Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
HARLAH KE-91 NU

Sampaikan Pidato Kebudayaan, Kiai Said Jelaskan Tradisi Tahlilan

Sampaikan Pidato Kebudayaan, Kiai Said Jelaskan Tradisi Tahlilan
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyampaikan Pidato Kebudayaan, Selasa (31/1) dalam peringatan Harlah ke-91 NU di Halaman Gedung PBNU Jakarta. Acara tersebut dipadati oleh sejumlah pejabat negara dan Nahdliyin yang memadati seluruh sudut Gedung PBNU.

Dalam pidaotnya, Kiai Said menyampaikan, budaya-budaya lokal bisa diadopsi menjadi bagian dari hukum syariah sepanjang budaya dan adat-istiadat tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam. 

“Dengan kata lain, proses akulturasi budaya atau sinkretisme budaya dan agama sangat mungkin terjadi dalam ajaran Islam,” ujar Kiai Said.

Contoh paling kongkret dalam hal ini, lanjutnya, adalah prosesi tahlil atau kita mengenalnya dengan sebutan “tahlilan” untuk mendoakan orang meninggal dunia yang diambil dari tradisi budaya pra-Islam sebagai wadah, digabungkan dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur'an, shalawat serta dzikir pada Allah yang sangat dianjurkan oleh ajaran Islam, sebagai isi dan substansi dari acara tahlil itu sendiri.

Tradisi tahlilan menurutnya adalah gabungan sekaligus ramuan kreatif antara budaya di satu pihak dan ajaran agama di pihak yang lain. Sebagai budaya, proses tahlilan dari awal hingga akhir (selama tujuh hari berturut-turut, dilanjutkan di hari ke 40, 100 hari bahkan sampai ke peringatan tahunan/haul) merupakan infrastruktur yang berfungsi menguatkan sekaligus mengokohkan pelaksanaan syariat Islam dalam arti membaca fragmen-fragmen penting dari ayat-ayat suci Al-Qur'an.

“Dengan demikian, tahlilan merupakan gabungan antara tradisi lokal dengan ajaran Islam yang kemudian telah menjadi ibadah ghairu mahdhoh yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia. Itulah implementasi dari kaidah fiqih: al-Adatul Muhakkamah,” jelas Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan ini.

Dalam kesempatan Harlah ke-91 ini juga dimeriahkan oleh penampilan Grup Musik Wali dan Cak Lontong yang melontarkan joke-joke segar. Terlihat hadirin yang memadati tempat acara terpingkal-pingkal menyimak banyolan Cak Lontong.

Hadir juga Menteri Susi Pudjiastuti, Mensesneg Pratikno, Ketua DPR RI Setyo Novanto, Menristek Dikti M. Nasir, Menpora Imam Nahrawi, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, dan sejumlah tokoh lain. (Fathoni)

Posisi Bawah | Youtube NU Online