IMG-LOGO
Nasional

Komnas Haji dan Umrah Beri Bantuan Hukum Calon Jemaah Umrah Bermasalah

Selasa 25 April 2017 20:0 WIB
Bagikan:
Komnas Haji dan Umrah Beri Bantuan Hukum Calon Jemaah Umrah Bermasalah
Jakarta, NU Online
Peristiwa gagalnya calon jemaah umrah First Travel berangkat ke tanah suci membuat sejumlah pihak prihatin. Padahal meraka sudah membayar lunas sejumlah uang sesuai harga yang dibandrol perusahaan. Bahkan tak sedikit dari calon jamaah umrah yang sudah beberapa kali mengalami penundaan keberangkatan walau telah mendapatkan penjadwalan ulang (reschedule).

Menyikapi hal tersebut, Komnas Haji dan Umrah sebagai lembaga yang fokus terhadap advokasi masalah haji dan umrah, turun tangan membela hak-hak calon tamu-tamu Allah itu. 

"Komnas Haji dan Umrah akan bantu calon jamaah Firts Travel. Mereka diduga sebagai korban. Jumlahnya cukup banyak. Tidak hanya dari Jabodetabek tapi dari berbagai daerah. Kami masih melakukan pendataan dan verifikasi," ujar Ketua Komnas Haji dan Umrah, Mustolih Siradj, Selasa (25/4).

Mustolih mengatakan pihaknya telah mendatangi markas travel tersebut guna menemui calon jamaah umrah yang gagal berangkat. Pria yang berprofesi sebagai pengacara ini menegaskan tidak seharusnya calon tamu-tamu Allah tersebut diperlakukan begitu. 

“Mereka rata-rata dari kalangan menengah ke bawah ada banyak ibu-ibu dan lansia. Ini berpotensi melanggar UU Penyelenggaraan Haji dan UU Perlindungan Konsumen," tukasnya.

Komnas Haji berencana akan menyiapkan sejumlah langkah hukum. "Ada beberapa strategi yang sedang kita siapkan. Intinya hak calon jemaah harus dilindungi. Mereka tidak boleh tersakiti," ucap pria yang juga Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Hingga berita ini ditulis, telah terdapat sedikitnya 200 jamaah yang memberikan kuasa ke Komnas Haji dan Umrah dan meminta advokasi. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Tags:
Bagikan:
Selasa 25 April 2017 23:2 WIB
Kartini Bukan Hanya Urusan Perempuan
Kartini Bukan Hanya Urusan Perempuan
Tangsel, NU Online
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Ulil Abshar Hadrawi (Gus Ulil) mengatakan, perjuangan Kartini bukan hanya untuk kaum perempuan, tetapi perjuangannya lebih dari pada itu, yaitu melawan penjajahan, mengentaskan kemiskinan, dan memajukan pendidikan.

"Urusan Kartini bukan hanya urusan perempuan. Kebetulan orangnya (Kartini) perempuan. Dia mengajari orang Indonesia cara melawan penjajahan," kata Gus Ulil saat menjadi narasumber dalam acara Peringatan Hari Kartini dengan Membangun Peran Aktif Perempuan Pembangun Bangsa yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (25/4) sore.

Gus Ulil menjelaskan, ada tiga orang yang diperingati hari lahirnya, yaitu Nabi Muhammad SAW, Isa Al-Masih, dan Kartini.

Gus Ulil menjelaskan, Kartini memiliki dua hal yang membuatnya istimewa. Pertama, Kartini lahir dan tumbuh di lingkungan yang sangat feodal. Kartini adalah anak dari selir ketiga Bupati Jepara. Kartini merasakan betul bagaimana budaya Jawa yang sangat menjunjung tinggi adat dan memarjinalkan peran perempuan.

Kedua, Kartini mendapatkan kesempatan pendidikan yang luas dan bahan bacaan yang banyak. Keluarga Kartini memang orang-orang yang terdidik.

Menurut Gus Ulil, dua hal yang saling bertolak belakang tersebut membuat Kartini istimewa.

"Di satu sisi, dia berpendidikan dan memiliki bacaan yang luas. Sementara di sisi lain, ia dihadapkan dengan feodalisme," jelasnya.

Ide-ide cemerlang Kartini, jelas Gus Ulil, yang dituangkan di dalam surat-suratnya itu lahir dari persentuhannya dengan situasi dan kondisi masyarakat sekitar yang mengalami kemiskinan dan keterbelakangan.

"Kartini hidup enak karena anak bupati. Sementara, di sekitarnya kemiskinan di mana-mana. Di sini, Kartini bisa mikir," kata doktor bidang sastra alumni Universitas Indonesia itu.

Gus Ulil mengaku kagum atas keistiqamahan Kartini dalam menulis. "Dia istiqamah. Apapun yang ada ditulis. Awalnya jelek, kemudian ditulis terus hingga menjadi baik," pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Selasa 25 April 2017 18:29 WIB
Aktivis Perempuan Malaysia: Islam Junjung Tinggi Keadilan dan Kesetaraan Perempuan
Aktivis Perempuan Malaysia: Islam Junjung Tinggi Keadilan dan Kesetaraan Perempuan
Cirebon, NU Online
Aktivis perempuan Malaysia Zainah Anwar menyatakan keyakinannya kalau Islam adalah agama yang tidak mendiskriminasi, melainkan Islam itu menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan perempuan.

“Kami percaya bahwa Islam adalah agama yg menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan,” kata Zainah saat menjadi pembicara pada acara seminar internasional ulama perempuan yang diselenggarakan KUPI di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Jawa Barat, Selasa (25/4).

Tapi pada realitas, praktik-praktik agama hari ini, menurut Zainah, tidak adil gender. Padahal Islam adalah agama yang berkeadilan.

“Agama adalah adil, Islam adalah adil, oleh karena itu saya marah (jika perempuan terdiskriminasi),” katanya.

Karena ketidakadilan itu, menurutnya, telah menyebabkan perubahan kehidupan, peran, dan status perempuan. Oleh karena itu, ia menyatakan komitmennya untuk terus berjuang atas hak-hak perempuan.

“(Perjuangan) ini adalah keputusan yang tidak mudah dan bagian dari Islam untuk menegakkan HAM,” katanya.

Ia juga menyatakan akan terus melakukan perlawanan terhadap pandangan patriarki yang membuat diskriminasi pada perempuan, sekalipun upaya yang dilakukan banyak yang menentang. 

“Meskipun kami mendapat banyak tekanan, kami tidak akan pergi dari negara kami. Kami menginginkan penegakkan HAM dan juga perlakuan yang setara antara perempuan dan laki-laki tanpa ada diskriminasi,” ujarnya.

Acara Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) sendiri rencananya baru akan dibuka nanti malam oleh Hj Shinta Nuriyah Wahid di Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin, Cirebon. (Husni Sahal/Fathoni)

Selasa 25 April 2017 17:0 WIB
Bushra Qadeem: Perempuan Pakistan Sering Dieksploitasi atas Nama Agama
Bushra Qadeem: Perempuan Pakistan Sering Dieksploitasi atas Nama Agama
Cirebon, NU Online
Aktivis Gender asal Pakistan Bushra Qadeem mengemukakan tentang banyaknya perempuan Pakistan yang sering dieksploitasi atas nama agama.

“Disuruh perang, ikut aliran radikal,” kata Bushra dihadapan ratusan peserta Seminar Internasional Ulama Perempuan di Gedung Pasca Sarjana Institut Agama Islam Neger (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon, Selasa (25/4).

Lebih dari itu, ia mengatakan, perempuan juga diperlakukan secara tidak manusiawi dan seringkali dipaksa untuk menjadi pelaku bom bunuh diri.

Menurutnya, para perempuan ini seringkali ditanamkan pandangan-pandangan jihad yang tidak tepat, memutarbalikkan ajaran Islam. Mereka, katanya, mengutip Al-Qur’an untuk kepetingan gerakannya saja, dan mereka juga memanfatakan para perempuan.

Melihat hal itu, ia berharap adanya gerakan dari para ibu dan isteri untuk melawan ekstrimisme sekalipun tugas itu sangat berat.

“Memang tugas dari para istri dan ibu sungguh berat,” terangnya dalam kegiatan bertajuk Amlpifying Woman Ulama’s Voices, Asserting Values of Islam, National Hood, and Humanity ini.

Ia menjelaskan, cara yang efektif dalam melawan ekstremisme adalah dengan membangun para perempuan yang berpengetahuan.

“Perempuan perlu dibangun pengetahuan sehingga mereka percaya diri untuk menangkal praktik-praktik radikalisme,” jelas Bushra.

Selain menyoroti perlindungan terhadap perempuan, ia juga berharap, agar para ibu menjadi agen perubahan positif di dalam keluarga, dan buat anak sehingga anak-anak tidak terekspos pada gerakan radikalisme. 

“Kami mendukung para ibu agar terus berkomunikasi denga anak-anak supaya bisa bergabung dengan gerakan deradikalisasi,” katanya. (Husni Sahal/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG