IMG-LOGO
Pustaka

Taman Surga di Makam Keramat

Kamis 2 Februari 2017 14:0 WIB
Bagikan:
Taman Surga di Makam Keramat
Tidak ada yang bisa penulis ucapkan setelah membaca sebuah buku karya Tuan Guru Abdul Aziz Sukarnawadi ini selain dengan dahsyat dan luar biasa. Kata-kata tersebut memang tidak berlebihan dilekatkan pada buku tersebut sebab ketika membacanya dari halaman ke halaman seakan-akan kita diperintah untuk membuang seluruh akal sehat (common sense) dengan berbagai keistimewaan serta kalam-kalam ulama pada buku tersebut.

Kendati Tuan Guru Abdul Aziz lahir dari kandung Nahdlatul Wathan (NW), namun tulisan-tulisannya juga menjadi hujjah bagi kalangan Nahdliyyin (Sebutan untuk warga NU) untuk membela amaliyahnya yang selama ini selalu diserang dan mencoba untuk diluluhlantakkan oleh segelintir masyarakat di luar Ahlussunnah wal Jamaah. Sambutan yang diberikan oleh KH Abdillah As’ad, Direktur Aswaja NU Center Banyuwangi sudah memberi garansi betapa bagus dan direkomendasikan buku tersebut.

Buku ini mengupas tuntas tentang kemuliaan menziarahi makam-makam keramat Kekasih Allah untuk berdoa, bertabarruk, berdzikir dan lain sebagainya yang merupakan tradisi mulia yang sudah menjadi kebiasaan para ulama terkemuka dari masa ke masa serta dari berbagai penjuru dunia. Dengan tenang para ulama terpercaya itu berkeyakinan, kuburan keramat lah jendela astral bagi umat manusia untuk menggapai dengan mudah tangan Tuhan kapan saja mereka inginkan. Tentunya, jendela gaib itu akan terbuka bagi para hamba yang percaya dan dengan hati yang insyaf akan kekuasaan Allah. (hlm. 2)

Namun, pendidikan modern saat ini merubah paradigma pemikiran kita ke arah yang sangat progesif dengan menafikan hal-hal yang dianggap serba TBC (Tahayyul, Bid’ah, Churafat). Dan yang cukup memprihatinkan saat ini adalah banyak kader-kader dari Ahlussunnah wal Jamaah mulai terjangkiti dengan gaya pendidikan saat ini. Mereka tidak akan segan mencap kufur bahkan Syirik terhadap segala hal-hal amaliyah yang dianggap dapat merusak akal sehat. Bahkan dengan dalil mencegah kekufuran tersebut, segelintir orang berusaha untuk membongkar makam-makam keramat tersebut dengan Pekikan Takbir. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka.

Sebuah hadits riwayat at-Tirmizi disebutkan bahwa siapapun yang meninggal dunia maka kuburnya akan menjadi taman surga atau pun liang api neraka sebagaimana ditentukan oleh amal perbuatannya di dunia. Jikalau seperti itu, lantas bagaimana dengan makam para Nabi dan Wali? Sudah tentu makam mereka menjadi taman surga. Bagi orang-orang merasa, ketika mereka menziarahi makam keramat berarti ia sejenak meninggalkan area duniawi dan sejenak singgah di alam surga, lalu kembali ke dunia dengan membawa nikmat raksasa dari SurgaNya. Atas dasar itulah bangunan makam nabi dan wali kemudian dimegahkan, dikubahkan, dikelambui dan diwangikan, sebagai bentuk penghormatan yang setinggi-tingginya kepada taman surga tersebut beserta penghuninya.

Yang menarik dalam buku ini ialah terdapat kalam-kalam para Ulama terkemuka yang menjelaskan tentang kemuliaan, manfaat serta Ijabah-nya doa-doa para ulama ketika berdoa di makam keramat tersebut. beberapa ulama yang memberikan kesaksian tentang kuburan keramat ialah Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Syekh Abdul Aziz ad-Dabbagh, Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’roni, Syekh Muhammad Alawi al-Maliki, Imam Ibnu Hibban, Imam Jalaluddin as-Syututi, Imam Abu Hamid al-Ghazali serta banyak ulama lainnya yang memberi keistimewaan tentang menziarahi makam-makam keramat. Imam as-Syafi’i contohnya dalam kitab Tarikh Bahgdad karya al-Khatib al-Baghdadi pernah berkata “Sesungguhnya aku bertabarruk dengan Imam Abu Hanifah (699-767 M) dan menziarahi makam beliau setiap hari. Apabila aku mempunyai hajat tertentu, maka aku melakukan sholat dua rokaat lalu mendatangi makam beliau dan berdoa di sana. Tidak lama kemudian hajatku terpenuhi.” (hlm. 11)

Tidak hanya itu, dalam buku ini juga terselip titah Habib Luthfi bin Yahya selaku pimpinan Jam’iyyah Ahl at-Thariqoh al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN). Beliau berpesan kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk menziarahi makam-makam Wali untuk menarik pertolongan, petunjuk serta perlindungan Allah SWT. Sebab dengan sering menziarahi para wali (baik yang hidup atau pun wafat) bisa menimbulkan kecintaan serta Keridhoan Allah sehingga rahmat, keberkahan serta ampunanNya selalu terlimpah, jauh dari bencana, musibah, penyakit serta diberi kelancaran rezeki. (hlm. 76)

Dari pemaparan singkat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa merupakan tradisi yang sangat mulia untuk senantiasa mengunjungi makam-makam keramat yang dipercaya sebagai kekasihnya. Sebab Allah swt selalu ada serta dekat dengan para kekasihnya, Allahpun menyuruhmu untuk menghadap kepada para kekasihnya. maka jadikanlah kekasihnya sebagai wasilah-mu terhadap Allah SWT.

Data Buku
Judul : Ayat-Ayat Makam Keramat; Menggapai Tangan Tuhan Lewat Kuburan
Penulis :  H. Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc, M.A.
Penerbit : CV Aswaja Pressindo
Terbitan : Maret, 2016
Tebal : x + 102 halaman; 12 x 19 cm
Peresensi : Mukhammad Ichwanul Arifin, Mahasiswa UIN Sunan Ampel dan Pengurus IPNU Surabaya.

Bagikan:
Rabu 1 Februari 2017 1:0 WIB
IT dan Santri di Era ‘Cyber Culture’
IT dan Santri di Era ‘Cyber Culture’
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara meluncurkan Program National Born to Control di Ruang Roeslan Abdul Gani Kementerian Kominfo, Jakarta, Senin (30/01/2017). Program ini diluncurkan, karena pemerintah melihat permasalahan utama dalam mengatasi ancaman di dunia siber, adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM), padahal ancaman serangan siber sangat tinggi.

Langkah antisipastif terkait dunia siber itu, adalah hal yang patut diapresiasi di satu sisi. Tetapi di sisi yang lain, merupakan sinyal betapa di era teknologi informasi (IT) yang kian canggih dari waktu ke waktu, maka memahami dan menguasai IT ke depan, menjadi sebuah keniscayaan.

Keniscayaan itu, juga tidak bisa dielakkan oleh para santri, baik yang belajar di madrasah maupun pondok pesantren. Dengan kata lain, santri kekinian tidak cukup bisa mengaji, fasih membaca serta memaknai kitab kuning, atau pandai dalam hal bahtsul matsa’il saja, melainkan harus melek IT dan dunia siber yang tak bisa dihindari.

Menilik dari fakta itu, buku ‘’Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren: Pelajar dan Santri dalam Era IT & Cyber Culture’’ karya Abdulloh Hamid M.Pd., hadir pada waktu yang sangat tepat.  Buku  ini mengingatkan pentingnya menguasai IT dan dunia siber dalam era global village ini.

Menariknya, karya dosen Program Studi (Prodi) Sistem Informasi pada Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya, ini banyak memberikan wawasan mengenai karakter dari berbagai perspektif di bagian-bagian awal, khususnya dalam perspektif keislaman.

Antara lain, empat karakter Rasulullah Muhammad SAW., yakni shidiq (jujur), tabligh (menyampaikan), amanah (dapat dipercaya), serta fathanah (pandai/cerdas), yang kemudian dilanjutkan dengan memaparkan formula untuk mencapai karakter mulia menurut Imam Al-Ghazali. (hal. 25-26)

Abdulloh Hamid kemudian melanjutkan pemaparannya mengenai nilai karakter peserta didik (siswa/ murid) berdasarkan kajian kitab Ta’lim al-Muta’allim, seperti menghargai ilmu, menghormati guru (ustadz), dan memuliakan kitab/ buku. (hal. 27)

Basis pemahaman karakter itu, merupakan hal mendasar yang sangat penting dan tidak bisa diabaikan, karena bisa menjadi pengontrol dan ‘pemandu’ bagi para santri dalam memanfaatkan IT.

Bagi para santri, keharusan memanfaatkan kemajuan IT, sebagaimana dikemukakan Hasan Chabibie ST. MT. dari Pustekkom Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dalam catatan penutupnya (epilog), karena dengan itu mereka bisa men-trigger keilmuan dengan cepat dan sebagai proses akselerasi pembelajaran di bilik pesantren. (hal. 167)

Ketua PP Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) KH Abdul Ghaffar Rozin, dalam catatan pembuka (prolog) di buku ini berharap, pesantren-pesantren bisa mengantarkan putera-puteri bangsa menjadi komponen bangsa yang berkarakter-religius, serta melem IT.

Harapan itu tentu tidak terlontar begitu saja. Pada kenyataannya, persaingan global yang semakin ketat kini, mensyaratkan peserta didik (siswa/ santri) tidak sekadar menjadi generasi yang cerdas dan berkarakter saja, tetapi harus memiliki berbagai keunggulan kompetitif. (hal. V)

Dengan berbekal keunggulan kompetitif itulah, para kader bangsa akan survive dalam kehidupan di tengah kompleksitas permasalahan global yang mendera. Sementara nilai-nilai karakter yang dimiliki, akan menjadi pemandu dalam menjejakkan langkah mengarungi bahter kehidupan di era IT dan cyber culture yang ada. (*)

Data Buku:

Judul Buku : Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren (Pelajar dan Santri dalam Era IT & Cyber Culture)
Penulis      : Abdulloh Hamid M.Pd.
Penerbit     : Imtiyaz, Surabaya
Cetakan I   : Januari 2017
Tebal         : 179 halaman
ISBN: 978-602-7661-62-2
Peresensi: Rosidi, penggiat literasi NU Kudus; pengurus ISNU Kabupaten Kudus dan staf Humas di Universitas Muria Kudus (UMK)

Ahad 29 Januari 2017 17:0 WIB
Membangun Pondasi Historiografi Pesantren
Membangun Pondasi Historiografi Pesantren
Bagaimana memahami alur pemikiran, pondasi pengetahuan dan historiografi pesantren? Abdul Mun'im DZ menulis refleksi mendalam tentang bagaimana membangun pengetahuan dan mengembangkan historiografi Nusantara. 

Melalui buku "Fragmen Sejarah NU", Mun'im mengembangan 'le petit histoire' (sejarah kecil) pesantren yang disambungkan dengan peta besar dunia, dalam level nasional dan internasional. 

Buku ini berusaha menggali epistemologi Nusantara sekaligus mengembangkan historiografi pesantren. Dalam buku ini, Abdul Mun'im DZ menjelaskan bahwa wajah pesantren dan Nahdlatul Ulama dalam buku-buku akademik, cenderung mengalami peyorasi dan marginalisasi gagasan. Hal ini, karena tidak adanya pemahaman komprehensif degan dimensi-dimensi kehidupan warga Nahdliyyin, dari sosiologis-antropologis hingga spiritualitasnya. 

Di sisi lain, ada warisan pemikiran dan sarjana-sarjana kolonial yang menempatkan pesantren dan jaringan kunci penggerak Nahdliyyin di lorong sepi sejarah serta pemikiran sosial. Warisan pemikiran yang khas kolonial ini, tidak memberi ruang bagi pemikiran, kekayaan budaya dan peran penting pejuang dari pesantren dalam proses panjang "menjadi Indonesia". 

Dalam buku ini, Mun'im juga menjelaskan ada dua proses pencarian ilmu, yang selama ini menjadi kekayaan peradaban Nusantara. Yakni, rihlah (lelono broto, perjalanan ilmiah) dan uzlah (topo broto). Perjalanan panjang untuk memahami dunia dengan segenap pengalaman, kemudian dikoneksikan dengan renungan dalam pertapaan untuk mengheningkan diri dan pikiran (hal. 17-18). 

Gagasan yang tumbuh dalam ruang hening, merupakan kristalisasi ide untuk memahami sesuatu yang berkecamuk dalam dunia luar, yang diperas selama perjalanan. Untuk itu, banyak kiai pesantren yang sering melakukan perjalanan panjang untuk silaturahmi, sekaligus melakukan renungan dalam kesunyian untuk mengendapkan pengalaman. Dari proses inilah, gagasan khas para begawan Nusantara mengalir. 

Sejarah kecil gagasan besar

Kisah-kisah yang ditampilkan dalam buku ini sangat menarik. Bahkan, ada beberapa yang merupakan kisah istimewa, karena belum pernah dipublikasikan dalam buku ataupun media massa. Kisah-kisah rahasia itu, hasil wawancara pribadi maupun perbincangan penulis dengan warga Nahdliyyin selama perjalanan. Kisah-kisah tentang tokoh NU yang menjadi kunci dalam beberapa kebijakan strategis negara, jarang terdengar dalam perbincangan publik. Peran tokoh NU di lingkaran intelijen juga menjadi penting dipahami. 

Misalkan, sebuah kisah tentang bagaimana Gus Dur berdialog dengan Ali Moertopo, Ketua Operasi Khusus (Opsus) yang kemudian menjadi Ketua Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN). Ketika itu, Gus Dur baru pulang dari belajar di Mesir, Irak dan perjalanan berkeliling Eropa. Kedatangan Gus Dur berhasil menggebrak jagad intelektual Indonesia, dengan argumentasi yang jernih dan cemerlang. 

Ketika Gus Dur mulai menuliskan pemikirannya, banyak tokoh yang merasa putra Kiai Wahid Hasyim ini akan menjadi intelektual cemerlang. Ali Moertopo, sebagai petinggi intelijen tertarik dengan sosok Gus Dur. Ia mengundang Gus Dur dalam diskusi terbatas di bawah koordinasi BAKIN. Menghadapi Ali Moertopo, Gus Dur mampu berdebat dan melempar argumentasi secara tajam, jernih serta tidak mudah dipatahkan. Singkatnya, Gus Dur berhasil membuat Ali Moertopo simpatik dengan pikiran jernihnya. Dari jaringan intelijen, Gus Dur berkenalan dengan Benny Moerdani dan orang-orang penting dalam jajaran intelijen negara (hal. 211-213). 

Bagaimana dengan sosok Subhan ZE? Dalam buku ini, disebutkan bagaimana Subhan merupakan kader muda Nahdliyyin yang matang dalam peta politik. Manuver-manuver Subhan ZE sangat penting untuk memahami bagaimana warga NU bersikap, terutama dalam konstelasi politik level nasional dan internasional. 

"Saat itu para kader NU selalu mendapatkan informasi tentang perkembangan politik, sehingga tahu peta politik nasional, sehingga mereka cerdik dalam politik. Nasehat itu menjadi pegangan aktifis NU dalam mengantisipasi perkembangan politik nasional pada awal Orde Baru, " tulis Mun'im (hal. 192). Kisah-kisah penting yang jarang terdengar serta analisis jernih tentang manuver tokoh NU dalam pendulum sejarah bangsa sangat penting disimak. 

Buku ini menjadi catatan sekaligus renungan berharga, bagaimana membangun pohon pengetahuan yang berakar dari pemikiran Nusantara, dengan ragam tradisi, pembelajaran dan khazanah sejarahnya. 

Data Buku
Judul: Fragmen Sejarah NU: Menyambung Akar Budaya Nusantara
Penulis: Abdul Mun'im DZ
Penerbit: Compass Pustaka Jakarta
Cetakan: Januari 2017 
Tebal: xxii+413 hal
ISBN: 978-602-60537-2-5
Peresensi: Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Rabu 25 Januari 2017 5:1 WIB
Anwar al-Nujum: Kitab Tafsir Biografi Nabi karya Habib Luthfi
Anwar al-Nujum: Kitab Tafsir Biografi Nabi karya Habib Luthfi
Foto tersebut adalah halaman sampul dan halaman pertama dari manuskrip kitab berjudul “Anwâr al-Nujûm fî Tafsîr Laqad Jâ’akum” karangan Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan, tokoh sentral Nahdlatul Ulama (NU) yang memimpin JATMAN (Jam’iyyah Ahli Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah) sebagai Rais Aam Idarah Aliyah.

Manuskrip ini penulis temukan secara tak sengaja di rak buku perpustakaan pribadi milik Habib Luthfi di ndalem beliau, Pesantren Kanzus Shalawat, Pekalongan, Jawa Tengah, saat Anjangsana Islam Nusantara bersama rombongan kawan-kawan dosen Pascasarjana STAINU Jakarta, Selasa (24/01/2017) dini hari.

Jumlah keseluruhan naskah 52 halaman, ditulis dalam bahasa Arab dengan corak aksara Arab Naskhî. Kondisi naskah sangat bagus, demikian juga dengan tulisan naskah, ditulis dalam khat yang sangat rapi, indah, dan mudah dibaca.

Di halaman sampul, tertulis teks yang menegaskan judul kitab, isi kitab, sekaligus nama pengarangnya. Tertulis di sana:

كتاب
أنوار النجوم
في تفسير
لقد جاءكم
للفقير تحت تراب نعل المصطفى
صــــــــــلى الله عليــــــه وسلم
الراجي شـفاعته في الــــدارين
أبي محمد بهاء الدين العلوي
محمد لطفي بن علي
بن هاشــم بن عمر
بن طه بن يحي
بـــــاعلوي
الحسيني

Tidak ada kolofon yang menjelaskan kapan kitab ini mulai ditulis dan diselesaikan. Ketika saya konfirmasi kepada Habib Luthfi, beliau mengatakan jika kitab “Anwâr al-Nujûm” ini beliau tulis lebih dari dua puluh tahun silam. Artinya, kitab ini ditulis pada akhir tahun 1980-an atau awal tahun 1990-an. Beliau juga mengatakan jika kitab “Anwâr al-Nujûm” ini belum selesai.

Kitab ini secara umum memberikan penjelasan (tafsir) atas QS. at-Taubah ayat 128, yang berbunyi:

{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ}

Melalui jendela tafsiran ayat tersebut, Habib Luthfi hendak lebih dalam dan jauh lagi mengulas tentang biografi Kanjeng Nabi Muhammad SAW, menyelami samudera keutamaan, kemuliaan, kesempurnaan, dan keluhuran sosok pribadi beliau. Jadi, bisa dikatakan kitab ini adalah tafsir biografis (tafsîr al-sîrah) dari Nabi Muhammad.

Penulis sendiri sudah meminta izin untuk menyalin naskah kitab ini dari Habib Luthfi, dan beliau pun memberikan izin. Keberadan salinan kitab ini pun semakin melengkapi koleksi perpustakaan Pusat Kajian Islam Nusantara, Pascasarjana STAINU Jakarta, yang menghimpun karya-karya ulama Nusantara sepanjang abad. 

Tentu, keberadaan kitab ini kian memperkaya khazanah keilmuan Islam di Nusantara dan kian memberikan asupan data dan horizon baru bagi penelitian atasnya.

Pekalongan-Rembang, Januari 2017

A. Ginanjar Sya’ban, Dosen Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG