Namun, sebelum sampai ke sana, orang tua harus cermat melihat talenta yang sangat khas dari anak mereka.

Ia menganjurkan kepada peserta Rakernas II PBNU untuk mendorong para pelajar dan kader-kader muda NU untuk mengembangkan talentanya masing-masing. Menurutnya, kekhasan ini yang harus didorong.

“Kalau anak punya kecenderungan jadi dokter, jangan didorong jadi pengusaha. Kalau anak kita punya kecenderungan jadi guru, jangan diminta untuk jadi politikus. Ini keliru besar,” kata James Riyadi di hadapan sedikitnya 100 peserta Rakernas II PBNU. (Alhafiz K)

Ahad 20 November 2016 14:4 WIB
Menkeu Minta NU Sukseskan Program Tax Amnesty
Menkeu Minta NU Sukseskan Program Tax Amnesty
Menkeu Sri Mulyani (© qerja)
Jakarta, NU Online
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menilai bahwa Nahdlatul Ulama (NU) sampai saat ini masih menjadi organisasi yang berperan dalam menjaga iklim usaha dan investasi yang kondusif. Yakni dengan menjaga kondisi masyarakat yang damai.

Demikian dikemukakan Menkeu saat hadir dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta, Sabtu (19/11).

"Saya mengucapkan terima kasih kepada NU yang masih menjadi perekat bangsa, sehingga seluruh komponen dapaf bersatu padu dalam pembangunan untuk menyejahterahkan bangsa ini," ujarnya.

Di hadapan peserta rakernas, Menkeu meminta kepada NU untuk membantu menyukseskan program tax amnesty yang berlangsung sampai akhir Maret 2017.

Menkeu pada kesempatan itu membeberkan bahwa belanja negara tahun ini sebesar Rp1.786,2 triliun dengan penerimaan dari pajak-cukai dan nonpajak 1.306 triliun.

Untuk penggunaan pajak pada transfer ke daerah dan dana desa untuk Sumatera PPh-PPn Rp25,75 triliun, dana transfer 207,3 triliun dan belanja APBD Rp322,51 triliun.

Sementara daerah Jawa PPh-PPn Rp737,63 triliun, dana transfer Rp198,3 triliun, belanja APBD Rp383,61 triliun. Kawasan Bali-Nusa Tenggara PPh-PPn Rp3,96 triliun, dana transfer Rp38,8 triliun, belanja APBD Rp53,74 triliun.

Kemudian Sulawesi PPh-PPn Rp9,13 triliun, dana transfer Rp78,3 triliun, belanja APBD Rp85,81 triliun. Untuk Papua-Maluku PPh-PPn Rp4,77 triliun, dana transfer Rp144,7 triliun, belanja APBD Rp64,86 triliun.

"Indonesia masih terkena dampak dari kondisi ekonomi global," tegasnya.

Dampak tersebut menyebabkan terjadinya perlambatan ekonomi Indonesia. Sehingga volume neraca perdagangan menurun, demikian halnya penerimaan pajak, laju pertumbuhan sektor industri-manufaktur.

"Kondisi mengakibatkan defisit anggaran membengkak," pungkasnya. (Red: Mahbib)

Baca: Ini Rekomendasi NU Perihal RUU Tax Amnesty/Pemutihan Pajak terhadap Pengemplang

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG