IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Mustasyar PCNU Pringsewu Ajak Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Shalat

Rabu 26 April 2017 12:6 WIB
Bagikan:
Mustasyar PCNU Pringsewu Ajak Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Shalat
Pringsewu, NU Online 
Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi mengajak umat Islam, khususnya di Kabupaten Pringsewu untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas shalat. Ia menyampaikan hal itu saat hadir pada tabligh akbar peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW di Masjid Nurul Hidayah Pringsewu Barat, Senin malam (24/4).

"Yang shalatnya baru satu tahun dua kali pada Lebaran saja, kita doakan bisa tambah menjadi sebulan empat kali di Shalat Jumat. Yang sebulan empat kali kita doakan bisa ditambah sehari sekali shalat maghrib. Yang sudah satu hari sekali, kita doakan bisa sehari lima kali. Yang sudah sudah lima kali kita doakan bisa ditambah shalat nawafil," katanya.

Ulama yang sekaligus umara ini juga berharap kemakmuran masjid di Pringsewu terus ditingkatkan dengan terus digunakan untuk aktivitas ibadah. Selain itu kemakmuran dapat dilakukan dengan mengadakan peringatan-peringatan hari besar. 

Keberadaan Taman Pendidikan Al Qur'an atau TPA, tambah Bupati Pringsewu terpilih periode 2017-2022 ini, juga dapat menambah makmur dan manfaatnya sebuah masjid.

Hal senada juga disampaikan Ustadz Mumuy Abdul Mukti yang menjadi penceramah pada kegiatan yang dilaksanakan di halaman masjid tersebut. Menurutnya, dengan makmurnya sebuah masjid maka keislaman masyarakatnya akan lebih sempurna.

"Shalat berjamaah akan menyatukan umat dan meningkatkan persatuan dan kesatuan," ujar ustadz kecil yang merupakan juara Reality Show Aksi Indosiar ini.

Dengan suara khas dan diselingi dengan banyak humor, Ustad Mumuy juga mengajak umat Islam untuk mendidik putera-puterinya dengan ilmu agama di TPA masjid yang ada disekitarnya. 

"Didik para generasi penerus kita untuk mengenal Allah," ajaknya seraya melantunkan syair lagu sifat wajib bagi Allah yang kemudian diikuti oleh para jamaah.

Selain itu Ia mengajak para orang tua untuk mendidik tiga akhlak yang sangat penting untuk mengarungi kehidupan dunia. Ketiga hal tersebut adalah akhlak kepada Allah, orang tua dan sesama. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Rabu 26 April 2017 22:0 WIB
Kunci Menjadikan Shalat Berkualitas
Kunci Menjadikan Shalat Berkualitas
Pringsewu, NU Online
Ibadah shalat merupakan ibadah yang sangat spesial. Ibadah fardhu bagi umat Islam ini didapat Rasulullah SAW saat melakukan perjalanan Isra Mi'raj bersama Malaikat Jibril bertemu dengan Allah SWT. Sehingganya pada setiap momen Peringatan Isra' Mi'raj, peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah selalu menjadi materi utama.

Hal itu disampaikan oleh Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Ambarawa, Pringsewu, Lampung Kiai Abah Anom saat memberikan mauidzah hasanah Peringatan Bakti Sosial dan Peringatan Isra' Mi'raj yang dilaksanakan oleh Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kecamatan Pringsewu, Selasa (25/4).

Pada kegiatan yang dilaksanakan di Halaman Masjid Nurul Ikhlas Kuncup Pringsewu ini, ia menjelaskan beberapa hal terkait peningkatan kualitas shalat. Salah satu faktor penentu Kualitas shalat bisa dihasilkan dari awal persiapan dan saat pelaksanaannya.

Sebelum melakukan shalat Ia mengingatkan untuk meyakinkan kondisi tempat, pakaian, badan dan yang terkait dengan shalat telah benar-benar suci. "Hal lain yang penting juga membersihkan hati dari sifat-sifat buruk dan hanya memikirkan tentang Allah SWT," tegasnya.

Untuk menambah kualitas shalat, Ia juga mengingatkan untuk meresapi serta mentadabburi setiap kalimat dan ayat yang dibaca. "Yang ditulis malaikat itu apa yang diangan-angan kita. Bagus yang diangan-angan saat shalat, maka nilai pahalanyapun bagus. Jelek yang diangan-angan kita maka nilai pahalanya pun jelek," ujarnya.

Kiai Abah Anom berharap dengan bermutunya shalat yang dilaksanakan akan dapat terlihat nyata dalam pergaulan kehidupan sehari-hari baik hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Hal ini lanjutnya sudah diibaratkan dengan simbol perjalanan yaitu isro' sebagai hubungan horisontal dengan sesama manusia dan Mi'roj sebagai hubungan vertikal dengan Allah SWT.

Selain itu tambahnya, dengan kualitas shalat yang baik, kesholehan diri juga akan bertambah sehingga tidak hanya sholeh saja namun bisa mencapai tataran muslih. "Sholeh itu kebaikan yang hanya untuk diri sendiri. Sedangkan Muslih adalah kebaikan untuk diri dan orang lain," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Rabu 26 April 2017 20:25 WIB
Mahasiswa Santri Harus Mewarnai Panggung Politik
Mahasiswa Santri Harus Mewarnai Panggung Politik
Pati, NU Online
Pesantren sejak dahulu terbukti memiliki semangat juang yang tinggi dalam perkembangan dan pembangunan negara Indonesia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pesantren pada dasarnya memiliki gen politik yang kuat. Namun demikian, dalam kenyataannya, pesantren tidak memiliki kekuatan birokrasi yang mendukung. Para santri yang memegang jabatan struktur birokrasi di Indonesia masih minim. Hal ini disebabkan salah satunya pola pola pikir kaum santri yang masih berpandangan negatif terhadap politik sehingga enggan terjun dalam percaturan politik.

Pandangan tersebut disampaikan Marwan Ja'far, mantan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal  dalam seminar nasional Muktamar ke-2 Halaqoh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Pesantren se-Indonesia tahun 2017 di Institut Pesantren Mathali'ul Falah (IPMAFA) Pati, Selasa (25/4). Seminar bertajuk Memperkokoh Barisan Pesantren, Mengawal Birokrasi Indonesia juga diisi oleh Dr Jamal Ma'mur, salah seorang dosen IPMAFA yang sekaligus pengurus wilayah Rabithah Ma'ahid Islamiyah.

Dalam orasinya, Marwan menegaskan jalur politik dapat mengawal jalannya sistem birokrasi di Indonesia. Dengan politik, seseorang dapat melakukan perubahan dan masukan kepada jalannya sistem pemerintahan yang ada. Maka untuk dapat memberi sumbangsih dan kemajuan kepada negara dalam hal birokrasi, santri harus terjun di dunia politik sekaligus mempersiapkan segala hal yang diperlukan. Sudah semestinya santri memiliki wawasan yang luas dan memperkaya khasanah keilmuan yang progresif.

Sementara narasumber kedua, Dr Jamal banyak mengupas tentang peran pesantren dan santri dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, sesuai pandangan KH MA Sahal Mahfudz tugas utama santri ada dua, pertama tafaqquh fa addin atau memperdalam wawasan ilmu agama, dan kedua bersosial dan bermasyarakat yakni berperan aktif dalam membangun masyarakat di sekitarnya.

Marwan berpesan kepada para santri bahwa sekarang ini santri harus lebih mempunyai nilai dari pada yang lain. Santri harus mampu berfikir lebih terbuka, tidak berpandangan sempit. Santri tidak selamanya berjibaku pada penguasaan karya-karya salaf saja, tapi harus cerdas melihat realita yang ada. Harapannya dari Muktamar BEM Pesantren, forum tersebut dapat mengeluarkan semacam rekomendasi-rekomendasi yang layak disuarakan kepada pemerintah sehingga eksistensi BEM Pesantren dapat terlihat dan mewarnai sistem perpolitikan di Indonesia.

Forum ini merupakan bagian dari acara pengokohan BEM Pesantren yang dihadiri 50 perwakilan BEM Pesantren se Indonesia dengan salah satu misinya bahwa BEM pesantren yang terdiri dari kalangan santri muda nantinya dapat mewujudkan kiprah dan eksistensinya dalam kemajuan sistem birokrasi di Indonesia. Red: Mukafi Niam
Rabu 26 April 2017 19:45 WIB
Siswa MAN Lasem Teladani Kartini Lewat Kirab Budaya
Siswa MAN Lasem Teladani Kartini Lewat Kirab Budaya
Rembang, NU Online
Salah satu cara dalam mengenang jasa Raden Ajeng Kartini, para siswa Madrasah Aliah Negeri (MAN) Lasem, Rembang, Jawa Tengah mengadakan "Kirab Budaya Batik Karnival".

Acara yang dikhususkan untuk mengenang salah satu santri Kiai Sholeh Darat Semarang itu digelar Rabu (26/4) siang di halaman MAN Lasem.

Salah satu Siswi MAN Lasem Sabigho Makarima saat ditanya mengapa tertarik Kirab Budaya di Hari Kartini, ia mengungkapkan bahwa Kartini bukan hanya sekadar Pahlawan Nasional, tetapi juga teladan atau contoh yang baik sebagai seorang Muslimah.

"Ia karena beliau bukan hanya sekedar pahlawan nasional, melainkan tulodho (contoh) yang baik sebagai seorang Muslimah, karena Kartini merupakan salah satu santri Kiai Sholeh Darat," tuturnya.

Dengan mengenakan kostum batik karnival, siswi kelas 10 itu mengaku bersemangat untuk mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengaku membutuhkan waktu hampir dua minggu untuk mempersiapkan diri agar bisa ikut memeriahkan Hari Kartini.

“Sebagai seorang muslimah, ia pantang menyerah, terus belajar meski rintangan banyak menghadang,” tandasnya. (Ahmad Asmui/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG