IMG-LOGO
Pustaka

Meneruskan Tradisi Penulisan ‘Tsabat’ Ulama Nusantara

Selasa 28 Februari 2017 10:30 WIB
Bagikan:
Meneruskan Tradisi Penulisan ‘Tsabat’ Ulama Nusantara
Ada satu hal yang menjadi pembeda antara tradisi intelektual pesantren dan pendidikan lainnya, yaitu adanya sanad. Dalam perspektif Ibnu Qayyim Al-Jauzy, sanad bisa dibilang melampaui linearitas eksatologis pengetahuan Islam yang biasa disebut dengan ‘ilm jally.

Tak hanya itu, Imam Syafi’i pernah berujar bahwa seandainya ilmu tidak dihafal dengan sanad di kitab maka niscaya orang-orang zindiq akan berceramah di atas mimbar. Dan adagium yang cukup masyhur dari Imam Abdullah bin Mubarak menyebutkan, sanad bagian dari agama, seandainya tanpa sanad niscaya orang-orang akan berkata semaunya sendiri (hal.7).

Bahkan sanad yang bersambung (ittishal al-sanad) menjadi salah satu syarat keshahihan sebuah hadits sebagaimana dijelaskan dalam fan musthalahul hadits. Untuk itu, ulama-ulama ahli hadits (al-muhadditsin) benar-benar memperhatikan sanad dalam disiplin ilmu mereka.Sebagian besar dari muhadditsin itu menulis kitab khusus mengenai sanad. Dalam perkembangannya, tak hanya tentang kajian hadits, semua fan keilmuan, riwayat sebuah kitab, dan genealogi keilmuan melalui guru dan murid ditulis dalam sebuah kitab yang dikenal dengan istilah tsabat.

Adalah Syaikh Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani (1916-1990), salah satu ulama Nusantara pakar hadits yang banyak menulis tsabat. Tak terhitung jumlahnya. Yang tersohor ialah Mathmah al-Wijdan fi Asanid al-Syaikh ‘Umar Hamdantiga jilid dan Bughyah al-Murid min ‘Ulum al-Asanid empat jilid. Sebelum itu, Syaikh Muhammad Mahfudz al-Turmusy al-Jawi (w.1338 H/1920 M) sudah mengawali penulisan tsabat di kalangan ulama Nusantara. Beliau menyusun tsabat berjudul Kifayah al-Mustafid fima ‘ala min al-Asanid.

Baru-baru ini, jagad turats ulama Nusantara digembirakan dengan terbitnya sebuah kitab berjudul al-Tsabat Al-Farid fi Asanid al-Syaikh Ibnu ‘Abdul Majid. Kitab yang disusun oleh Dr. Abdul Aziz Sukarnawadi ini merupakan tsabat Tuan Guru KH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (1898-1997), pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi massa Islam terbesar di Pulau Lombok, Nusatenggara Barat.

Dr Abdul Aziz menulis kitab tersebut berdasarkan ijazah Tuan Guru Zainuddin kepada ayahnya, KH Husnuddu’at. Bahkan, sang ayahtelah menulis tiga tsabat pula yang rencananya akan diterbitkan di penerbit yang sama, Maktabah Turats Ulama Nusantara, Demak Jawa Tengah, yang diketuai oleh Gus Nanal.  

Adapun Tuan Guru Zainuddin sendiri mendapat ijazah dan sanad keilmuan dari beberapa guru beliau di Makkah, di antarnya Al-‘Allamah al-Muhaddits al-Qadhi al-Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyath al-Makki al-Maliki, pengajar di Madrasah Al-Shaulatiyah dan Masjidil Haram; Syaikh ‘Abdul Qadir bin Taufiq Syalbi al-Tharabilisi al-Syami tusmma al-Madani al-Hanafi; Al-‘Allamah al-Syaikh Muhammad ‘Ali bin Husain al-Maliki yang dijuluki Imam Sibawih pada zamannya; dan lain sebagainya.

Beliau berpesan kepada para muridnya, agar mencari ilmu kepada para ahlil ilmi yang memiliki sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW. Beliau mengibaratkan sanad sebagai pipa saluran, di mana tanpanya maka tidak akan bersambung ilmu kepada para murid selamanya. Serta, jika sanad itu terputus maka merupakan pengikut setan, hawa nafsu, dan akan menyesal pada hari kiamat. Beliau bersyair (hal.37):

Guru agama pilih yang mursyid nyata
Yang tetap utuh sambungan pipanya
Jangan yang putus sambungan gurunya
Agar tak nyesal kemudian harinya .
        Murid yang putus dari gurunya
        Berarti rusak pipa ilmunya
Hilang terbakar sari ilmunya
Dibakar setan dan hawa nafsunya.


Kitab ini menjadi lebih lengkap karena mendapat kata pengantar (taqridz) dari cucu Tuan Guru Zainuddin yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Nahdhatul Wathan al-Islamiyah, pengasuh Pondok Pesantren Darul Qur’an wal Hadits Al-Majdiyah, Al-Syafiiyah, rektor IAIN Hamzanawadi Pancor, sekaligus Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Dr KH Muhammad Zainuddin al-Majdi bin Jalaluddin.

Dengan terbitnya tsabat Tuan Guru Zainuddin ini, menjadi semangat baru bagi para santri dan kiai untuk menuliskan sanad-sanad para pendiri pesantren dan masyayikh yang selama ini terpendam. Dengan begitu, genealogi keilmuan Ahlissunnah wal Jama’ah semakin kokoh serta menjadi benteng dari paham-paham radikal dan sesat di negeri ini.

Data Buku

Judul        : Al-Tsabat Al-Farid fi Asanid al-Syaikh Ibnu ‘Abdul Majid
ISBN        : 978-602-60536-1-9
Penulis     : Dr. Abdul Aziz Sukarnawadi
Tebal        : 160 hal.
Penerbit    : Maktabah Turats Ulama Nusantara, Demak
Cet           : I, 2017
Peresensi  : Farhurrahman Karyadi, alumnus Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang,pencinta manuskrip ulama Nusantara, kini tinggal di Jakarta.


Bagikan:
Ahad 26 Februari 2017 15:0 WIB
Kitab Tuntunan Dasar Islam Syekh Hasan Ma’shum, Mufti Kesultanan Deli
Kitab Tuntunan Dasar Islam Syekh Hasan Ma’shum, Mufti Kesultanan Deli
Ini adalah halaman sampul dan halaman ketiga dari kitab “Samîr al-Shibyân li Ma;rifah Furûdh al-A’yân” karangan Syekh Hasan al-Dîn ibn Muhammad Ma’shûm ibn Abî Bakr al-Dâlî al-Samatrâwî (Syekh Hasan Ma’shum Deli, w. 1937), seorang ulama besar Nusantara yang juga mufti Kesultanan Deli pada awal abad ke-20 M.

Kitab ini mengaji tentang tuntunan dasar ajaran agama Islam (ushûl al-dîn), yang mencakup kajian tentang dasar-dasar tauhid, juga dasar-dasar hukum fiqih ibadah atas madzhab Syafi’I, mulai dari bersuci, sembahyang, zakat, puasa, hingga haji.

Dalam kata pengantarnya, Syekh Hasan Ma’shum Deli mengatakan bahwa para koleganya telah berkali-kali meminta dirinya untuk menuliskan sebuah risalah yang menghimpun penjelasan tentang tuntunan dasar ajaran agama Islam bagi kalangan pemula dalam bahasa Melayu, yang mencakup kajian tauhid dan fiqih ibadah.

Syekh Hasan Ma’shum Deli menulis;

أما بعد، مك تتكالا براولغ2 فرمنتأن ستغه درفدا الاخوان سفاي همب همفونكن بجارا عقائد الايمان دان يغبركنتوغ دغن فروع شريعة درفدا شروط دان أركان قدر يغ تيادا لبه درفدا فروض الأعيان كارن هنداق دحفظكن اكندي باكي كانق2 يغ بارو بلاجر.

(Amma Ba’du. Maka tatkala berulang-ulang permintaan setengah daripada al-ikhwan supaya hamba himpunkan bicara ‘Aqaid al-Iman dan yang bergantung dengan Furu’ Syari’ah daripada syarat-syarat dan rukun-rukun kadar yang tiada lebih dari pada Furudh al-A’yan karena hendak dihafalkan akandia bagi kanak-kanak yang baru belajar).

Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi). Dalam kolofon, disebutkan bahwa karya ini diselesaikan pada malam Selasa, 29 Ramadhan tahun 1341 Hijri (bertepatan dengan 15 Mei 1923 M). Mengacu pada titimangsa penulisan, besar kemungkinan karya ini ditulis dan diselesaikan di Deli. Tertulis pada kolofon di bagian akhir kitab;

والحمد لله رب العالمين تمتن فدا مالم ثلاثا دوا فوله سمبيلن رمضان سنة 1341 هـ

Karya ini kemudian dicetak dan diterbitkan sebelas tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1934 M (1353 Hijri) di kota Kairo, oleh Maktabah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî. Tebal naskah cetakan ini sebanyak 55 halaman.

Pada versi cetakan ini, dicetak-sertakan juga karya Syekh Hasan Ma’shum Deli lainnya, yang berjudul “Tadzkirah al-Murîdîn fî Sulûk Tharîqah al-Muhtadîn” setebal 21 halaman. Karya terakhir mengkaji bidang tasawuf, etika, serta seluk beluk ajaran tarekat.

Saya mendapatkan naskah kitab ini dalam versi cetakan di atas dari sahabat saya asal Medan, al-Fadhil al-Mufti Sayyid Zuhdi, seorang graduan Universitas Al-Azhar Kairo sekaligus Program Pendidikan Fatwa pada Lembaga Fatwa Mesir, Dar al-Ifta al-Mashriyyah.

Tentang sosok pengarang karya ini, yaitu Syekh Hasan Ma’shum Deli, ia dilahirkan di kawasan Labuan, salah satu wilayah Kesultanan Deli Darus Salam di Sumatera, pada tahun 1882 M (1300 H). Pada masa itu, di daerah pesisir utara pulau Sumatra terdapat beberapa negara bersistem Kesultanan bercorak Melayu-Islam, seperti Kesultanan Deli, Kesultanan Riau-Lingga, Kesultanan Siak Inderapura, Kesultanan Asahan, Kesultanan Johor, Kesultanan Selangor, Kesultanan Jambi, dan lain-lain.

Sang ayah, yaitu Syekh Ma’shum ibn Abi Bakar Deli, tercatat sebagai ulama besar Kesultanan Deli pada masanya yang mengajar di madrasah kesultanan tersebut. Ketika berusia 10 tahun, Syekh Ma’shum membawa serta anaknya, yaitu Syekh Hasan yang kita bicarakan ini, pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Ketika sang ayah pulang kembali ke negaranya di Kesultanan Deli, sang anak tetap tinggal di Makkah untuk bermujawarah dan belajar di sana.

Di antara guru-guru Syekh Hasan Ma’shum Deli ketika berada di Makkah adalah Syekh Ahmad ibn Muhammad Zain al-Fathâni, Syekh Ahmad al-Khayyâth al-Makkî, Syekh Sa’îd Bâ-Bashîl, Syekh Muhammad Husain al-Habsyî, Syekh Abû Bakar Muhammad Syathâ, Syekh Nawawi Banten, Syekh Abdul Salam Kampar, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, dan lain-lain.

Pada tahun 1907 M (1325 H), Syekh Hasan Ma’shum pun pulang ke Kesultanan Deli. Sosoknya dikenal sebagai seorang yang berilmu pengetahuan luas. Ia pun mulai mengajar di madrasah kesultanan. Karir dan reputasinya kian cemerlang, hingga akhirnya Sultan Deli saat itu, Sri Sultan Ma’moen al-Rasyid Perkasa Alamsyah (memerintah 1879-1924 M), melantiknya sebagai mufti dan qadi Kesultanan Deli.

Di sekitar tahun 1914 M (1332 H), Syekh Hasan Ma’shum terlibat polemik dengan salah satu sahabatnya ketika belajar di Makkah dulu dan saat itu telah menjadi ulama di Ranah Minang serta menjadi salah satu tokoh gerakan pembaharuan (Kaum Muda), yaitu Syekh Abdul Karim Amrullah (ayahanda HAMKA, w. 1945 M).

Saat itu, Syekh Abdul Karim Amrullah menulis risalah berjudul “al-Fawâid al-'Aliyyah fî Ikhtilâf al-'Ulamâ fî Hukm Talaffuzh al-Niyyah”. Di sana beliau mengatakan bahwa mengucapkan “usholli” sebelum takbiratul ihram saat hendak melaksanakan shalat adalah perbuatan bid’ah dhalalah.

Syekh Hasan Ma’shum kemudian menulis risalah lain sebagai tanggapan (radd) atas risalah yang ditulis oleh kawannya itu dan membantah beberapa pendapat Syekh Abdul Karim Amrullah yang membid’ahkan pengucapan “ushalli” sebelum takbiratul ihram. Risalah tersebut berjudul “al-Quthûfât al-Saniyyah fî Radd Ba’dh Kalâm al-Fawâid al-‘Aliyyah”.

Rupanya, polemik antardua sahabat yang berbeda haluan itu, yaitu antara Syekh Abdul Karim Amrullah yang berhaluan modernis (kaum muda) dengan Syekh Hasan Ma’shum Deli yang berhaluan tradisionalis (kaum tua), sampai juga pada guru keduanya di Makkah sana, yaitu pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1916 M). Sang guru pun pada akhirnya menulis sebuah risalah untuk menyudahi polemik kedua muridnya itu. Risalah tersebut berjudul “al-Khuthath al-Mardhiyyah fî Hukm al-Talaffuzh bi al-Niyyah”. Dalam risalah tersebut, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau mendukung pendapat Syekh Hasan Ma’shum Deli sekaligus meluruskan pendapat Syekh Abdul Karim Amrullah.

Syekh Hasan Ma’shum Deli terus berkhidmah sebagai pengajar sekaligus mufti Kesultanan Deli hingga wafat pada 24 Syawal 1355 Hijri (7 Januari 1937 M). (A. Ginanjar Sya’ban)

Ahad 26 Februari 2017 6:0 WIB
Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus
Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus
Membaca kata-kata Gus Mus, dalam Saleh Ritual dan Saleh Sosial, seperti menari; ada keluwesan dan kebernasan kalimat yang tak kita dapati dalam pada aspek “di luar kata-kata tulis Gus Mus”. Kebijaksanaan kiai sepuh dan ritmisitas kepenyairannya melebur menjadi satu dan membuat kita lena, bahkan sejak awal pengantar, bagaimana kesederhanaan, dengan anehnya, dapat berpadu dengan “kemewahan” sebuah nasehat.

Gus Mus, dalam pengantarnya berjudul Takdim, mengesankan beliau telah melampaui yangfana; tentang bagaimana beliau menegaskan bukan sekadar tidak sempat, tetapi tidak bisa membikin artikel yang panjang dan “serius”; maka kebanyakan tulisan di Saleh Ritual dan Saleh Sosial pun hanya berupa catatan-catatan pendek tentang perjalanan hidup. Beliau lebih berharap buku tersebut bisa menjadi amal ibadah. Sebuah espektasi yang tidak neko-neko.

Tetapi, yang pendek-pendek itu tidak selalu pas diasosiasikan dengan tidak dalam, jelentreh, rigid. Justru, oleh Gus Mus, sesuatu yang pendek itu pas dan akan malah berasa berlebihan bila dipanjang-panjangkan. Seolah tak ada pretensi menasehati, menulis artikel untuk “mengejar sesuatu”—semisal pengakuan, honor, atau popularitas. Beliau menulis sekadar berbagi, laiknya nuturicucunya, tetapi semua seakan bermula dari keresahan yang dalam.

Kesederhanaan itulah yang kemudian rasanya akan lebih mudah diterima pembaca.Tidak ada berondongan dalil, yang kadang-kadang membuat pembaca-sambil-lalu jengah seakan “digurui”. Gus Mus bercerita, dengan kepiawaian seorang cerpenis, ihwal perumpamaan Al-Ghazali tentang posisi hati nurani, akal, anggota tubuh manusia, serta aturan agama dalam menjalankan fungsi hidup. Apakah kita sudah benar memposisikan semuanya.

Gus Mus juga lebih menggunakan tamsil-tamsil sederhana yang dilandasi atau dipungkasi satu-dua dalil, sehingga kita merasa ringan dan teredukasi (baca: terhibur) ketika membacanya. Seperti perumpamaan olahan tanah liat—dan keliatannya—sebagai representasi manusia dan api sebagai analogi setan. Juga, pada tulisan berjudul Pakaian, Gus Mus menunjukkan pengetahuannya tentang dunia mode, selaras dengan pakaian Gus Mus yang nyaris selalu modis.

Saleh Ritual dan Saleh Sosial,rasa-rasanya, pada beberapa tulisan juga begitu ensiklopedis. Contohnya tulisan berjudul Nabi yang Manusia. Gus Mus mampu menjelaskan sisi-kemanusiaan-nabi (humornya, jengkelnya, moderasinya) dengan begitu lancar, sebab boleh jadi pengetahuan yang kemudian diungkapkannya itu merupakan kristalisasi khazanah yang sudah mengendap lama di dalam pikir, sehingga sajiannya pun ringkas tetapi mantab.

Metode kritiknya pun menunjukkan kesepuhan dan barangkali sulit ditiru. Seperti dalam tulisan Kurban dan Korban. Ada kritik terselubung, yang membuat pembaca tidak berasa ditunjuk, tetapi kesadaran bahwa kita dikritik, uniknya, justru datang dari diri kita sendiri. Gus Mus menulis, Nabi Ibrahim rela mengorbankan apa yang menurut semua manusia bakal sulit dikorbankan: nyawa putranya. Berbeda dengan kita yang meski cuma mengurbankan kambing saja masih sering menyisakan pamrih.

Banguna kritik yang bertebaran di buku ini, seperti ketika Gus Mus membandingkan Rab’iah al-Adawiyah yang tidak takut neraka tetapi begitu takut bila tidak dicintai Allah dengan betapa kita takut pada kematian dalam tulisan berjudul Apabila Allah Mencintai Hambanya, membuat kita berpikir—alih-alih menentang;“itu-kan-nabi”, “itu-kan-sufi”—betapa kita, sebab kadar keimanan dan ketakwaan yang hari ini masih begini-begini saja, harus bisa mencontoh beliau-beliau itu.

Dalam kadar tertentu, beberapa tulisan bahkan terasa sangat instropektif, membuat kita merenung lama, bepikir, dan boleh jadi sampai menitikkan air mata. Seperti ketika membaca Dosa Besar, kita berpikir apakah selama ini kita adalah orang yang takabur—dengan keluasan makna sebagaimana disampaikan Gus Mus. “Orang yang berbuat dosa karena meremehkan dosa adalah orang yang takabur,” tulisnya di halaman 66. Sedang takabur adalah “dosa pertama” yang tak termaafkan.

Beberapa tulisan dalam buku ini juga menunjukkan semacam pemberontakan terhadap kemapanan, kritis konstruktif yang, “khas anak muda”. Paradigmanya masih sama: kemanusiaan. Atau, betapa Islam adalah agama yang mudah dan sangat manusiawi. Selain memotret sisi kemanusiaan Nabi Muhammad SAW dalam Nabi yang Manusia, Gus Mus juga membongkar anggapan puasa-lebih-utama dengan tanpa mengurangi pengakuan akan keagungan ibadah tersebut.

Dalam tulisan Selamat Makan, Gus Mus mengatakan, “…di Al-Qur’an sendiri, ‘perintah’ makan lebih dari tiga puluh kali difirmankan Allah. Bandingkan dengan ‘perintah’ puasa yang tidak sampai lima kali (bahkan yang menggunakan bentuk amar cuma dua kali),” tulisnya di halaman 86.Paradoks. Pasalnya, di awal tulisan, Gus Mus membeberkan stigma yang terbangun yang terangkum dalam ujaran: kau ini, makan saja yang kau pikirkan—seolah makan identik dengan aib.

Pula di dua tulisanDalih dan Dalil dan Ghairah yang relevan dengan kondisi kekinian, di mana banyak orang yang melegitimasi (mendalihkan) perspektifnya atau lebih mencenderungi dalil yang “menguntungkan” diri dan “merugikan” liyan. Meski, kita tahu, tentu saja tidak ada yang salah dari sebuah dalil. Kemudian Gus Mus mengusulkan jalan tengah; bagaimana kalau dalil yang biasanya dijadikan legitimasi tersebut dibalik.

“Misalnya, dalil tentang keharusan taat kepada pimpinan, biar rakyat saja yang me-‘wirid’-kannya, para pemimpin dan penguasa biar me-‘wirid’-kan dalil tentang kewajiban pemimpin dan penguasa untuk jujur dan adil. Dalil kehebatan lelaki biar dipegangi kaum wanita saja; dalil keagungan wanita biar dipegang kaum lelaki,” tulis Gus Mus di halaman 103. Dengan begitu maka akan terwujud suasana saling memperbaiki diri, guyub, dan bukannya saling menuntut.

Dalam Ghairah, Gus Mus mengumpamakan agama adalah istri. Kepada agama, sebagaimana kepada istri, kita mempunyai ghairah yang kuat, sebab adanya cinta yang begitu dalam. Tetapi, ghairah tersebut bisa juga lebih dekat kepada nafsu dan menegasikan akal sehat manakala kita tidak bisa menguasainya. Fanatisme yang tidak dilandasi dengan logika-aqli, objektivitas, dan cenderung fobia terhadap “mereka” yang tidak sama dengan “kita” adalah biangnya.

Maka Gus Mus menutup tulisan tersebut dengan firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena Allah, saksi-saksi yang adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum (menurut kebanyakan mufasir, “kaum” di sini artinya malah orang-orang kafir) mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS 5:8)

Data buku:
Judul buku : Saleh Ritual Saleh Sosial
Penulis : KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus)
Penerbit : DIVA Press
Cetakan : 2016
Tebal : 204 halaman
Peresensi: Syamsul Badri Islamy, Ketua LTN NU Kota Bekasi.

Sabtu 25 Februari 2017 16:0 WIB
Kitab Ulama Madinah yang Bahas Tradisi Kematian Muslim Nusantara
Kitab Ulama Madinah yang Bahas Tradisi Kematian Muslim Nusantara
Ini adalah halaman sampul dan halaman pertama dari naskah kitab “Kasyf al-Muntazhir li mâ Yarâhu al-Muhtadhir” karangan seorang ulama besar Madinah, Syaikh Burhân al-Dîn Ibrâhîm ibn Hasan al-Kûrânî al-Madanî (Ibrahim al-Kurani, w. 1101 H/ 1690 M), yang juga maha guru ulama Nusantara generasi abad ke-17 M.

Kitab ini termasuk langka, karena tidak terlacak dalam daftar karya-karya Syaikh Ibrahim al-Kurani di beberapa sumber bibliografi berbahasa Arab tentang karya-karya al-Kurani. Saya sendiri mengetahui keberadaan kitab ini di sela-sela diskusi dengan sahabat yang budiman dari Aceh, Masykur Syafruddin.

Saya menemukan kopian naskah ini dalam kajian dan suntingan yang dilakukan oleh Abdullah Maulani, yang juga menjadi skripsinya pada Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayataullah Jakarta, dan diajukan pada 28-06-2016. Maulani mendapatkan naskah “Kasyf al-Muntazhir” dari koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dengan nomor kode 135/A/19/75, rol. 2.

Naskah koleksi ANRI di atas merupakan naskah salinan, terdiri dari 10 lembar. Dari ke-10 lembar itu, yang berisi teks hanya 7 halaman saja. Tidak disebutkan sosok identitas penyalinnya. Dalam kolofon, hanya disebutkan tahun penyalinan pada 1250 Hijri (1834 M). Di sana terdapat juga identitas pemilik naskah, yaitu Muhammad ‘Idrûs ibn Badruddîn al-Buthûnî, yang merupakan Sultan Buton ke-29 (memerintah sepanjang tahun 1824-1851).

Tertulis di sana;

تم تسويده سنة 1250. كتاب كشف المنتظر لما يراه المحتضر تأليف سيدي العارف بالله العامل الكامل أبي عبد الله إبراهيم بن حسين الكوراني الشهرزوري قدس الله سره العزيز ونفعنا به أمين. تم. ملك الفقير الحقير محمد عيدروس بن الفقير بدر الدين البطوني.

“Kasyf al-Muntazhir” ditulis oleh al-Kurani untuk merespon sebuah pertanyaan yang datang dari Nusantara. Pertanyaan tersebut meminta fatwa dan pandangan al-Kurani tentang sebuah tradisi menjemput kematian dan meregang nyawa (sakaratul maut) yang lumrah berlaku di Nusantara kala itu.

Dalam kata pengantarnya, Syaikh Ibrahim al-Kurani menulis;
أما بعد. فقد سئلت: أيها الأخ المحاط بحفظ الله المحيط بكل باد ومستور صاعد أو نازل أو مستقر في بسائط البسيط من شر كل ذي شر في الجو والأرض في الطول والعرض آمين، عن كلام قلت انه اعتمده أكثر أهل الجاوة وعظموا أمره حتى كأنه لا يصح ولا تتم معرفة الله عندهم إلا بمعرفته، وهو أن المريض إذا اشتد مرضه وأشرف فيه الى الموت فليمد نفسه الى الرأس ثم ينظر ماذا يبدو اليه من الصور والأشخاص.

“Ammâ ba’du. Saya telah ditanya. Wahai saudara yang dijaga oleh penjagaan Allah yang maha luas [pengetahuan-Nya] atas segara sesuatu yang tampak dan samar, naik dan turun, atau pun tetap. Bahwa aku telah ditanya tentang sebuah pendapat yang banyak dijadikan bahan acuan oleh kebanyakan orang Negeri Jawi [Nusantara], yang mana mereka mengagungkan hal tersebut, sehingga seolah-olah tidaklah benar dan sempurna pengetahuan mereka akan Allah kecuali jika mereka sudah mengetahui hal tersebut. Yaitu; ketika seorang yang sakit parah yang mendekati ajalnya, maka ia harus meletakkan tangannya di kepalanya, lalu ia akan melihat berbagai macam bentuk dan rupa).

فإن نظر بعينه أسود فهو إبليس فليقل لا إله إلا الله هو هو. وإن نظر أصفر فهو يهودي فليقل لا إله إلا الله هو هو هو. وإن نظر أخضر فهو جبريل فليقل قل هو الله أحد يا محمد أنت الله هو هو. وإن نظر أبيض فهو محمد صلى الله عليه وسلم فليقل ما شاء الله كان للمؤمنين يا هو هو.

(Jika ia melihat sinar berwarna hitam, maka itu adalah Iblis. Hendaklah ia mengucap Lâ Ilâha Illallâh Huwa Huwa. Jika ia melihat sinar berwarna kuning, maka itu adalah Yahudi. Hendaklah ia mengucap Lâ Ilâha Illallâh Huwa Huwa. Jika ia melihat sinar berwarna hijau, maka itu adalah Malaikat Jibril. Hendaklah ia mengucap Qul Huwallâhu Ahad, yâ Muhammad, Antallâhu Huwa Huwa. Jika ia melihat sinar berwarna putih, maka ia adalah Nabi Muhammad. Hendaklah ia mengucap Mâ SyâAllahu Kâna lil Mu’minîn Yâ Hâ Huwa).

Pertanyaan tersebut kemudian dilanjutkan dengan soalan apakah hal di atas benar adanya menurut ajaran agama Islam dan termaktub dalam kitab-kitab hadits ataukah tidak? Pertanyaan tersebut kemudian dilanjutkan dengan bacaan dan amalan apa saja yang hendaknya dibacakan dan dilakukan seseorang ketika kematian datang menjemputnya agar mendapatkan husnul khatimah.

Tentu saja, al-Kurani dibuat terkejut dengan pertanyaan yang cukup aneh dan asing itu. Hal ini ditambah lagi dengan redaksi pertanyaan yang, menurut keterangan al-Kurani, datang dalam bahasa Arab yang kurang bagus (al-rakîkah).

Menjawab pertanyaan di atas, al-Kurani pun dengan tegas mengatakan jika hal di atas sama sekali tidak ada sandarannya dalam ajaran agama Islam, tidak juga terdapat dalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab rujukan yang otoritatif. Al-Kurani menulis;

والجواب الإجمالي إن هذا التفصيل لا أصل له في شيئ من كتب الأحاديث فيما وقفت عليه، ولا في شيئ من كتب القوم.

Lalu, dari manakah kira-kiranya bersumbernya keyakinan dan pandangan menjemput kematian orang-orang Muslim Nusantara pada abad ke-17 M seperti yang diungkapkan di atas?

Terlepas dari itu semua, yang jelas keberadaan naskah “Kasyf al-Muntazhir li mâ Yarâhu al-Muhtadhir” ini sangat penting, baik dalam kajian khazanah keislaman di Nusantara, ataupun di Timur Tengah. Naskah ini menarik karena ia terhitung naskah langka karangan Syaikh Ibrahim al-Kurani yang tak terlacak dalam sumber-sumber berbahasa Arab, selain karena naskah ini ditulis oleh seorang ulama sentral Madinah pada zamannya guna merespon soalan yang datang dari “Ahlu Jâwah” (Nusantara).

Keberadaan kitab ini juga melengkapi karangan al-Kurani lainnya yang khusus ditulis untuk merespon soalan-soalan Islam Nusantara pada abad ke-17 M, yaitu “Ithâf al-Dzakî bi Syarh al-Tuhfah al-Mursalah ilâ Rûh al-Nabî”, dan “al-Jawâbât al-Gharâwiyyah li As’ilah al-Jâwiyyah al-Juhriyyah”. (A. Ginanjar Sya’ban)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG