IMG-LOGO
Pustaka

Kitab Fiqih Terbesar Syekh Arsyad Banjar yang Tersimpan di Saudi

Rabu 22 Februari 2017 17:0 WIB
Bagikan:
Kitab Fiqih Terbesar Syekh Arsyad Banjar yang Tersimpan di Saudi
Ini adalah gambar halaman pertama dan kedua dari manuskrip kitab “Sabîlul-Muhtadîn fît-Tafaqquh bi Amrid-Dîn” (berarti “Jalan Para Pencari Petunjuk dalam Mempelajari Perkara Agama”) karangan ulama besar Nusantara abd ke-18 M asal Kesultanan Banjar, yaitu Syekh Muhammad Asyad ibn ‘Abdullâh al-Banjarî al-Jâwî (Syekh Muhammad Arsyad Banjar, w. 1227 H/ 1812 M).

Kitab ini berisi kajian tentang fiqih ibadah menurut madzhab Syafi’i, mencakup kajian tentang bersuci, sembahyang, zakat, puasa, haji, perburuan, dan makanan. Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu beraksara Jawi, dan dicatat sebagai kitab fiqih ibadah terbesar berbahasa Melayu klasik dalam sejarah khazanah literatur Islam Nusantara.

Adapun gambar naskah ini saya dapatkan dari koleksi perpustakaan Universitas King Saud, Riyadh, KSA, dengan nomor kode 2318. Dalam data identitasnya, disebutkan jika naskah ini adalah tulisan tangan sang pengarang, yaitu Syekh Muhammad Arsyad Banjar, dengan tititamangsa penulisan pada hari Ahad, 27 Rabi’ul Akhir 1195 Hijri (bertepatan dengan 22 April 1781 M).

Tertulis di halaman identitas manuskrip ini;

217.3 س.ب / 2318 / سبيل المهتدين للتفقه في أمر الدين (باللغة الجاوية)، جمع البنجاري، محمد أرشد بن عبد الله _ كان حيا 1195 هـ. بخط الجامع 1195 هـ

Sayangnya, dalam kolofon tidak disebutkan tempat dilakukannya penyalinan naskah. Namun jika benar ini adalah naskah tulisan tangan Syekh Arsyad Banjar atas kitab karangannya yang fenomenal itu, maka naskah ini adalah naskah yang sangat istimewa yang menjadi naskah acuan utama.

Tebal keseluruhan naskah ini 288 halaman. Setiap halaman berisi rata-rata 23 baris teks. Kondisi tulisan naskah sangat bagus, jelas, dan mudah dibaca. Teks pada naskah ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu beraksara Jawi, dengan tinta berwarna merah dan hitam.

Dalam pembukaan, Syekh Arsyad Banjar mengatakan bahwa dirinya diminta oleh Sultan Banjar pada masa itu, yaitu Sultan Tamhidullah anak dari Sultan Tamjidullah (juga bergelar Sunan Nata Alam, memerintah 1761-1801 M), untuk menulis sebuah kitab yang berisi kajian fiqih (yurisprudensi) Islam madzhab Syafi’i dalam bahasa Jawi (Melayu), agar dapat dijadikan acuan dan pedoman oleh masyarakat Muslim Kesultanan Banjar.

Syekh Arsyad Banjar menulis;

طلب مني في سنة جصقع من سني الهجرة النبوية على صاحبها من ربه أفضل الصلاة وأزكى التحية، الملك الهمام ذو الفطانة والرأي التام، صفي الذهن عزيز الافهام، صاحب التدبير على أهل بلاده البنجرية، القائم بإصلاح الأمور الدينية والدنيوية، سيدنا المعظم وقدوتنا المكرم، مولانا السلطان تمحيد الله بن السلطان تمجيد الله، تغمده الله تعالى برحمته وأدام ملكه وذريته، ولازالت أفلاك دولة ملكه في مدار ذرياته دائرة، ومابرحت سحائب احسانه وجوده على رعاياه ماطرة ... أن أضع له كتابا في الفقه على مذهب الإمام الشافعي رضي الله عنه، مترجما بلغة الجاوي المعروفة لأهل بلاده المحمية.

(Telah meminta kepadaku pada tahun J-SH-Q-‘A (1193) Hijriah, seorang raja yang bijaksana, pemilik kecerdasan dan pandangan yang sempurna, yang hatinya bening dan pemahamannya tajam, pemilik kekuasaan atas Negeri Banjar, yang melakukan segenap usaha perbaikan atas hal-hal agama dan negara, tuan junjungan kita yang agung dan pemimpin kita yang mulia, Sultan Tamhidullah putra dari Sultan Tamjidullah, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat atasnya, melanggengkan kerajaan dan keturunannya, yang mana poros kerajaannya masih terus berputar, dan gemawan kebajikan dan kedermawanannya masih terus membasuhi rakyatnya … (memerintahkanku) untuk menulis sebuah kitab dalam bidang fiqih madzhab Syafi’i RA, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawi (Melayu) yang diketahui dan difahami oleh para penduduk negeri Banjar).

Sebenarnya, sebelum upaya penulisan kitab “Sabîlul-Muhtadîn” ini, terdapat sebuah kitab fiqih yang mengkaji masalah-masalah ibadah dan ritual yang ditulis dalam bahasa Melayu, yaitu kitab “al-Shirâth al-Mustaqîm” karangan seorang ulama Nusantara dari Kesultanan Aceh, Syekh Nûr al-Dîn Muhammad ibn ‘Alî ibn Hasanjî al-Rânîrî (Nuruddin Raniri, w. 1069 H/ 1658 M). Sejak dikarangnya “al-Shirâth al-Mustaqîm” pada tahun 1054 H (1644 M), kitab tersebut telah tersebar luas dan sangat populer di kalangan Muslim Nusantara, serta dijadikan rujukan oleh lembaga-lembaga pendidikan dan hukum di pelbagai Negara-Kesultanan di Nusantara.

Hal ini sebagaimana juga diungkap oleh Syekh Muhammad Arsyad Banjar;

إن كتاب العالم الفاضل الشيخ نور الدين الراني المسمى بالصراط المستقيم في الفقه على مذهب الإمام الشافعي من أحسن الكتب المترجمة باللغة الجاوية، لأن مسائله مأخوذة من عدة الكتب الفقهية، لاسيما انه مشتمل على النصوص والنقول، ومن ثم انتفع به الناس وتلقوه بالقبول، جزى الله مؤلفه بمحض فضله

(Sesungguhnya kitab karangan seorang alim nan utama Syekh Nuruddin al-Rani[ri] yang bernama “al-Shirâth al-Mustaqîm” dalam menerangkan fiqih madzhab Syafi’I, adalah sebaik-baik kitab [dalam bidang tersebut] yang diterjemahkan [ditulis] ke dalam bahasa Jawi [Melayu]. Hal ini karena kajian-kajian di salamnya diambil dari beberapa sumber fiqih rujukan, karena itulah banyak orang yang mengambil kemanfaatan darinya, dan menerimanya dengan ramai. Semoga Allah membalas budi baik sang pengarangnya dengan keutamaanNya).

Namun, rupanya ada banyak hal yang perlu disempurnakan dari kitab “al-Shirâth al-Mustaqîm” tersebut. Sebagaimana yang ditulis oleh Syekh Muhammad Arsyad Banjar;

ولكن لما كان في بعض عباراته خفاء على بعض المستفيدين، تضمنه على لغة الآشي يجهلها غير أهلها من الطالبين، وكان في بعضها تحريف وتبديل وفي بعضها سقط كل ذلك من تصرف النساخ الجاهلين ...

(Tetapi di dalam kitab [al-Shirâth al-Mustaqîm] tersebut terdapat beberapa bahagian ungkapan yang terasa asing nan samar bagi para pengkaji, karena ia banyak memuat unsur bahasa Aceh yang tidak difahami oleh para pengkaji yang bukan penuturnya, di samping di banyak tempat dalam kitab tersebut juga telah terdapat kesalahan, perubahan, bahkan pengurangan yang diakibatkan oleh kesalahan para penyalin [naskah] yang kurang cakap).

Dalam upaya menulis kitab “Sabîlul-Muhtadîn”, Syekh Muhammad Arsyad Banjar pun merujuk kepada kitab-kitab referensial dalam fiqih madzhab Syafi’i, seperti “Fath al-Wahhâb bi Syarh Manhaj al-Thullâb” karangan Syekh Zakariyâ al-Anshârî, “Mughnî al-Muhtâj ilâ Ma’rifah Alfâzh al-Minhâj” karangan Syekh al-Khatîb al-Syarbînî, “Tuhfah al-Muhtâj bi Syarh al-Minhâj” karangan Syekh Ibn Hajar al-Haitamî, “Futûhât al-Wahhâb bi Taudhîh Syarh Manhaj al-Thullâb” (Hâsyiah al-Jamal) karangan Syekh Sulaimân ibn Manshûr al-Jamal al-Azharî, dan “Nihâyah al-Muhtâj bi Syarh al-Minhâj” karya Syams al-Dîn al-Ramlî.

Kitab ini pertama kali dicetak di Istanbul pada tahun 1300 H/1882 M atas inisiasi Syekh Ahmad al-Fathânî (Patani), kepala percetakan kitab-kitab berbahasa Jawi (Melayu) pada percetakan Negara Ottoman. Setelah versi cetak Istanbul, kitab ini kemudian dicetak ulang di Mekkah dan Kairo. Data cetakan “Sabîlul-Muhtadîn” di Istanbul pada tahun 1300 Hijri ini dapat dilacak dalam sumber arsip pemerintahan Imperium Ottoman untuk wilayah Hijaz (Hicaz Vilayet-i Salnamesi; Yil 1300 Hicri).

Pertanyaan lanjutan pun kian bermunculan; “Apakah kitab “Sabîlul-Muhtadîn” versi cetakan pertama di Istanbul pada tahun 1300 H (1882 M) tersebut berlandaskan pada naskah tulis tangan Syekh Arsyad Banjar (bertitimangsa 1195 H/ 1781 M) yang kini tersimpan di Riyadh dan sedang diperbincangkan ini?” (A. Ginanjar Sya’ban)


Bagikan:
Kamis 16 Februari 2017 7:30 WIB
Mal-Hayat li Ahlil Mamat, Polemik Wahdatul Wujud di Nusantara Abad Ke-17
Mal-Hayat li Ahlil Mamat, Polemik Wahdatul Wujud di Nusantara Abad Ke-17
Ini adalah halaman pertama dan kedua dari kitab “Mâl-Hayât li Ahlil-Mamât” karangan ulama besar Nusantara di Kesultanan Aceh asal Rander (Gujarat, India), Syaikh Nûr al-Dîn Muhammad ibn ‘Alî ibn Hasanjî ibn Hamîd al-Rânîrî al-Syâfi’î (dikenal dengan Nuruddin al-Raniri, w. 1069 H/ 1658 M).

“Mâl-Hayât li Ahlil-Mamât” berisi tentang kajian tasawuf berdasarkan “papakem” resmi (sunni), sekaligus meluruskan pandangan tasawuf filsafat (teosofi) yang berkecenderungan pada paham pantheisme (wahdatul wujud) dan pada masa itu berkembang dengan cukup semarak di wilayah Kesultanan Aceh dan wilayah “Buldân Taht al-Rîh” (Negeri Bawah Angin atau Nusantara) lainnya.

Kitab “Mâ al-Hayât” ini, bersama kitab-kitab setema karangan Syaikh Nuruddin al-Raniri lainnya seperti “Hujjah al-Shiddîq li Daf’ al-Zindîq”, “Fath al-Mubîn ‘alâ al-Mulhidîn”, dan “al-Tibyân fî Ma’rifah al-Adyân”, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam upaya membendung perkembangan paham Pantheisme di Nusantara, untuk kemudian merubah alur paham dan kajian tasawuf Islam ke arah yang resmi (ortodoks), yaitu tasawuf sunni.

Paham Pantheisme (Wahdatul Wujud, atau bersatunya eksistensi [dzât] manusia dan alam semesta dengan Tuhan) telah berkembang di Kesultanan Aceh dan beberapa wilayah Nusantara lainnya sekitar paruh pertama abad ke-17 M. Di antara ulama Aceh pada masa itu yang menyokong paham ini adalah Syaikh Hamzah al-Fanshûrî (w. ?) dan Syaikh Syams al-Dîn al-Samathrânî (Syamsuddin Sumatrani, w. 1039 H/ 1630 M). Di Jawa, terdapat tokoh yang dikenal dengan Syaikh Siti Jenar yang juga menjadi penghulu paham ini.

Berbeda dari Syaikh Siti Jenar di Jawa yang hingga saat ini keberadaannya masih misterius dan karya-karyanya belum terlacak, kedua tokoh dari Kesultanan Aceh, yaitu Syaikh Hamzah Fansuri dan Syaikh Syamsuddin Sumatrani, sosok dan jejak intelektualnya dapat dilacak dengan sangat baik. Karya-karya keduanya masih dapat dijumpai, sehingga memudahkan peneliti untuk mengkajinya.

Di antara karya Syaikh Hamzah Fansuri yang memuat pandangan-pandangan tentang teosofi dan paham pantheismenya adalah “Syarâb al-‘Âsyiqîn” (Minuman Para Perindu). Sementara pandangan serupa dari Syaikh Syamsuddin Sumatrani dapat ditelisik dalam karyanya yang berjudul “Mirât al-Muhaqqiqîn” (Cermin Para Ahli Kebenaran).

Baik Syaikh Hamzah Fansuri ataupun Syaikh Syamsuddin Sumatrani, kedua-duanya memiliki kedudukan tinggi dan pengaruh besar di dalam Kesultanan Aceh, baik di dalam lingkungan bangsawan kerajaan atau pun masyarakat awam. Syaikh Syamsuddin Sumatrani adalah mufti, qadhi, dan imam besar Kesultanan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (memerintah 1607-1636 M).

Ketika Syaikh Syamsuddin Sumatrani wafat pada 1630 M, lalu disusul oleh wafatnya Sultan Iskandar Muda pada tahun 1636 M, peran dan pengaruh Syaikh Nuruddin al-Raniri mulai mewarnai dan menancap di Kesultanan Aceh, dengan paham dan pemikiran yang jauh berbeda dari Syaikh Syamsuddin Sumatrani. Syaikh Nuruddin al-Raniri membawa faham tasawuf Islam yang resmi dan “lempang” (sunni), tidak “liyan” dan “meliuk-liuk” seperti Syaikh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani sebelumnya.

Tidak banyak sumber-sumber rujukan yang memuat data dan informasi tentang sosok Syaikh Nuruddin al-Raniri sebelum kedatangannya ke Aceh. Yang jelas, beliau adalah orang India, berasal dari Ranir (Rander), sebuah kawasan pesisir di wilayah Gujarat, India. Melihat jejak intelektual dan karya-karya besarnya, bisa dipastikan jika Al-Raniri adalah sosok ulama yang memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni, serta menguasai banyak bahasa; Arab, Persi, Gujarati, Melayu, dan Aceh.

Al-Raniri lalu tiba di Kesultanan Aceh pada tahun 1636 M dan mengajar di sana. Reputasinya segera melejit dan gaung intelektualnya membahana. Nama besarnya segera sampai di lingkungan Kesultanan Aceh. Sultan Aceh yang memerintah waktu itu, yaitu Sultan Iskandar Tsani (memerintah 1636-1641 M), mendaulat Syaikh Nuruddin al-Raniri menjadi mufti, qadhi, dan imam besar kesultanan.

Karir al-Raniri sebagai mufti, qadhi, dan imam besar Kesultanan Aceh terus berlanjut selepas kemangkatan Sultan Iskandar Tsani pada tahun 1641 M, yang mana tampuk kekuasaan diteruskan oleh istrinya, Sultanah Tajul Alam Shafiyatuddin Syah Berdaulat Zhillullah fil ‘Alam (Sultanah Shafiyatudin, memerintah 1642-1675 M).

Reformasi besar-besaran dan radikal terhadap paham keagamaan di lingkungan Kesultanan Aceh dilakukan dengan sangat serius oleh al-Raniri. Paham “wahdatul wujud” dibersihkan hingga akar-akarnya. Ia pun banyak menganggit kitab terkait masalah ini, di antaranya adalah “Mâl-Hayât li Ahlil-Mamât” (yang berarti “Mata Air Kehidupan bagi Orang-Orang yang Mata Hatinya Mati Karena Kesalahan Faham Agama”).

Ada beberapa naskah salinan dari kitab “Mâl-Hayât li Ahlil-Mamât” ini. Salah satunya adalah salinan yang tersimpan dan menjadi koleksi Drs. Nurdin AR, salah seorang kolektor manuskrip dan naskah-naskah tua dari Banda Aceh. Nurdin memiliki 3 koleksi naskah salinan atas kitab “Mâ al-Hayât”. Masing-masing dengan nomor kode MINA (Manuskrip Islam Nurdin AR) 20, MINA 24, dan MINA 56.

Nah, gambar di atas adalah gambar dari halaman pertama dan kedua dari naskah bernomor-kode MINA 56. Naskah tersebut berukuran 20x14 cm dan berjumlah 26 halaman di mana terdapat 21 baris di hampir setiap halamannya.

Adalah guru saya, Prof. Dr. Sangidu, guru besar Sastra Arab di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang mengkaji kitab “Mâ al-Hayât” sebagai bahan utama disertasi beliau. Hasil kajian tersebut kemudian diterbitkan sebagai buku dengan judul “Wachdatul Wujud; Polemik Pemikiran Sufistik antara Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Samatrani dengan Nuruddin ar-Raniri” pada tahun 2003 oleh Gama Media (Yogyakarta). Terdapat beberapa lampiran foto naskah kitab “Mâ al-Hayât” dalam buku tersebut, salah satunya adalah foto beberapa halaman naskah MINA 56. Dari sanalah saya kemudian mengambil gambar halaman naskah tersebut.

“Mâ al-Hayât” ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu beraksara Jawi. Dalam naskah salinan MINA 56, redaksi bahasa Arab ditulis dengan tinta berwarna merah, lalu diterjemahkan secara interlinier dalam bahasa Melayu dan ditulis dengan tinta berwarna hitam.

Syaikh Nuruddin al-Raniri tidak menyebutkan hari, tanggal, dan tahun ditulis dan diselesaikannya kitab “Mâ al-Hayât”. Namun, di sana beliau menyebutkan jika kitab tersebut ditulis atas prakarsa dari Sultanah Syafiyatuddin. Dalam kata pengantarnya, al-Raniri menulis;

فأشارت الي سيدتنا المكرمة ومولاتنا المعظمة بنت السلطان بن السلطان وابنة الخاقان بن الخاقان سر سلطانة تاج العالم صفية الدين شاه بردولت ظل الله في العالم

(Maka telah memerintahkan kepadaku tuan ratu kita yang mulia, junjungan kita yang agung, anak puteri dari seorang sultan anak seorang sultan, anak putri dari seorang khâqân [penguasa, bahasa Turki] anak seorang khâqân, Seri Sultanah Tajul Alam Shafiyatuddin Syah Berdaulat Zhillullâh fil ‘Alam [Bayang-Bayang Allah di Dunia]).

Al-Raniri kemudian melanjutkan;

أن أجمع رسالة تبين مذهب الصوفي الموحدي من مذاهب الوجود الملحد، ليظهر الحق من الباطل وتميز المشبهة والعاطل. فألفت هذه الرسالة ولو هي في الحجمة القليلة المقدار ولكنها في الفوائد جليلة الأنوار.

(Agar aku mengarang sebuah risalah yang menjelaskan duduk perkara madzhab sufi muwahhidî [wahdatul wujud/ pantheisme], dari madzhab wahdatul wujud yang mulhid [atheis]. Agar yang haq menjadi tampak daripada yang batil, dan agar yang samar dan kabur pun menjadi jelas. Maka aku pun menulis risalah ini yang meskipun ukurannya kecil, namun faidahnya sangat agung dan sejelas cahaya).

Sebelumnya, al-Raniri menjelaskan jika paham “wahdatul wujud” yang dipandangnya menyimpang itu telah banyak tersebar di kalangan umat Muslim di kawasan “Negeri Bawah Angin” (Nusantara). Banyak pula para penyokong paham ini, hingga menjadikan masyarakat awam pun kebingungan akan pandangan keagamaan mereka. Al-Raniri menulis;

فلما ظهر قوم من الوجودية الملحدة الزنادقة شاع مذهبهم في كثير بلدان تحت الريح، وادعو كما ادعى شداد ونمرد وفرعون بل أقبح من ذلك. وقالوا إن الله نفسنا ووجودنا و(نحن) نفسه ووجوده.

(ketika sekelompok orang penganut paham wujudiyyah [wahdatul wujud] yang mulhid dan zindiq, dan pandangan mereka ini telah tersiar di banyak negeri bawah angin. Mereka mengajarkan apa yang dikatakan oleh Syadad, Namrud, dan Fir’aun, bahkan mereka lebih buruk dari itu semua. Mereka berkata bahwa Allah adalah diri kami dan wujud kami, dan [kami] adalah diri Allah dan wujud Allah).

Sayangnya, karir al-Raniri terjegal di tengah jalan, dan proyek reformasi pemikiran keagamaannya pun tersendat. Beliau kembali tergeser oleh sebagian tokoh paham “wahdatul wujud” yang masih tersisa, dan kembali mendapatkan panggung di lingkungan kesultanan. Al-Raniri pun memutuskan untuk pulang ke kampong halamannya di Rander, India. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1054 H (1644 M). Beliau meninggal di India pada 22 Dzulhijjah 1068 Hijri (21 September 1658 M).

Meski demikian, proyek reformasi keagamaan al-Raniri yang hendak mengembalikan paham keagamaan kepada jalur resmi (Sunni) dilanjutkan kembali oleh penerusnya, yaitu Syaikh Abdul Rauf Singkel (Syaikh ‘Abd al-Raûf ibn ‘Alî al-Fanshûrî al-Sinkilî al-Jâwî, 1615-1693 M). (A. Ginanjar Sya’ban)

Rabu 15 Februari 2017 14:27 WIB
Novel Perjalanan Ruhani Sunan Gunung Jati
Novel Perjalanan Ruhani Sunan Gunung Jati
“Gusti pernah bilang bila air senantiasa mengalir sampai jauh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Meskipun wadahnya berbeda-beda, air selalu memiliki permukaan yang datar. Ini adalah gambaran kodrat Gusti Allah. Dan air tidak pernah melawan kodrat Gusti Kang Murbeng Dumadi. Watak air akan membawa seseorang menempuh jalan kehidupan dengan irama yang paling mudah, dan pada akhirnya akan masuk ke samudra anugerah Gusti Allah,” ujar Patih Keling. 

“Bagaimana ketika air itu mengalir ke Pakuan Pajajaran, hingga akhirnya saling berhadapan dengan Kanjeng Eyang,” batin Syarif Hidayatullah.  

Dialog spiritual di atas menjadi semacam energi yang mengantarkan Sunan Gunung Jati menemui eyangnya, menghabiskan waktu untuk berdakwah. Jauh sebelum itu secara emosional ibunya, Syarifah Mudaim – telah memberi bekal berbagai kearifan yang tak ditemukan di tanah kelahiran suaminya. Kearifan yang akan menjadi modal utama dalam melakukan dakwah, maupun bergaul dengan para wali tanah Jawa. Melalui cerita, ia telah memberi pemahaman bagaimana bibit Islam disemaikan di daerah Caruban, diawali oleh seorang saleh bernama Syaikh Datuk Kahfi. 

Dalam Babad Tanah Sunda Babad Cirebon yang ditulis Pangeran S. Sulendraningrat, penyebar islam ini disebut dengan nama Syeh Nurjati. Santri generasi pertama yang berguru kepada Syaikh Datuk Kahfi, tak lain putra-putri Prabu Siliwangi dari permaisuri Nyai Ratu Subanglarang. Nama Nyimas Rarasantang, putri kedua Sri Baginda Maharaja Prabu Siliwangi dari permaisuri Nyai Ratu Subanglarang, setelah menunaikan ibadah haji dan menjadi istri Syarif Abdullah, Sultan Palestina. 
Jauh sebelum itu di Tanjungpura, Karawang, juga telah berdiri Pesantren Quro. Salah seorang santrinya adalah Nyai Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa dari Kerajaan Singapura Muara Jati yang masih keturunan Raja Sunda, Prabu Niskala Wastu Kancana. Nyai Subang Larang kemudian dijodohkan dengan Raden Pamanah Rasa, Putra Mahkota Kerajaan Pajajaran. Dari rahim Nyai Subang Larang ini kemudian lahir Pangeran Walangsungsang dan Nyimas Rarasantang. 

Sebelum berkenan dipersunting, Nyai Subang Larang mengajukan tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu disediakan bintang saketi. Dalam Novel Prabu Siliwangi: Bara Di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya (Edelweiss (Pustaka IIMaN Group), 2009) dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan bintang saketi tak lain adalah tasbih, yang merupakan simbol islam. Sehingga sekalipun diperistri seorang raja yang agama negaranya belum Islam, Nyai Subang Larang tetap bersikeras agar diperkenankan melaksanakan wirid dan ritual Islam lainnya. Anak-anaknya kelak harus jadi muslim dan muslimah. 

Perjalanan dakwah Syarif Hidayatullah – kelak dikenal sebagai Sunan Gunung Jati – ke bumi Jawa memetakan apa yang telah dilakukan ibu dan uwaknya, Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang. Sejarah memang senantiasa berulang. Ketika meninggalkan istana di Palestina – padahal ia telah diangkat sebagai sultan menggantikan almarhum ayahnya – seperti mengulang apa yang dilakukan uwaknya, Pangeran Walangsungsang dan ibunya Nyimas Rarasantang saat meninggalkan Keraton Pakuan Pajajaran.

Syarif Hidayatullah memperdalam nur muhammad dari satu guru mursyid kepada guru lainnya, sama persis seperti yang telah dilakukan Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang dulu. Langkah Syarif Hidayatullah pun sebenarnya menapak jejak orang tuanya dari arah sebaliknya. Bila perjalanan Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang bisa dipetakan dari Keraton Pakuan Pajajaran – Amparan Jati – Pasai – Campa – Mekkah, maka langkah Syarif Hidayatullah dimulai dari Palestina – Mekkah – Pasai – Muara Jati – Amparan Jati, lalu menempa diri di Caruban Larang sebelum menjadi bagian dari simpul perjuangan wali songo.

Syarif Hidayatullah lahir di Palestina, ketika kota itu sedang menggeliat menjadi salah satu kota metrolopolis terpenting di timur tengah. Di kota ini ayahnya, Syarif Abdullah memimpin negeri dengan latar belakang sosio culture dimana tiga agama samawi hidup tumbuh berdampingan. Masyarakat islam berdampingan dengan kaum kristiani dan Yahudi, yang ketiganya memiliki sejarah dan keterkaitan dengan kota itu sangat tinggi baik histori maupun religi. 

Hanya seorang pemimpin yang memiliki kekuatan mental untuk mendudukkan ketiga masyarakat yang berbeda secara adil itulah yang akan mampu memimpin Palestina, sebab percikan ketegangan sedikit saja bisa menimbulkan kobaran api. Dan hal itu berhasil dilakukan Syarif Abdullah, yang kemudian menurunkan sikap bijak dan tepa selira itu kepada Syarif Hidayatullah. Watak yang kemudian sangat membantu ketika menghadapi masyarakat Caruban dan Sunda, yang kala itu lebih menonjol sikap sempit wawasan, agak malas, dan tidak memiliki pengetahuan agama yang baik, sehingga melahirkan watak yang mudah menyerah dan gampang tersinggung.

Kenapa Syarif Hidayatullah memilih Jawa? Bila ibunya, Nyimas Rarasantang dan uwaknya, Pangeran Walangsungsang keluar dari Keraton Pakuan Pajajaran terdorong oleh ilham untuk mengejar nur muhammad, Syarif Hidayatullah memilih meninggalkan Palestina setelah selesai mengkaji kitab Usul Kalam. Kitab ini mengisahkan perjalanan keluarga ahlul bait yang tercerai-berai setelah peristiwa perang Jamal dan Shiffin. Nasab dari ayahnya, Syarif Abdullah, merujuk kepada keluarga bagida Ali r.a. Pertemuannya dengan Syaikh Abdullah Sidiq di Samudera Pasai, semakin menentukan bagaimana Syarif Hidayatullah akan menjadi satu titik penting dari perkembangan islam di Jawa. 

Ia kemudian bersinggungan dan saling mempengaruhi dengan para dewan wali yang telah lebih ada. Dengan Sunan Ampel yang bila dirunut akan mempertemukan pada satu leluhur yang sama. Secara historis pertemuan dengan Sunan Ampel adalah membagi daerah dakwah menjadi dua bagian besar di barat dan timur yang dibatasi Sungai Cipamali. Dari Cipamali ke barat sampai Ujung Kulon adalah wilayah dakwah Syarif Hidayatullah, yang tak lain masyarakat Sunda dan pesisir.

Sedangkan dari Cipamali sampai Blambangan yang menjadi wilayah kekuasaan Sunan Ampel, tak lain adalah masyarakat Jawa. Pemisahan ini tidak saja memisahkan dua wilayah, tapi lebih kepada memisahkan dua kultur dan histori yang berbeda – Sunda dan Jawa.  Peristiwa ini akan mengingatkan kita kepada Rakeyan Darmaraja ketika memberi wilayah jajahan kepada putranya, Raden Wijaya. Saat itu tidak ada pemisahan ini, sehingga menyatukan dua kultur yang berbeda itu dihadang banyak hambatan.

Kekuasaan Syarif Hidayatullah mulai terlihat dominan ketika Pangeran Cakrabuana menyerahkan Caruban Larang kepadanya. Ia kemudian berinisiatif menghentikan seba kepada Pakuan Pajajaran dan menyatakan sebagai negeri mandiri. Langkah politis yang kemudian telah melukai perasaan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, yang tak lain eyangnya sendiri. Prabu Siliwangi mengutus Tumenggung Jagabaya untuk memberi peringatan kepada Syarif Hidayatullah, tapi siapa yang mengira rombongan itu dihadang pasukan Caruban dan Demak. 

Prabu Siliwangi tidak menyadari bila sebelum langkah itu diambil, Syarif Hidayatullah telah memetakan wilayah dari Cipamali ke barat itu dalam genggamannya dengan menyebarkan ajaran islam di beberapa titik penting. Sehingga ketika Prabu Siliwangi melangkah jauh, wilayah Pajajaran sendiri telah terkepung. Begitu pula ketika Pajajaran berhasil mengikat kerjasama dengan Portugis, Caruban Larang telah mengikat hubungan erat dengan Demak dan Banten, yang terikat tidak saja secara politis melainkan lebih jauh dari itu – mengikat hubungan kekeluargaan melalui pernikahan.

Akhirnya langkah Syarif Hidayatullah sampai pula di Pakuan Pajajaran, bertemu dengan Prabu Siliwangi ketika Banten Surosowan telah berdiri dan Demak telah semakin matang baik secara politis maupun militer. Pertemuan mengharukan itu berakhir ketika Prabu Siliwangi menyetujui untuk menyebarkan islam di mana pun, dengan satu syarat jangan dengan paksaan dan pertumpahan darah. 

Langkah jihad Syarif Hidayatullah berkobar di Sunda Kalapa menghadapi Portugis yang telah disokong Pajajaran. Demikianlah yang bisa ditemukan dalam novel sejarah ini. Tentu saja tidak saja konflik keyakinan dan politis, ketika meretas jihad di bumi leluhur, Syarif Hidayatullah tak bisa menghindari dari kisah dramatis dan romantis, seperti juga yang dialami Nyimas Rarasantang dan Pangeran Cakrabuana ketika memilih keluar dari Keraton Pakuan Pajajaran.
 
Syarif Hidayatullah-di Jawa Barat lebih dikenal dengan Syaikh Sunan Gunung Jati-meninggalkan tanah kelahiran ayahnya untuk berguru kepada beberapa orang guru seperti kepada Syeikh Tajudin al-Kubri selama 2 tahun, Syeikh Athaillah Syazali. Di Baghdad berguru Tasawuf Rasul dan tinggal di pesantren saudara ayahnya selama 2 tahun (Sunarjo, 1983:51). Dalam waktu singkat Syarif Hidayatullah telah mempunyai banyak nama di antaranya Syaid Al kamil, Syeikh Nuruddin Ibrahim Ibnu Maulana Sultan Mahmud al-Khibti.

Nama-nama yang menyiratkan tahapan perjalanan kehidupannya intelektual dan keimanannya dari remaja hingga dewasa. Ketika ayahnnya wafat yang secara historis menjadi penerus kesultanan, dia menolak dan meminta adiknya Syarif Nurullah untuk menggantikan dirinya. Syarif Hidayatullah lebih memilih pergi ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Dalam perjalanannya ke Jawa, Syarif Hidayatullah singgah di Gujarat. 

Di sana Syaid Kamil betemu dengan Dipati Keling beserta anak buahnya. Dipati Keling dan anak buahnya masuk Islam dan mengabdi pada Syarif Hidayatullah. Kemudian mereka bersama-sama meneruskan perjalannannya menuju Jawa. Sebelum ke Jawa, Syaid Kamil singgah di Pasai. Disini Syarif Hidayatullah berguru kepada Syaid Ishak. Di Pasai mereka tinggal selama dua tahun. Setelah itu, Syaid Kamil dan rombongan meneruskan perjalan menuju ke Jawa, yang diawali dengan persinggahannya di negeri Banten. Di negeri itu sudah banyak yang memeluk agama Islam berkat binaan dari Syaid Rakhmat atau Ali Rakhmatullah seorang guru agama dari Ampel Gading yang kemudian bergelar Susuhunan Ampel.

Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, Syarif Hidayatullah diminta untuk meneruskan Ali Rakhmatullah untuk mengajar agama Islam di negeri Banten. Ketika Syaid Rakhmatullah pulang ke Ampel, Syarif Hidayatullah ikut pula ke Ampel guna lebih memperdalam agama Islam. Ketika tiba di Ampel, di sana telah berkumpul para wali. Pada saat itu para wali sedang membagi pekerjaan untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Setelah bersilaturahmi dengan para wali, maka diatur mengenai siasat penyebaran Islam di Jawa. Saat itu Syaid Kamil atau Syarif Hidayatullah diminta untuk menyebarkan agama Islam di Jawa bagian Barat yaitu di tatar Sunda.

Kisah Syaikh Sunan Gunung Jati – terutama dalam kisah tradisional – lebih banyak dihiasi kisah-kisah mitos. Tentu saja kisah-kisah ini bukan untuk mengacaukan alur sejarah. Kisah-kisah mitos tumbuh dari kecintaan dan penghormatan rakyat yang mungkin berlebihan kepada sosok Syaikh Sunan Gunung Jati ini. Dan dibanding dengan fakta sejarah – terutama sumber primer – tentu kisah bercampur mitos ini terasa lebih dramatik dan tetap mengandung nilai-nilai spiritual dan moral. Sehingga dalam kaitannya untuk mengungkap nilai-nilai luhur yang tak banyak terungkap dalam fakta sejarah primer itulah, pembaca dapat menemukan kisah-kisah bercampur mitos dalam alur novel Suluk Gunung Jati : Novel Perjalanan Ruhani Syaikh Syaikh Syarif Hidayatullah ini. 

Novel Suluk Gunung Jati: Perjalanan Ruhani Syaikh Syarif Hidayatullah, bukanlah laporan dokumenter. Kendati fakta-fakta sejarah menjadi landasan utama, pada akhirnya tetap memerhatikan unsur-unsur dramatik sebuah novel. Sehingga Syaikh Gunung Jati dalam interaksi kesehariannya tetap dipandang sebagai sosok manusia yang memiliki emosi. Sisi romantisme sebagai seorang lelaki dewasa berkelindan dalam alur yang tidak paralel ini. E. Rokajat Asura berhasil menghubungkan dan menyambungkan antara sejarah dan kebenaran mengenai riwayat dan ajaran Sunan Gunung Jati. 

Di dalamnya tersaji tidak hanya dinamika perjuangan dakwah dan konflik politik, penulis juga menampilkan romansa percintaan. Inilah yang menjadikan novel ini manusiawi dan menyentuh hati pembaca. Dengan dasar sumber tertulis maupun cerita tutur, lewat novel ini kita seperti diajak menyelami tafsir atas perjalanan ruhani Syarif Hidayatullah dalam berdakwah. Islam yang diperkenalkan Sunun Gunung Jati adalah Islam yang ramah dan menghargai nilai-nilai budaya lokal. 

Novel sufistik ini menjadi menarik, setidaknya karena dua hal. Pertama, kehadiran novel ini mengisi kelangkaan, untuk tidak dibilang ketiadaan, novel sejarah Islam di Indonesia masa kini. Kedua, lewat novel ini kita diingatkan kembali pada metode dakwah para wali di masa lampau yang bersemangat merangkul, bukan menggertak apalagi menghukum seperti yang mulai marak akhir-akhir ini. Dan sungguh novel ini terbit pada saat yang tepat, saat Indonesia membutuhkan inspirasi untuk kembali belajar ramah dan menghargai nilai-nilai budaya dalam bingkai kebhinekaan. Saya kira, dua hal tersebut sudah cukup untuk menjadikan novel ini wajib 'ain untuk disebarkan dan dibaca.

Data buku:
Judul: Suluk Gunung Jati: Novel Perjalanan Ruhani Syaikh Syarif Hidayatullah 
Penulis: E. Rokajat Asura
Terbit: Agustus, 2016
Tebal: 347 halaman
ISBN: 978-602-7926-26-4
Peresensi: Faried Wijdan, warga NU, tinggal di Depok, Jawa Barat.

Selasa 14 Februari 2017 9:30 WIB
Kontribusi Cina dalam Islamisasi Nusantara
Kontribusi Cina dalam Islamisasi Nusantara
Proses penyebaran Islam di Nusantara telah melalui babakan sejarah yang sangat panjang. Perihal waktu yang menjadi permulaan tersebarnya agama yang pertama kali diperkenalkan di jazirah Arabia ini, para sarjana berbeda pendapat. Ada yang mengatakan sejak abad ke-7 M, yakni sejak permulaan perkembangan Islam di tanah kelahirannya, abad ke-12 M, dan seterusnya. Namun menurut Azyumardi Azra, proses laju islamisasi Nusantara yang paling cepat baru dimulai sejak abad ke-12 dan 16 M.

Dalam rentang abad ke-12 dan 16 M ini penyebaran Islam di Nusantara mulai terlihat. Sumanto Al Qurtuby yang secara khusus meneliti “islamisasi Nusantara” pada abad ke 15 dan 16 M mulai dari proses penyebarannya hingga agen-agennya menghasilkan kesimpulan yang sangat memukau. Menurutnya, islamisasi di dalam rentang waktu abad 15 dan 16 yang menjadi babakan pertama dan utama tersebarnya Islam secara luas dilakukan oleh “orang-orang Cina Muslim”.

Hasil penelitian Sumanto itu ditulis dalam bukunya yang berjudul “Arus Cina-Islam-Jawa: Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Nusantara Abad 15 & 16” yang diterbitkan oleh penerbit buku-buku pemikiran progresif di Semarang, eLSA Press.

Dalam buku yang berasal dari tesisnya di program magister jurusan Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga itu, secara apik dan teliti Sumanto menyajikan data-data yang sangat lengkap berkaitan dengan penyebaran Islam di Nusantara pada abad ke-15 dan 16 M. Tidak hanya menggunakan sumber-sumber lokal Nusantara seperti Babad Tanah Djawi, Babad Gresik, Babad Tuban, dan yang lainnya, ia juga mendapuk sumber-sumber lain yang berkaitan, seperti sumber-sumber Cina: Ying-yai Sheng-lan, Hsin-cha Sheng-lan, Ming Shi, dan lain-lain, sumber Portugis: Summa Oriental, sumber Arab: ‘Ajaibil Hindi, dan yang lainnya.

Selain menggunakan sumber-sumber tertulis di atas, karya intelektual NU yang kini menjadi pengajar Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals Arab Saudi, juga diperkuat dengan cerita lisan yang berkembang di masyarakat dan situs-situs sejarah seperti makam, masjid, keraton, dan peninggalan sejarah lainnya.

Dalam buku setebal 300 halaman, Sekretaris Jenderal Komunitas Nahdlatul Ulama Amerika dan Kanada itu mendedahkan bahwa keberhasilan islamisasi di Nusantara lebih banyak diperankan orang-orang Cina Muslim yang melakukan perlawatan ke Nusantara pada abad ke 15 dan 16 M, baik karena kepentingan ekonomi, politik, maupun murni untuk berdakwah (hal. 39).

Perjumpaan orang-orang Cina dengan penduduk Nusantara sendiri dimulai sejak awal abad ke 5 M, dua abad sebelum Islam datang di jazirah Arabia. Islam hadir pada abad ke-7 M dan langsung dikenal penduduk Cina pasca Nabi Muhammad wafat. Penyebaran Islam di Cina dimulai ketika Khalifah Utsman bin ‘Affan (644-656 M) mengirim delegasi ke Changan yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash yang oleh sumber Cina disebut dengan “utusan Tan-mai-mo-ni” atau dalam bahasa Arab disebut “utusan amirul mukminin” (hal. 56-57).

Bukti-bukti historis penyebaran Islam di Cina abad ke-7 ini antara lain dengan peninggalan Masjid Huaisheng di Kanton (Arab: Kanfu) yang dibangun pada tahun 627 M. Masjid ini menurut para sejarawan seusia dengan Masjid Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Selain itu di Guangzhou Cina sendiri dipercaya terdapat makam Sa’ad bin Abi Waqqash yang hingga kini ramai diziarahi umat Islam (hal. xix, 56-57,).

Melalui penelusuran sejarah Islam di Cina, senior scholar di Middle East Institute National of Singapore ini, kemudian membuktikan penyebaran Islam di Nusantara yang disebarkan oleh orang-orang Cina Muslim yang melawat ke negeri ini. Para penyebar Islam di Jawa yang dikenal dengan “Walisongo” sebagian di antaranya adalah orang Cina, dan sebagian lain menikah dan dibantu orang-orang Cina. Pun dengan para raja di Jawa, banyak di antaranya yang orang Cina. Bahkan, Kerajaan Demak yang ditengarahi sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah “rezim Cina” (hal. 243).

Perihal kontribusi Cina Muslim dalam penyebaran Islam di Nusantara ini berhasil didedah secara nyata oleh Sumanto Al Qurtuby, baik melalui penelusuran terhadap “teks-teks kuno” maupun situs-situs sejarah dan keterpengaruhan budaya atau yang disebutnya dengan “Sino-Javanese Muslim Culture”.

Pertanyaannya kemudian, kenapa masyarakat Muslim Indonesia lebih banyak yang meyakini peran orang-orang Arab dalam penyebaran Islam di Nusantara? Buku yang diberi kata pengantar oleh almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid ini memberikan jawaban: karena sejak kedatangan penjajah Belanda ke Nusantara, orang-orang Cina selalu dijadikan “kambing hitam” atas segala kekacauan yang sebenarnya dilakukan para penjajah Belanda sendiri demi meraup keuntungan ekonomi dan politik (hal. 224-233).

Sedangkan keberadaan Arab-Muslim di Nusantara memiliki sejarah yang “mulus” tanpa ada narasi kekerasan di dalamnya, sehingga seakan-akan perannya dalam islamisasi sangat besar, padahal orang-orang Arab sendiri baru datang ke Nusantara pada akhir abad ke-18. Karena itu kontribusinya dalam penyebaran Islam di Nusantara dipertanyakan, alasannya antara lain watak Arab yang eksklusif, yakni tertutup dan tidak membuka diri untuk bersosialisasi dengan bangsa lain. Selain itu Arab Muslim juga selalu merasa superior, yakni sebagai “trah Islam tertinggi”. Dalam relasinya dengan non Arab, Arab Muslim selalu memposisikan dirinya sebagai “kelas superordinat”, sedangkan Nusantara Muslim berada di “kelas subordinat”. Relasi demikian menurut analisis penulis buku ini, tidak mungkin akan terjadi transformasi kultural dalam kehidupan masyarakat Islam Jawa (hal. 234-236).

‘Ala kulli hal, buku Arus Cina-Islam-Jawa menemukan relevansinya bagi masyarakat Indonesia saat ini yang sedang “demam keturunan Arab” dan mudah terprovokasi dengan isu-isu SARA yang terus direproduksi. Akhirnya, seperti dikatakan Ir Soekarno, bahwa “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.


Data Buku

Judul Buku: Arus Cina-Islam-Jawa: Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Nusantara Abad 15 & 16
Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Penerbit: eLSA Press, Semarang
Cetakan: I, Januari 2017
Tebal : Iv + 300 Halaman
Peresensi: Siti Nur Halimah, Pemimpin Redaksi Majalah Justisia LPM Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang.


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG