IMG-LOGO
Nasional

Kiai Ma'ruf Amin: Tanggung Jawab NU Kian Besar

Rabu 26 April 2017 21:1 WIB
Bagikan:
Kiai Ma'ruf Amin: Tanggung Jawab NU Kian Besar
Tasikmalaya, NU Online
Rais Aam PBNU, KH Ma'ruf Amin mengatakan tanggungjawab NU kian besar. NU bukan hanya punya tanggungjawab keumatan, tetapi tanggung jawab terhadap sejarah, terhadap kebangsaan dan tanggung jawab terhadap NU itu sendiri serta kepada para Ulama.

Menurut Kiai Ma'ruf, kenapa NU bertanggung jawab kepada umat, karena ketika menjelang wafat, Rasul SAW pun hanya mengkhawatirkan umatnya. Rasul tidak mengkhawatirkan istri dan anak-anaknya tapi berpesan bagaimana dengan umatnya.

"Pesan Rasul, ummatii, ummatii, ummatii. Jadi tanggung jawab besar NU bagaimana menjaga dan memelihara umat karena siapa yang mengabdi untuk umat, Insyaallah akan ditinggikan derajatnya," kata Kiai Ma'ruf dalam taushiyah pelantikan PCNU Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (26/4).

Untuk itu, Kiai Ma'ruf mengingatkan bahwa tugas Ulama menyiapkan generasi-generasi Ulama juga serta tokoh-tokoh perubahan. Sehingga Ulama jangan hanya dipesantren tapi harus terjun ditengah masyarakat.

NU pun, ucap Kiai Makruf, memiliki tanggung jawab juga terhadap sejarah karena pendiri Indonesia adalah NU. Maka NU wajib memelihara dan menjaga NKRI sehingga siapa saja yang mengancam Indonesia akan berhadapan dengan NU.

"Selanjutnya tanggung jawab NU terhadap ulama karena NU organisasinya para ulama. Sehingga ulama NU harus beraqidah Ahlussunah wal Jamaah yang An-Nahdiyah jangan Aswaja tapi harokahnya beda. Jangan sampai mengaku NU, berakidah Aswaja tapi harokah (gerakan)-nya wahabi dan khawarij," tuturnya. 

Setelah memberi taushiyah di Pelantikan, KH Makruf meresmikan Kantor PCNU Kabupaten Tasikmalaya di Jalan Badak Paeh Singaparna. Di sana ia meminta Ketua PWNU Jabar, KH Hasan Nuri Hidayatullah untuk menjadikan Kantor PCNU Kabupaten Tasikmalaya sebagai Gedung Kantor percontohan di Jawa Barat. (Nurjani/Fathoni)

Tags:
Bagikan:
Rabu 26 April 2017 23:0 WIB
Ulama Perempuan Indonesia Diperhitungkan dalam Sejarah
Ulama Perempuan Indonesia Diperhitungkan dalam Sejarah
Cirebon, NU Online
KH Husein Muhammad menyebutkan sejumlah ulama perempuan Indonesia yang popular seperti seperti Rahmah el-Yunusiyah (Padang Panjang, Sumatera Barat), Nyai Khoiriyah Hasyim (Jombang),Teungku Fakinah (Aceh), Sultanah Safiatudin (Aceh), Fatimah (Banjarmasin).

Bahkan sejumlah penelitian belakangan menunjukkan  ratusan bahkan ribuan perempuan Indonesia dengan kemampuan ilmiah yang setara dengan laki-laki. Mereka bekerja dalam dunia ilmiah, majelis ta’lim dan pesantren, maupun modern, pendidikan tinggi dan pusat-pusat riset sosial keagamaan.

“Mereka adalah ulama,” kata Kiai Husein pada makalahnya saat menjadi pembicara seminar pada acara Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Ciwaringin, Cirebon, Rabu (26/4).

Ia mengatakan, saat ini dunia sangat membutuhkan lahirnya banyak ulama perempuan dengan seluruh makna keulamaannya. Peran perempuan harus dimaksimalkan dalam segala aspek kehidupan di ruang domestik maupun publik.

“Mereka (perempuan) dibutuhkan bersama kaum laki-laki membangun negara dan bangsa ini demi terwujudnya cita-cita bersama, keadilan, kemajuan, dan kesejahteraan,” kata Kiai Husein.

“Mereka dibutuhkan untukmemberi makna-makna baru atas kehidupan yang berkeadilan  dan berkemanusiaan,” tambahnya.

Pada seminar itu juga menghadirkan pembicara lain, Dosen Pasca Sarjana PTIQ Nur Rafiah, Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiah Yoyakarta Siti Aisyah, dan Guru Besar UIN Suna Kalijaga Yogyakarta Machasin. (Husni Sahal/Fathoni)

Rabu 26 April 2017 20:22 WIB
Awal Sya’ban 1438 H Jatuh pada Jumat 28 April
Awal Sya’ban 1438 H Jatuh pada Jumat 28 April
Jakarta, NU Online
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan bahwa awal bulan Sya’ban 1438 Hijriah jatuh pada Jumat (28/4). Ikhbar ini berdasarkan hasil observasi langit oleh tim rukyah Lembaga Falakiyah PBNU.

Ketua Lembaga Falakiyah PBNU KH Ghazalie Masroeri mengatakan, rukyat yang dilakukan pada Rabu (26/4) petang atau bertepatan dengan 28 Rajab berkesimpulan bahwa hilal tidak terlihat di seluruh wilayah Indonesia. Sehingga, bulan Rajab disempurnakan menjadi tiga puluh hari (istikmal).

“Terima kasih atas partisipasi dan kontribusi Nahdliyin (dalam rukyat kali ini),” katanya dalam siaran pers.

Ikhbar ini sesuai dengan data hisab Lembaga Falakiyah PBNU yang memprediksi bahwa tanggal 1 Sya’ban akan berlangsung pada Jumat Pon, 28 april 2017. Tinggi hilal pada pantauan Rabu petang mencapai -0 derajat 23 menit 37 detik.

Sya'ban adalah bulan kedelapan dalam hitungan kalender hijriah. Dalam bahasa Arab ia berasal dari kata syi'ab yang artinya jalan di atas bukit. Di bulan ini umat Islam dianjurkan mengamalkan amalan-amalan tertentu, khususnya pada malam pertengahan Sya’ban atau populer disebut Nisfu Sya’ban. (Mahbib)

Rabu 26 April 2017 20:1 WIB
Sejarah Orang-orang Besar Lahir dari Perempuan Hebat
Sejarah Orang-orang Besar Lahir dari Perempuan Hebat
Cirebon, NU Online
Sejarah orang-orang besar terkait dengan sejarah perempuan-perempuan hebat, mereka dilahirkan dan dididik oleh seorang perempuan. Sebagian perempuan adalah ulama.

“Keulamaan perempuan dan peran mereka sebagai guru para ulama laki-laki telah hadir sejak awal sejarah Islam,” kata KH Husein Muhammad melalui pesan tertulis saat menjadi pembicara seminar pada acara Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Ciwaringin, Cirebon, Rabu (26/4).

Ia menyebutkan nama ulama perempuan seperti Siti Aisyah Binti Abu Bakar. Dalam makalah terebut, ia mengutip beberapa sumber kitab yang menyebutkan bahwa Sity Aisyah adalah orang yang paling pandai, paling faqih, juga guru dari banyak sahabat.

Selain Aisyah, ia menyebut juga nama ulama perempuan Sayyidah Nafisah. ulama perempuan ini dikenal cerdas, sumber pengetahuan keislaman, pemberani, tekun menjalani ritual dan asketis (zuhud).

“Ia adalah guru Imam Syafi’i dan kemudian Imam Ahmad bin Hambal,” kata Kiai Husein.

Selain Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal yang berguru pada ulama perempuan, terdapat juga nama Ibn Arabi (sufi terbesar) sepanjang zaman.

Menurutnya, kebesaran Ibn Arabi tidak bisa dilepasakan dari tiga orang perempuan. Ketiga perempuan tersebut bernama Fakhr al-Nisa, Qurrah al-Ain, dan Sayyidah Nizham.

“Ia (Ibn Arabi) banyak menimba ilmu dari mereka,” katanya. (Husni Sahal/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG