IMG-LOGO
Nasional
HAUL RADEN FATTAH

Hubbul Wathon Minal Iman, Jargon Pertahankan NKRI

Senin 13 Maret 2017 11:45 WIB
Bagikan:
Hubbul Wathon Minal Iman, Jargon Pertahankan NKRI
Demak, NUOnline
Ulama di seluruh Nusantara sejak tahun 1914 sudah punya komitmen tinggi terhadap keutuhan bangsanya. Nasionalisme ini sudah lahir sejak negara ini hidup dalam penjajahan yang begitu panjang dan melelahkan yang mengakibatkan penderitaan rakyat di dalam negerinya sendiri.

Ulama NU di bawah komando Rais Akbar KH Hasyim Asy'ari bersama para ulama NU yang lain menggerakkan dan membangkitkan sifat nasionalis pada seluruh elemen masyarakat yang dimulai dari para kiai dan santri. Salah satunya yang dilakukannya adalah saat menerima utusan presiden Soekarno berkaitan hukum membela dan mempertahankan bangsa dan negara bagi warga oleh penjajah. KH Hasyim Asy'ari pun mengatakan wajib ain tanpa pengecualian untuk mempertahankannya. Mulai saat itulah dia mengeluarkan fatwa jargon hubbul wathon minal iman.

Demikian disampaikan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat memberikan tausiyah pada haul agung ke-514 raja Islam pertama Kanjeng Sultan Fattah di Alun Alun Masjid Agung Demak Sabtu, (11/3) malam.

“Ketika Mbah Hasyim menerima ajudan presiden Soekarno mengenai hukum warga membela bangsanya, beliau menjawab dengan tegas, fardlu ain (tidak boleh tidak) dan saat itulah Mbah Hasyim berfatwa atau mengeluarkan jargon hubbul wathon minal iman. Ini bukan hadis tapi fatwa Mbah Hasyim,”  kata KH Said Aqil Siroj.
 
Kang Said begitu akrab dipanggil, menambah ada hal menarik yang dimiliki Ulama NU, yaitu ulama memiliki jiwa nasionalis yang tinggi sedangkan para eksekutif atau pemangku pemerintahan mempunyai jiwa nasionalis yang agamis ssehingga menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia sulit diganggu dari pengacau bangsa. Ia contohkan negara di kawasan Timur Tengah yang berantakan karena para ulamanya tidak mempunyai sifat nasionalis yang tinggi dan pemerintahan yang berjalan cenderung mengutamakan kelompoknya.

“Kita patut bersyukur karena para ulama dan kiai kita mempunyai jiwa nasionalis yang kuat, para pemimpinnya punya jiwa nasionalis dan agamis yang menyatu. Negara lain tidak mempunyai hal semacam ini,” katanya.

Dijelaskannya, agenda besar para ulama dalam menyatukan bangsa  tidak perlu diragukan lagi. Sudah sewajarnya jika pemerintah bekerjasama dengan NU yang berkomitmen membangun integritas dan karakter bangsa.

“Dari dulu hingga sekarang kiai dan ulama punya andil besar untuk bangsa ini. Makanya NU siap melakukan kerjasama dengan pemerintah untuk kesejahteraan rakyat,” tambah Kiai Said

Haul agung  yang dihadiri ribuan jamah tersebut juga dihadiri Bupati Demak HM Natsir, Wabup Joko Sutanto, ketua DPRD Demak H Nurul Muttaqin, Kapolres, Dandim serta SKPD, Rais Syuriyah KH Alawy Mas'udi, Ketua PCNU Demak KH Musadad Syarif serta pengurus NU dari cabang sampai ranting se-Kabupaten Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Mukafi Niam)
Bagikan:
Senin 13 Maret 2017 22:18 WIB
Kondisi Kesehatan Kiai Hasyim Sudah Terkendali
Kondisi Kesehatan Kiai Hasyim Sudah Terkendali
Jakarta, NU Online
Kondisi kesehatan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi sudah terkendali dan semakin baik dibandingkan beberapa hari terakhir, kata Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Masduki Baidlowi.

"Terkendali, kondisi Pak Hasyim membaik," kata Baidlowi di Jakarta, Senin.

Masduki sendiri sudah membesuk Hasyim yang saat ini masih dirawat di RS Lavalette, Malang, Jawa Timur.

Dia mengatakan sejumlah pejabat juga sempat menjenguk anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu.

Di antara para tokoh itu seperti Menteri Sosial Khofifiah Indar Parawansa, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo serta tokoh lainnya.

Masduki mengatakan Hasyim saat ini belum dapat berbicara seperti keadaan normal karena masih dipasangi alat bantu kesehatan.

Tokoh senior NU tersebut, kata dia, hanya dapat berkomunikasi dengan bahasa isyarat dengan tangan. Tim medis rumah sakit menginstruksikan agar Hasyim tidak banyak berbicara demi proses penyembuhan.

"Tangan kanan menggunakan infus, mulut ditutup. Beberapa alat bantu dipakai untuk memberi pasokan udara ke dada. Maka, beliau tidak boleh banyak berbicara," kata dia.

Menurut Masduki, Hasyim awalnya enggan dirawat di rumah sakit. Namun seiring desakan keluarga dan kondisi kesehatan yang memburuk membuatnya harus rawat inap.

"Harapannya agar segera sehat kembali," kata dia. (Antara/Mukafi Niam)
Senin 13 Maret 2017 21:23 WIB
LDNU Bimbing Aktivis Lingkungan Hidup Jadi Mualaf
LDNU Bimbing Aktivis Lingkungan Hidup Jadi Mualaf
Dini Setyorini (depan).
Jakarta, NU Online
Salah seorang aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat Bidang Lingkungan Dini Setyorini memutuskan untuk memeluk agama Islam. Ia dibimbing Wakil Bendahara Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kiai Moh. Shodiq untuk mengucapkan dua kalimat syahadat di Kantor LDNU, lantai 6 Gedung PBNU, Jakarta, Senin (13/3) .

Dini Setyorini menceritakan, keluarga almarhumah ibunya semuanya beragama Islam. Sejak kecil, ia sering ikut shalat bersama saudara-saudaranya yang beragama Islam meski ia tidak mengerti apa yang dibaca. 

“Sejak kecil sudah mengenal Islam. Sejak kecil juga sering ikutan salat. Gak tau sih bacanya apa, artinya apa,” kata Dini. 

Ia mengaku masuk Islam atas kehendak sendiri dan tidak ada paksaan dari siapapun. 

“Keluarga saya semua Katolik. Bapak, ibu, dan saudara-saudara saya, hanya keluarga nenek saya saja yang muslim. Karena sering pulang kampung saat lebaran (dengan saudara-saudara muslim di kampung) jadi terbiasa, ” jelasnya.

Perempuan lulusan Universitas Persada Indonesia YAI ini mengaku tertarik masuk Islam sejak tiga tahun yang lalu. Sejak itu, ia mulai mencari tahu tentang Islam. 

Ia merasa lega setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia berharap bisa belajar Islam dengan lebih baik lagi. 

“Yang saya tahu Islam itu baik. Semoga saya menjadi muslimah yang baik,” harapnya.

Sementara itu, Kiai Moch Shodiq berharap saudari Dini Setyorini bisa mengkampanyekan wajah Islam yang damai dan toleran.  

Dini, lanjut Kiai Shodiq, memeluk Islam setelah melakukan dialog panjang dengan teman-teman aktivisnya. Menurutnya, Dini semakin mantap memeluk Islam karena di dalam Islam semuanya diatur, termasuk di bidang lingkungan hidup seperti perburuan dan penyembelihan hewan. 

“Sampai tata cara penyembelihan dengan pisau yang sangat tajam biar tidak sakit. Termasuk hewan lain tidak boleh melihat hewan yang akan disembelih, termasuk juga terhadap lingkungan, tumbuh-tumbuhan. Itu semuanya diatur (di dalam Islam),” jelasnya.

Kiai Shodiq berharap Dini bisa menjadi muslimah yang sempurna, yaitu mengamalkan seluruh ajaran Islam. Sebagai seorang aktivis lingkungan yang berinteraksi dengan aktivis lingkungan internasional, Kiai Shodiq berharap kepada Dini agar bisa menampilkan wajah Islam yang sejuk. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)
Senin 13 Maret 2017 21:0 WIB
Twitter Indonesia Minta Netizen Bijak Gunakan Medsos
Twitter Indonesia Minta Netizen Bijak Gunakan Medsos
Jakarta, NU Online
Manager Public Policy Twitter Indonesia Agung Yudhawiranata meminta kepada pengguna media sosial (netizen) untuk bijak dalam menggunakannya, yaitu supaya bisa dijadikan alat sillaturrahmi, dan agar tidak merugikan diri sendiri.

“Jangan sampai perilaku di sosial media itu jadi menghilangkan silaturahmi di dunia nyata,” kata Agung pada acara hari lahir (Harlah) ke-62 Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di masjid An-Nahdlah PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (11/3).

Pria berambut gondrong dan berkacamata ini juga mengatakan, agar pengguna media sosial tidak mudah tersinggung. 

“(Pengguna) sosial media jangan baperan, jangan di bawa pake perasaan. Itu penting!,” tegasnya.

Karena kalau mudah tersinggung dalam ber-sosial media, lanjutnya, nanti bisa merusak hubungan silaturrahmi yang hal tersebut bukan manfaat dari sosial media. “Karena sebetulnya, manfaatnya untuk menambah silaturrahmi, bukan untuk megurangi silaturahmi,” jelasnya

Agung juga meminta kepada pengguna twitter untuk jangan ragu bilamana ada yang mengancam dengan kekerasan, bahkan pembunuhan. “Jangan ragu-ragu untuk nglaporin! Lapor ke kita atau ke polisi,” ujarnya

Saat salah satu peserta bertanya tentang akun-akun yang suak menebar kebencian. Ia menanggapi dengan memberikan langkah-langkah alternatif. 

“Kita bisa memilih untuk nglaporin, boleh. Memilih untuk mencuekin saja, boleh,” katanya. (Husni Sahal/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG