IMG-LOGO
Internasional
JURNAL DAI RAMADHAN

Sedekah dengan Ganjaran Dobel

Rabu 7 Juni 2017 4:23 WIB
Bagikan:
Sedekah dengan Ganjaran Dobel
Sapuloh bersama BMI di Macau
Macau, NU Online
Senin (5/6) adalah pelaksanaan shalat tarawih malam kesebelas. Tak terasa sudah sampai masuk sepertiga kedua Ramadhan. Rencananya saya akan memimpin tarawih dan witir sebanyak 23 rakaat. Baru dua rakaat baju saya sudah lepek basah oleh keringat. Di ruangan itu kipas terus berputar kencang tanpa henti, namun angin yang berhembus justru laksana uap sauna.

Usai witir, bermula dari sebuah pertanyaan obrolan seputar zakat, infak, dan sedekah meluncur satu per satu dari jamaah Indonesia yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Memang diakui potensi zakat umat Muslim yang sedemikian besar belum digarap secara maksimal, walaupun diakui trennya setiap tahun selalu naik.

Salah satu yang menarik kami diskusikan ialah masih luputnya wawasan fiqh prioritas dari Muslim Indonesia. Banyak di antara kita yang menyalurkan sedekah atau infaknya, namun tidak mengindahkan skala prioritas. Padahal seharusnya orangtua, keluarga, dan kerabat dekat lebih dahulu menjadi perhatian utama.

"Iya, Ustad. Kita sering bersedekah kepada fakir miskin ataupun masjid. Tapi lupa sama saudara sendiri yang susah. Seakan akan gak kelihatan," begitu komentar salah satu jamaah.

Harus diakui tak jarang masyarakat kita justru gemar sedekah dan berinfak, namun abai pada keluarga atau kerabat dekat. Padahal ganjaran sedekah terhadap keluarga dan kerabat dekat nilainya dua kali lipat. Pertama, dinilai sedekah. Kedua dinilai sebagai upaya shilah (menyambung silaturahim) sebagaimana tercantum dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Turmudzi dan An-Nasa'i.

Jika kita merujuk kepada Al-Qur’an, di antaranya terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 36 dan An-Nahl ayat 90, berbicara tentang pentingnya berbuat kebaikan kepada keluarga dan kerabat dekat. Bahkan ada satu ayat yang bicara tentang memberi harta pada ''dzawi al-Qurba", baru kemudian menunaikan zakat seperti yang tercantum dalam Al-Baqarah ayat 177.

Ibadah sosial dan yang memperkuat hubungan silaturahim memang lebih ditekankan di dalam Al-Qur’an ketimbang ibadah yang hanya membawa kenikmatan secara individual. Karena dampak ibadah sosial jauh lebih besar manfaatnya kepada masyarakat.

Malam itu, ditemani segelas kopi saya sampaikan, "Di dalam Islam kita dilarang meminta-minta. Tapi di saat yang sama kita harus memberi sebelum mereka yang membutuhkan, meminta."

Rekan saya, Ustad Muhammad Yunus turut menambahkan, fenomena itu mungkin terjadi karena adanya penyakit hati.

“Sehingga justru urusan harta dan hubungan kekeluargaan menjadi amat sensitif. Perbedaan ekonomi bukan jadi kesempatan untuk saling mengisi, justru yang ‘berada’ tak peduli walau terhadap keluarga sendiri,” papar Ustad asal Banyuwangi, Jawa Timur.

"Ibadah sosial bukan hanya membutuhkan tekad dan iming-iming pahala tapi juga kebersihan hati, kearifan serta kepekaan yang tinggi dalam menentukan prioritas," tutup saya. (Saepuloh, dai anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau. Kegiatan ini bekerja sama dengan LAZISNU)


Bagikan:
Selasa 6 Juni 2017 16:8 WIB
JURNAL DAI RAMADHAN
Warga Macau Terkesan dengan Kerukunan Bangsa Indonesia
Warga Macau Terkesan dengan Kerukunan Bangsa Indonesia
Jelang berbuka puasa di Macau.
Ramadhan ibarat tamu VVIP. Ia datang membawa harapan yang sedemikian besar serta kegembiraan baik secara sosial, material dan spiritual. Amalan yang biasa saja bisa bernilai tinggi seakan-akan terkesan pintu surga dibuka selebar-lebarnya dan pintu neraka ditutup serapat-rapatnya.
 
Ini bagi yang memaknai hadis keutamaan Ramadhan secara majazi. Namun, buat seorang Muslim sedikit ridha Allah yang diraih itu jauh lebih besar nilainya ketimbang surga dan isinya.

Senin (5/6) siang, Nasir, yang biasa mengurusi masjid Macau meminta saya untuk adzan ashar.
 
"Your voice is very nice," katanya memuji setelah mendengar suara saya berceramah di hadapan ratusan BMI Macau. Padahal saya merasa suara saya biasa saja.
 
Waktu ashar di sini seharusnya pukul 15:40, namun di papan tulis terdapat pengumuman mengenai penyesuaian waktu shalat dengan jam kerja jamaah. Alhasil setelah berwudhu, saya langsung diserahi mic wireless untuk adzan pada pukul 17:10.

Saya sempat bertanya kepada Nasir apa pendapatnya tentang orang Indonesia? Kebetulan ia berdarah Pakistan, tetapi lahir dan besar di Macau.

"Indonesian people is very peacefulness," jawabnya sembari tersenyum.
 
Memang setiap Ahad diadakan Podok Ramadhan (Ponram) dengan pemateri dari LDNU, NU Care-LAZISNU, dan Dompet Dhuafa. Kepanitiaan kegiatan berasal dari YPW, Shelter, Irsyad, MATIM, MNU, Halimah, Peduli, TEQ, Masjid.

Dari itu terlihat suasana guyub ala Indonesia. Saya bisa merasakan vibrasi kental ke-Indonesia-an di sini. Ada stan pembayaran zakat, ada ibu-ibu yang sedang asik mengisi gelas plastik dengan es buah.
 
Ada sebagian kelompok sedang membungkus nasi, dan yang lain menyiapkan air mineral dan buah. Ada juga yang sedang menghitung uang hasil kotak tromol. 

Suasana ke-Indonesia-an inilah yang ditangkap oleh warga yang tinggal di sini termasuk Nasir. “Orang Indonesia bukan tipe masyarakat yang senang membuat masalah,” kata Nasir lagi.

Dalam hati saya berdoa, semoga keguyuban dan kedamaian warga Indonesia khususnya Muslim di mana pun berada bisa tetap terpelihara sebagai jati diri serta karakteristik bangsa yang mahal harganya.

Saepuloh, anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau. Kegiatan ini bekerja sama dengan LAZISNU.

Selasa 6 Juni 2017 14:39 WIB
NU Inggris Kutuk Aksi Teror di London Bridge
NU Inggris Kutuk Aksi Teror di London Bridge
Foto: Polisi berjaga di sekitar aksi teror di London Bridge, London, Inggris, Ahad (4/6).
London, NU Online
Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Inggris mengecam aksi teror yang terjadi di area London Bridge, London, Sabtu (3/6) malam. Ketua PCINU Inggris Ahmad Ataka menilai aksi teror yang menyebabkan meninggalnya tujuh warga sipil ini termasuk ke dalam dosa besar.

"Serangan terhadap warga sipil, terutama di bulan suci Ramadhan, bukan hanya tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam tapi juga termasuk dosa besar,” kata Ataka dalam siaran pers, Selasa (6/6).

Pihaknya menyebut aksi ini justru menjadi justifikasi tindakan Islamophobia yang menyasar minoritas Muslim di Barat dan terutama di London.

Data kepolisian di London menunjukkan, peningkatan insiden dan tindak kriminal Islamophobia sebanyak 69.64 persen di tahun 2015 dan terus meningkat 16.84 persen di 2016.

Lebih jauh, pengurus PCINU Inggris Didiek Wiyono menjelaskan, jika dilihat serangkaian aksi teror sebelumnya, khususnya yang terjadi di bulan Ramadhan seperti di Kabul, Baghdad, dan Qatif, umat Islam justru menjadi korban.

“Mungkinkah tindakan yang merugikan ummat Islam dan merusak citra Islam itu dilakukan oleh oknum yang 'jernih' pemahaman agamanya? Fair-kah jika ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas aksi teror itu disebut (atau menyebut diri mereka) sebagai umat Islam atau kelompok jihad Islam?” kata Didiek.

Didiek pun mengajak seluruh umat Islam untuk memerangi teror. Pihaknya juga siap bekerja sama dengan pemerintah dan warga Inggris untuk menyebarkan paham Islam moderat dan ramah.

NU juga mendorong semua pihak untuk tetap tenang dan waspada serta melaporkan segala tindakan mencurigakan maupun terror kebencian kepada pihak berwenang.

Aksi teror penyerangan menggunakan van dan penusukan ini diduga dilakukan tiga orang yang telah ditembak mati di tempat oleh pihak kepolisian di sekitar lokasi kejadian.

Hingga kini, kepolisian masih menginvestigasi teror yang terjadi kedua kalinya dalam tiga bulan belakangan di ibukota Inggris Raya ini.

Meski teror ini melumpuhkan jalur bus dan kereta di pusat kota London selama akhir pekan lalu, warga tetap beraktivitas. Pantauan mata pada Ahad pagi, sejumlah turis juga tampak memadati area wisata di sekitar London Bridge seperti Tower Bridge dan Tower of London. (Red: Mahbib)

Senin 5 Juni 2017 18:28 WIB
JURNAL DAI RAMADHAN
Panas yang Nikmat di Macau saat Berpuasa
Panas yang Nikmat di Macau saat Berpuasa
Berpuasa Ramadhan di Macau agak berbeda dari berpuasa di Indonesia khususnya Jakarta. Suhu udara di sini baik pagi, siang, maupun malam, tetaplah panas dan terasa lembab. Wajar saja karena memang sedang musim panas.
 
Saya mulai memahami mengapa warga di sini senang memakai kaos dan celana pendek. Pada pagi dan malam hari bisa mencapai 29 derajat celcius dan siang mencapai 33 derajat celcius, sepanjang hari bisa dirasakan kelembaban dan hangatnya udara. Baju yang menyerap keringat menjadi favorit di sini.

Bulan-bulan Hijriyah memang dinamakan sesuai dengan iklim, situasi dan tradisi yang terjadi pada masyarakat Arab kala itu. Muharram artinya diharamkan, karena pada saat itu tidak dibenarkan terjadi pertumpahan darah. Safar, berarti nol atau kosong, pada saat itu kaum lelaki mengosongkan Mekah untuk berperang, atau perang menyebabkan kosongnya harta dan jiwa.

Ramadhan sendiri berasal dari akar kata ‘ramadho’ yang berarti membakar, dimana pada saat itu iklimnya sangat panas. Ini juga bisa memberi harapan bahwa dosa-dosa yang pernah kita lakukan akan terbakar habis karena pertobatan tulus yang kita lakukan di bulan ini.

Melalui panasnya Ramadhan kita diuji dan diminta memilih skala prioritas dan berdimensi jangka panjang, dimana kita bisa saja makan dan minum di saat teriknya matahari serta berleha-leha dalam panasnya yang membara. Tapi kita memilih untuk berpuasa menjalankan titah-Nya. Di sini kita belajar agar jangan hanya memilih sesuatu yang mengantar kita pada kenikmatan yang sesaat, padahal berdampak buruk di kemudian hari atau di hari kemudian (hari kiamat).

Bulan Ramadhan bukan hanya menuntut kita untuk ber-shiyam di siang hari tapi juga ber-qiyam di malam hari. Bulan Ramadhan melatih kita agar bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Jadi ungkapan "tidurnya orang yang berpuasa ialah ibadah, kuranglah tepat." 

Bukankah justru Fathu Makkah, Perang Badar, dan Pembebasan Andaluasia terjadi di bulan yang mulia ini, untuk konteks Indonesia kita perlu bersyukur karena pada bulan ini pula kita merdeka. Semoga kita bisa meningkatkan diri lebih baik lagi dan semakin produktif (lebih banyak) sama seperti makna Syawal. Aamiin.

Saepuloh, pendakwah anggota Tim Inti Dakwah dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG