IMG-LOGO
Internasional

Piagam Den Haag Hasil Konferensi Internasional Islam Nusantara

Sabtu 1 April 2017 9:33 WIB
Bagikan:
Piagam Den Haag Hasil Konferensi Internasional Islam Nusantara
Pembacaan Piagam Den Haag.
Amsterdam, NU Online
Pada Senin, 28 Maret 2017 lalu sebuah kegiatan konferensi internasional mengenai Islam moderat di Indonesia telah diselenggarakan di kampus Vrije Universiteit Amsterdam dengan mengangkat tema “Rethinking Indonesia’s Islam Nusantara: From Local Relevance to Global Significance”. Konferensi yang diselenggarakan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda ini terselenggara berkat dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag dan Kementerian Agama Republik Indonesia, serta atas kerja sama erat dengan Vrije Universiteit Amsterdam, Persatuan Pemuda Muslim Eropa (PPME), Belanda, dan Masjid Al-Hikmah, Den Haag. 

Tidak kurang dari 30 orang pemakalah dan sekitar 250 peserta dari berbagai negara dan disiplin ilmu berpartisipasi pada forum ilmiah yang dibuka oleh Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, ini. Konferensi internasional ini juga sangat istimewa karena dihadiri oleh lima Duta Besar Republik Indonesia di berbagai negara, yakni berturut-turut Dubes RI untuk Belanda (I Gusti Agung Wesaka Puja), untuk Aljazair (Safira Machrusah), untuk Lebanon (Achmad Chozin Chumaidy), untuk Arab Saudi (Agus Maftuh Abegebriel), dan untuk Azerbaijan (Husnan Bey Fananie). Dari kalangan Nahdliyyin, hadir KH. Zulfa Mustofa dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama serta puluhan perwakilan Cabang Istimewa NU dari berbagai negara, yakni Belgia, Jerman, Inggris, Rusia, Maroko, Tunisia, Lebanon, dan Malaysia.

Konferensi internasional Islam Nusantara yang di masa depan diharapkan akan menjadi agenda dua tahunan (biennial) ini terdiri atas dua bagian, yakni kuliah umum dan diskusi panel. Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, membuka acara dan sekaligus menyampaikan keynote speech pada sesi kuliah umum. Selanjutnya dilanjutkan oleh Dubes RI untuk Aljazair Safira Machrusah, intelektual muda NU Ahmad Baso, peneliti mengenai Islam di Eropa Prof. Dr. Thijl Sunier dari Vrije Universiteit Amsterdam, dan Dr. Adib Abdus Shomad dari Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama. 

Sementara itu, diskusi panel dibagi menjadi delapan kelompok yang membahas Islam Nusantara dari berbagai aspek berlainan, yakni: (1) akar intelektual dan relevansi kekinian; (2) reproduksi dan diseminasi melalui berbagai institusi pendidikan; (3) dinamika hukum Islam, adat dan sistem legal; (4) dinamika demokrasi, kewarganegaraan dan hak asasi manusia; (5) konteks ketimpangan sosial-ekonomi dan krisis ekologi; (6) dinamika “media baru” dan otoritas keagamaan; (7) konteks pluralitas keagamaan; dan terakhir (8) dialog dengan lokalitas, termasuk dalam konteks Eropa. Konferensi ini ditutup dengan beberapa catatan kritis yang disampaikan oleh Prof. Dr. Karel Steenbrink dari Utrecht University. 

Selain ceramah dan diskusi, konferensi ini juga diisi dengan photo exhibition yang menampilkan presentasi poster dan foto-foto terpilih mengenai berbagai sisi kehidupan Islam Nusantara di Indonesia. Secara keseluruhan, konferensi internasional ini menyampaikan pesan kunci berupa signifikansi Islam Nusantara terhadap upaya-upaya global menjawab berbagai persoalan yang dihadapi umat manusia di seluruh dunia dewasa ini, seperti kekerasan sektarian, ketimpangan sosial-ekonomi, xenophobia, Islamophobia, dan krisis ekologi global. 

Untuk menguatkan pesan kunci ini, hasil-hasil konferensi kemudian dirumuskan dalam bentuk Piagam Den Haag yang berjudul “Islam Nusantara untuk Perdamaian, Keadilan dan Persaudaraan Seluruh Umat Manusia”. Piagam Den Haag ini dideklarasikan dan ditandatangani pada 29 Maret 2017 dalam acara malam kebudayaan berjuluk Nusantara Night yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag. Acara Nusantara Night ini merupakan bentuk dukungan Dubes RI untuk Belanda, I Gusti Wesaka Puja, atas penyelenggaraan konferensi internasional dan sekaligus penguatan atas pesan-pesan utama yang dihasilkannya. 

Duta Besar RI untuk Aljazair, Safira Machrusah, berkenan membacakan Piagam Den Haag yang berisi empat konsideran dan enam butir pernyataan ini. Dua konsideran pertama berturut-turut mengangkat persoalan global yang dihadapi umat manusia dewasa ini dan bagaimana persoalan global tersebut telah melemahkan otoritas pemerintah yang sah dan sekaligus memberi peluang bagi sebagian kelompok untuk mengampanyekan populisme dan kekerasan atas nama etnis dan agama.

Konsideran ketiga menggarisbawahi kontribusi besar yang diperankan Islam Nusantara sebagai faktor pengikat kemajemukan bangsa Indonesia, pembentuk identitas nasional dan sistem politik demokratis, serta pilar tatanan masyarakat madani yang kuat. Sedangkan konsideran yang terakhir menegaskan Islam Nusantara sebagai modal sosial-politik yang sangat berharga bagi eksistensi bangsa Indonesia, baik dalam kaitannya dengan persoalan dalam negeri maupun dalam pergaulan yang lebih luas di tingkat regional dan global.

Berdasarkan empat konsideran di atas, enam butir pernyataan dan seruan bersama ditegaskan dalam Piagam Den Haag ini, sebagaimana dikutip secara utuh sebagai berikut:

1. Bangsa Indonesia harus terus merawat, memupuk dan menumbuh-kembangkan “Islam Nusantara” serta membuatnya kian responsif di tengah proses transformasi global yang menimbulkan dampak ketimpangan, krisis identitas dan pergolakan geo-politik yang marak dewasa ini.

2. Bangsa Indonesia dengan modal sosial-politik “Islam Nusantara” harus terus  berperan aktif dalam mengarus-utamakan pesan-pesan dasar Islam mengenai perdamaian, keadilan, persaudaraan dan kemaslahatan seluruh umat manusia.

3. Bangsa Indonesia perlu menjadikan “Islam Nusantara” sebagai bagian penting dari diplomasi budaya Indonesia dalam rangka mewujudkan politik luar negeri yang bebas dan aktif sesuai amanat konstitusi.

4. Bangsa Indonesia dituntut untuk mengoptimalkan kerjasama dan kontribusi dari seluruh potensi yang mendukung visi di atas, baik di dalam negeri sendiri, di antara para diaspora Indonesia di berbagai negara, maupun para mitra di semua negara sahabat.

5. Menyerukan kepada seluruh bangsa dan pemerintahan di dunia untuk bersama-sama dan bahu membahu “melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

6. Menyerukan kepada anggota Nahdlatul Ulama pada khususnya dan seluruh umat Islam Indonesia pada umumnya untuk terlibat aktif dengan semua komponen bangsa dalam mewujudkan tradisi Islam yang penuh rahmat seperti dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan dalam menentang segala bentuk fanatisme keagamaan, penyelewengan atas segala hal yang dianggap sakral, maupun semua bentuk ceramah yang menyeru kepada kebencian dan kepicikan.

Setelah dibacakan, Piagam Den Haag ditandatangani oleh sepuluh pihak sebagai berikut: Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Duta Besar RI untuk Aljazair, Libanon, Arab Saudi dan Azerbaijan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, perwakilan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU), perwakilan diaspora Muslim Indonesia di Belanda, lalu aktivis dialog agama dan perdamaian di Belanda.

Selain ditandatangani sepuluh pihak di atas, tidak kurang dari 120 undangan yang menghadiri acara Nusantara Night ini turut membubuhkan tanda tangan di lembar terpisah sebagai bentuk dukungan moral terhadap pesan yang disuarakan oleh Piagam Den Haag ini. Tamu undangan ini berasal dari berbagai kalangan, seperti para pembicara dan pemakalah dalam forum konferensi internasional, utusan PCINU, para akademisi dari berbagai universitas di Belanda, diaspora Indonesia di Belanda, aktivis perdamaian dan dialog lintas agama, dan jurnalis.

(Red: Fathoni)

Tags:
Bagikan:
Sabtu 1 April 2017 18:30 WIB
PCINU Sudan Gelar Silaturahim Lintas Organisasi dan Mahasiswa
PCINU Sudan Gelar Silaturahim Lintas Organisasi dan Mahasiswa
Khartoum, NU Online
Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan bekerja sama dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Sudan mengelar acara sosialisasi keorganisasian pada, Jumat (31/03), pukul 16.00 waktu setempat.

Acara bertema “Tak Kenal maka Tak Sayang” ini berlangsung di sekretariat PPI Sudan, Khartoum, Sudan. Turut hadir Duta Besar RI untuk Sudan dan Eritrea Burhanuddin Badruzzaman, pengurus organisas-organisasi kemahasiswaan Sudan, dan para mahasiswa yang ada di Sudan.

Dalam kesempatan itu Rais Syuriah PCINU Sudan Ribut Nur Huda memaparkan tentang subtansi Ahlussunnah wal Jama’ah dan manifestasinya dalam wujud NU. Ia juga menjelaskan keistimewaan organisasi Nahdlatul Ulama dan keistimewaan berkesinambungannya sanad keilmuan ormas yang berdiri tahun 1926 itu.

Paparan selanjutnya disampaikan Ketua PCINU Sudan Ahmad Azim Aufaq. Ia menjelaskan tentang struktur keorganisasian di tubuh PCINU Sudan. Azim juga mendorong para mahasiswa untuk meningkatkan kreativitas demi perbaikan di masyarakat.

Do your creativity to change society (gunakan kreativitasmu untuk mengubah masyarakat),” ujarnya mengutip perkataan dari Ridwan Kamil.

Sementara Ketua PPI Sudan Saleh Al-Jufri menambahkan, acara ini dimaksudkan untuk merekatkan ukhuwah antarinstansi dan organisasi yang ada di Sudan.

Burhanudin Badruzzaman memberikan apresiasi besar atas terselenggaranya acara silaturahim ini. ia berharap kepada seluruh elemen yang ada di Sudan untuk bersama-sama menyadari pentingnya keutuhan NKRI. (Faris Prasetyanto)

Jumat 31 Maret 2017 20:0 WIB
Promosi Islam Indonesia Relevan untuk Kondisi Eropa
Promosi Islam Indonesia Relevan untuk Kondisi Eropa
Dirjen Pendis Kemenag, Kamaruddin Amin.
Amsterdam, NU Online
Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin menilai Islam Indonesia atau yang sering disebut Islam Nusantara menemukan momentumnya untuk disosialisasikan di Eropa karena Eropa dan komunitas Muslim di sana sering mengalami ketegangan hubungan, saling mencurigai. Untuk itu, promosi Islam Indonesia saat ini menjadi sangat relevan untuk konteks Eropa.

Hal ini disampaikan Kamaruddin Amin saat menjadi Keynote Speech pada The 1st Biennial International Conference on Moderat Islam In Indonesia di Vrije Universiteit, Amsterdam Belanda, Senin (27/3) lalu. 

Konferensi internasional yang mengangkat tema Rethinking Indonesia’s Islam Nusantara: From Local Relevance to Global Significance ini digelar Pengurus Cabang Internasional Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda bekerja sama dengan Kementerian Agama.

"Masalah integrasi dan asimilasi Islam dan budaya Eropa menjadi isu yang cukup sentral di Eropa hari ini. Disatu sisi orang Eropa menganggap Islam tidak sesuai dengan budaya Eropa yang modern, demokratis, toleran, menghargai perbedaan, sehingga sering muncul Islamphobia. Di sisi lain, umat Islam sangat memcurigai budaya Barat yang serba bebas, diskriminatif, tidak islami dan seterusnya," ujarnya.

Hal ini, menurut Kamaruddin, membentuk pola relasi yang sangat tidak produktif. Karenanya, promosi Islam Indonesia atau Islam Nusantara menjadi relevan dan kontekstual.

Menurut Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini, Islam Nusantara merupakan adalah salah satu bentuk artikulasi implementasi Islam secara empiris sebagai produk dialektika antara Islam dan budaya lokal Indonesia.

Adalah tidak realistis mengharapkan satu jenis Islam yang diimplementasikan secara universal. Sebab, kata Kamaruddin, meski memiliki nilai universal dan sumber yang sama (Al-Qur'an dan Hadis), Islam harus berdialog dengan partikularitas masalah di mana Islam diimplementasikan. Akibatnya, implementasi Islam di Saudi berbeda dengan Islam Indonesia, begitu juga dengan Islam di Eropa dan Amerika.

"Islam harus mengalami akulturasi budaya agar bisa dengan mudah diterima di masyarakat. Islam Nusantara adalah salah satu contoh yang berpotensi menjadi model untuk diimplementasikan di tempat lain," tandasnya.

Acara ini dihadiri tidak kurang dari 300 peserta. Mereka adalah para akademisi studi Islam dan Indonesia dari sejumlah universitas di Belanda, Belgia, Jerman, Italia, Libanon, Saudi Arabia, dan Malaysia. Selain itu, ada juga para mahasiswa dan diplomat Indonesia dari sejumlah negara Eropa.

Tampak hadir juga sejumlah Duta Besar, antara lain, Husnan Bey Fanani (Azerbaijan), Agus Maftuh Abigebriel (Saudi Arabia), dan Safira Mahrusah (Aljazair).

Konferensi ini akan berlangsung hingga 29 Maret mendatang. Sejumlah narasumber yang hadir antara lain: Staf Khusus Menteri Agama Hadi Rahman, Intelektual NU Ahmad Baso, dan Indonesianis yang juga Guru Besar Utrecht University Karel Steenbrink. (Kemenag/Fathoni)
Jumat 31 Maret 2017 18:30 WIB
Di Pakistan Delegasi BIN Ini Cerita Pengalamannya dengan Gus Dur
Di Pakistan Delegasi BIN Ini Cerita Pengalamannya dengan Gus Dur
Islamabad, NU Online
Di sela-sela kunjungan Deputi I Hubungan Luar Negeri Badan Intelijen Negara (BIN) ke Pakistan dalam rangka menghadiri “Islamic Intelligence Services Conference (IISC), pada Selasa (28/3), KBRI Islamabad mengadakan tatap muka dengan masyarakat Indonesia di Wisma Duta KBRI Islamabad.

Tatap muka yang dihadiri oleh seluruh staf KBRI Islamabad dan mahasiswa Indonesia berlangsung hangat dan penuh keakraban. “Sudah menjadi tradisi di KBRI Islamabad untuk mempertemukan adik-adik mahasiswa dengan para tamu delegasi dari Indonesia,” ujar Dubes Iwan Suyudhie Amri.

Delegasi BIN yang dipimpin Mayjen Chandra Warsenanto Sukotjo mengaku senang dapat berdialog langsung dengan para mahasiswa sekaligus dapat menyampaikan beberapa perkembangan terkini tanah air. “Bagi saya, Pakistan adalah negara yang sangat penting untuk terus dijalin hubungannya,” tutur Mayjen Chandra.

Kepada para hadirin juga disampaikan mengenai paradigma baru institusi BIN yang menurut Chandra tidak lagi seperti di zaman Orde Baru. “Tugas BIN hakikatnya adalah membantu Presiden atau pemerintah dalam mengambil keputusan yang pro rakyat,” imbuh Chandra.

Mayjen Chandra juga sempat menceritakan tentang pengalaman kunjungan kali pertamanya ke Pakistan pada tahun 2000 sebagai tim pengamanan khusus Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur).

“Saat itu saya masih Mayor dan alhamdulillah punya pengalaman mendampingi Presiden Gus Dur lawatan ke-61 negara,” ujar Mayjen Chandra. Menurutnya banyak hal penting yang diajarkan Gus Dur kepadanya selama masa itu, khususnya terkait komitmen menjaga pluralisme, keutuhan NKRI, Islam moderat dan selera humor yang berkualitas.

Pembicaraan Mayjen Chandra yang juga sarat humor membuat seluruh staf KBRI dan mahasiswa yang hadir antusias mendengarkan sehingga memancing dialog interaktif. Firman Arifandi, mahasiswa yang baru lulus S2 menanyakan tentang peranan pemerintah dalam menciptakan suasana keharmonisan dalam kehidupan beragama di Indonesia.

Dalam menanggapi pertanyaan tersebut, Mayjen Chandra menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara besar dan sepengetahuannya tidak semua negara dianugerahi keindahan dan keberuntungan sejarah yang menonjolkan kesatuan dalam keberagaman seperti Indonesia.

“Tidak semua pihak senang dengan kondisi seperti ini, maka selalu saja ada upaya untuk memunculkan masalah,” tutur Chandra.

Terkait dengan hal tersebut para mahasiswa khususnya yang mempelajari ilmu agama diharapkan turut memberikan sumbangsih menciptakan suasana keberagamaan yang kondusif dan membawa ajaran Islam Indonesia yang Rahmatan Lil-‘Alamin.

Dubes Iwan dalam catatan akhirnya juga menyampaikan pentingnya untuk tetap menjaga jati diri keindonesiaan WNI di mana pun berada. Para WNI yang mayoritas adalah mahasiswa di Pakistan telah menjadi contoh baik dalam mempelajari ilmu agama di Pakistan, namun sikap kebangsaan dan kecintaan terhadap tanah airnya tidak luntur, pungkas Dubes Iwan. (Red: Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG