IMG-LOGO
Fragmen

Ketika Mahbub Djunaidi Membela Subhan ZE

Sabtu 22 April 2017 14:0 WIB
Bagikan:
Ketika Mahbub Djunaidi Membela Subhan ZE
Menelusuri perdebatan sejarah tentang Subhan ZE, tidak sekadar menjadikan saya suntuk dengan arsip-arsip kuno. Namun, saya juga menemukan beberapa kisah tentang bagaimana lika-liku Subhan di panggung sejarah Nahdlatul Ulama, yang saat itu masih menjadi Partai, pada kisaran 1972.

Subhan ZE dipecat oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), karena dianggap memperburuk ‘marwah’ organisasi para kiai ini. Subhan memang menjadi legenda. Ia aktivis muda yang glamour, flamboyan sekaligus progresif dan revolusioner. Subhan menjadi rujukan anak-anak muda lintas organisasi dan ideologi, di tengah pusaran arus 1965.

Ketika Subhan dikuyo-kuyo oleh lawan politiknya, beberapa kiai dan pengurus NU juga mendukungnya. Kiai Ali Ma’shum (Krapyak) mendukung Subhan ZE, demikian pula Wakil Sekjen Partai NU kala itu, Mahbub Djunaidi.

Mahbub dikenal sebagai aktivis, wartawan dan pengurus NU yang berpengaruh. Ia sangat dikenal di kalangan pers Indonesia, juga aktivis LSM dan pergerakan. Mahbub lahir di Jakarta, 27 Juli 1933. Sewaktu Subhan menjadi Ketua I PBNU, Mahbub Djunaidi menjadi Wakil Sekretaris PBNU.

Mahbub menganggap pengurus NU tidak ingin ribut, terkait kasus yang menerpa Subhan. "Saya berpendapat, keputusan itu tidak perlu dianggap rahasia. Jikalau tidak ada release resmi dari PBNU, itu semata berdasarkan pertimbangan tidak mau ribut-ribut," demikian pernyataan Wakil Sekjen PBNU, Mahbub Djunaidi, kepada 'Antara' sebagaimana dikutip media Angkatan Bersenjata, 21 Februari 1972.

Keputusan tentang pembebasan Subhan ZE selaku Ketua I PBNU, ditandatangani Rais Am PBNU, KH. Bisri Syansuri, Ketua Umum KH. Idham Chalid dan Wakil Rais 'Am/Ketua Dewan Partai, KH. Moh. Dahlan. Surat pembebasan Subhan ZE, dikirimkan ke cabang-cabang dan wilayah Partai NU, sebagai informasi internal tentang keputusan organisasi.

Menurut laporan Angkatan Bersenjata (21/02/1972), pembebasan Subhan ZE selaku pengurus NU, berdasar pernyataan Subhan di Surabaya, yang menyatakan siap mengundurkan diri, serta alasan-alasan yang didasarkan pada hukum agama (syariah).

Mahbub Djunaidi, mengungkapkan bahwa pertimbangan syariah, didasarkan pada keputusan dewan syuriyah, yang ahli dalam bidang ini. Dalam pandangan Mahbub, keputusan Dewan Syuriyah haruslah dihormati sebagai dewan tertinggi dalam struktur organisasi.

Namun, menurut Mahbub Djunaidi, Subhan ZE bukanlah dipecat dari Nahdlatul Ulama. Subhan hanya dibebastugaskan dari kepengurusan, yang bersifat sementara. Hal ini tidak memutuskan status keanggotaan Subhan dari Nahdlatul Ulama.

Dengan demikian, dalam pandangan Mahbub, Subhan tidaklah diskors, atau dihukum dari kepengurusan. Namun, yang lebih tepat adalah "dibebastugaskan" dari kedudukannya sebagai Ketua I Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Darimana dasar "bebastugas" dalam kasus Subhan? Memang, istilah dibebastugaskan tidak ada dalam peraturan organisasi. Dalam AD/ART Partai Nahdlatul Ulama (pada waktu itu, NU masih menjadi Partai NU), tidak ada istilah bebas tugas. Yang ada, yakni berhentinya anggota atas dasar permintaanya sendiri. Menurut Mahbub, dasar inilah yang dipakai dalam kaitan ikrar Subhan ZE untuk 'mundur', dari kepengurusan Partai NU.

Mahbub Djunaidi membela Subhan ZE, dengan memberi ruang naik banding atas argumentasi syuriyah. Alasan syariah/hukum agama yang digunakan syuriyah sebagai pertimbangan membebastugaskan Subhan ZE, dapat dipertanyakan. Mahbub menyatakan, Subhan ZE mempunyai hak untuk membela diri dan 'naik banding'. Hal ini dijamin secara konstitusional bagi anggota yang dipecat. Namun, dalam konteks ini, Subhan tidak dipecat, melainkan mengundurkan diri.

Subhan ZE merupakan rujukan para aktivis, ia tenggelam dalam sejarah besar di tengah arus perubahan politik pada masa awal Orde Baru. Subhan layak dikenang sebagai referensi politik para aktivis muda Nahdlatul Ulama (*)


Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN PBNU, sedang menulis buku “Silang Sejarah Subhan ZE” (email: moena.aziz@gmail.com)

Tags:
Bagikan:
Jumat 21 April 2017 15:0 WIB
Bagaimana NU Membiayai Muktamar di Zaman Kolonial?
Bagaimana NU Membiayai Muktamar di Zaman Kolonial?
Ilustrasi
Banyuwangi memiliki peranan penting dalam proses perintisan Nahdlatul Ulama. Tercatat, semenjak pertama kali NU didirikan, Banyuwangi telah ikut serta. Melalui KH. Saleh Lateng, Banyuwangi ikut serta menghadirkan perwakilannya dalam rapat pembentukan Komite Hijaz sekaligus awal berdirinya NU di Bubutan, Surabaya, tahun 1926.

Kontribusi lain yang cukup penting dari Banyuwangi bagi NU adalah dengan menjadi tuan rumah Muktamar ke-9 NU pada 1934. Muktamar tersebut, menurut Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama, merupakan Muktamar yang menjadi penanda NU dari fase pertumbuhan menuju fase perkembangan.

Dalam surat kabar Indische Courant tertanggal 24 April 1934, melaporkan bahwa pembukaan yang digelar di halaman Madrasah Al-Chairiyah yang tak jauh dari Masjid Agung Baiturrahman tersebut, dihadiri oleh ribuan orang. Kursi undangan penuh dan ribuan orang lainnya berdesakan di halaman yang luas itu. Bahkan, hingga meluber di jalan-jalan.

Dalam konteks saat ini, mungkin tak terlalu sulit untuk bisa menyelenggarakan acara besar berskala nasional. Seperti halnya Muktamar ke-33 NU di Jombang pada tiga tahun silam. Untuk menggelar acara tersebut, PBNU mendapat bantuan Rp 10 M dari APBD Provinsi Jawa Timur dan Rp 1 M dari APBD Kabupaten Jombang. Tapi, untuk konteks tahun 1934 tentu mustahil mengharap bantuan dari pemerintah. Karena, sebagaimana kita ketahui, saat itu, Indonesia masih dalam kungkungan penjajah.

Jangankan meminta bantuan pada pemerintahan kolonial Hindia Belanda kala itu, meski diberinya secara cuma-cuma pun, NU tidak bakal menerimanya. Haram hukumnya menerima bantuan penjajah!

Lantas, yang menjadi pertanyaannya: dari manakah biaya penyelenggaraan muktamar saat itu?

Menarik kiranya kita memeriksa laporan keuangan panitia Muktamar yang salah satu keputusan pentingnya mendirikan Anshoru Nahdlatul Ulama (Sekarang: GP Ansor) tersebut. Dalam Origineel 17 October 1934 Verantwording Congers Nahdlatoel Oelama jang ke-9 di Kotta Banjoewangi dilaporkan bahwa biaya penyelenggaraan mengumupulkan dana sebesar f. 1882,98 (f  adalah simbol rupiah di masa Hindia Belanda).

Dalam laporan yang ditandatangani oleh Machmoed (President), R. Tedjosoekarto (Secretaris), dan R.H. Hamdjah (Kassier) tersebut, tertulis lima jenis sumber pendanaannya. Pertama, berasal dari Oewang borg Tjabang Nahdlatoel Oelama Banjoewangi sebesar f. 222.50. Dana ini merupakan pemasukan dari kas PCNU Banyuwangi kala itu.

Kas tersebut dikumpulkan dari iuran lied (anggota) NU Banyuwangi. Dulu, untuk bisa menjadi anggota NU, seseorang harus membayar sebesar 10 sen. Kemudian, ada juga iuran bulanan yang besarannya separuh dari uang pendafataran. Sebagaimana diatur dalam Kitab Oemoem Atoeran Roemah Tangga Bagian Oemoem dan Bagian Harta Hobfstur Nahdlatoel Oelama 1926.

Namun, di NU Banyuwangi sebagaimana dilaporkan pada Muktamar ke-XI di Banjarmasin. Dalam laporan tersebut, setiap anggota NU ditarik kontribusi tidak 10 Sen sebagaimana aturan yang ditetapkan dari pusat. Tapi ditarik secara keseluruhan untuk seumur hidup sebesar f. 1- f. 1,5. Dari hasil iuran tersebut, tidak semuanya dipergunakan untuk operasional organisasi. Akan tetapi, sebagian dipergunakan untuk membeli kebun kelapa. Dari langkah ini, hasil iuran lied tersebut, dapat berkembang.

Pemasukan kedua, berasal Oewang derma lisjt dari Tjabang-Tjabang Nahdlatoel Oelama yang sebesar f. 883,12 (1/2). Memang, setiap penyelenggaraan Muktamar, Cabang-Cabang NU dari berbagai daerah dikenakan iuran. Dari pengamatan penulis, tidak ada ketentuan khusus harus membayar berapa. Karena dari laporan-laporan keuangan Muktamar, pembayaran dari masing-masing Cabang memiliki besaran yang berbeda-beda. Seperti pada saat Muktamar ke-VIII di Jakarta, NU Cabang Banyuwangi membayarkan derma sebesar f. 25 yang kala itu, dibawa oleh KH. Syamsuri Singonegaran.

Uang iuran Cabang-Cabang tersebut, bisa dari kas organisasi sebagaimana NU Banyuwangi, bisa pula dari iuran anggotanya. Kiai Muchit Muzadi dalam biografinya, Berjuang Sampai Akhir: Kisah Seorang Mbah Muchit mengenang setiap menjelang pelaksanaan Muktamar, para anggota NU dikenakan iuran wajib sebesar 20 Sen, termasuk dirinya. Dalam buku tersebut, Mbah Muchit juga mengenang kisah Kiai Mu'thi yang berasal dari Ngawi. Untuk menuju ke Muktamar di Banyuwangi, guna menghemat biaya, ia rela naik sepeda gayung dari Ngawi hingga ke Banyuwangi. Kurang lebih sejauh 467 KM. Luar biasa!

Sumber pendanaan ketiga berasal Oewang derma lisjt Tjabang Nahdlatoel Oelama Banjoewangi. Dari derma ini, terkumpul dana sebesar f.  16,45. Tak ada catatan tentang bagaimana bentuk pengumpulan dana dari sumber ini. Besar kemungkinan, ini berupa pembagian serkiler untuk diisi derma seikhlasnya. Atau bisa juga berupa list pembacaan doa untuk arwah sanak famili dengan menggantinya dengan sedekah sekian per namanya.

Yang keempat, dalam laporan keuangan tersebut, pemasukan berupa Derma makanan dari pendoedoekan Banjoewangi Matjem. Pihak panitia mengkalkulasi jumlah bahan makanan yang masuk, sebesar f. 55, 65 (1/2). Tak heran, jika sumbangan berupa makanan dari penduduk Banyuwangi memiliki sumbangsih cukup besar. Banyuwangi merupakan lumbung pangan ditengah anugerah alam yang amat subur.

Dalam penelitian penulis, Cabang Banyuwangi terkadang harus menyewa satu gerbong khusus untuk mengirim bahan makanan guna mendukung penyelenggaraan Muktamar. Seperti halnya Muktamar di Jakarta setelah perang kemerdekaan, NU Banyuwangi mengirim 100 kwintal beras untuk konsumsi Muktamar. Jumlahnya jauh jika dibandingkan dengan sumbangan dari Cabang-Cabang lainnya.

Sumber terakhir yang tercatat dalam laporan keuangan Muktamar ke-IX adalah Djoewal barang-barang jang telah dipake. Hasil penjualan dari barang bekas ini, hanya f. 5,25. Tak ada catatan, barang apa yang dijual. Mungkin, ini semacam lelang.

Dari fakta diatas, banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Terutama bagi warga NU Banyuwangi. Dapat dikatakan, NU telah mampu mandiri dengan membiayai semua kebutuhan operasionalnya sendiri dengan cara dipikul bersama. Tanpa mengharap belas kasih pihak lain. Ini tentu tidak sekedar menumbuhkan kemandirian organisasi, tapi juga memunculkan kesolidan dan solidaritas yang kukuh disetiap anggota NU.

Di tengah keterbatasan zaman penjajahan, NU mampu berdikari. Para anggotanya dengan sukarela menyumbangkan sebagian rizki, bahkan bisa jadi bagian terbesar dari hartanya, untuk keberlangsungan NU. Ini merupakan tauladan penting. Jika para pendahulu itu dengan segala kesulitannya bisa melakukan, maka kita dengan segala kemudahan masa kini tentu lebih bisa melakukannya. Bukan begitu?

Salam Mandiri. Salam Sukses Koin Bakti NU!


Ayung Notonegoro, pemerhati sejarah NU Banyuwangi; dapat ditemui di akun facebooknya, “Ayunk Notonegoro”


Kamis 20 April 2017 16:26 WIB
KH Aziz Masyhuri Denanyar: Sikap, Kitab, dan Etos Menulisnya
KH Aziz Masyhuri Denanyar: Sikap, Kitab, dan Etos Menulisnya
Beberapa kali mengikuti pengajian Kiai Aziz Masyhuri semakin mempunyai perkiraan bagaimana sikap kiai-kiai pendiri NU. Hal ini masuk akal karena Kiai Aziz Masyhuri lama mendampingi Kiai Bisri Syansuri, salah satu dari trio pendiri NU yang meninggal paling belakangan di usia 93 tahun. Kiai Aziz  Masyhuri adalah cucu mantu dari Kiai Bisri Syansuri.

Suatu saat Kiai Aziz pernah bercerita tentang Kiai Bisri yang memberhentikan salah satu pengurus PBNU, padahal pengurus tersebut memiliki nama besar, karena telah melakukan hal yang cukup segnifikan dalam perjalan bangsa Indonesia. Alasan pemberhentian pengurus tersebut karena bersangkutan dengan moral. Ketika ditanya oleh kiai-kiai lain, jawab Kiai Bisri “Kalau sampeyan saya kasih tahu alasannya, apa bisa menyelesaikan?”

Sikap tegas demikian ternyata juga menular ke Kiai Aziz. Suatu ketika Kiai Aziz diundang ke acara akad nikah di Tambakberas. Setelah mewakilkan, wali mempelai wanita lalu disuruh keluar. Nah setelah proses akad selesai, Kiai Aziz memberi penjelasan pada seluruh yang hadir, termasuk ada beberapa kiai, bahwa wali setelah mewakilkan tidak harus keluar ruangan. Ini sesuai dengan hasil Muktamar NU. Dasarnya adalah kitab Sarqowi yang merupakan syarah kitab Tahrir jilid 2, kalau dalam Kifayatul Akhyar memang disuruh keluar. Selain itu juga pertimbangan kemanusiaan, alangkah bahagiannya jika orang tua bisa menyaksikan secara langsung akad nikah anak yang telah dibesarkannya. Keterangan ini kemudian bisa diterima oleh kiai-kiai yang datang.

Kiai Aziz juga pernah merasa resah dengan buku berjudul “Kiai NU Menggugat Sholat Para Kiai”. Terutama karena yang memberikan pengantar di buku tersebut tertera identitas yang tertulis adalah mantan staf MTs NU Mambaul Ma’arif Jombang. Buku tersebut berisi tentang gugatan terhadap buku pashalatan yang ditulis KH Asnawi Kudus. “Wong waktu kecil saya belajarnya itu juga, ” ungkapnya. Beliau berkeinginan untuk memanggil pemberi pengantar buku tersebut yang mengaku alumni Denanyar. “Denanyar itu siapa? Mbah Bisri kan? Berarti nama Mbah Bisri kebawa-bawa, ” protesnya.

Yang paling menonjol adalah perhatiannya pada bidang aqidah. Dua kitab yang saya kaji pada beliau adalah tentang aqidah, yaitu Kawakibul Lama’ah dan Butlaan Aqaid Syiah. Menurut Gus Muis, putra beliau, akhir-akhir hidup beliau yang sering dibicarakan adalah kitab karangan Kiai Faqih Maskumambang berjudul An-Nushushul Islamiyah fi Raddi ‘ala Madzhabil Wahhabiyah, kitab yang ditulis oleh Kiai Nusantara yang membahas tentang Wahabi. Lagi-lagi ini pembahasan tentang aqidah. Kitab ini kemudian diterjemahkan oleh Kiai Aziz, dengan terlebih dahulu konfirmasi ke keluarga Kiai Maskumambang.

Awalnya ragu-ragu ketika ke sana karena tidak ada yang kenal, tapi tidak disangka ketika berada di kompleks pondok keluarga Kiai Maskumambang, begitu turun dari mobil, langsung disambut seseorang yang mengaku murid Kiai Aziz waktu di Tebuireng. Orang tersebut adalah menantu dari pengasuh Pesantren Maskumambang, KH Nadjih Ahjad. Dalam keksempatan tersebut Kiai Aziz juga menyempatkan untuk berziarah ke makam Kiai Faqih Maskumambang, yang tak lain adalah mantan wakil Rais Akbar NU, KH. Hasyim Asy’ari. Hampir-hampir makam Kiai besar ini tidak bisa ditemukan manakala tidak ada orang yang membantu menunjukkan, karena makam tersebut sudah terkepung oleh ilalang. Terjemahan kitab yang selesai ditulis Kiai Faqih pada 1922 itu akhirnya terbit dengan judul “Menolak Wahabi”.

Perhatian Kiai Aziz pada aqidah apakah hanya akhir-akhir ini saja? Ternyata tidak. Hal ini berdasarkan kesaksian Pak Halim Iskandar, ketua DPRD Jawa Timur, waktu memberikan sambutan atas nama keluarga pada waktu pengajian malam ke 6. Menurutnya, Kiai Aziz ini adalah gurunya waktu di aliyah mulai kelas 1-3. Ketika itu beliau sudah mengajarkan tentang dasar-dasar tahlilan, sholawatan, tawasul, dan amalan NU lainnya.

Dalam memahami Wahabi, Kiai Aziz sampai melacak keberadaan orang-orang yang sezaman dengan Muhammad bin Adul Wahab, pendiri Wahabi. Didapatkan ternyata guru, bapak, serta kakaknya yang bernama Syekh Sulaiman menolak pendapat Muhammad bin Abdul Wahab tersebut. Hal ini bisa dilihat dalam kitab Asshawaiqu Mukhriqah, kitab ini mendapat counter melalui kitab berjudul Asshawaiqu Mursalah.

Muhammad bin Abdul Wahab menisbatkan diri sebagai pengikut Imam Ahmad bin Hanbal, padahal Imam Hanbal menentang keras pendapat Ibnu Taymiyah yang sering dijadikan rujukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Imam Hanbal ini pernah dipenjara oleh Khalifah yang dijabat oleh Al-Ma’mun. Al-Ma’mun yang merupakan pengikut mu’tazilah berpendapat bahwa al-Qur’an adalah mahkluk. Imam Hanbal tidak setuju. Apabila ingin mengetahui lebih lanjut tentang 10 kesalahan Wahabi bisa diikuti pada kitab al-Fajru As-shodiq.

Padahal ayah Al-Ma’mun, Khalifah Harun Ar-Rasyid merupakan penganut Sunni. Walhasil khalifah periode setelah Al-Ma’mun seperti Mu’tasim dan Watsiq juga menjadi penganut mu’tazilah. Tetapi untungnya khalifah berikutnya, yaitu Mutawakil, bermazhab Sunni. Sehingga pada masa pemerintahan Mutawakil inilah kemudian Imam Ahmad bin Hanbal dibebaskan dari penjara.

Keterangan demikian disampaikanoleh Kiai Aziz  di sela-sela pengajian Kawakibul Lama’ah. Memang dalam urusan kepustakaan kitab-kitab kuning, Kiai Aziz ini jagonya. Tidak hanya sebagai pembaca yang baik, Kiai Aziz  juga merupakan penulis yang baik. Produktivitasnya menulis sudah dimulai sejak muda. Yang saya tahu, sekitar 3 tahun sebelum wafat, beliau melakukan aktivitas menysusun buku di selasar rumahnya. Ketika kami-kami tiba untuk mengaji, terkadang Kiai Aziz  sudah melakukan aktivitas menyusun kitab. Nanti ketika aktivitas mengaji sudah usai, sekitar 2-3 jam berikutnya, Kiai Aziz melanjutkan lagi aktivitasnya menyusun buku.

Etos Kiai Aziz yang konsisten demikian, juga berkembang dengan usaha mengumpulkan kitab-kitab yang disusun oleh ulama-ulama Nusantara, salah satunya yang beliau lakukan pada kitab karangan Kiai Faqih Maskumambang sebagaimana disampaikan di atas, juga tentunya kitab-kitab Kiai Fadhol yang merupakan pamannya sendiri. Tidak cukup berhenti di situ. Kiai Aziz juga sejak beberapa tahun lalu merekomendasikan pada Kemenag agar mau menerbitkan kitab-kitab ulama Nusantara. Beberapa kitab ulama Nusantara ini sudah diterbitkan oleh Kemenag.

Kodifikasi kitab-kitab Kiai Hasyim Asy’ari dalam sebuah judul bernama Irsyadu Syari, juga tidak lepas dari campur tangan beliau. Beberapa kitab Kiai Hasyim yang ada di Irsyadus Syari adalah hasil jasa penelusuran Kiai Aziz, yang kemudian diserahkan pada Gus Ishom, cucu Kiai Hasyim, yang selanjutnya menyusunnya menjadi satu.

Saya tidak menyangka sama sekali ketika pada Haul Kiai Bisri Syansuri, 28 Maret 2017 adalah terakhir kalinya saya bisa mencium tangan beliau. Tidak ada firasat apa-apa ketika itu, beliau hanya tersenyum ketika melihat saya, senyum yang sampai saat ini tidak saya lupakan. Beliau bukan hanya tempat mengaji kitab, tapi juga bagaimana bersikap. Tidak peduli seberapa keras perjuangan mempertahankan sikap tersebut.

Contoh nyata adalah mukmatar NU ke-33 di Jombang. Setahun sebelum muktamar, Kiai Aziz termasuk salah seorang yang diundang ke Jakarta untuk membicarakan muktamar. Mengetahui bahwa muktamar akan diselenggarakan di Jombang, beliau menyarankan untuk diadakan di tempat lain saja. Ketika itu yang sudah siap menjadi tuan rumah adalah Medan. Alasan yang beliau kemukakan adalah bahwa Jombang itu sudah NU, maka nilai syiarnya tidak ada. Akan berbeda dampaknya kalau diadakan di daerah yang ke-NU-annya belum kuat.

Alasan kedua, tarik-menarik kepentingan yang biasa terjadi pada proses suksesi organisasi, ditakutkan akan menimbulkan kegaduhan yang tidak pantas dipertontonkan di hadapan para pendiri NU sendiri. Mengingat Jombang adalah tanah pendiri NU. Benar saja, kegaduhan sebagaimana yang diresahkan Kiai Aziz terjadi. Kiai Aziz yang tidak pernah absen setiap kali momen muktamar, kali ini absen, padahal di kotanya sendiri. Semua orang mencari, termasuk Martin Van Bruinessen, peneliti keislaman di daerah Kurdi dan Asia Tenggara, asal Belanda. Martin sudah lama bersahabat dengan Kiai Aziz, karena dia juga tidak pernah absen setiap momen muktamar NU digelar. Buku-buku Kiai Aziz juga banyak yang dijadikan Martin sebagai bahan utama penelitiannya. Martin akhirnya menemui Kiai Aziz di rumahnya.


M. Fathoni Mahsun, kader Gerakan Pemuda Ansor Jombang

Selasa 18 April 2017 10:0 WIB
Dua Kiai Aziz dari Jombang
Dua Kiai Aziz dari Jombang
Pada sekitar pukul 14.00 WIB, Sabtu 15 April 2017, KH Aziz Masyhuri Denanyar wafat. Berita ini tentu mengejutkan karena pada paginya beliau masih membaca koran dan melanjutkan menulis buku sebagaimana yang dilakukannya selama ini. Dengan demikian berarti dua kiai besar bernama Aziz dari Jombang telah tiada, satunya lagi yaitu KH Aziz Mansyur Paculgowang sudah wafat pada 2015 lalu.

Saya, walaupun tidak lama, pernah mengaji ke beliau berdua. Kiai Aziz Mansyur adalah sosok kiai yang mempunyai etos ilmiah ala Lirboyo, yang tidak lain adalah pondok kakeknya sendiri, karena beliau juga lama mondok di Lirboyo. Gaya ngaji beliau; duduk bersila di depan meja kecil, dilengkapi dengan lampu belajar, serta bersandar di bantal. Diatas meja kecil itu, selain ada kitab dan lampu belajar, juga ada segelas air putih.

Ketika saya mengaji romadhon pada 2014, saya begitu takjub dengan kedisiplinan Kiai yang menjabat dewan syuro PKB ini. Kalau sudah duduk didepan kitab, maka sekitar 2 jam sampai 2, 5 jam ke depan, tidak beranjak dari tempat duduknya, membaca kitab tanpa berhenti, dan tanpa basa-basi. Ketika membaca kitab semacam ini posisi beliau menghadap ke arah kiblat, bertempat di selasar masjid. sementara kami yang mengaji juga menghadap kiblat, berada di belakang beliau. Nah, ini tentunya menguntungkan bagi saya, karena kalau ngantuk tidak akan ketahuan, hehehe.

Kitab yang dikaji ba’da taraweh ketika itu adalah al-Asybah wa An-nadhair, dan Dalailul Khoirot. Belum lagi yang dibaca pada waktu pagi dan sore. Dengan etos yang demikian itu, maka wajar kalau dalam kesempatan romadhon yang biasanya tidak sampai tanggal 20 sudah selesai, berhasil menghatamkan beberapa kitab. Sehingga bisa dimaklumi jika santri alumni pondok salaf, semacam Paculgowang dan Lirboyo mempunyai perbendaharaan kitab kuning yang relatif banyak.

Lalu bagaimana gaya Kiai Aziz Masyhuri mengaji? Tempat belia mengaji tidak   di masjid, namun di ruang tamu. Beliau duduk di salah satu kursi, kemudian yang mengaji duduk dikursi-kursi yang lain, ada dua set kursi tamu di ruang tersebut. Sebagaimana layaknya menerima tamu, di meja tersaji aneka hidangan, ada makanan kering yang berada di toples-toples dan ada makanan basah, seperti pisang goreng, roti bakar, atau yang lainnya.

Jadwal mengaji satu minggu sekali, saya perhatikan hidangan di atas meja tersebut selalu berganti. Terasa benar bahwa memang itu disiapkan secara khusus untuk orang-orang yang mengaji pada beliau. Tidak berhenti sampai disitu, setiap ada yang datang, tidak lama kemudian ada yang menghidangkan kopi. Di tengah-tengah pengajian biasanya disusul dengan kolak, lalu diakhir ditutup dengan nasi goreng atau tahu petis. Jadi saya katakan pada Anda, bahwa tips mengaji pada Kiai Aziz Masyhuri haruslah dalam kondisi perut kosong, kalau tidak mau keringat dingin, karena harus menghabiskan makanan yang sedemikian banyak.

Nah, begitu kita datang ternyata tidak langsung mengaji kitab, tetapi masih mengobrol kesana-kemari antara setengah sampai satu jam. Bahan obrolan biasanya tentang permasalahan aktual, tentang ke-NU-an, tentang kegiatan-kegiatan beliau, atau seputar penulisan kitab yang sedang beliau kerjakan.

Jujur, awal-awal saya merasa gelisah dengan ritme mengaji seperti ini, karena tidak langsung to the poin. Tapi lama-kelamaan merasakan hal yang berbeda. Apa yang beliau obrolkan tersebut biasanya adalah pandangan atau sikap beliau sebagai seorang kiai menghadapi permasalahan yang sedang terjadi. Jadi ini adalah pengajian aktual, tidak melulu mengaji kitab, tapi juga mengaji kehidupan. Apalagi ketika membaca kitab juga selalu disisipi dengan penjelasan-penjelasan.

Yang dikaji ketika itu adalah kitab Kawakibul Lama’ah karangan Kiai Fadhol Senori Tuban, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Mungkin Kiai Aziz Masyhuri produktif mengarang kitab karena terinspirasi oleh Kiai Fadhol ini. Kitab lain karya Kiai Fadhol diantaranya adalah ahlal musyamarah yang menceritakan tentang 10 wali di tanah Jawa. Di tangan Kiai Aziz Masyhuri, keterangan kawakibul lama’ah menjadi sangat luas.

Keterangan tentang apa yang tertulis di kawakibul lama’ah sepertinya sudah nempel banget di lidah beliau. Keterangannya bisa sangat detail. Misalkan saja, ketika masuk pada pembahasan devinisi sunnah dan jama’ah, dalam kitab tersebut menyitir devinisi dari kamus Muhith. Oleh beliau dijelaskan kamus mukhit ini merupakan kamus 4 jilid yang patokannya adalah huruf terakhir dari suatu kata. Misal kata ‘wasala’ yang terdiri dari huruf wawu, sin, dan lam, maka cara mencarinya dari huruf lam.

Keterangan ini kemudian melebar pada jenis-jenis kamus. Dimulai dari Tajul Arus yang merupakan sarah kamus mukhit. Lalu ada juga Misbahul Munir yang menurut beliau merupakan kamus yang paling ‘marem’, karena kalau ada masalah fiqh keterangannya dipanjangkan. Ada juga kamus munjit. Ini adalah kamus yang paling gampang, karena kalau ada yang tidak jelas dikasih gambar. Kelebihan yang lain dari kamus ini ada Faraidul Adab-nya. Namun yang mengarang orang kristen.

Keterangan kamus munjit ini menjadi semakin hidup manakala ditambahi dengan kisah Mbah Kiai Maksum Lasem dan putranya Mbah Kiai Ali Maksum. Mbah Kiai Maksum mengharamkan kamus munjit. Ketika Mbah Kiai Ali Maksum masih dipondok, waktu mau dijenguk ayahnya, santri-santri senior yang punya kamus munjit suruh menyembunyikan. Takut kalau-kalau Mbah Kiai Maksum memeriksa kamar-kamar. Nah, nanti kalau sudah pulang boleh dikeluarkan lagi.

Kitab berikutnya yang dikaji setelah kawakibul lama’ahkhatam adalah kitab tipis berjudul, butlani aqoidul syiah, sebuah kitab yang sepertinya belum ada di penerbitah Indonesia. Karena kami mengkajinya pun dari foto copy-an kitab yang beliau punya. Demikianlah Kiai Aziz Masyhuri, perbendaharaan kitab-kitab langkanya melimpah. Sehingga wajar kalau beliau menjadi rujukan kiai-kiai yang lain, termasuk dari pondok-pondok besar. Namun taqdir kami tidak bisa mempelajari kitab ini sampai selesai, karena setelah libur hari raya, pengajian kitab tersebut belum dilanjutkan lagi sampai beliau wafat.

Beliau memang pernah cerita, bahwa jika sedang haji, yang beliau buru adalah kitab-kitab terbitan timur tengah. Saking banyaknya yang beliau beli, sampai-sampai sebagiannya harus dititipkan ke orang lain yang jatah bagasinya masih ada. Maka wajar, kalau wacana kitab kuningnya di atas rata-rata. Sampai-sampai ketika Dr. Musthofa Ya’qub, imam besar Masjid Istiqlal Jakarta, yang juga karibnya waktu di Tebuireng membuat tulisan di Republika, tentang banyaknya kesamaan ajaran-ajaran NU melalui kitab karangan KH Hayim Asyari yang terkodifikasi dalam Irsyadus Syari, dengan ajaran-ajaran Wahabi, maka Kiai Aziz Masyhuri menegurnya, ketika bertemu di sebuah acara di madura. Hal ini karena Kiai Aziz Masyhuri mempunyai refrensi lain yang menguatkan tentang perbedaan besar antara ajaran NU dan wahabi.

Dengan kekayaan wacana kitab kuning demikian ini, ternyata Kiai Aziz Masyhuri mentransformasikan apa yang dipunyainya itu dengan cara yang santai; mengajar ngaji disambi dengan makan-makan dan ngobrol kesana-kemari. Perut terisi, kepala pun terisi.

Sedangkan Kiai Aziz Mansyur yang mempunyai tradisi dan etos kitab kuning yang disiplin, ternyata pembawaannya tidak dikit-dikit nge-dalil. Saya teringat ketika resepsi pernikahan saya, dalam tausyiahnya beliau malah hanya bercerita, tidak mendalil, tentang bagaimana galaunya ketika beliau dipasrahi untuk meneruskan estafet kepemimpinan pondok pesantren Tarbiyatun Nasihin, selepas ayahnya meninggal. Juga bercerita tentang awal-awal diundang mengaji ke kampung-kampung dengan mengendarai sepeda ontel, lalu beralih naik sepeda motor, lalu beralih memohon kapeda Allah agar diberi kendaraan yang ada iyup-iyupane (ada atapnya: mobil). Selanjutnya tausyiah beliau malah ditutup dengan penjelasan filosofi janur dan lain-lain, yang biasa digunakan di resepsi pernikahan adat Jawa. Allahummaghfirlahuma...


M. Fathoni Mahsun, Kader Gerakan Pemuda Ansor Jombang


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG