IMG-LOGO
Daerah

Ini Perbedaan antara Panitia Zakat dan Amil Zakat

Ahad 18 Juni 2017 6:0 WIB
Bagikan:
Ini Perbedaan antara Panitia Zakat dan Amil Zakat
Ilustrasi pengumpulan zakat.
Pringsewu, NU Online
Untuk mengetahui pihak yang berwenang mengangkat amil di Indonesia, dari tingkat nasional sampai desa, diperlukan pemahaman Pengelola Zakat yang ada, sebagaimana dalam UU No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat dan PP No 14 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan UU No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.

Demikian dikatakan Katib Syuriyah PCNU Pringsewu KH Munawir yang juga merupakan Wakil Ketua BAZNAS Kabupaten Pringsewu saat menjelaskan materi tentang Menejemen Amil Kepada Pengurus MWC NU, Ranting NU dan Takmir Masjid Se Kecamatan ambarawa, Jumat (16/6).

Dari dasar tersebut lanjutnya, dapat diketahui bahwa ada tiga Pengelola Zakat yang ada di Indonesia. Pertama adalah Badan Amil Zakat Nasional atau (BAZNAS) baik ditingkat Nasional, Provinsi maupun Kabupaten. Kedua adalah Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang sudah diberi izin oleh BAZNAS dan ketiga adalah Pengelola Zakat Perseorangan atau Kumpulan Perseorangan dalam Masyarakat di komunitas atau wilayah yang belum terjangkau oleh BAZNAS dan LAZ dan akui oleh BAZNAS Kabupaten atau LAZ Kabupaten.

"Pengangkatan amil adalah kewenangan imam (penguasa tertinggi) seperti dalam definisi amil. Namun demikian, kewenangan itu bisa dilimpahkan kepada para pejabat pembantunya, yang ditunjuk untuk mengangkat amil–yang menurut PP  No 14 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan UU No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat," jelasnya.

Status Kepanitiaan Zakat yang dibentuk atas Prakarsa Masyarakat Seperti di Pedesaan, Perkantoran, Sekolahan yang dibentuk atas prakarsa masyarakat dan tidak diangkat oleh presiden atau pejabat yang diberi kewenangan olehnya, maka keduanya tidak berstatus sebagai amil syar'i.

"Pengelolaan zakat yang dilakukan oleh Panitia Zakat bisa dibenarkan, tapi terbatas pada menerima zakat dari muzakki dan mendistribusikannya kepada yang berhak," ujarnya.

Selain masalah kewenangan, perbedaan antara Kepanitiaan Zakat dengan amil syar'i adalah pada gugurnya kewajiban muzakki atas zakat. "Kalau Muzakki menyerahkan zakatnya kepada Amil maka kewajiban membayar zakatnya sudah gugur walaupun ketika umpamanya terjadi Amil tidak menyerahkan zakatnya kepada mustahiq," katanya.

Beda dengan apabila para muzakki menyerahkan zakatnya kepada Panitia Zakat. Karena Panitia Zakat hanya merupakan wakil atau perpanjangan tangan, maka ketika panitia lalai dalam menyalurkan zakat dari muzakki, kewajiban zakat belum gugur.

Oleh karenanya Ia mengjimbau kepada para Panitia Zakat di Masjid dan Musholla maupun Majelis Taklim yang membentuk Kepengurusan Zakat untuk dapat mendapatkan izin dan melegalkan kepengurusan tersebut ke Lazisnu Kecamatan masing-masing sehingga akan benar-benar statusnya menjadi Amil. (Muhammad Faizin/Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Ahad 18 Juni 2017 22:24 WIB
Konferwil GP Ansor Sumut Dipercepat
Konferwil GP Ansor Sumut Dipercepat
Medan, NU Online
Konferensi Wilayah (Konferwil) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Povinsi Sumatera Utara (Sumut) akan dipercepat. Seyogyanya, PW GP Ansor Sumut di bawah kepemimpinan Mulia Banurea MSi baru akan berakhir 2018, namun dalam rangka merespon tumbuh suburnya kaderisasi, Konferwil akan digelar setahun lebih cepat, yakni Oktober 2017.

Hal itu diungkapkan Ketua PW GP Ansor Sumut Mulia Banurea saat menyampaikan sambutan pada Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama pengurus PW GP Ansor Sumut, di Hotel Madani Medan, Sabtu (17/6). Buka puasa bersama dirangkai dengan penyantunan puluhan anak yatim.

Hadir dalam acara itu, Sekretaris PW GP Ansor Sumut Parulian Siregar MA, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumut Adrian Harahap yang juga kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Sumut, Penasihat GP Ansor Sumut Maraimbang Daulay MA, Komandan Satuan Koordinasi Wilayah Barisan Ansor Serbaguna (Satkorwil Banser) Sumut Yosrizal Saragih MSi, unsur pengurus harian PW GP Ansor Sumut di antaranya Tamrin Harahap, Ibnu Hajar, Edy Harahap, Ridwan Asnawi, Syafrizal El-Batubara, Arif Hasibuan, Uli P Nasution, dan puluhan anggota Banser.  

Mulia mengatakan, pengurus PW GP Ansor Sumut periode 2014-2018 sudah melaksanakan sebagian besar program organisasi. Dalam tiga tahun kepemimpinannya, setiap minggu dilaksanakan kaderisasi.

Sesuai dengan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) GP Ansor, kata Mulia, setiap Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor yang sudah menyelenggarakan kaderisasi seperti Pelatihan Kader Dasar (PKD) punya suara dalam Konferwil.

"Setelah ditabulasi, sekarang ada 60 PAC yang sudah berhak menjadi peserta penuh pada Konferwil. PAC yang sudah melaksanakan PKD akan memiliki hak yang sama dengan ketua Pimpinan Cabang (PC) di Konferwil Ansor," tegas Mulia.

Namun, katanya, masih ada tugas PW GP Ansor yang belum terlaksana, yakni menggelar Kursus Banser Lanjutan (Susbalan). Namun kepanitiaan Susbalan sudah dibentuk, dan akan digelar sebelum Oktober atau sebelum Konferwil.

Alasan mempercepat Konferwil, menurut Mulia Banure, mengingat makin banyaknya kader-kader Ansor yang siap memimpin organisasi yang merupakan badan otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU) ini. Di sisi lain, sebagai Ketua KPU Sumut, Mulia menyatakan akan berkonsentrasi untuk menyukseskan penyelenggaraan Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2018.

"Silakan semua kader Ansor untuk maju menjadi calon ketua pada Konferwil Ansor Oktober mendatang. Saya akan netral, dan akan mejaga jarak yang sama dengan seluruh calon ketua yang maju. Namun syarat menjadi calon ketua PW GP Ansor harus lulus Pelatihan Kepemimpin Nasional (PKN)," tandas Mulia.

Terkait dengan buka bersama, menurut Mulia bertujuan melaksanakan perintah Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW yakni menjalin silaturahmi antara penasehat, pengurus harian, biro dan lembaga yang ada di PW GP Ansor Sumut.

"Selama ini pengurus jarang ketemu karena kesibukan masing-masing. Jadi pada buka bersama ini jadi momentum silaturahmi untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Kalau silaturahmi sudah meningkat, maka hubungan pengurus akan makin akrab. Dan kalau sudah akrab, kita bisa meningkatkan sinergitas, menyatukan barisan untuk melaksanakan visi misi GP Ansor," tutur alumni IAIN Sumut dan Universitas Negeri Medan (Unimed) ini.

Sementara itu, Panesihat PW GP Ansor Sumut Maraimbang Daulay berharap, Mulia Banurea dan jajaran pengurus lainnya segera merampungkan program-program kerja yang masih terbengkalai seperti Susbalan. 

"Dengan merampungkan seluruh program kerja, maka  keberadaan PW GP Ansor Sumut bisa menyamai pengurus Ansor di Pulau Jawa," kata Maraimbang. (Hamdani Nasution/Mukafi Niam) 
Ahad 18 Juni 2017 21:18 WIB
LAZISNU Yogyakarta Dampingi Pembagian Zakat Pesantren Ulul Albab
LAZISNU Yogyakarta Dampingi Pembagian Zakat Pesantren Ulul Albab
Yogyakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo (UAB), H Ahmad Yubaidi dan istrinya Hj. Siti Arum H membagikan 200 Paket Lebaran pada hari Ahad (18/6) di Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo, Muja Muju, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Paket dibagikan pada warga di sekitar pesantren dan Pengurus NU Kota Yogyakarta. H Ahmad Yubaidi, yang juga sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Yogyakarta, menegaskan paket ini adalah zakat pribadi dan istrinya. Untuk memastikan tepat sasaran, LAZISNU Kota Yogyakarta digandeng sebagai pendamping dan pengarah pembagian tersebut.

"Alhamdulillah hari ini 200 paket sembako dan sarung sudah tersalurkan dengan baik. Warga NU di Kota Yogyakarta itu banyak. Penataan organisasi yang sudah ditempuh optimis akan membuahkan hasil optimal, yakni warga NU Yogya yang sehat rohani, jasmani, dan ekonomi," ucapnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris PC LAZISNU Kota Yogyakarta Ahmad Subari berharap seluruh masyarakat kota Yogyakarta mau menyalurkan zakat, infaq dan shadaqahnya melalui LAZISNU Kota Yogyakarta.  

"Saya menghimbau Nahdliyin dan seluruh masyarakat kota Yogyakarta mau menyalurkan zakat melalui LAZISNU, atau cukup dalam pendampingan atau supervisi LAZISNU Kota Yogyakarta, sehingga tidak melanggar ketentuan hukum yang ada," bebernya. 

Subari menegaskan, sebagai contoh Ketua PCNU Kota Yogyakarta yang saat ini zakat pribadinya disalurkan sendiri kepada pihak yang ditentukan sendiri, akan tetapi dia minta didampingi dan dilaporkan ke LAZISNU Kota Yogyakarta. Red: Mukafi Niam 
Ahad 18 Juni 2017 19:18 WIB
Inilah Beda Ansor Zaman Soeharto dan Masa Kini di Polmas
Inilah Beda Ansor Zaman Soeharto dan Masa Kini di Polmas
Polewali, NU Online
Acara buka puasa bersama yang dirangkaian dengan dialog kebangsaan, yang mengangkat tema Cinta Tanah Air sebagian dari Iman. yang dilaksanakan di sekretariat GP Ansor Polewali Mandar di Jalan Pemuda Pekkabata, Sabtu (16/07), selain dihadiri salah satu Pimpinan Pusat GP Ansor, Masud Shaleh, juga dihadiri Ketua Dewan Pembina GP Ansor Kabupaten Polewali Mandar Azikin Noer. 

Azikin Noer yang didaulat bercerita testimoni perjalanan Ansor di masa kepemimpinannya kala menjadi ketua Ansor di Kabupaten Polewali Mamasa (Polmas) menuturkan bahwa saat itu, jajaran senior Ansor di Polmas menunjuk langsung dirinya untuk memegang amanah menjadi ketua yang sangat jarang ada yang berani untuk mendudukinya.
 
"Saat itu rezim Soeharto, sangat jarang ada yang berani menjadi Ketua Ansor, para dewan senior yakni bapak Anwar Sewang dan bapak Salam Harianto menunjuk saya, dan mau tidak mau, sami'na watha'na, amanah itu harus kita terima, demi keberlangsungan perjuangan," kenang Azikin. 

Lebih jauh Azikin mengurai, berbeda di zaman Ansor sekarang, yang banyak dihuni kalangan intelektual, pada masa itu bersama pengurus lainnya dia merekrut para preman terminal dan jawara-jawara kampung. Kondisi pada saat itu mengharuskan model kaderisasi dengan rezim yang berkuasa.

"Gerak-gerik kita di organisasi akan selalu diawasi penguasa pada zaman itu, model kaderisasinya pun sedikit lebih menantang lagi ketimbang sekarang," kata Azikin.             

Saat mengurai bagaimana tujuan Ansor didirikan oleh para Kiai NU, pria yang saat ini menjadi koordinator program dari salah satu kementerian ini tak kuasa menahan haru. Matanya berkaca-kaca. Hampir berlinang air mata. Ia bercerita betapa para kiai memiliki niat yang tulus dan ikhlas untuk menjaga  kedaulatan bangsa dan negara ini. 

"Para pendiri Ansor, bukanlah orang biasa, mereka adalah orang-orang yang tulus, ikhlas, dan rela mengorbankan jiwa, harta dan raganya demi menjaga kedaulatan bangsa dan negara, jadi wajib hukumnya kita untuk menjaga dan menjalankan amanah itu," tutup Azikin. (Muhammad Arif/Mukafi Niam)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG