IMG-LOGO
Nasional

Untuk Apa Pasutri NU Asal Malang Ini Bersepeda Keliling Dunia?

Selasa 27 Desember 2016 20:40 WIB
Bagikan:
Untuk Apa Pasutri NU Asal Malang Ini Bersepeda Keliling Dunia?
Rembang, NU Online
Prihatin dengan maraknya kekerasan atas nama agama, pasangan suami istri (pasutri), Hakam Mabruri (34) dan Rofingatul Islamiah (34) bertekad keliling dunia dengan bersepeda. Keduanya akan menyampaikan pesan damai ke tiap tempat yang dilewatinya. Mereka bercita-cita ingin menghapus stigma agama Islam yang dianggap penuh dengan kekerasan, radikal, dan teroris

Pasutri berasal dari Desa Gading, Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang, Jawa Timur, tersebut pada Sabtu (24/12) sore hingga Ahad (25/12) pagi, singgah di Rembang, Jawa Tengah untuk bertemu Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).

"Saya berangkat dari Malang pada Sabtu 17 Desember 2016. Ini istri saya, (Rofingatul) Islamiah. Setiap hari kami menempuh perjalanan dengan bersepeda selama 70 kilometer. Perjalanan ini, insyaallah akan sampai Kairo (Mesir)," ujar Hakam sambil menunjuk istrinya.

Menurut dia, perjalanan dimulai dari Malang dengan rute makam Wali Songo. Ia dan istrinya berziarah ke makam Sunan Ampel (Surabaya), Sunan Gresik, Sunan Giri (Gresik), Sunan Bonang (Tuban), Sunan Drajat (Lamongan), Sunan Muria, Sunan Kudus, (Kudus) Sunan Kalijaga (Demak), dan Sunan Gunung Jati (Cirebon).

Di makam Wali Songo, menurut Hakam, keduanya menyerap spirit agama Islam dengan penuh kesantunan sehingga tidak ada kekerasan perpecahan antarumat beragama.

"Dari Cirebon, kami akan ke Jakarta dan menyeberang ke pulau Sumatera serta meninggalkan Indonesia melalui Aceh. Rencana kami akan juga masuk Myanmar, guna menyerukan perdamaian agar tidak ada lagi kekerasan termasuk yang dialami etnis muslim Rohingya,” terangnya. 

Menurut rencana, keduannya juga akan melakukan perjalanan ke Makkah dan Madinah, untuk menunaikan ibadah umroh, sebelum melanjutkan perjalanan ke Israel melalui Yordania. 

Selama perjalanan di Indonesia, pria yang aktif di salah satu banom NU, Gerakan Pemuda Ansor, Malang ini akan bersilaturahim dengan tokoh-tokoh NU. "Kami juga sowan ke kiai atau tokoh-tokoh NU. Kami tahu NU itu moderat dan toleran. Seperti sekarang, kami sowan ke Gus Mus, KH Ahmad Mustofa Bisri," katanya.

Perjalanan misi keduannya diperkirakan akan menempuh waktu setahun. Namun meski masih panjang perjalanan mereka berdua, tapi tak menunjukkan wajah letih. Malah tersenyum mengembang. Keduanya  juga kompak ketika meladeni pertanyaan seputar latar belakang perjalanannya.

Ditanya soal pendanaan, menurutnya, perjalanan bersepeda bersama sang istri berasal dari sumbangan dan penjualan cindera mata "Holy Journey Cycling Trip". Hakam dan Rofingatul yakin akan banyak dukungan dan bantuan di sepanjang perjalanan.


Untuk perjalanan tersebut, keduanya menyiapkan diri selama beberapa bulan, termasuk fisik, mental, dokumen, dan logistik selama perjalanan. Ia sudah terampil dalam hal itu karena pada 2012, sebelum menikah, pernah keliling negara-negara ASEAN dengan bersepeda juga.

"2012 saya pernah keliling ASEAN guna kampanye penyelamatan penyu. Saya mengajak warga untuk tidak mengonsumsi telur penyu. Penyu itu memakan racun di laut. Kalau penyunya hilang, racun di laut siapa yang makan. Nelayan jadi terancam racun. Kan kasihan," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Gerakan Pemuda Ansor Cabang Rembang Hanies Cholil juga membantu misi perdamaian dunia lintas agama, termasuk perjalanan yang dilakukan Hakam bersama istrinya selama singgah di daerah Rembang.

"Di Rembang, sahabat-sahabat Ansor menyambut Sahabat Hakam. Kami senang mereka akhirnya mau bermalam di sini. Tadi malam pun sempat ketemu dengan pihak Paroki di Rembang untuk menyampaikan pesan perdamaian antarumat beragama," katanya.

Hanies berharap pesan perdamaian pasangan suami istri itu tepat sasaran dan sesuai dengan misi yang diembannya. Ia pun turut mendoakan agar keduanya sehat dan selamat sepanjang perjalanan. (Ahmad Asmui/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Selasa 27 Desember 2016 18:4 WIB
Bicara Filantropi, Lazisnu Gelar Pertemuan Bareng Lembaga dan Banom NU
Bicara Filantropi, Lazisnu Gelar Pertemuan Bareng Lembaga dan Banom NU
Jakarta, NU Online 
Untuk menumbuhkan semangat filantropi dalam keluarga besar NU, Lembaga Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) menginisiasi pertemuan dengan lembaga dan badan otonom NU. Pertemuan yang bertema Ngopi Bareng Lembaga dan Banom NU atau Ngobrol Filantropi akan diiadakan di Hotel Bluesky, Jakarta Pusat, Rabu (28/12) besok.

"Ngopi bareng lembaga dan banom NU akan menjadi pertemuan antara lembaga-lembaga dan badan otonom NU. Kami akan membahas dan membangun sinergitas serta kebersamaan," ujar Wakil Ketua Lazisnu Ahyad Alfidai saat dihubungi NU Online, Selasa (27/12) siang.

Ahyad menyebutkan kegiatan mengambil tema Penguatan Filantropi Islam Nusantara.

Hal itu menjadi penting terkait adanya isu dana zakat dari lembaga zakat dan negara dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk membangun penguatan radikalisme. Hal ini jelas bertentangan dengan prinsip NU dalam bernegara yang menjunjung NKRI.

Pertemuan ini diharapakan dapat menumbuhkan semangat berbagi dari seluruh keluarga besar NU.

Direktur Fundraising NU Care Lazisnu Nur Rohman mengatakan, potensi NU untuk mengembangkan semangat filantropi teramat besar karena sejak awal NU dibangun dengan semangat kebersamaan dan kedermawanan.

"Potensi filantropi NU sangat besar. Ini sebagai upaya NU untuk menjawab tantangan yang datang. Saat ini ada upaya yang sistematis agar NU hilang dari muka bumi. Untuk itu kita perlu menghidupkan lagi embrio-embrio NU termasuk semangat kedermawanan ini," kata Rohman.

Menurut Rohman, bila semangat kebersamaan dan kedermawanan dapat diwujudkan, maka akan menjadi kekuatan yang besar bagi NU. Sebaliknya, apabila semangat kebersamaan dan kedermawanan tersebut sudah hilang, maka akan menjadi kekhawatiran kita bersama. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Selasa 27 Desember 2016 15:30 WIB
Suluk MATAN Bangun Kader Intelektual Aswaja Penjaga NKRI
Suluk MATAN Bangun Kader Intelektual Aswaja Penjaga NKRI
Bogor, NU Online
Pengurus Wilayah (PW) Mahasiswa Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta menggelar kegiatan Suluk MATAN, Jumat-Sabtu (23-24/12) lalu di Al-Rabbani Islamic College, Nagrak, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan bertajuk Membangun Kader Intelektual Berbasis Spiritual dan Kemandirian Ekonomi sebagai Benteng NKRI ini diikuti oleh beberapa kampus di Jabodetabek.

“Peserta yang mendaftar ada 81 orang, mereka berasal dari IPB, UI, UIN, UNJ, UNU dan kampus lainnya. Mayoritas peserta aktif mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir,” ujar Ketua MATAN DKI Jakarta, KH Ali M. Abdillah yang juga menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut.

Adapun narasumber lain yang hadir di antaranya, KH Hamdani Muin, KH Cholil Nafis, Ulil Abshar Abdalla, Sekretaris Deputi Pembinaan Pemuda Kemenpora Imam Gunawan, dan dari BNPT Syamsul Hadi.

KH Ali M. Abdillah menyampaikan materi soal tasawuf yang relevan untuk kalangan mahasiswa. “Sebagai sipirit membangun pribadi yang berakhakul karimah sehingga berperan sebagai kader dalam membangun bangsa,” ujarnya kepada NU Online, Selasa (27/12).

Kemudian, Imam Gunawan menyampaikan tema tentang membangun jiwa entrepreneur kader muda. “Alhamdulillah ada langkah kongkrit terbentuknya MATAN Entrepreneur yang menjadi wadah untuk menampung potensi entreprenuer kader-kader MATAN. Pihak kemenpora akan membantu pembinaan dan pemberian modal usaha sesuai dengan program Kemenpora tahun 2017,” ucapnya.

Sementara itu, Samsul hadi dari BNPT memberikan keterangan tentang masuknya ajaran radikal di kampus-kampus. “Program BNPT tahun 2017 akan fokus di kampus. BNPT akan mendukung program kader MATAN terkait program deradikalisasi di kampus,” tutur Samsul. 

Lalu, intelektual muda Ulil Abshar Abdallah menyampaikan tentang dinamika pemikiran Islam klasik dan kontemporer. Ulil menyatakan, dirinya tetap istiqomah sebagai kader Nahdliyyin yang Sunni, Syafi’i, dalam tasawuf al-Ghazali dan falsafi. 

“Sedangkan pemikiran Islam liberal saya gunakan untuk dakwah di luar NU terutama utk menghadapi pemikiran barat,” ujarnya.

Selain itu, dia juga memberikan pencerahan terkait dinamika pemikiran Islam sejak wafatnya Rasulullah hingga moderen, baik dalam soal politik, keagamaan (madzhab) maupun sosial. 

KH Cholil Nafis menyampaikan materi tentang tantangan Aswaja. Cholil menegaskan perlunya kembali membaca prinsip-prinsip Aswaja dan Qanun Asasi yg dibuat oleh KH Hasyim Asy'ari supaya terhindar dari bahaya pemikiran liberalisme dan radikalisme. 

Kemudian, KH Hamdani Muin menyampaikan materi tentang Kematanan yang berpegang pada 5 prinsip: tafaquh fiddin, iltijamut thaat, tazkiyat nafs dan tasfiyatul qulub, mulazamah zikir dan aurad, khidmah lil ummah. “Kader MATAN bertanggung jawab dalam menjaga Aswaja an-Nahdliyah, membangun harmonisasi antara umat beragama dan sebagai benteng NKRI,” ujarnya. (Fathoni)

Selasa 27 Desember 2016 13:0 WIB
8 Bulan, Aset Bank Sampah Nusantara LPBINU Capai Rp206 Juta
8 Bulan, Aset Bank Sampah Nusantara LPBINU Capai Rp206 Juta
Jakarta, NU Online
Hingga Desember 2016 Bank Sampah Nusantara (BSN) LPBINU telah memiliki asset sebesar 206 juta rupiah. Keuntungan ini diperoleh dari penjualan sampah dan produk  Hal ini marupakan capaian yang sangat baik, mengingat BSN sendiri baru didirikan April 2016. Artinya dalam kurun waktu 8 bulan BSN berhasil menunjukkan eksistensi dan prestasinya di bidang lingkungan dan bisnis ekonomi)

Hasil ini tidak lepas dari peran aktif seluruh elemen BSN LPBINU. Di bawah kepemimpinan direktur utama Fitria Ariyani, BSN menerapkan beberapa strategi yang dibagi ke masing-masing manajer yang ada di dalamnya.

Awalnya operasional BSN hanyalah testing, artinya BSN hanya mengumpulkan sampah dari masyarakat, Lembaga/Banom NU, dan Institusi Pemerintahan. Kemudian dijual ke pengepul dan pabrik. Keuntungan yang diperoleh tidak banyak, hanya sekitar 8 jutaan. 

Tidak bisa dipungkiri, karena keuntungan ini hanya berbasis penjualan sampah yang ada. Begitu juga dengan strategi jemput bola yang masih tradisional, yaitu mengambil sampah secara bertahap (sedikit demi sedikit) dari nasabah ke gudang penyimpanan barang.  

Hasil ini menjadi perhatian serius bagi BSN LPBINU, terlebih lagi dikarenakan BSN mempunyai pegawai dan karyawan yang menangani operasionalisasi teknis. Karena kalau tidak beroperasi, tujuan utama menjaga kelestarian lingkungan oleh BSN tidak bisa dilakukan. 

Oleh karenanya, pada bulan berikutnya keuntungan tidak lagi harus berbasis penjualan sampah, namun harus berbasis pada penjualan produk yang dibuat dari  pemanfaatan sampah nasabah dan pelatihan berbayar untuk daur ulang dan ecobricks.

Langkah pertama adalah penentuan produk, dan pada hasil rapat dewan pimpinan BSN LPBINU pada bulan Mei 2016, beberapa produk yang dimiliki oleh BSN terdiri dari:

a. Produk seni murni seperti lukisan abstrak, lukisan sketsa wajah, miniatur transportasi, grafika koran bekas, dan lain-lain. 

b. Produk fungsional, yaitu produk yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya gelas, bak sampah, hiasan lampu, gantungan kunci, buku diary, dan lain-lain yang terbuat dari koran bekas.

c. Produk even, misalnya plakat penghargaan, blocknote, dan lain-lain.

Selanjutnya adalah strategi pemasaran, BSN gencar mengikuti pameran yang diadakan di beberapa event. Salah satu tujuannya adalah BSN memperoleh galeri (tempat berjualan produk) di galeri SMESCO-Kementerian UMKM. 

Hal ini membuat trend penjualan produk BSN mengalami peningkatan. Pasalnya, BSN tidak perlu lagi kesulitan untuk memasarkan produk, cukup memproduksi dan di letakkan di SMESCO dan menunggu produk terjual. 

Hasilnya hampir setiap minggu, produk BSN selalu dibeli oleh pengunjung. Dengan begitu profit BSN bisa mengubah  keuntungan yang berbasis penjualan sampah menjadi keuntungan yang juga berbasis dengan penjualan produk.

Sebagai mitra Galeri SMESCO, BSN juga diberi kesempatan untuk menjadi pelatih atau trainer mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Jakarta yang ingin mengikuti pelatihan atau workshop terkait produk daur ulang. 

Ini juga yang menjadi salah satu sumber pemasukan untuk BSN. Ke depan, BSN juga akan membuka kelas workshop untuk produk daur ulang di kantor BSN.

Penjualan BSN terus meningkat, tidak hanya di galeri SMESCO saja, produk BSN merambah institusi pemerintahan dan lain-lain. Pesanan demi pesanan datang, mulai dari Kemensos RI, Kuehne Foundation, dan bahkan jajaran Pimpinan PBNU sendiri. Hingga Agustus 2016, aset yang diperoleh BSN sudah mencapai 71 juta rupiah. 

Untuk memperbanyak varian produk, BSN menggaet mitra dengan beberapa individu, komunitas maupun pesantren yang bergerak di bidang hasil karya seni dengan memanfaatkan sampah sebagai bahan bakunya. Mitra ini dikumpulkan dengan alasan bahwa mereka belum mempunyai wadah untuk memasarkan produknya. 

Sehingga BSN melihat potensi yang begitu besarnya. Hal ini tidak di sia-siakan oleh BSN, produk-produk dari mitra yang tergabung dengan BSN tersebut dipasarkan di pasar yang telah dimiliki oleh BSN. 

Bertambahnya aset BSN tidak hanya berupa omset penjualan saja, namun pemberian fasilitas bantuan berupa barang dari beberapa funding terus berdatangan, beberapa menyatakan bahwa BSN mempunyai prespek yang cukup bagus apalagi BSN sendiri dibawah nama besar NU, tentu hal ini menambah keyakinan juga bagi para funding. 

Dengan begitu aset BSN di tiap bulannya mempunyai trend penjualan yang sangat bagus, dan tujuan BSN dalam pelestarian lingkungan pun bisa berlanjut secara konsisten. (Red: Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG