IMG-LOGO
Pesantren

Mahasiswi Unhasy Salin Manuskrip Kuna di Atas Lontar

Jumat 2 Juni 2017 12:2 WIB
Bagikan:
Mahasiswi Unhasy Salin Manuskrip Kuna di Atas Lontar
Jombang, NU Online
Para mahasiswa dan mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Hasyim Asy‘ari (Unhasy) Tebuireng Kabupaten Jombang melakukan penyelamatan manuskrip-manuskrip lama. Mereka menyalin manuskrip untuk menyelamatkan teks klasik karena manuskrip aslinya rusak dan renta dimakan usia.

Kegiatan ini berlangsung di Kampus B Unhasy Tebuireng, Kamis (1/6) siang. Penyalinan manuskrip dibagi dalam beberapa tim untuk menyelesaikan beberapa teks. Bentuk penyalinan dilakukan memakai bahan alas lontar agar terlihat klasik dan lebih ke arah pengembalian bentuk aslinya.

“Kegiatan ini diharapkan agar anak muda mau peduli terhadap peninggalan nenek moyang kita sekaligus mempelajari teks klasik untuk ditarik relevansinya dengan dunia sekarang. Proses penyalinan semacam ini tidak lain sebagai alternatif penyelamatan manuskrip aslinya, karena kondisi manuskrip asli sudah dalam kondisi rusak. Harapan kami ke depan, manuskrip-manuskrip yang ada akan dilakukan proses digitalisasi,” kata dosen PBSI FIP Unhasy Agus Sulton.

Manuskrip yang disalin bermuatan nilai-nilai budi pekerti dan kewajiban anak kepada orang tua. Selain itu juga berupa teks cerita teladan atau perjuangan Nabi Muhammad selama di Mekkah.

Antusias mahasiswa dan mahasiswi sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan ketelitian mereka pada saat proses penyalinan.

“Saya merasakan begitu luar biasa perjuangan pendahulu kita dalam proses penyalinan manuskrip atau naskah kuno. Untuk sekadar memiliki naskah mereka harus rela menyalin sendiri atau membelinya dengan harga yang tidak murah. Menyalin merupakan perjuangan melatih kesabaran dan ketelatenan yang tinggi. Kalau hal itu tidak dibekali biasanya akan mendapatkan hasil yang kurang maksimal,” kata Zenius Nila Atika Sari, mahasiswi PBSI FIP Unhasy semester empat. (Robiah/Alhafiz K)

Tags:
Bagikan:
Senin 29 Mei 2017 22:2 WIB
Pesantren Darussalam Kaji Empat Kitab Selama Ramadhan
Pesantren Darussalam Kaji Empat Kitab Selama Ramadhan
Brebes, NU Online
Pondok Pesantren Darussalam Jatibarang Kidul, Kecamatan Jatibarang, Brebes, Jawa Tengah selama bulan puasa mengkaji empat kitab kuning. Kajian tersebut, digelar dalam berbagai waktu sesuai peruntukannya dan terbagi di dua tempat. Santri mukim maupun kalong bisa mengikuti kegiatan kajian kitab kuning tersebut dalam waktu lebih kurang 20 hari ke depan. 

Demikian disampaikan pengasuh Ponpes Darussalam Jatibarang KH Syeh Sholeh Muhammad Basalamah saat berbincang dengan NU Online di kediamannya, kompleks pondok, Jalan Pramuka Jatibarang Kidul, Jatibarang Brebes, Senin (29/5).

Adapun kitab yang dikaji yakni kitab Mukafirot Dhunub yang membahas langkah langkah ampunan dosa, sebab masalah  ini sangat penting bagi kehidupan manusia di dunia. Selanjutnya kitab Wasiyatul Mustofa yang berisi wasiat-wasiat Rasullah. Lalu kitab Birul Walidain khususnya untuk santri. Kitab Al-Arbaun, yang berisi empat puluh hadits tentang persatuan umat, empat puluh hadits kehebatan Muhammad dan empat puluh hadits tentang kebesaran Allah.

Peserta kajian Kitab, lanjutnya tidak hanya santri mukim saja tetapi juga jamaah Ahlit Thoriqoh Atijaniyah serta masyarakat umum. “Tadi pagi, hadir lebih dari 1000 jamaah,” ungkapnya.

Kajian Kitab digelar setiap hari Senin dan Kamis di pondok pesantren untuk masyarakat di luar santri mukim. Sedangkan untuk kajian di masjid Mujahidin, setiap sore bada ashar berlangsung setiap hari untuk santri dan masyarakat umum. 

Syeh Sholeh, demikian panggilan akrabnya menjelaskan, pondok pesantren Darussalam berdiri pada tahun 1988 yang pada awalnya mengelola Madrasah Diniyah Darussalam. Namun melihat perkembangan dan minat santri cukup banyak maka pada tahun 1999 membuka pesantren Darussalam hingga kini. 

Pondok kami, sementara baru menerima santri putra dan maksimal pertahun pelajaran menerima 40 santri. “Sekarang santri ada 250 orang,” ucapnya.

Pembatasan jumlah santri, lanjutnya, dilatarbelakangi ingin memberi citra bahwa pesantren tidak kumuh, harus bersih dan sehat. “Kalau melebihi kapasitas, santri menjadi repot akibat keterbatasan sarana dan prasaran dan sedikitnya pengasuh,” ungkapnya.

Meski demikian, lanjutnya, ke depan, ulama yang senang menulis buku ini lagi mengkader santri agar bisa membantu dirinya. “Saya pengin membangun nuansa pesantren yang lebih bersih dan sehat, pesantren yang bersih secara fisik dan mental,” tandasnya. 

Syeh Sholeh menegaskan, dalam mengelola Pesantren Darussalam dirinya lebih menekankan pendidikan atau tarbiyah bukan pelajaran, kalau belajar hanya sekadar baca kitab, menghafal pelajaran. “Tapi kalau pendidikan atau tarbiyah santri mampu mempraktekan hasil yang dipelajari. Apa yang bisa dipelajari santri, langsung kita praktekan,” pungkasnya. (Wasdiun/Abdullah Alawi)


Senin 29 Mei 2017 12:1 WIB
Semakin Beragama, Harusnya Semakin Cinta Tanah Air
Semakin Beragama, Harusnya Semakin Cinta Tanah Air
Grobogan, NU Online
Dewasa ini sifat dan sikap nasionalisme banyak orang yang juga beragama mulai luntur. Semakin beragama, seharusnya semakin tinggi nilai nasionalismenya, bukan berkurang atau bahkan hilang.

Demikian disampaikan Ustadz Ali Masykur saat menjelaskan kutipan teks kitab Ad-Difa' anil Wathan karya KH M Said Lirboyo dalam pengajian pasaran di Pesantren Al-Misykah Desa Selo Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan, Ahad (28/5) malam.

Muqaddimah kitab karya dzurriyyah lirboyo ini menjelaskan betapa pentingnya urusan tanah air, yang mana hal tersebut merupakan hakikat diniyyah atau keagamaan.

"Banyak anggapan bahwa sebagai seorang Muslim hanya wajib memperbaiki kualitas agamanya, tidak wajib berkecimpung dalam upaya wathaniyyah. Hal ini adalah bentuk kesalahan dan kerugian," terang Ustadz Ali di pesantren asuhan Kiai Asnawi Lathif.

Kiai Muhammad Said mencantumkan hadits “Man lam yahtamma bi amril muslimin fa laisa minhum” dalam karyanya. Hadits ini bisa menjadi fondasi bahwa umat Islam harus ikut terjun berpikir dan beraksi dalam upaya memberikan maslahat terhadap kaum Muslimin, khususnya yang berada dalam tanah air tercinta ini.

Pada awal kajian kitab ini, Ustadz Ali berharap semua santri dan kaum muslimin agar tidak hanya mementingkan soal pribadinya, tetapi namun juga maslahat secara umum. Selain itu, rasa hubbul wathan harus tumbuh di dalam hati seorang santri sebab santri yang berupaya mewujudkan kemerdekaan tanah air ini. (A Lubabul Arifin/Alhafiz K)

Ahad 28 Mei 2017 22:2 WIB
Di Al-Falah, Santri Hafalkan Al-Qur’an Selama Ramadhan
Di Al-Falah, Santri Hafalkan Al-Qur’an Selama Ramadhan
Brebes, NU Online 
Pengasuh Pondok Pesanteren Modern Al-Falah Jatirokeh, Kecamatan Songgom, Brebes KH Nasrudin berpendapat bahwa Ramadhan adalaj bulan Al-Qur’an atau syahrul Qur’an. Untuk itu, selama Ramadhan seyogyannya umat Muslim memanfaatkan waktunya untuk, mempelajari, tadarus, mengkaji, menghafal yang pada akhirnya mampu mempraktikkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. 

“Ramadhan itu, bulan Qur’an,” kata KH Nasrudin dalam perbincangan dengan NU Online di rumahnya kawasan Pondok Pesantren Modern Al-Falah Jatirokeh, Songgom, Brebes, Sabtu (27/5).

Di dalam bulan Ramadhan pula, lanjutnya, kali pertama Al-Qur’an diturunkan yakni pada 17 Ramadhan yang lebih dikenal dengan nama Nuzulul Qur’an. 

Bulan Ramadhan mendapat sebutan syahrul Qur’an karena pada bulan ini Allah SWT menurunkan Al-Qur’an, sebagaimana yang telah dituturkan dalam surat Al-Baqarah ayat 185. 

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk serta pembeda (antara kebenaran dan kebathilan) (QS.Al-Baqarah:185).

Jadi, ada penekanan yang harus dilakukan oleh kaum Muslim untuk tenggelam dalam ayat-ayat Al-Qur’an selama Ramadhan demi keselamatan hidup di dunia maupun akherat.  

Kaum Arab tempo dulu, pada akhirnya bisa berubah beradab, berakhlakul karimah karena telah mengaplikasikan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari hari. “Sentuhan Al-Qur’an mampu mengubah tatanan kehidupan yang semrawut menjadi lebih beradab, lembut, halus, menyenangkan, damai sepanjang masa,” ungkap Kiai Nas-panggilan akrabnya.

Sebagai bentuk kecintaan pada Al-Qur’an, sambungnya, santri Al-Falah selama bulan Ramadhan hanya mengutamakan satu kegiatan khusus yakni menghafal Al-Qur’an. Seberapa pun hasilnya, 850 santri akan diajak untuk menghafal Al-Qur’an secara berkelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 santri. “Saya yakin santri bisa menghafAl-Qur’an 40 sampai 50 persen selama Ramadhan,” ungkapnya.

Pesantren Moderan Al-Falah dibangun sejak 1997 dan baru diresmikan 2002 oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla dalam bentuk kawasan pendidikan berbasis pesantren. Dalam perkembangannya, pesantren ini mengalami pasang surut karena masih dalam tahap pembangunan sarana fisik. “Baru enam tahun terakhir ini, Pesantren Modern Al-Falah memantapkan diri dan mendapat tempat dihati masyarakat,” terangnya.

Dengan luas tanah 12 hektar, Pesantren Modern Al-Falah terus mengembangkan sarana dan prasarana dengan pembangunan ruang kelas, asrama, masjid, laboratorium dan lain-lain seluas 6 hektar.

Selama Ramadhan tahun ini, pesantren menerapkan metode tahfidz rubuiyah, tidak ada materi lain semua santri menjadi tahfidz, penghafal Al-Qur’an. Selain itu, ada penambahan materi pendalaman puasa yang disampaikan melalui ceramah umum. 

Nasrudin memaparkan kalau Ponpes Modern Al-Falah makin komplit seperti tersedianya masjid, sarana sekolah, asrama, ruang makan, laboratorium, perpustakaan, sarana olah raga, tempat-tempat istirahat yang luas. 

“Ponpes Modern Al-Falah, akan menjadi ikon lembaga pendidikan yang representatif, modern yang kualitas mutunya sesuai standar Indonesia,” ungkapnya. 

Untuk itu, lanjutnya, pihak pesantren terus melakukan pembangunan sarana prasarana serta pendudukung lainnya. Termasuk para ustadz dan ustadzahnya senyak 30 orang ditambah puluhan senior. 

Tapi yang jelas, untuk manajemn mutunya para santri pada akhirnya memiliki penguasaan bahasa Arab dan Inggris. 

“Sebagai awal, santri baru akan diberi bekal mempelajari kitab nahwu sharaf dengan metode tamyis, yakni panduan bisa membaca kitab kuning dalam waktu 100 jam,” imbuhnya. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG