IMG-LOGO
Pustaka

Memahami dan Meneladani Pemikiran Kiai Said

Kamis 5 Januari 2017 8:31 WIB
Bagikan:
Memahami dan Meneladani Pemikiran Kiai Said
Bernama lengkap Said Aqil Siroj. Sosok kiai yang akrab disapa Kang Said ini lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Ayahnya, Kiai Haji Aqil Siroj adalah pengasuh Pesantren Kempek. Salah satu pesantren penting di kawasan Kota Cirebon, Jawa Barat.

Lahir dan besar di lingkungan pesantren, membuat Kang Said tumbuh di lingkungan dengan nuansa cinta ilmu. Spirit keilmuan begitu melekat pada diri Kang Said. Maka bukanlah hal aneh, apabila di berbagai kesempatan Kang Said senantiasa mengajak untuk yatafaqqohu fiddin (sungguh-sungguh dalam mendalami ilmu-ilmu agama).

Kang Said, leluhurnya baik jalur ayah maupun ibu adalah sosok-sosok yang alim. Ayahnya, Kiai Aqil Siroj adalah keturunan Kiai Muhammad Said, sosok kiai yang mengembangkan Pesantren Gedongan dan berperan penting dalam perkembangan Islam di Kota Cirebon. 

Bahkan apabila dirunut ke atas lagi, silsilah Kiai Said akan sampai kepada Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Selanjutnya nasab Syarif Hidayatullah akan sampai pada Sayyidatuna Fatimah binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sementara dari jalur ibu merupakan keturunan Kiai Harun, kiai yang mengembangkan pesantren Kempek, Cirebon.

Mewarisi darah ulama, mewarisi semangat dalam menapaki jalan pengetahuan. Diawali dengan mengaji kepada Kiai Aqil Siroj, sembari menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR), menjadi modal Kang Said dalam pengembaraan keilmuannya. Pesantren Lirboyo menjadi persinggahan pertama Kang Said dalam pengembaraan keilmuan. Dilanjut ke Universitas Tribakti Kediri, hingga Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta di bawah bimbingan langsung Kiai Ali Ma’shum. 

Di pesantren Krapyak ini pulalah, Kang Said bertemu dengan seorang perempuan, Nurhayati, yang kemudian dipersunting menjadi istri pada 13 Juli 1977. Setelah menikah, kota suci Makkah menjadi persinggahan Kang Said selanjutnya. Didampingi sang istri, Kang Said menempuh pendidikan hingga doktoral. 

Strata 1 Jurusan Ushuluddin dan Dakwah Universitas King Abdul Aziz, strata 2 Jurusan Perbandingan Agama Universitas Ummul Qura, dan strata 3 Jurusan Aqidah Filsafat Universitas Ummul Qura. Rangkaian pendidikan ini, berujung dengan dikukuhkannya Kang Said sebagai Guru Besar bidang Tasawuf di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2014. 

Pengembaraan keilmuan Kang Said, menjadikannya mumpuni dalam pendidikan formal maupun non-formal, dan tetap berakar pada tradisi. Ini terlihat, umpama melalui salahsatu statement Kang Said, “Saya beruntung sejak kecil makan berkat, yang diperoleh ketika ayah saya memimpin kenduri dan tahlilan. Mungkin karena sering makan berkat –makanan yang penuh doa– maka saya banyak mendapat kemudahan.” (hal. 1)

Tak hanya itu, buah pemikiran Kang Said juga menjadi sumbangan keilmuan yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Bidang tasawuf menjadi contohnya. Kang Said menuturkan bahwa tasawuf dapat menjadi solusi revolusi mental di negeri ini. Peningkatkan spiritualitas melalui tasawuf, adalah upaya yang logis untuk membasmi, umpama, tindakan korupsi (hal. 133). Peneguhan dan komitmen Kang Said akan Islam Nusantara, juga bisa menjadi contoh lain sumbangan keilmuannya.  

Kini sosok kelahiran 03 Juli 1953 ini mengabdikan diri kepada umat, melalui Nahdlatul Ulama. Pengabdian, kethawadlu’an, dan semangatnya menjadi teladan bagi semua kalangan. Buku dengan tebal 186 halaman ini telah menyajikan dengan apik perjalanan hidup Kang Said. 

Bahkan tidak hanya itu. Penjelasan yang mengalir juga membawa pembaca menikmati uraian lain seperti tentang kezuhudan Kiai Aqil Siroj dan uraian tentang pesantren masyhur di Cirebon, seperti Pesantren Buntet, Pesantren Gedongan, dan Pesantren Babakan Ciwaringin. Buku ini menjadi rekomendasi bagi siapa saja untuk mengenal dan meneladani sosok Kang Said bin Kiai Aqil, santri yang profesor itu. Wallahu A’lam. 

Profil Buku:
Judul : Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA.
Penulis : Ahmad Musthofa Haroen
Penerbit : Khalista 
Halaman : xviii+186
Cetakan : I Agustus 2015
ISBN : 979-1283-xx-x
Peresensi : Robbah Munjiddin A, Koordinator Lambaga Pers PKPT IPNU UIN Sunan Ampel masa khidmah 2013-2014; mahasiswa Filsafat Politik Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel.

Bagikan:
Kamis 5 Januari 2017 15:0 WIB
Al-Maufud fî Tarjamah al-Maqshud, Morfologi Arab dalam Jawa Pegon (1959)
Al-Maufud fî Tarjamah al-Maqshud, Morfologi Arab dalam Jawa Pegon (1959)
Ini adalah halaman sampul dan kata pengantar dari kitab al-Maufûd fî Tarjamah al-Maqshûd yang ditulis oleh KH Ahmad Mutohar bin Abdurrahman Mranggen (Demak, Jawa Tengah, w. 2005). Kitab ini adalah terjemah dan penjelasan (syarh) dalam bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon atas teks nazham “al-Maqshûd fî ‘Ilm al-Sharf”.

Teks nazham “al-Maqshûd” sendiri terdiri dari 123 bait puisi dalam irama (bahr) “rajaz”. Teks ini menghimpun ringkasan teori ilmu morfologi Arab (ilmu sharaf), karya Syaikh Ahmad ibn ‘Abd al-Rahîm al-Thahthâwî (w. 1885), seorang juru tulis, sastrawan, sekaligus jurnalis asal Mesir.

Ilmu sharaf merupakan salah satu cawangan utama dari ilmu linguistik Arab. Ilmu ini erat juga kaitannya dengan “ilmu nahwu” (sintaksis Arab). Ilmu sharaf mengkaji perubahan bentuk (derivasi/ tashrîf) satu kata ke bentuk yang lainnya, guna mendapatkan arti dan fungsi yang berbeda. Dalam rentang sejarah keilmuan bahasa Arab, terdapat banyak literatur ilmu morfologi Arab ini, mulai dari masa klasik hingga modern.

Nazham “al-Maqshûd” termasuk salah satu anggitan morfologi Arab di masa modern. Teks ini sangat populer, sehingga memiliki beberapa penjelasan dan komentar (syarh). Di antara syarh atas teks “al-Maqshûd” yang banyak dipedomani adalah “Hill al-Ma’qûd fî Syarh al-Maqshûd”, karangan linguis Arab asal Maroko yang sezaman dengan al-Thathâwî, yaitu Syaikh Muhammad ibn Ahmad ‘Allîsy al-Maghribî (w. 1882).

Di pesantren-pesantren tradisional di Nusantara (NU), keberadaan teks nazham “al-Maqshûd” tentu tidaklah asing. Teks ini banyak tersebar, dipelajari, dan dihafal oleh para pelajar di pesantren-pesantren tersebut.

Dalam tradisi intelektual pesantren di Nusantara, morfologi Arab (ilmu sharaf) harus dikuasai oleh para pemula sebagai syarat mutlak untuk bisa membaca dan memahami teks-teks berbahasa Arab. Pembelajaran morfologi biasanya bersamaan dengan pembelajaran ilmu Sintaksis Arab (ilmu nahwu).

Di pesantren-pesantren tersebut, teks “al-Maqshûd” dipelajari sebagai lanjutan dari teks “al-Amtsilah al-Tashrîfiyyah” dalam bidang morfologi, yang bersama-sama dipelajari bersama teks “Mutammimah”, yang merupakan lanjutan dari teks “al-Âjurûmiyyah” dalam bidang sintaksis.

Nah, nazham “al-Maqshûd” ini kemudian diterjemahkan dan disyarah dalam bahasa Jawa beraksara Arab Pegon oleh Kiai Ahmad Mutohar bin Abdurrahman, salah satu pengasuh Pesantren “Futuhiyyah” di kampung Mranggen, Demak (Jawa Tengah). Terjemahan dan syarah tersebut kemudian diberi nama “al-Maufûd fî Tarjamah al-Maqshûd”.

“Al-Maufûd” diselesaikan pada bulan Shafar tahun 1379 H (Agustus 1959 M), dan dicetak oleh Maktabah Karya Toha Putra Semarang. Saya menemukan edisi cetakan ini di perpustakaan pesantren Edi Mancoro, Salatiga, sekitar bulan Februari tahun 2016 silam.

Dalam kata pengantarnya, Kiai Mutohar Mranggen mengatakan bahwa teks “al-Maqshûd” adalah teks terbaik dalam bidang ilmu morfologi Arab yang dipelajari untuk kalangan pemula. Ia pun terdorong untuk menerjemahkan teks tersebut ke dalam bahasa kaumnya (Jawa Mriki) sekaligus memberikan sedikit penjelasan agar mudah difahami maksudnya.

Kiai Mutohar terhitung produktif menerjemahkan berbagai kitab dari bahasa Arab ke bahasa Jawa Pegon, menyusul jejak kakak beliau, yaitu Kiai Muslih bin Abdurrahman Mranggen yang juga produktif menerjemah. Umumnya kitab-kitab yang beliau terjemah adalah kitab-kitab yang menjadi acuan bahan ajar di pesantren-pesantren Nusantara.

Selain menerjemah nazham “al-Maqshûd”, beliau juga menerjemah nazham “al-‘Imrîthî”, “al-Wâfiyyah fî Tarjamah Alfiyyah (Ibn Mâlik)”, dan lain-lain. Nafa’anallahu ta’ala bihi wa bi ‘ulumihi fiddaraini. (A. Ginanjar Sya’ban)

Rabu 4 Januari 2017 13:2 WIB
Ta'limul Mubtadiin, Kitab Aqaid Sewidak Sekawan Karya Ulama Tegal
Ta'limul Mubtadiin, Kitab Aqaid Sewidak Sekawan Karya Ulama Tegal
Kitab Ta’limul Mubtadi’in fi Aqa’idid Din ditulis KH Said bin Armiya, kia besar Nusantara dari Tegal Jawa Tengah (w 1395 H/ 1974 M). Kitab ini membahas kajian ilmu tauhid yang biasa dikenal dalam bahasa Jawa tentang Aqa’id Seket (red Akidah Lima Puluh). Namun dalam kitab ini ada pengembangan empat belas.

Kitab ini ditulis dengan huruf pegon atau aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa dan kadang diselingi dengan bahasa Arab. Kitab ini dicetak Majelis Ta’lim wad Dakwah at-Tauhidiyah oleh Pondok Pesantren At-Tauhidiyah Cikura Bojong Tegal Jawa Tengah dengan tebal 103 halaman.

Sinopsis tesis yang dilakukan oleh Aripin tentang pengajaran ilmu tauhid di Pondok Pesantren At-Tauhidiyah Cikura Bojong Tegal menjelaskan bahwa kitab ini memiliki corak tauhid Asy’ariyah dengan mengkhususkan pada kajian pemikiran tokoh Imam Muhammad As-Sanusi yang mengemukakan konsep ‘aqaid lima puluh dalam pemahaman akidah. Namun pemikiran As-Sanusi dikembangkan oleh KH Said Armiya dalam kitabnya menjadi enam puluh empat (aqaid sewidak sekawan).

Kitab ini berjumlah dua jilid. Kitab ini dapat dilkasifikasikan menjadi tiga bagian, pertama ilmu tauhid khusus mempelajari ‘aqaid lima puluh (aqaid seket), yaitu 20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat mustahil bagi Allah, 1 sifat jaiz bagi Allah, 4 sifat wajib bagi rasul, 4 sifat mustahil bagi rasul, dan 1 sifat jaiz bagi rasul.

Sedangkan aqaid sewidak sekawan meliputi aqaid seket, di mana sifat jaiz bagi Allah dari jumlah satu menjadi sepuluh, sifat jaiz bagi rasul dari jumlah satu menjadi dua. Sehingga dijumlah menjadi 60. Kemudian semua itu ditambah rukun iman 4, yaitu iman kepada para nabi dan rasul, iman kepada para malaikat, iman kepada kitab-kitab Allah, dan iman kepada hari akhir. Jika ditotal, semuanya menjadi 64 aka’id.

Kedua, ilmu tauhid  tentang doktrin ma’rifat kepada Allah Swt yang hanya dapat diketahui dengan mengetahui sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah.

Sedangkan yang ketiga, ma’rifat kepada Allah harus mengetahui dalil-dalil tentang aqaid seket karena aqa'id seket tersebut merupakan penjabaran dua kalimat syahadat. Kitab itu menjelaskan bahwa mengetahui aqa'id sewidak sekawan hukumnya wajib secara syar’i. (Ahmad Rosyidi)

Senin 2 Januari 2017 12:30 WIB
Tashilul Masalik, Terjemah dan Syarah Alfiyyah Berbahasa Sunda
Tashilul Masalik, Terjemah dan Syarah Alfiyyah Berbahasa Sunda
Ini adalah halaman muka dari kitab “Tashîlul Masâlik” yang merupakan terjemah dan penjelasan (syarh) berbahasa Sunda atas nazham al-Khullâshah atau Alfiyyah Ibn Mâlik, puisi seribu bait yang menghimpun teori ilmu gramatika Arab secara lengkap dan sangat populer keberadaannya.

Pengarang kitab “Tashîlul Masâlik fî Syarh Alfiyyah Ibn Mâlik” yang berbahasa Sunda beraksara Arab (pegon) ini adalah Ajengan Muhammad Abdullah bin Hasan dari Kampung Kongsi, Caringin, Sukabumi. Saya mendapatkan kitab ini di perpustakaan keluarga di Mirat Majalengka, milik adik saya al-Fadhil A. Gumilar Irfanullah, yang merupakan koleksi beliau saat dulu belajar di Pesantren Bait al-Arqom, Bandung.

Dalam lembaran sejarah keilmuan Islam, kitab Alfiyyah Ibnu Mâlik demikian populer dan melegenda. Alfiyyah Ibnu Mâlik adalah salah satu pusaka dan referensi ilmu Nahwu-Sharaf (gramatika-morfologi Arab) yang paling pucuk. Pengarangnya, Ibnu Malik, dinobatkan sebagai Tâj ‘Ulamâ an-Nuhât, Mahkota Ulama Nahwu.

Semenjak masa ditulisnya hingga masa sekarang, kitab tersebut banyak dikaji dan dijadikan panduan utama di bidang kajian linguistik Arab, baik di Timur atau pun Barat. Di kalangan akademisi Barat, kitab ini terkenal dengan sebutan The Thousand Verses. Puluhan syarah (komentar atau penjelasan), hâsyiah (ulasan panjang, komentar atas komentar), dan ikhtishâr (ringkasan) telah lahir dari kitab berisi seribu bait nazmah (puisi) tersebut.

Nah, kitab Alfiyyah Ibnu Mâlik ini kemudian diterjemah dan disyarah dalam bahasa Sunda oleh Ajengan Muhammad Abdullah bin Hasan Kongsi (Sukabumi). Terjemah dan syarah ini terdiri dari dua volume (juz). Belum diketahui tahun berapa karya ini diselesaikan. Edisi pertama versi cetakan kitab ini dikeluarkan oleh “Maktabah Anda” Sukabumi (tanpa tahun), lalu dicetak ulang oleh “Maktabah al-Haram Carain” Jeddah-Singapura-Indonesia (juga tanpa tahun).

Tentang sosok penulis syarah ini, yaitu Ajengan Muhammad Abdullah bin Hasan, juga belum banyak saya dapatkan data dan informasinya. Pada kitab tersebut beliau menuliskan berasal dari Kampung Kongsi, Desa Caringin, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tertulis dalam pembukaan kitab;

دترجمهكن كان بسا سوندا كوجلم أنو ضعيف تر بودو محمد عبد الله بن حسن أوراع كمفوع كوعسي ديسا جريعين كجامتن جي بداك كبوفتين سكابومي، كليان دعرانن اي ترجمة كو تسهيل المسالك في ترجمة ألفية ابن مالك

(Diterjemahkeun kana Basa Sunda ku jalma anu doip tur bodo Muhammad Abdullah bin Hasan urang kampong Kongsi, Desa Caringin, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Kalayan dingaranan ieu tarhamah ku “Tashil-ul Masalik fi Tarjamah Alfiyyah Ibnu Malik”).

Saat ini, Desa Caringin sudah menjadi kecamatan tersendiri yang merupakan pengembangan dari Kecamatan Cibadak. Saya pun mencoba menelusuri informasi keberadaan beliau dengan pergi ke Caringin, Sukabumi, yang juga kampung mertua saya.

Tak jauh dari Caringin, yaitu di Desa Babakan Tipar, Cicantayan, Sukabumi, ada sebuah pesantren salaf bernama “as-Salafiyah II”. Pengasuh pesantren ini, yaitu Ajengan KH Syihabuddin, adalah kawan dekat sang pensyarah. Diceritakan oleh istri beliau, bahwa Ajengan KH Syihabuddin dan Ajengan Muhammad Abdullah dulu sama-sama belajar di Pesantren Cibeureum, Sukabumi, pada KH Syuja’i.

KH Syuja’i Cibeureum adalah sosok yang terkenal sebagai pakar ilmu alat (nahwu) di Tatar Sunda. Salah satu kitab yang sering beliau bacakan dan ajarkan adalah Alfiyyah Ibnu Malik. Nah, keterangan yang diberikan oleh Ajengan KH Syuja’i itulah yang kemudian dirangkum oleh Ajengan Muhammad Abdullah dan dikembangkan menjadi “Tashîlul Masâlik fî Tarjamah wa Syarh Alfiyyah Ibn Mâlik” dalam Bahasa Sunda.

Selain merujuk dari keterangan KH Syuja’i Cibeureum, pensyarah juga merujuk pada kitab-kitab syarah Alfiyyah lainnya yang ditulis dalam bahasa Arab, seperti Syarah Ibn ‘Aqîl, Audhah al-Masâlik, Tanwir al-Hawalik, Dahlân Alfiyyah, Hasyiah al-Khudhari, dan lain sebagainya.

Ajengan Muhammad Abdullah termasuk sosok “santri kelana”. Beliau tidak menetap di satu tempat. Bahkan hingga usia “matang” pun beliau masih tetap belajar dari pesantren ke pesantren. Meski lahir dan besar di Kampung Kongsi, Caringin, Sukabumi, beliau pernah berkarir di Pesantren Babakan Tipar bersama KH Syihabuddin, lalu pindah ke Cisaat, lalu pindah lagi ke Cikidang. Di sanalah beliau sempat membuka pesantren hingga wafat.

Selain Ajengan Muhammad Abdullah Kongsi (Sukabumi), terdapat juga beberapa ulama Nusantara lainnya yang menulis teremah dan syarah atas nazham “Alfiyyah Ibn Mâlik”, di antaranya adalah KH Bisri Musthofa (Rembang, Jawa Tengah, ayahanda dari KH Musthofa Bisri atau Gus Mus), yang menerjemahkan dan mensyarah Alfiyyah dalam bahasa Jawa (beraksara Arab Pegon) dan diterbitkan oleh Penerbit Menara Kudus pada tahun 1960-an.

Terdapat pula KH Abul Fadhol (Senori, Tuban), yang menulis syarah Alfiyyah dalam bahasa Arab, berjudul “Tashîlul Masâlik fî Syarh Alfiyyah Ibn Mâlik”. Judul ini sama dengan yang dipakai oleh Ajengan Muhammad Abdullah Sukabumi. Syarah milik KH Abdul Fadhol Senori ditulis dalam bahasa Arab yang sangat bagus dan sempurna, juga dengan kulaitas syarah yang sangat luar biasa. Saat ini syarah tersebut dipelajari di beberapa pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur, di antaranya adalah Pesantren Sarang Rembang (Jawa Tengah) dan Pesantren Mamba’us Sholihin Gresik (Jawa Timur). (A. Ginanjar Sya’ban)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG