IMG-LOGO
Nasional

Radikalisme Kian Marak, Aswaja NU Harus Diperkuat

Selasa 17 Januari 2017 5:0 WIB
Bagikan:
Radikalisme Kian Marak, Aswaja NU Harus Diperkuat
Foto: ilustrasi
Jombang, NU Online
Kini mulai banyak bermunculan aliran baru yang membawa misi radikalisme. Mereka menebar kebencian, dan tidak sedikit yang mempermasalahkan ideologi bangsa. Kondisi ini harus menyadarkan berbagai kalangan termasuk Muslimat NU agar tidak terbawa gerakan tersebut.

"Sekarang semakin banyak paham radikal. Karena itu perlu penguatan tentang ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) NU," kata Nyai Hj Mundjidah Wahab, Ahad (15/1). Wakil Bupati yang juga Ketua PC Muslimat NU Jombang tersebut mengingatkan bahwa para perempuan NU juga menjadi sasaran gerakan radikal tersebut.

Harapan ini disampaikan Nyai Mundjidah saat memberikan sambutan pada kegiatan bedah buku Khazanah Aswaja di aula Kantor PC Muslimat NU Jombang, jalan Juanda.

Harapan positif juga disampaikan KH Isrofil Amar. Ketua PCNU Jombang tersebut mengingatkan bahwa warga NU cukup dengan mengamalkan ajaran Aswaja dalam keseharian. "Dengan mengamalkan ajaran Aswaja, maka akan tercipta kehidupan yang lebih baik di rumah tangga, sosial kemasyarakatan hingga berbangsa dan bernegara secara tentram," kata dosen di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan Jombang tersebut.

Kegiatan ini membedah buku Khazanah Aswaja yang diterbitkan oleh PW Aswaja NU Center Jawa Timur. Tampil sebagai narasumber adalah KH Abdurrahman Navis, serta dipandu Ustadz Yusuf Suharto.

KH Abdurrahman Navis yang juga Direktur PW Aswaja NU Center Jatim menjelaskan bahwa lahirnya Aswaja adalah sejak jaman Rasulullah SAW. "Aswaja sudah ada sejak jaman Rasulullah, namun penamaannya baru dilakukan sejak abad ketiga hijriyah oleh Abu Hasan al- Asy'ari," kata Kiai Navis, sapaan akrabnya.

Dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut mengemukakan bahwa nahdliyin di Jombang harusnya merasa bangga karena markas besar Aswaja yang sesugguhnya ada di kota ini. "Sebenarnya kalau kita berbicara Aswaja, markasnya itu di Jombang," jelas Wakil Ketua PWNU Jatim tersebut.

Kiai Navis menjelaskan, dalam buku Khazanah Aswaja tidak termuat penyesatan kepada kelompok tertentu. "Dalam buku ini, kami tidak menyesatkan kelompok-kelompok selain Aswaja, tapi menjelaskan keberadaan kelompok itu, siapa tokohnya dan bagaimana pemikirannya," jelasnya.

Dengan memiliki dan memahami isi buku tersebut, peserta akan memiliki pandangan atas paham-paham di luar Aswaja. Sebab tidak sedikit warga NU justru mengikuti pandangan, bahkan sebagai aktifis sejumlah organisasi keagamaan yang tidak sehaluan dengan Aswaja.

"Ya dalil dan amaliahnya itu Aswaja, cuma bedanya dengan NU, mereka lebih banyak nahi munkar daripada amar ma'rufnya," katanya memberikan tamsil.

Kegiatan ini adalah prakarsa dari PC Persatuan Guru Nahdlatul Ulama atau Pergunu dan PC Muslimat NU Jombang. Terlihat para peserta demikian antusias mengikuti kegiatan. Bahkan aula setempat tak mampu menampung peserta yang hadir dari berbagai kalangan tersebut. (Ibnu Nawawi/Fathoni)
Bagikan:
Selasa 17 Januari 2017 17:42 WIB
Umat Islam Singapura Kekurangan Referensi Islam Moderat Berbahasa Inggris
Umat Islam Singapura Kekurangan Referensi Islam Moderat Berbahasa Inggris
Jakarta, NU Online
Secara geografis, Negara Singapura masih termasuk ke dalam wilayah Nusantara yang dalam sejarah perkembangan Islam disebut sebagai al-Jawi. Namun, tak berbeda dengan sebagian negara-negara di dunia, umat Islam di Singapura masih beranggapan bahwa Islam adalah Arab.

Kondisi inilah yang sedikit banyak diungkapkan oleh aktivis Harmony Center Singapura, Mohammed Imran Taib saat berkunjung ke Kantor Pojok Gus Dur Gedung PBNU Jakarta, Jumat (13/1) lalu.

Imran yang didampingi oleh Direktur Pusat Studi Pesantren Achmad Ubaidillah dan beberapa mahasiswa National University of Singapore (NUS) sebelumnya berkunjung ke Kantor Redaksi NU Online dan diterima oleh Pemred NU Online Achmad Mukafi Niam dan Direktur Aswaja TV H Syaifullah Amin. Kemudian, diskusi berlanjut di Kantor Pojok Gus Dur.

Imran yang juga aktif mengampanyekan Islam damai dan sering mengadakan penelitian di Indonesia ini secara jelas mengatakan bahwa umat Islam di Singapura sangat kekurangan buku atau referensi berpaham Islam moderat dalam bahasa Inggris.

Ia mengakui, selama ini buku-buku Islam dalam bahasa Inggris didominasi oleh referensi berpaham Islam konservatif dan Wahabisme. Dampaknya, umat Islam di Singapura yang juga akar tradisinya semakin rapuh menjadi mudah terpengaruh.

“Mana buku-buku tentang Gus Dur dan Islam moderat lain. Saya pikir hal ini perlu diperhatikan Indonesia yang konsisten dengan corak Islam moderatnya,” harap Imran.

Pria berkacamata ini kagum dengan kehidupan keagamaan dan pengkajian ilmu keislaman di Indonesia yang begitu dinamis. Pasalnya, pengembangan Islam yang dikaji secara integral dengan berbagai disiplin ilmu masih terasa tabu di Singapura. Dampaknya, Islam yang berkembang cenderung kaku, akhirnya mudah disusupi paham Islam konservatif.

“Di Singapura masih menilai bahwa Islam di Indonesia tidak murni karena tercampur dengan tradisi dan budaya lokal. Kiblat terdekat justru Malaysia, sedangkan Malaysia sendiri mencapuradukkan antara agama dan negara sehingga kecenderungan ISIS juga terjadi di sana,” ungkap Imran.

Ia juga menyatakan bahwa umat Islam Indonesia yang sangat konsisten menjaga bahasa Indonesia dan identitas bangsa menjadi kekuatan tersendiri terhadap setiap paham transnasional yang masuk. Menurutnya, hal inilah yang tidak terdapat di antara generasi muda di Singapura.

“Anak-anak muda di Singapura gandrung dengan Bahasa Inggris sehingga mereka hampir lupa dengan bahasa mereka sendiri, bahasa Melayu. Mereka mudah memahami sebuah referensi dalam bahasa Inggris,” jelasnya.

Dia juga mengungkapkan, kajian Islam di Singapura yang berjalan selama ini hanya sebatas fiqih normatif saja. Belum menyentuh ke ranah substantif ketika menghadapi perkembangan pemikiran Islam yang begitu masif saat ini. Padahal fiqih di Indonesia sendiri dikaji secara dinamis, tidak statis seperti Konsep Fiqih Sosial yang dicetuskan KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, Rais Aam PBNU periode 1999-2014.

Seperti di Indonesia, era keterbukaan teknologi digital lewat media sosial juga menjadi tantangan perkembangan pemikiran Islam di Singapura. Karena lewat jejaring dunia maya ini, paham Islam konservatif disebarkan secara masif.

Dalam kesempatan diskusi ringan ini, Pemred NU Online Mukafi Niam menjelaskan perkembangan dan dakwah NU Online di dunia maya. Sedangkan Syaifullah Amin memberikan beberapa penjelasan tentang jam’iyah dan jamaah NU beserta amaliah-amaliahnya.

Dalam beberapa bulan ke depan, Imran dan kawan-kawan akan kembali berkunjung ke Indonesia untuk terus belajar dan memperluas jaringan seperti yang dilakukannya beberapa tahun terakhir. 

Hal ini menjadi langkah penting agar Harmony Center yang bergerak dalam urusan kehidupan dan kerukunan umat beragama semakin kuat dalam upaya mewujudkan visi perdamaian dan persatuan di Singapura. (Fathoni)

Selasa 17 Januari 2017 15:52 WIB
Menpora Siap Tingkatkan Program Olahraga Tradisional dan Prestasi
Menpora Siap Tingkatkan Program Olahraga Tradisional dan Prestasi
Jakarta, NU Online
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Tingkat Menteri di ruang Rapat Utama Lantai 7 Kemenko PMK, Selasa(17/1). Rakor tersebut membahas tindak lanjut arahan Presiden dalam Sidang Kabinet, Agenda Strategis 2017 dan Rencana Kerja Pemerintahan 2018.Rakor dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani.
 
Usai rapat, Puan Maharani menyampaika  pada konferensi pers bahwa pada tahun 2017 akan dilakukan uji coba di 40 desa untuk bisa menginteraksikan dan mensinergikan delapan program yang langsung bermanfaat untuk rakyat. Sehingga delapan kementerian ini akan melakukan semua hal secara terintegrasi di 40 desa tersebut.

"Ini komitmen dari kami bersama delapan kementerian di bawah koordinasi Menko PMK . Sehingga negara hadir dan masyarakat dapat merasakan manfaat dari program ini," Kata Puan.
 
Puan berharap rakor ini bisa mempertegas kebijakan dan program kementerian untuk penajaman dan penguatan fokus pada pemerataan kesejahteraan. "Sesuai tugas dan fungsinya, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan bertanggungjawab melaksanakan fungsi Koordinasi, Sinkronisasi, dan Pengendalian (KSP) atas seluruh program yang terkait dengan pembangunan manusia dan kebudayaan. Adapun kerangka pembangunan manusia dan kebudayaan adalah untuk meningkatkan kualitas dan kapabilitas manusia Indonesia serta membangun karakter manusia Indonesia," tambahnya
 
Menpora menyatakan akan terus  melakukan pembudayaaan, pemasalan dan pembibitan dibidang olahraga baik itu tradisional maupun prestasi. "Terkait dengan hal tersebut, kita akan menyelenggarakan Gowes Nusantara yang akan menghubungkan seluruh kepulauan dari Aceh sampai ke Papua yang akan melewati 18 ribu kilometer selama lebih enam bulan. Kita ingin menyibukan masyarakat Indonesia dengan bersepeda dan berolahraga," ucap Imam.
 
"Kita akan hidupkan lagi gala desa. Dimana desa-desa akan kita fasilitasi untuk penyelenggaraan olahraga seperti sepakbola, atletik, sepak takrow, bola voli dan bulutangkis. Pada tahun 2017 kita akam menjadi tuam rumah MXGP. Motocross GP pertama di Indonesia dalam sejarah olahraga motocross, kita akan lanksanakan di  Bangka Belitung pada tanggal 15-16 Maret 2017. Selebihnya kita menyiapkan diri sebagai tuan rumah Asian Games 2018," tambah Imam. 
 
Dalam rakor tersebut selain Menpora hadir pula Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek. Selain itu hadir pula Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Gatot S.Dewa Broto, Kepala Biro Perencanaan Syamsudin, dan Kepala Biro Humas Hukum Amar Ahmad. (Red: Fathoni)
Selasa 17 Januari 2017 11:2 WIB
Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam?
Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam?
Gambar: elhooda.net
Jakarta, NU Online
Zakat adalah salah satu rukun Islam. Dan hal itu tidak bertentangan dengan kultur masyarakat Papua, ujar warga Kabupaten Jayawijaya, Papua, Tauluk Assho (60).

Didampingi putranya, H Abu Hanifah Assho yang merupakan Ketua PC GP Ansor Jayawijaya, ia menjelaskan di daerahnya ada tradisi kurogo magasyarak yang artinya dipotong untuk berbagi.

“Itu kebiasaan setelah panen. Masyarakat di daerah kami biasa berbagi dengan cara seperti itu. Dan pembagiannya untuk siapa hingga yang berhak menerima siapa juga diatur,” kata dia, di Jakarta, Selasa (17/1).

Nama Assho menurut dia pula, terinspirasi dari Masjid Al-Aqsa, satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur).

“Saya tertarik masuk Islam karena Islam itu unik. Nilai-nilainya tidak jauh beda dengan kebudayaan kami,” papanrya.

Dalam hal pernikahan, contohnya kata Tauluk menjelaskan, juga tidak diperkenankan satu garis keluarga.

“Termasuk cara berinteraksi dengan masyarakat. Bagaimana cara makan, sama persis dengan Islam yang disyiarkan ke tempat kami,” ujar dia pula.

Tauluk memeluk Islam sejak muda. Sejak itu, dirinya memperjuangkan dan mengajak masyarakat di daerah identik dengan sebutan Bumi Cendrawasih turut memeluk Islam kendati dengan sejumlah rintangan. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG