IMG-LOGO
Pustaka

Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak

Jumat 6 Januari 2017 15:0 WIB
Bagikan:
Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak
Apakah kita boleh menghadiahkan pahala bacaan dan shadaqah kepada mayit? Apakah hadiah tersebut sampai? Menurut KH Ali Ma'sum, Rais Aam PBNU 1981-1984, masalah semacam ini merupakan masalah furu’ khilafiyah yang seharusnya tidak mendorong terjadinya fitnah, pertengkaran, perdebatan, dan sikap antipati baik terhadap orang yang setuju ataupun yang menolaknya. Walaupun berbeda pendapat, kedua belah pihak seharusnya tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh sesama saudara Muslim. Masing-masing pihak tentu memiliki dasar yang diyakini.

Meski demikian, santri dan warga NU penting mengetahui dasar setiap amal ibadahnya. Oleh karena itu KH Ali Ma’sum merasa perlu menyusun kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah ini, khususnya untuk para santri Pondok Pesantren Krapyak Yogjakarta. Dengan mengetahui dasar amal ibadah yang kita lakukan, diharapkan kita tidak ragu, was-was, salah sangka, tertipu dan tergoda oleh setan sehingga tersesat pada kelompok ahli hawa nafsu.

Hadirnya kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jam’ah ini diharapkan dapat membuat pembaca mengetahui dan yakin bahwa apa yang telah dilakukan oleh ulama kuno yang saleh (salafus shalih) merupakan kebenaran yang perlu diikuti. Hadirnya kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jam’ah ini tidak diharapkan sebagai bahan untuk berdebat dengan pihak yang berbeda pendapat.

Dengan tawadhu’ KH Ali Ma’shum menyatakan bahwa, dalam kitab ini beliau hanya mampu mengumpulkan dan menukil pendapat-pendapat dari para ulama’. Kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah merupakan kumpulan dari beberapa pendapat para tokoh tentang beberapa amalan Aswaja seperti shalat qabliyah Jumat dan talqin mayit setelah dikubur.

Salah satu keistimewaan kitab ini adalah KH Ali Ma'sum mengawali uraian tentang amaliyah-amaliyah nahdhiyah seperti hadiah pahala kepada mayit dengan mengutip pendapat Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, baru kemudian mengutip beberapa pendapat ulama' dari empat madzhab Aswaja.

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Mayit dapat mengambil manfaat dari pahala bacaan ayat Al-Qur`an orang lain yang dihadiahkan kepadanya, sebagaimana ia juga dapat mengambil manfaat dari pahala ibadah amaliyah seperti shadaqah dan sejenisnya.

Sedangkan Ibnul Qayyim mengatakan, “Sebaik-baik pahala yang dihadiahkan kepada mayit adalah pahala shadaqah, istighfar, doa untuk kebaikan mayit, dan ibadah haji atas nama mayit. Adapun pahala bacaan ayat Al-Qur`an yang dihadiahkan kepada mayit secara sukarela (bukan karena dibayar), dapat sampai seperti juga pahala puasa dan haji untuk mayit.

Menurut pendapat ulama madzhab Hanafi, orang yang melakukan amal ibadah, shadaqah, bacaan ayat Al-Qur`an, atau amal saleh lainnya, boleh menghadiahkan pahalanya kepada orang lain dan kiriman pahala tersebut sampai.

Ulama syafi’iyah sepakat bahwa pahala shadaqah dapat sampai kepada mayit.

Di kalangan ulama madzhab Maliki pada umumnya tidak ada perselisihan pendapat dalam hal sampainya pahala shadaqah kepada mayit. Namun pada prinsipnya, madzhab Maliki memakruhkan menghadiahkan pahala bacaan (Qur`an dan kalimat thayyibah lainnya) kepada mayit.

Imam An-Nawawi di dalam kitab Al-Adzkar menukil pendapat dari sekelompok ashabus-syafi’iy (para ulama madzhab Syafi’i), bahwa pahala bacaan (Al-Qur`an dan kalimat thayyibah lainnya) dapat sampai kepada si mayit, sama seperti pendapat yang dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan sekelompok ulama lainnya.

Menurut KH Ahmad Subki Masyhadi dari Pekalongan, kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah sangat penting bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu kaum Muslimin yang aqidahnya mengikuti imam Abil Hasan Al-Asy’ari atau imam Abu Manshur Al-Maturidi, dan fiqihnya mengikuti salah satu dari empat madhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad ibnu Hambal). Oleh karena itu, ketika Syekh KH Ali Ma’sum bersilaturrahmim ke kediaman KH Ahmad Fauzi Masyhadi Sampangan Pekalongan, KH Ahmad Subki Masyhadi ikut menemui sang tamu mulia dari Yogjakarta tersebut dan memohon izin untuk mencetak kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah beserta terjemahan dan tambahan-tambahan yang diperlukan.

KH Ahmad Subki menerjemahkan kitab berbahasa Arab ini ke dalam bahasa Jawa dengan model makna gandul dilengkapi dengan terjemah singkat dalam bentuk uraian dan kadang ditambah dengan beberapa keterangan. Kitab terjemah ini diberi nama Ad-Durratul Lami’ah.

Pada sela-sela terjemahan, seperti pada bahasan tentang hadiah pahala terhadap mayit, KH Ahmad Subkhi menambahkan beberapa pendapat ulama tentang tata cara membayar utang mayit yang berupa shalat dan puasa.

"Bila ada mayit Muslim mempunyai hutang shalat, maka sebaiknya di-qadha dengan niat shalat untuk mayit tersebut. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, bila si mayit wasiat maka setiap hutang satu shalat dibayar dengan fidyah satu mud. Bila ada mayit Muslim mempunyai hutang puasa Ramadhan, maka keluarganya dapat membayarkannya dengan puasa qadha. Hal ini berdasarkan suatu hadits muttafaqun alaihi..."

Ada sembilan bahasan yang dapat kita ikuti dalam kitab Ad-Durratul Lami’ah yang biasanya dijual dengan harga hanya sepuluh ribu rupiah ini: (1) pengiriman pahala untuk mayit, (2) shalat sunah qabliyah jum’at, (3) talqin mayit setelah dikubur, (4) shalat tarawih, (5) penetapan bulan Ramadhan dan Syawal, (6) ziarah kubur, (7) nikmat dan siksa kubur, (8) ziarah ke makam Nabi Muhammad Saw, dan (9) tawasul.

Data Buku

Judul           : Ad-Durratul Lami’ah, Tarjamah Hujjah Ahlis Sunnah  wal Jama’ah karya Syekh Al-‘Allamah KH Ali Ma’sum al-Jogjawi
Penerjemah : KH Ahmad Subki Masyhadi
Khath         : Ma’mun Muhammad bin Badawi
Penerbit     : Ibnu Masyhadi Pekalongan
Ukuran      : 14,5 x 20,5 cm, 228 halaman
Peresensi  : Faiq Aminuddin, Kepala MTs NU Irsyaduth Thullab, Tedunan, Wedung, Demak
Tags:
Bagikan:
Kamis 5 Januari 2017 15:0 WIB
Al-Maufud fî Tarjamah al-Maqshud, Morfologi Arab dalam Jawa Pegon (1959)
Al-Maufud fî Tarjamah al-Maqshud, Morfologi Arab dalam Jawa Pegon (1959)
Ini adalah halaman sampul dan kata pengantar dari kitab al-Maufûd fî Tarjamah al-Maqshûd yang ditulis oleh KH Ahmad Mutohar bin Abdurrahman Mranggen (Demak, Jawa Tengah, w. 2005). Kitab ini adalah terjemah dan penjelasan (syarh) dalam bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon atas teks nazham “al-Maqshûd fî ‘Ilm al-Sharf”.

Teks nazham “al-Maqshûd” sendiri terdiri dari 123 bait puisi dalam irama (bahr) “rajaz”. Teks ini menghimpun ringkasan teori ilmu morfologi Arab (ilmu sharaf), karya Syaikh Ahmad ibn ‘Abd al-Rahîm al-Thahthâwî (w. 1885), seorang juru tulis, sastrawan, sekaligus jurnalis asal Mesir.

Ilmu sharaf merupakan salah satu cawangan utama dari ilmu linguistik Arab. Ilmu ini erat juga kaitannya dengan “ilmu nahwu” (sintaksis Arab). Ilmu sharaf mengkaji perubahan bentuk (derivasi/ tashrîf) satu kata ke bentuk yang lainnya, guna mendapatkan arti dan fungsi yang berbeda. Dalam rentang sejarah keilmuan bahasa Arab, terdapat banyak literatur ilmu morfologi Arab ini, mulai dari masa klasik hingga modern.

Nazham “al-Maqshûd” termasuk salah satu anggitan morfologi Arab di masa modern. Teks ini sangat populer, sehingga memiliki beberapa penjelasan dan komentar (syarh). Di antara syarh atas teks “al-Maqshûd” yang banyak dipedomani adalah “Hill al-Ma’qûd fî Syarh al-Maqshûd”, karangan linguis Arab asal Maroko yang sezaman dengan al-Thathâwî, yaitu Syaikh Muhammad ibn Ahmad ‘Allîsy al-Maghribî (w. 1882).

Di pesantren-pesantren tradisional di Nusantara (NU), keberadaan teks nazham “al-Maqshûd” tentu tidaklah asing. Teks ini banyak tersebar, dipelajari, dan dihafal oleh para pelajar di pesantren-pesantren tersebut.

Dalam tradisi intelektual pesantren di Nusantara, morfologi Arab (ilmu sharaf) harus dikuasai oleh para pemula sebagai syarat mutlak untuk bisa membaca dan memahami teks-teks berbahasa Arab. Pembelajaran morfologi biasanya bersamaan dengan pembelajaran ilmu Sintaksis Arab (ilmu nahwu).

Di pesantren-pesantren tersebut, teks “al-Maqshûd” dipelajari sebagai lanjutan dari teks “al-Amtsilah al-Tashrîfiyyah” dalam bidang morfologi, yang bersama-sama dipelajari bersama teks “Mutammimah”, yang merupakan lanjutan dari teks “al-Âjurûmiyyah” dalam bidang sintaksis.

Nah, nazham “al-Maqshûd” ini kemudian diterjemahkan dan disyarah dalam bahasa Jawa beraksara Arab Pegon oleh Kiai Ahmad Mutohar bin Abdurrahman, salah satu pengasuh Pesantren “Futuhiyyah” di kampung Mranggen, Demak (Jawa Tengah). Terjemahan dan syarah tersebut kemudian diberi nama “al-Maufûd fî Tarjamah al-Maqshûd”.

“Al-Maufûd” diselesaikan pada bulan Shafar tahun 1379 H (Agustus 1959 M), dan dicetak oleh Maktabah Karya Toha Putra Semarang. Saya menemukan edisi cetakan ini di perpustakaan pesantren Edi Mancoro, Salatiga, sekitar bulan Februari tahun 2016 silam.

Dalam kata pengantarnya, Kiai Mutohar Mranggen mengatakan bahwa teks “al-Maqshûd” adalah teks terbaik dalam bidang ilmu morfologi Arab yang dipelajari untuk kalangan pemula. Ia pun terdorong untuk menerjemahkan teks tersebut ke dalam bahasa kaumnya (Jawa Mriki) sekaligus memberikan sedikit penjelasan agar mudah difahami maksudnya.

Kiai Mutohar terhitung produktif menerjemahkan berbagai kitab dari bahasa Arab ke bahasa Jawa Pegon, menyusul jejak kakak beliau, yaitu Kiai Muslih bin Abdurrahman Mranggen yang juga produktif menerjemah. Umumnya kitab-kitab yang beliau terjemah adalah kitab-kitab yang menjadi acuan bahan ajar di pesantren-pesantren Nusantara.

Selain menerjemah nazham “al-Maqshûd”, beliau juga menerjemah nazham “al-‘Imrîthî”, “al-Wâfiyyah fî Tarjamah Alfiyyah (Ibn Mâlik)”, dan lain-lain. Nafa’anallahu ta’ala bihi wa bi ‘ulumihi fiddaraini. (A. Ginanjar Sya’ban)

Kamis 5 Januari 2017 8:31 WIB
Memahami dan Meneladani Pemikiran Kiai Said
Memahami dan Meneladani Pemikiran Kiai Said
Bernama lengkap Said Aqil Siroj. Sosok kiai yang akrab disapa Kang Said ini lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Ayahnya, Kiai Haji Aqil Siroj adalah pengasuh Pesantren Kempek. Salah satu pesantren penting di kawasan Kota Cirebon, Jawa Barat.

Lahir dan besar di lingkungan pesantren, membuat Kang Said tumbuh di lingkungan dengan nuansa cinta ilmu. Spirit keilmuan begitu melekat pada diri Kang Said. Maka bukanlah hal aneh, apabila di berbagai kesempatan Kang Said senantiasa mengajak untuk yatafaqqohu fiddin (sungguh-sungguh dalam mendalami ilmu-ilmu agama).

Kang Said, leluhurnya baik jalur ayah maupun ibu adalah sosok-sosok yang alim. Ayahnya, Kiai Aqil Siroj adalah keturunan Kiai Muhammad Said, sosok kiai yang mengembangkan Pesantren Gedongan dan berperan penting dalam perkembangan Islam di Kota Cirebon. 

Bahkan apabila dirunut ke atas lagi, silsilah Kiai Said akan sampai kepada Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Selanjutnya nasab Syarif Hidayatullah akan sampai pada Sayyidatuna Fatimah binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sementara dari jalur ibu merupakan keturunan Kiai Harun, kiai yang mengembangkan pesantren Kempek, Cirebon.

Mewarisi darah ulama, mewarisi semangat dalam menapaki jalan pengetahuan. Diawali dengan mengaji kepada Kiai Aqil Siroj, sembari menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR), menjadi modal Kang Said dalam pengembaraan keilmuannya. Pesantren Lirboyo menjadi persinggahan pertama Kang Said dalam pengembaraan keilmuan. Dilanjut ke Universitas Tribakti Kediri, hingga Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta di bawah bimbingan langsung Kiai Ali Ma’shum. 

Di pesantren Krapyak ini pulalah, Kang Said bertemu dengan seorang perempuan, Nurhayati, yang kemudian dipersunting menjadi istri pada 13 Juli 1977. Setelah menikah, kota suci Makkah menjadi persinggahan Kang Said selanjutnya. Didampingi sang istri, Kang Said menempuh pendidikan hingga doktoral. 

Strata 1 Jurusan Ushuluddin dan Dakwah Universitas King Abdul Aziz, strata 2 Jurusan Perbandingan Agama Universitas Ummul Qura, dan strata 3 Jurusan Aqidah Filsafat Universitas Ummul Qura. Rangkaian pendidikan ini, berujung dengan dikukuhkannya Kang Said sebagai Guru Besar bidang Tasawuf di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2014. 

Pengembaraan keilmuan Kang Said, menjadikannya mumpuni dalam pendidikan formal maupun non-formal, dan tetap berakar pada tradisi. Ini terlihat, umpama melalui salahsatu statement Kang Said, “Saya beruntung sejak kecil makan berkat, yang diperoleh ketika ayah saya memimpin kenduri dan tahlilan. Mungkin karena sering makan berkat –makanan yang penuh doa– maka saya banyak mendapat kemudahan.” (hal. 1)

Tak hanya itu, buah pemikiran Kang Said juga menjadi sumbangan keilmuan yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Bidang tasawuf menjadi contohnya. Kang Said menuturkan bahwa tasawuf dapat menjadi solusi revolusi mental di negeri ini. Peningkatkan spiritualitas melalui tasawuf, adalah upaya yang logis untuk membasmi, umpama, tindakan korupsi (hal. 133). Peneguhan dan komitmen Kang Said akan Islam Nusantara, juga bisa menjadi contoh lain sumbangan keilmuannya.  

Kini sosok kelahiran 03 Juli 1953 ini mengabdikan diri kepada umat, melalui Nahdlatul Ulama. Pengabdian, kethawadlu’an, dan semangatnya menjadi teladan bagi semua kalangan. Buku dengan tebal 186 halaman ini telah menyajikan dengan apik perjalanan hidup Kang Said. 

Bahkan tidak hanya itu. Penjelasan yang mengalir juga membawa pembaca menikmati uraian lain seperti tentang kezuhudan Kiai Aqil Siroj dan uraian tentang pesantren masyhur di Cirebon, seperti Pesantren Buntet, Pesantren Gedongan, dan Pesantren Babakan Ciwaringin. Buku ini menjadi rekomendasi bagi siapa saja untuk mengenal dan meneladani sosok Kang Said bin Kiai Aqil, santri yang profesor itu. Wallahu A’lam. 

Profil Buku:
Judul : Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA.
Penulis : Ahmad Musthofa Haroen
Penerbit : Khalista 
Halaman : xviii+186
Cetakan : I Agustus 2015
ISBN : 979-1283-xx-x
Peresensi : Robbah Munjiddin A, Koordinator Lambaga Pers PKPT IPNU UIN Sunan Ampel masa khidmah 2013-2014; mahasiswa Filsafat Politik Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel.

Rabu 4 Januari 2017 13:2 WIB
Ta'limul Mubtadiin, Kitab Aqaid Sewidak Sekawan Karya Ulama Tegal
Ta'limul Mubtadiin, Kitab Aqaid Sewidak Sekawan Karya Ulama Tegal
Kitab Ta’limul Mubtadi’in fi Aqa’idid Din ditulis KH Said bin Armiya, kia besar Nusantara dari Tegal Jawa Tengah (w 1395 H/ 1974 M). Kitab ini membahas kajian ilmu tauhid yang biasa dikenal dalam bahasa Jawa tentang Aqa’id Seket (red Akidah Lima Puluh). Namun dalam kitab ini ada pengembangan empat belas.

Kitab ini ditulis dengan huruf pegon atau aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa dan kadang diselingi dengan bahasa Arab. Kitab ini dicetak Majelis Ta’lim wad Dakwah at-Tauhidiyah oleh Pondok Pesantren At-Tauhidiyah Cikura Bojong Tegal Jawa Tengah dengan tebal 103 halaman.

Sinopsis tesis yang dilakukan oleh Aripin tentang pengajaran ilmu tauhid di Pondok Pesantren At-Tauhidiyah Cikura Bojong Tegal menjelaskan bahwa kitab ini memiliki corak tauhid Asy’ariyah dengan mengkhususkan pada kajian pemikiran tokoh Imam Muhammad As-Sanusi yang mengemukakan konsep ‘aqaid lima puluh dalam pemahaman akidah. Namun pemikiran As-Sanusi dikembangkan oleh KH Said Armiya dalam kitabnya menjadi enam puluh empat (aqaid sewidak sekawan).

Kitab ini berjumlah dua jilid. Kitab ini dapat dilkasifikasikan menjadi tiga bagian, pertama ilmu tauhid khusus mempelajari ‘aqaid lima puluh (aqaid seket), yaitu 20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat mustahil bagi Allah, 1 sifat jaiz bagi Allah, 4 sifat wajib bagi rasul, 4 sifat mustahil bagi rasul, dan 1 sifat jaiz bagi rasul.

Sedangkan aqaid sewidak sekawan meliputi aqaid seket, di mana sifat jaiz bagi Allah dari jumlah satu menjadi sepuluh, sifat jaiz bagi rasul dari jumlah satu menjadi dua. Sehingga dijumlah menjadi 60. Kemudian semua itu ditambah rukun iman 4, yaitu iman kepada para nabi dan rasul, iman kepada para malaikat, iman kepada kitab-kitab Allah, dan iman kepada hari akhir. Jika ditotal, semuanya menjadi 64 aka’id.

Kedua, ilmu tauhid  tentang doktrin ma’rifat kepada Allah Swt yang hanya dapat diketahui dengan mengetahui sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah.

Sedangkan yang ketiga, ma’rifat kepada Allah harus mengetahui dalil-dalil tentang aqaid seket karena aqa'id seket tersebut merupakan penjabaran dua kalimat syahadat. Kitab itu menjelaskan bahwa mengetahui aqa'id sewidak sekawan hukumnya wajib secara syar’i. (Ahmad Rosyidi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG