IMG-LOGO
Daerah

Guru Ideal Bisa Arahkan Murid untuk Tinggalkan 5 Lakukan 5

Sabtu 31 Desember 2016 3:8 WIB
Bagikan:
Guru Ideal Bisa Arahkan Murid untuk Tinggalkan 5 Lakukan 5

Jember, NU Online

Guru adalah pintu peradaban. Sebuah bangsa bisa dihancur-leburkan karena tak adanya guru. Demikian diungkapkan oleh Wakil Sekretaris PCNU Jember, Ustadz Moch. Eksan saat menyampaikan taushiyah dalam acara peringatan  Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al-Fauzan, Desa Ajung, Kecamatan Ajung, Jember, Jawa Timur, Kamis malam (29/12).

Menurutnya, sungguh besar jasa guru dalam membangun peradaban. Mereka tidak saja mengajarkan ilmu dan keterampilan, tapi  juga harus menjadi model budi pekerti dan akhlak yang mulia.

“Karena itu, sejatinya tugas dan pekerjaan guru sangat berat sekaligus mulia. Dan karenanya, guru tidak hanya dituntut cerdas secara keilmuan, tapi juga cerdas daari sisi spritualitas,” ucapnya.

Dalam konteks tersebut, sesungguhnya posisi Nabi Muhammad SAW adalah maha guru terbaik. Beliau membawa misi sebagai pengajar moral melalui mau’idzah hasanah (pengajaran yang  baik) dan uswatun hasanah (contoh yang baik) sekaligus. Kombinasi pendidikan moral inilah yang melahirkan generasi Islam khaira ummah (sebaik-baik umat) dalam sejarah perjalanan umat manusia. “Hasil didikan Nabi Muhammad adalah munculnya generasi yang cerdas dan bermoral serta takut kepada Allah,” lanjutnya.

Dikatakan Ustadz Eksan, kendati Nabi Muhammad SAW adalah ummi (tidak bisa baca-tulis), namun sesungguhnya menurut para ulama, ia sosok yang sangat cerdas. Sifat fatonah (cerdas) yang disematkan kepada Nabi Muhammad, selain karena bawaan juga hasil proses belajar setelah wahyu pertama diturunkan.

“Malaikat Jibril yang pertama kali mengajarkan Rasulullah membaca. Pasca itu, beliau secara rutin membaca ayat-ayat yang diturunkan untuk diajarkan dan diajari oleh para sahabatnya,” urainya.

Menurut pria yang pernah aktif di IPNU Jember tersebut, idealnya guru mewarisi misi Nabi Muhammad SAW yang mengeluarkan umat dari 5 perkara. Pertama, guru yang mengeluarkan umat min syakki ilal yaqin (dari yang meragukan ke yang meyakinkan). Yakni guru yang dapat membawa murid semakin meyakini bahwa jalan bahagia hanya ditempuh di atas jalan agama.

Kedua, guru yang mengeluarkan umat minal ma’shiyah ilat tha’ah (dari kemaksiatan menuju taat). Yakni guru yang membawa umat hijrah dari prilaku buruk ke prilaku terpuji.

Ketiga, guru yang mengeluarkan umat minar riya’ ilal ikhlash (dari riya/pamer ke ikhlas). Yakni guru yang mampu menumbuhkembangkan jiwa yang tulus dalam mengerjakan sesuatu.

Keempat, guru yang mengeluarkan umat min hubbid dunya ilaz zuhdi (dari cinta dunia ke  zuhud). Yakni guru yang mampu membangun spritualisme  di atas materialisme dalam diri umat.

Kelima, guru yang mengeluarkan umat minal kibri ilat tawaddhu’ (dari sifat sombong ke rendah hati). “Kelima poin itulah yang perlu dilakukan para guru. Saya yakin bisa, walaupun tidak semuanya. Jelek-jelek begini saya dulu juga guru (dosen).” tutupnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)  


Tags:
Bagikan:
Sabtu 31 Desember 2016 20:5 WIB
Aktivis Cyber Aswaja Satukan Visi Perangi Hoax di Medsos
Aktivis Cyber Aswaja Satukan Visi Perangi Hoax di Medsos
Semarang, NU Online
Aktivis cyber Aswaja Kota Semarang berkumpul di auditorium perpustakaan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Jumat (30/12). Mereka menyayangkan pelbagai kekerasan di dunia sosial dan konten hoax. Mereka membahas bagaimana menyikapi hal tersebut yang merebak di dunia maya.

Mereka dengan pertemuan kali ini akhirnya membuat kesepakatan untuk mengimbangi peredaran situs penyebar hoax dengan konten-konten yang menyejukkan.

Agus Fathuddin Yusuf memberikan pengantar bahwa, sekarang kita sudah bisa membuat media sendiri. Kita bisa memproduksi berita, fotografi, bahkan pemilik media itu sendiri. Ia mengajak peserta untuk melihat media sosial sekarang ini. Dari sini kita dengan mudah menyebarkan berita yang kadang abai terhadap proses verifikasi, cek dan ricek serta keberimbangan.

Pembicara lain Hasan Habibie yang mewakili Pustekkom Kemendikbud mendorong pada peserta workshop untuk memperbanyak konten yang menyejukkan dan Islam rahmatan lil alamin. Semangat pemuda ini harus terus dikobarkan menyuarakan hal-hal yang memberikan informasi positif untuk menjaga keharmosian kehidupan. Berita hoax yang selama ini mengganggu kenyamanan harus kita kurangi bersama.

Kalau kita menyebarkan berita harus memiliki etika islami. Kita bisa meniru sifat nabi mulai dari shiddiq, amanah, tabligh, dan dan fathanah. Selain itu, kita bisa menggali etika-etika yang lain dari ulama-kiai sebagai adab dalam menyebarkan informasi pada publik.

"Banyak ayat yang menginspirasi kita untuk melakukan verifikasi, salah satunya ayat 6 surat al-Hujurat," kata Wakil Ketua PCNU Kota Semarang yang juga aktif sebagai Wakil Ketua MAJT Agus Fathuddin.

Agus berharap jaringan yang terbentuk kali ini mampu mewarnai dunia maya menggunakan konten yang sejuk, damai, dan ramah. Kegiatan ini diinisiasi Lembaga Kajian dan Sumber Daya Manusia NU Kota Semarang bekerja sama dengan Pustekkom Kemendikbud sebagai bagian penguatan pemuda Kota Semarang. (Zulfa/Alhafiz K)

Sabtu 31 Desember 2016 19:4 WIB
Pelajar NU Rembang Imbau Para Pelajar Tetap di Rumah pada Malam Tahun Baru
Pelajar NU Rembang Imbau Para Pelajar Tetap di Rumah pada Malam Tahun Baru
Rembang, NU Online
Pengurus harian IPNU Rembang mengeluarkan seruan untuk tidak ikut merayakan tahun baru di luar rumah dengan hura-hura. Pengurus IPNU Rembang mengajak para pelajar untuk mengisi malam pergantian tahun baru dengan kegiatan bermanfaat.

Demikian disampaikan Ketua IPNU Rembang Ahmad Humam dalam acara Om Sholawat Om yang digelar IPNU-IPPNU Kaliori di Masjid Al-Mubarok Dukuh Mulo Desa Gunungsari, Sabtu (31/12) siang.

Menurut Humam, imbauan ini juga ditujukan untuk pelajar IPPNU se-Kabupaten Rembang. Kegiatan perayaan tahun baru di luaran hanya menghamburkan energi dan tidak bermanfaat. Ia menganjurkan, setiap anggota IPNU-IPPNU se-Kabupaten Rembang pada tahun baru untuk tetap di rumah.

"Saya mengimbau tahun baru nanti kepada kader IPNU-IPPNU untuk tetap di rumah. Tidak perlu war-wer di luaran. Tidak perlu datang ke Rembang, lebih baik bermanfaat di rumah," jelasnya.

Pengurus cabang akan menggelar IPNU-IPPNU Bersholawat se-Kabupaten Rembang. menurutnya, kader pelajar NU Rembang gemar shalawatan. Hal ini terbukti pada 29 Desember kemarin ketika PAC IPNU-IPPNU Sulang menggelar IPNU-IPPNU Bersholawat. Kegiatan bermanfaat ini disusul dengan kegiatan shalawat oleh PAC IPNU-IPPNU Kaliori.

Wakil Ketua IPNU Kaliori Murtafi'i Samiran menjelaskan, dipilihnya ranting IPNU-IPPNU Desa Guningsari sebagai langkah pertama untuk membangkitkan pelajar NU di Kecamatan Kaliori. Murtafi'i berharap, membaca shalawat di pengujung 2016 memberikan berkah kepada pelajar NU di seluruh Indonesia. (Asmui/Alhafiz K)

Sabtu 31 Desember 2016 18:3 WIB
Muludan, Budayawan D Zawawi Imron Jelaskan Hubungan Tradisi dan Agama
Muludan, Budayawan D Zawawi Imron Jelaskan Hubungan Tradisi dan Agama
Sumenep, NU Online
Budayawan Celurit Emas Kiai D Zawawi Imron hadir sebagai penceramah dalam acara muludan yang digelar PAC. GP Ansor dan PWC ISNU Kecamatan Dungkek Sumenep, Jumat (30/12) malam. Kiai Zawawi yang hadir sebagai pengisi taushiyah mengulas hubungan ilmu dan keberkahan.

Kiai Zawawie memulainya dengan mengungkap pribahasa Madura “Cong, mon penter bede guruna, keng mon pojhur tadek guruna.” Artinya “Pandai itu ada gurunya, namun keberkahan tidak ada gurunya”.

"Salah satu contoh sarjana hukum yang banyak menulis buku tentang hukum, namun sekarang sedang dipenjara. Mau masuk penjara saja harus sekolah dulu," candanya.

Keberkahan ilmu, ujarnya, sejauh mana memberi keselamatam pada diri dan lingkungannya.

Kiai Zawawi mengetengahkan, signifikansi dialog tradisi dan agama secara historis merupakan sebuah ibadah. Bahkan, beberapa tokoh Islam, penyebar agama daerah Kecamatan Dungkek, semasa Syaikhona Kholil Bangkalan, juga getol merawat tradisi bernilai agama.

"Sebut saja Kiai Qasdu (KH Moh Anwar), Buyut KH Fathullah Zaini Dusun Tarogen, Desa Bunpenang, Dungkek merupakan ulama yang nenek moyang kita. Beliau sangat besar jasanya dalam meleburkan tradisi ke dalam nilai agama," terangnya.

Dalam aspek kebudayaan, Kraton Joko Tole ada di Kecamatan Dungkek, yakni ada di Lapa Taman.

"’Tore mon entara ben kaule, kaule tekkak pang tippang cara neka depak' (Mari kalau mau ke sana, walaupun saya kurang sehat bisa mampu ke sana)," kata Kiai Zawawi.

Dari beberapa persoalan keagamaan dan kebudayaan di atas, menunjukkan bahwa menurutnya, kita lahir dari ragam suku dengan struktur yang jelas; memilki sanad yang bersambung kepada para ulama dan para wali. Karenanya, Islam kita adalah Islam yang jelas statusnya; Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja)," tukasnya.

Acara muludan yang bertempat dj rumah Ketua PWC ISNU Dungkek Hosnan Nasirini ini dihadiri oleh Ketua GP Ansor Sumenep, ISNU Sumenep, Ketua MUI Dungkek, Ketua MWC NU Dungkek, Ketua Ansor, ISNU, tokoh masyarakat, dan ulama se-Kecamatan Dungkek. (Hairul Anam/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG