IMG-LOGO
Nasional

Enam Nasihat Gus Mus untuk Pengguna Media Sosial

Ahad 27 November 2016 15:13 WIB
Bagikan:
Enam Nasihat Gus Mus untuk Pengguna Media Sosial

Jakarta, NU Online
Melalui akun Facebook pribadi, Ahad (27/11), KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) menyampaikan sejumlah pengalaman rutinnya saban Jumat. Diceritakan pula tentang tamu-tamu muda yang datang ke kediamannya Jumat kemarin untuk meminta maaf atas tulisan mereka di Twiter dan Facebook yang bernada kasar dan merendahkan Gus Mus. Dalam status yang diberi judul “Jum’at dan Silaturahmi”, Mustasyar PBNU ini juga tak lupa memberikan pesan-pesan positif kepada para pengguna media sosial. Berikut kutipan selengkapnya:


:: JUM'AT DAN SILATURAHMI ::

Hari Jum'at ~yang digelari sebagai Sayyidul Ayyãm, "Pemimpinnya hari-hari"~ memang bagiku sendiri merupakan hari istimewa. Aku berusaha merayakan hari istimewa ini dengan berbagai kegiatan positif seperti yang diamalkan dan diajarkan kiai-kiaiku. Minimal harus lain dari hari-hari yang lain. Misalnya dalam 6 hari yang lain, kesibukanku lebih merupakan 'kesibukan duniawi' saja, aku berusaha semampuku mengisi Jum'atku dengan kesibukan yang lebih 'ukhrawi', bernilai akhirat.

Untuk itu, kegiatan rutinku ~bila tidak sedang bepergian~ dimulai dari hari Kamis malam. Lalu pagi harinya, bersilaurahmi melalui ponsel, menyapa dan mendoakan anak-anak; saudara-saudara; keponakan-keponakan; kawan-kawan; dan beberapa kenalan. Kemudian bersilaturahmi dengan saudara-saudaraku warga kampung di seputar Rembang. Bersalaman dengan bapak-bapak dan anak-anak yang ikut ibu-ibu mereka 'bertadarus' Al-Qur'an melalui pembacaan Tafsir Al-Ibriznya Kiai Bisri Mustofa, rahimahuLlãh. Setelah itu menerima tamu-tamu yang kebanyakan dari luar daerah. Lalu setelah salat Jum'at di mesjid Jami' ~kalau tidak terlalu capek atau ngantuk~ biasanya dilanjutkan menemui tamu-tamu lagi, bila ada, kadang-kadang hingga malam hari.

Jum'at kemarin ~25 November 2016~ agak lebih istimewa, karena di antara tamu-tamu yang datang bersilaturahmi dari berbagai daerah, terdapat tamu-tamu muda dari Tegal, Probolinggo, dan Jakarta yang mempunyai tujuan sama. Di samping bersilaturahmi, ingin meminta maaf. Mereka inilah yang beberapa hari sebelumnya, menulis kasar kepadaku di Twitter dan Facebook. Dan sudah aku maafkan via twit di Twitter dan status di Facebook.

Kulihat anak-anak muda yang rata-rata berusia 25 tahunan ini, seperti umumnya pemuda santri. Polos, santun, dan sopan. Sedikit pun tidak ada kesan berandalan, sangar, atau kasar seperti yang mereka tampakkan di twit dan status mereka.


Ketika aku tanya apakah mereka benci kepadaku, karena ucapan atau perilakku yang melukai hati atau menyinggung mereka, mereka bilang tidak. Apakah ada kawan mereka yang pernah kusakiti, dan mereka solider ikut mengecamku, mereka menjawab tidak. Apakah mereka menganggap aku pendukung tokoh politik tertentu yang berlawanan dengan tokoh mereka, mereka menjawab tidak. Ketika kemudian mereka aku tanya, apakah mereka marah karena membaca pendapatku tentang salat Jum'at di Jalanan? Mereka malah seperti kebingungan. Pandu Wijaya malah dengan sangat lesu mengatakan, "Mohon maaf, saat itu saya lagi jenuh dengan pekerjaan."

Aku pun semakin bertanya-tanya tentang 'kesaktian' sosmed ini. Bagaimana ia bisa mengubah anak-anak yang santun seperti mereka ini menjadi orang-orang yang tega memperburuk citra diri mereka sendiri di sosmed. Melihat penampilan mereka di dunia Nyata, aku yakin mereka bukan orang-orang yang tidak tahu adab dan adat.


Dugaanku mereka hanya salah pergaulan di dunia Maya yang memang bagaikan hutan belantara yang ~di samping terdapat manusia-manusia berbudi~ penuh dengan makhluk-makhluk palsu yang tidak bertanggungjawab.

Kepada mereka ini dan semisal mereka ~bukan yang sengaja menjadikan sosmed sebagai sarana menebar kebencian dan kekacauan~ kalau boleh, aku menasihatkan agar (1) menata kembali niat kita dalam menggunakan dan memanfaatkan Sosmed; (2) berhati-hati dan waspada beraktifitas di 'Dunia Maya' yang ~kita tahu~ penuh tipuan; (3) jangan mudah tergiur dengan tampilan-tampilan menarik, biasakan tabayun dan meniliti rekam-jejak; (4) jangan tergesa-gesa membaca dan membagikan bacaan; (5) usahakan sekali-kali KopDar, agar bisa melihat Manusia dalam penampilan nyatanya (dalam hal ini, contohlah misalnya perkawanan Maya dan Nyata dari misalnya komunitas Adib Machrus, Pakdhe Tegoeh, Timur Suprabana, Zen Mehbob, Triwibowo Budi Santoso, Zaenal Maarif, dan mereka yang tidak hanya bersapaan di sosmed tapi juga bersilaturahmi di dunia nyata. Mereka guyub, penuh kasihsayang); (6) ingat sabda Rasulullah SAW "Innamal a'mãlu binniyãt... alhadits" dan "Min husni Islamil mar-i tarkuhu mã lã ya'ni".

Semoga Allah membimbing kita baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

(Red: Mahbib)


Bagikan:
Ahad 27 November 2016 22:31 WIB
Menag: Kebinnekaan Jangan Dilepaskan dari Persatuan
Menag: Kebinnekaan Jangan Dilepaskan dari Persatuan
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin
Bogor, NU Online
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin turut mengadiri acara peringatan Hari Guru Nasional di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Ahad (27/11). Menag  menilai, guru mulia karena melahirkan banyak orang hebat yang bisa melahirkan banyak karya.

"Guru mulia karena karya. Dan setiap karya hadir di tengah kita karena orang hebat. Orang hebat lahir karena guru. Guru mulia bukan hanya karya semata. Tapi juga karena guru melahirkan orang hebat yang melahirkan banyak karya," kata Lukman usai acara.

Lukman mengatakan, beruntung bangsa Indonesia memiliki banyak guru yang mempunyai keikhlasan dan rasa cinta terhadap generasi mendatang. Sikap ini menunjang juga soal jumlah guru yang ada.

"Kita bersyukur bangsa ini masih sangat ditopang ditunjang oleh keberadaan guru. Tidak hanya jumlahnya yang relatif mencukupi tapi juga memiliki jiwa keikhlasan yang luar biasa. Keikhlasan guru itu wujud dari rasa cinta guru terhadap generasi yang akan datang yang akan melanjutkan keindonesiaan kita," lanjut Lukman.

Ia menambahkan, hal ini juga harus didukung dengan penyadaran nilai-nilai keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia. Dalam hal yang beragam tersebut, diperlukan persatuan dari masyarakat Indonesia.

"Saya pikir menurut saya keragaman kebinnekaan jangan dilepaskan dari persatuan. Jadi bhinneka tunggal ika, keberagaman, kemajemukan kebhinnekaan itu juga harus dalam rangka jaga persatuan," ujar putra KH Syaifudin Zuhri ini.

"Karena ada keberagaman lah diperlukan persatuan. Kenapa persatuan diperlukan? Karena realitas keindonesiaan kita ini beragam," imbuhnya.

Saat ini, pemerintah tengah berupaya meningkatkan kualitas guru. Sejalan dengan itu, lanjutnya, pemerintah juga berupaya meningkatkan kesejahteraan para guru.

"Tentu pemerintah dengan berbagai cara mencoba mengembangkan kualitas guru. Tidak hanya kompetensinya terhadap penguasaan materi ajar, tapi juga metodologinya kemampuan guru kita untuk menyampaikan mata pelajaran itu juga diupayakan untuk ditingkatkan," ucap Lukman.

"Pemerintah juga berupaya meningkatkan kesejahteraan guru. Dengan begitu guru tidak lagi disibukkan dengan hal yang di luar pendidikan. Dengan begitu, konsentrasi guru bisa fokus mendidik para peserta didik," sambungnya. (Red-Zunus)

Ahad 27 November 2016 19:5 WIB
Di Depan Kapolri, Kang Said Sebut Pengurus Ranting NU Paling Berjasa
Di Depan Kapolri, Kang Said Sebut Pengurus Ranting NU Paling Berjasa
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) menyebut jasa besar pengurus ranting NU di hadapan Kapolri dan segenap tamu undangan. Menurut Kang Said, pengurus NU yang paling berperan dalam mengajarkan Islam rahmatan lil alamin dan mengawal NKRI adalah pengurus ranting NU.

Demikian disampaikan Kang Said dalam pertemuan silaturahmi dan sarapan pagi PBNU dan pengurus ranting NU se-DKI Jakarta di halaman Gedung PBNU, Ahad (27/11) pagi.

Di hadapan ribuan hadirin, Kang Said menyampaikan perasaan bahagia karena bertemu dengan warga NU.

“Hampir tiap hari Saya berkesempatan berkunjung ke banyak daerah di Indonesia untuk menemui warga-warga NU dari ujung Sumatera hingga ujung Papua. Dari kunjungan demi kunjungan itu, saya selalu takjub dengan kebesaran jam'iyyah dan jama'ah ini. Bagaimana bisa sebuah wilayah bernama Nusantara, dengan berbagai kebhinekaannya, bisa terangkai sedemikian rupa,” kata Kang Said.

Bagaimana bisa pula dalam keragaman yang amat majemuk itu, Nahdlatul Ulama, yang usianya hampir seabad ini, diikuti oleh jutaan warga yang menitipkan keselamatan dunia-akhirat mereka di jalan Ahlussunnah wal Jama'ah.

Menurutnya, pertemuan Ahad pagi ini cukup istimewa. Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa dirinya sering menghadiri banyak majelis, namun forum kali ini terasa istimewa.

“Saya sering bertemu dengan pengurus-pengurus NU di berbagai tingkatan, namun forum pengurus ranting seperti kali ini sungguh amat jarang. Boleh jadi, orang menganggap saya berkedudukan tinggi karena menjadi Ketua Umum PBNU, namun di benak saya yang paling dalam, para pengurus ranting NU yang memiliki kedudukan tinggi.”

Para pengurus ranting NU adalah garda depan dari segenap program yang diikhtiarkan NU. Pengurus ranting adalah ujung tombak yang paling menentukan seberapa jauh NU bisa memberikan manfaat dan melayani umat.

“Dari lubuk hati yang paling dalam, saya ingin menghaturkan penghargaan yang setinggi-tingginya pada Anda sekalian, pengurus ranting NU di wilayah DKI Jakarta,” kata Kang Said. (Alhafiz K)

Ahad 27 November 2016 18:2 WIB
Karya Ulama Nusantara Diusulkan Jadi Bahan Ajar di Madrasah dan Perguruan Tinggi Islam
Karya Ulama Nusantara Diusulkan Jadi Bahan Ajar di Madrasah dan Perguruan Tinggi Islam
Jakarta, NU Online
Puslitbang Lektur dan Khazanah Keislaman yang bernaung di bawah Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama berencana menindaklanjuti hasil inventarisasi karya ulama Nusantara. Pihak Puslitbang mengusulkan sejumlah instansi dan lembaga terkait untuk membahas kemungkinan karya ulama Nusantara itu sebagai bahan ajar di madrasah-madarasah dan perguruan tinggi Islam.

Demikian disampaikan Kabid Lektur dan Keagamaan Fakhriati dalam seminar inventarisasi karya pemuka dan tokoh agama Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama di Bekasi sejak Rabu-Jumat (23-25/11).

Puslitbang Lektur dan Khazanah Keislaman Kemenag RI menggelar sosialisasi hasil inventarisasi karya ulama di Banda Aceh,Tapak Tuan dan Padang, Purwakarta, Cirebon, dan Madura.

Ketika ditanya perihal tindak lanjut inventarisasi ini, Fakhriati mengatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan sosialisasi lebih massif atas karya ulama yang telah didigitalisasi di lembaga pendidikan seperti madrasah dan perguruan tinggi Islam di Indonesia.

“Kami akan mendorong dirjen lain yang menangani langsung madrasah dan perguruan tinggi Islam untuk menjadikan karya-karya itu sebagai bahan ajar. Memang pertanyaan selanjutnya adalah apa tindakan ke depan setelah inventarisasi,” kata Fakhriati.

Menurutnya, digitalisasi ini tidak akan bermakna banyak ketika tidak ada masyarakat atau pelajar yang membacanya. Ia juga menganjurkan kepada segenap akademisi untuk melakukan pengembangan pemikiran ulama melalui karya-karya ulama untuk pemikiran Islam ke depan. (Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG