IMG-LOGO
Nasional

Akun Abu Janda NU Tak Ada Kaitannya dengan Ansor dan Banser

Senin 9 Januari 2017 16:2 WIB
Bagikan:
Akun Abu Janda NU Tak Ada Kaitannya dengan Ansor dan Banser
Kasatkornas Banser H Alfa Isnaeni. Foto Gatot Arifianto
Jakarta, NU Online 
Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Banser H Alfa Isnaeni, di Jakarta, Ahad (8/1) mengatakan, akun Facebook “Abu Janda NU” sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Sebab Ansor dan Banser tidak berwatak demikian. 

Alumni STAI Diponegoro Tulung Agung, Jawa Timur itu melanjutkan, pihaknya sudah menugaskan kader untuk melacak siapa sebenarnya yang membuat akun tersebut.

Namun demikian, ia mengimbau kepada seluruh jajaran Banser dan Ansor tidak mudah menerima informasi dan terpancing provokasi tidak jelas sumbernya. “Baik itu yang cenderung liberal, bahkan kepada yang radikal atau yang lebih sering ngamuk-ngamuk dengan kata-kata khasnya, yaitu kafir, syiah, memecah belah umat Islam dan sebagainya,” kata dia pula.

Untuk diketahui, belakangan ini publik ramai membincang akun Abu Janda NU, halaman Ustad Abu Janda Al-Boliwudi. Tulisan-tulisan Abu Janda NU diikuti banyak orang. Namun, banyak pula akun-akun menentang bahkan memusuhinya sehingga terjadi perdebatan di kolom-kolom komentar. 

“Dengan nama akun yang tidak jelas, kita mesti berhati-hati dengan akun model Abu Janda ini. Selain tidak jelas profilnya, kita masih meraba motif dan kepentingannya apa,” ujarnya.

Intinya, lanjut dia, perlu selektif dan tidak gampang ngeshare dari orang-orang model begini, yang mungkin belakangan sudah banyak jumlahnya di media sosial.

“Sesuatu yang baik itu jelas sumber dan motifnya. Banser tidak akan membiarkan siapapun yang akan memecah belah NKRI dengan beragam cara. Di dunia nyata dan dunia maya (internet), Banser selalu ada untuk menjaga NKRI,” pungkasnya. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)
Bagikan:
Senin 9 Januari 2017 23:1 WIB
Kang Said Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2016 di Jepang
Kang Said Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2016 di Jepang
Jakarta, NU Online
Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia kembali mengadakan program Jenesys 2016 yang terselenggara pada 10-20 Januari 2017 di Tokyo. Program pertukaran pelajar dan pemuda untuk mengenal kultur dan budaya Jepang kali ini akan terselenggara dan diikuti oleh perwakilan dari NU dan Muhammadiyah.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) tampak senyum ketika melepas para delegasi dari NU yang berjumlah 10 orang pelajar dan pemuda.

Kang Said berpesan, setiap negara memiliki budaya yang tidak akan pernah berbenturan dengan ajaran agama yang dipeluk oleh para warganya. Sebab agama pasti membawa kedamaian. Namun, pada praktiknya akan menjadi rumit jika ternyata justru kepentingan politik yang dominan.

Apalagi jika berpolitik dengan menjadikan agama sebagai alat untuk menghantam semua musuh-musuh.

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah ini menyampaikan agar peserta memberikan yang terbaik bagi Indonesia dan dunia.

"Di sana (Jepang) harus memberikan apa yang terbaik buat mereka, beri penjelasan tentang Islam Nusantara. Mereka harus melihat bahwa Indonesia adalah tempat yang aman, nyaman, dan damai bagi siapapun," kata Kang Said. (Red Alhafiz K)

Senin 9 Januari 2017 20:0 WIB
Tiba di Subang, Pasutri NU akan Sampaikan Islam Nusantara ke 11 Negara
Tiba di Subang, Pasutri NU akan Sampaikan Islam Nusantara ke 11 Negara
Subang, NU Online
Hakam Mabruri (34) dan Rofingatul Islamiah (34), pasangan suami istri asal Malang, Jawa Timur berinisiatif menyosialisasikan corak khas Islam Nusantara ke 11 Negara.


Saat melakukan Start pada 17 Desember 2016 lalu, Pasutri yang diketahui anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Malang ini tiba di Kabupaten Subang, Jawa Barat dan disambut oleh ratusan Banser Subang di perbatasan Indramayu-Subang tepatnya di jalan Pantura Pusakajaya sejak Sabtu (7/1) kemarin. Saat ini keduanya tengah berisitirahat di kediaman Ketua PAC GP Ansor Pamanukan untuk persiapan menuju Kabupaten Karawang.

Dihadapan ratusan kader Ansor dan Banser Subang, keduanya mengaku akan mengelilingi 11 negara menggunakan sepeda ontel tersebut dengan misi sosialisasikan kepada masyarakat konsep Islam Nusantara yang terimplikasikan terhadap ajaran Islam yang penuh kedamaian dan kasih sayang.

"Hari ini sering kita temukan bahwa ajaran Islam itu identik dengan kekerasan. Nah misi kita ingin menginformasikan bahwa Islam itu agama yang damai, toleran dan penuh kasih sayang," ujar Hakam, Ahad (8/1).

Terkait dengan sepeda ontel, Hakam beserta istrinya menilai jika sepeda yang ditumpanginya tersebut sebagai kendaraan yang ramah lingkungan. “Ini juga mengisyaratkan jika ajaran Islam itu ajaran yang ramah, bukan ajaran yang marah-marah,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Hakam, dirinya sengaja mengambil rute ziarah di Pulau Jawa yang tujuannya ke beberapa makam wali sanga. Hal itu dilakukan untuk mengambil kesempatan bias berziarah kepada para penebar Islam di Indonesia dengan konsep Islam Rahmatan Lil Alamien.

“Apa yang dilakukan oleh Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam yakni dengan penuh hikmah dan bijaksana. Lebih toleran dan lebih menghargai terhadap sesama,” jelasnya.

Sementara Ketua PC GP Ansor Subang, Asep Alamsyah Heridinata menyambut baik atas kedatangan Pasutri yang merupakan keluarga besar GP Ansr NU tersebut. Bersama anggota Ansor dan Banser Subang, dirinya menerima dan menjamu serta disiapkan tempat untuk beristirahat.

“Semoga keduanya selamat sampai tujuan serta tidak terjadi hal-hal yang bias menghambat perjalanannya. Sehingga mereka berdua bias mengibarkan dan mentransformasikan kepada masyarakat tentang ajaran Islam Rahmatan lil Alamin,” pungkasnya. (Ade Mahmudin/Fathoni)

Senin 9 Januari 2017 18:0 WIB
Saat Gus Dur Menolak Disambut dengan Shalawat Badar
Saat Gus Dur Menolak Disambut dengan Shalawat Badar
Jakarta, NU Online
Warga Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, menyimpan kenangan yang baik tentang sosok Gus Dur. Ketua PCNU Pidie Jaya, Tengku Marzuki M Ali, salah satunya. 

Pada pertengahan Desember lalu, ketika NU Online melakukan peliputan kunjungan PBNU ke lokasi pengungsian warga terdampak gempa Pidie Jaya, Tengku Marzuki menceritakan kenangannya tentang sosok Gus Dur. 

Sekitar tahun 1999, Gus Dur mengunjungi Aceh dalam kaitannya dengan referendum yang dikehendaki sebagian masyarakat Aceh. Tepat ketika Gus Dur memasuki ruang pertemuan di Masjid Baiturrahman, segera masyarakat yang umumnya warga NU, mengumandangkan shalawat badar. 

Tetapi, Gus Dur meminta hadirin menghentikan bacaan salawat tersebut. “Jangan itu (shalawat badar),” kata Tengku Marzuki menirukan Gus Dur. 

Hadirin yang heran pun terdiam. Gus Dur lalu meneruskan, “Ayo kita baca ilahilastulil firdausi ahla....

Hadirin segera mengikuti membaca syair itu, sehingga suasana berubah menjadi lebih syahdu. Hadirin terbawa dan larut dalam syair yang berisi pengakuan dosa dan permohonan ampun kepada Allah SWT itu.

Peristiwa tersebut lagi-lagi menunjukkan bahwa Gus Dur adalah sosok yang sederhana dan tak suka diagung-agungkan.

Karena dalam pandangan Gus Dur, selain ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, shalawat badar juga dilantunkan untuk menyambut sebuah kemenangan. Hal ini berbeda dengan konteks kunjungannya saat itu. (Kendi Setiawan/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG