IMG-LOGO
Fragmen

Ucapan Selamat Lebaran Gaya Tahun 40-an

Sabtu 8 Juni 2019 23:0 WIB
Bagikan:
Ucapan Selamat Lebaran Gaya Tahun 40-an
Redaksi majalah Berita Nahdlatoel Oelama (selanjutnya BNO) memfasilitasi pembaca untuk mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri tahun 1359 Hijriyah atau Oktober 1940. Redaksi memfasilitasi ucapan tersebut sebanyak empat halaman ekstra 16 A, B, C, D.  

Ucapan selamat disampaikan pengurus NU baik secara organisasi maupun pribadi, Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) sekarang Gerakan Pemuda Ansor sampai lembaga pendidikan NU. Juga warga umum dari beragam latar belakang profesi semisal guru, agen kapur, meubel, agen BNO, pemilik toko, dan lain-lain. 

Asal daerah warga yang mengucapkan selamat itu tercatat dari Bengkulu, Palembang, Indragiri, Bangka. Rata-rata mereka berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah seperti Surabaya, Pasuruan, Sidoharjo. Ada juga dari Banyuwangi, Lumajang, Purworejo, Ponorogo, Gresik, Mojokerto dan lain-lain.   

Sementara aksara yang digunakan ucapan selamat itu ada yang berbahasa Arab, Arab Pegon, dan Latin. Penggunaan bahasa ada yang dengan Arab, Indonesia ejaan waktu itu, dan Jawa. 

Rangkaian ucapan selamat dimulai dengan pernyataan dari Hoofdbestuur Nahdlatoel ‘Oelama’ (HBNO) sekarang Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Berikut ucapan HBNO: 

Tersampaikan kepada saudara-saudara kaoem Moeslimin dan Moeslimat, terutama kawan-kawan seagama sefaham, sepergerakan dan sehaloean, dengan ini kami mohon maaf dan ampoen atas kekeliroean, kechilafan, kelantjangan, dosa ketjil dan besar, lahir-batin, dan halalkanlah segala sesoeatoe jang seharoesnja di mohon halalnja: Selamat hari Raja. Selamat berdjoeang dalam djalan Allah!!!


Wassalam dari Hoofdbestuur Nahdlatoel ‘Oelama’ dengan segala bagian-bagiannja.


Berikut ucapan dari pengurus NU tingkat kecamatan Madjlis Wakil Tjabang (MWT) sekarang Majelis Wakil Cabang (MWC):

Kita atas nama “Nahdlatoel Oelama” Madjlis Wakil Tjabang Singosari, berikoet bagian-bagiannja, poen djoega dengan kring-kring wilajah kita (12 resort) lebih koerang dari 800 leden laki-laki dan perempoean, djoega ta’ ketinggalan ANO sji’ib Singosari berikoet poela dari Atvalnja sekali. Atoer periksa ke hadapan para pembatja ‘oemoemnja, teroetama para Nahdlijjin choesoesnja berhoeboeng di dalam hari raja ini (1 Sjawal 1359 ) hari kerachmatan dan kesjoekoeran kita kepada Toehan Allah s.w.a. Dan djoega minta kema’afannja sekalian para pembatja atas kesalahan-kesalahan segala-galanja. Ta’ keloepaan djoega kita memberi kemaafan kepada segenap para sidang pembatja. Moedah-moedahan kesemoeanja tahadi bersama-sama pandjang oemoer, dengan selamat dan to’at kepada Rabboel ‘alamin.


Wassalam


a/n pengoeroes N.O. M.W.T. Singosari 


Ucapan selamat dari salah seorang warga: 

Lepaslah soedah kita berbakti 
Berpoeasa berbilang hari
Bertarawich, berdaroes Qoer’an soetji
Moga-moga dterimalah oleh Robbal ‘Izzati
Kini Idilfitri lah nampak kembali 

Hari bersjoekoer ke chadirattirabbi 
Dan… wahai teman serta sanak famili 
Maafkanlah kesalahan kami dan isteri 


M. Noersjamsi Kebagoesan Grisee
1 Sjawal ‘59


Dari  pedagang:

Terimalah silaturachmi kita 
H. Djafar “Agent Kapoer”
Pasoeroean 

(Abdullah Alawi)

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Senin, 26 Juni 2017 pukul 11:02. Redaksi mengunggahnya ulang tanpa mengubah isi tulisan.  


Bagikan:
Kamis 6 Juni 2019 9:25 WIB
Halal bi Halal Digagas KH Wahab Chasbullah di Tengah Ketegangan Politik
Halal bi Halal Digagas KH Wahab Chasbullah di Tengah Ketegangan Politik
KH Wahab Chasbullah (Perpustakaan PBNU)
Perbedaan orientasi dan pandangan politik kerap menimbulkan ketegangan di antara elit politik. Bahkan, karena politik tidak terlepas dari sikap dukung-mendukung oleh rakyat, ketegangan tersebut muncul bukan hanya di ranah elit, tetapi juga di tengah masyarakat akar rumput (grass root).

Ketegangan maupun konflik yang terjadi di kalangan elit dan mempolarisasi kehidupan masyarakat di alami oleh bangsa Indonesia di setiap perhelatan politik. Seperti yang terjadi pada tahun 1948. Kala itu, bangsa Indonesia juga dalam ancaman disintegrasi yang disebabkan oleh ulah beberapa kelompok yang melakukan pemberontakan (bughot).

Berangkat dari kondisi politik tersebut, KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) menggagas kegiatan yang diberi nama halal bi halal untuk seluruh tokoh bangsa atas permintaan Presiden Soekarno saat itu.

Dari riwayat yang diceritakan tokoh NU KH Masdar Farid Mas’udi tersebut, pada tahun 1948 yaitu di pertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara untuk dimintai pendapat dan sarannya dengan harapan dapat mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat kala itu.

Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturahim. Sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, di mana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturahim. Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturahim kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

"Itu gampang,” kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahim nanti kita pakai istilah halal bi halal,” jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahim yang diberi nama halal bi halal. Akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa. Sejak saat itulah istilah halal bi halal gagasan Kiai Wahab lekat dengan tradisi bangsa Indonesia pasca-lebaran hingga kini.

Begitu mendalam perhatian seorang Kiai Wahab Chasbullah untuk menyatukan seluruh komponen bangsa yang saat itu sedang dalam konfik politik yang berpotensi memecah belah persatuan. Hingga secara filosofis pun, Kiai Wahab sampai memikirkan istilah yang tepat untuk menggantikan istilah silaturahim yang menurut Bung Karno terdengar biasa sehingga kemungkinan akan ditanggapi biasa juga oleh para tokoh yang sedang berkonflik tersebut.

Kini, halal bi halal yang dipraktikkan oleh umat Islam Indonesia lebih dari sekadar memaknai silaturahim. Tujuan utama Kiai Wahab untuk menyatukan para tokoh bangsa yang sedang berkonflik menuntut pula para individu yang mempunyai salah dan dosa untuk meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti dengan hati dan dada yang lapang.

Begitu pun dengan orang yang dimintai maaf agar secara lapang dada pula memberikan maaf sehingga maaf-memaafkan mewujudkan Idul Fitri itu sendiri, yaitu kembali pada jiwa yang suci tanpa noda bekas luka di hati.

Para pakar selama ini tidak menemukan dalam Al-Qur’an atau Hadits sebuah penjelasan tentang halal bihalal. Istilah tersebut memang khas Indonesia yang lahir dari spontanitas yang ‘alim dari Kiai Wahab Chasbullah. Bahkan boleh jadi pengertiannya akan kabur di kalangan bukan bangsa Indonesia, walaupun mungkin yang bersangkutan mengerti bahasa Arab.

Mengapa? Karena istilah tersebut juga muncul secara historis dan filosofis oleh Kiai Wahab untuk menyatukan bangsa Indonesia yang sedang dilanda konflik saudara sehingga harus menyajikan bungkus baru yang menarik agar mereka mau berkumpul dan menyatu saling maaf-memaafkan.

Terkait dengan makna yang terkandung dalam istilah halal bihalal, Pakar Tafsir Al-Qur’an asal Indonesia Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1999) menjelaskan sejumlah aspek untuk memahami istilah yang digagas Kiai Wahab Chasbullah tersebut.

Pertama, dari segi hukum. Halal yang oleh para ulama dipertentangkan dengan kata haram, apabila diucapkan dalam konteks halal bihalal akan memberikan kesan bahwa acara tersebut mereka yang melakukannya akan terbebas dari dosa.

Dengan demikian, halal bihalal menurut tinjauan hukum menjadikan sikap kita yang tadinya haram atau yang tadinya berdosa menjadi halal atau tidak berdosa lagi. Ini tentu baru tercapai apabila persyaratan lain yang ditetapkan oleh hukum terpenuhi oleh pelaku halal bihalal, seperti secara lapang dada saling maaf-memaafkan.

Masih dalam tinjauan hukum. Menurut para pakar hukum, istilah halal mencakup pula apa yang dinamakan makruh. Di sini timbul pertanyaan, “Apakah yang dimaksud dengan istilah halal bihalal menurut tinjauan hukum itu adalah adanya hubungan yang halal, walaupun di dalamnya terdapat sesuatu yang makruh?

Secara terminologis, kata makruh berarti sesuatu yang tidak diinginkan. Dalam bahasa hukum, makruh adalah suatu perbuatan yang tidak dianjurkan oleh agama, walaupun jika dilakukan tidak mengakibatkan dosa, dan dengan meninggalkan perbuatan itu, pelaku akan mendapatkan ganjaran atau pahala.

Atas dasar pertimbangan terakhir ini, Quraish Shihab tidak cenderung memahami kata halal dalam istilah khas Indonesia itu (halal bi halal), dengan pengertian atau tinjauan hukum. Sebab, pengertian hukum tidak mendukung terciptanya hubungan harmonis antarsesama.

Kedua, tinjauan bahasa atau linguistik. Kata halal dari segi bahasa terambil dari kata halla atau halala yang mempunyai berbaga bentuk dan makna sesuai rangkaian kalimatnya. Makna-makna tersebut antara lain, menyelesaikan problem atau kesulitan atau meluruskan benang kusut atau mencairkan yang membeku atau melepaskan ikatan yang membelenggu.

Dengan demikian, jika kita memahami kata halal bi halal dari tinjauan kebahasaan ini, seorang akan memahami tujuan menyambung apa-apa yang tadinya putus menjadi tersambung kembali. Hal ini dimugnkinkan jika para pelaku menginginkan halal bihalal sebagai instrumen silaturrahim untuk saling maaf-memaafkan sehingga seseorang menemukan hakikat Idul Fitri.

Ketiga, tinjauan Qur’ani. Halal yang dituntut adalah halal yang thayyib, yang baik lagi menyenangkan. Dengan kata lain, Al-Qur’an menuntut agar setiap aktivitas yang dilakukan oleh setiap Muslim harus merupakan sesuatu yang baik dan menyenangkan bagi semua pihak. Inilah yang menjadi sebab mengapa Al-Qur’an tidak hanya menuntut seseorang untuk memaafkan orang lain, tetapi juga lebih dari itu yakni berbuat baik terhadap orang yang pernah melakukan kesalahan kepadanya.

Dari semua penjelasan di atas dapat ditarik kesan bahwa halal bi halal menuntut pelaku yang terlibat di dalamnya agar menyambungkan hubungan yang putus, mewujudkan keharmonisan dari sebuah konflik, serta berbuat baik secara berkelanjutan.

Kesan yang berupaya diejawantahkan Kiai Wahab Chasbullah di atas lebih dari sekadar saling memaafkan, tetapi mampu mencipatakan kondisi di mana persatuan di antara anak bangsa tercipta untuk peneguhan negara. Sebab itu, halal bi halal lebih dari sekadar ritus keagamaan, tetapi juga kemanusiaan, kebangsaan, dan tradisi yang positif. (Fathoni)
Rabu 5 Juni 2019 18:15 WIB
Selamat Hari Raya Idul Fitri Zaman KH Hasyim Asy'ari
Selamat Hari Raya Idul Fitri Zaman KH Hasyim Asy'ari

Di majalah Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) tahun 1354 H, hoofdbestuur (pengurus besar) Nahdlatul Ulama menyampaikan selamat hari raya Idul Fitri. Di tahun itu Idul Fitri jatuh pada tanggal 7 Januari 1936 M, sepuluh tahun sejak NU didirikan dan Indonesia (Hindia Belanda) masih masa penjajahan Belanda.

Pada kolom haturan selamat Idul Fitri di majalah yang terbit 1 Januari 1936 tersebut, jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah Hoofdbestuur Nahdlatul Ulama dicantumkan di situ mulai Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan pengurus lain.  

Di antara kiai-kiai yang disebut adalah KH Ridwan bin Abdullah Surabaya, Abdul Wahab bin Chasbullah Surabaya, Abdullah bin Ali, KH Hamim, KH Sahal, KH A Faqih, dll. Sementara dari jajaran Tanfidziyah ada KH M Noer, H S Samil, M Kariadi, dan lain-lain.

Ucapan selamat Idul Fitri itu berbunyi, Menghatoerkan selamat hari raya A’Idil fitri kehadapan sekalian ichwanul moeslimin wal moeslimat, pembaca BNO umuman, wachoesoeson qoum Nahdliijin, menghatoerkan poela beberapa jenis kesalahan, kelalaian, kehilapan dan koerangnya Ta’addoeb semasa doedoek dalam Bestoeran, maoepoen sebeloemnya; Maka atas hal demikian, tenteo sedjoemlah kami ampoenja doesa hak adami, moehoen di maafkan sekaliannja dari Doenia hingga Acherat kelak.

Di samping inipoen ta’loepalah kami sekalian bersedia memafakan sekedar doesa saudara terhadap kami sekaliannja.

Dan mari kita berdo’ea pada Allah djoega bersama-sama, disampaikan Oemoer kita masing-masing sampai bertemu A’idilfitri tahoen jang akan datang 1355 Amin!!

Pada tahun 1936 beberapa sejarah penting NU tercatat, NU menggelar Kongres ke-11 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pada waktu itu Hidayah Islamiyah, sebuah organisasi Islam bergabung dengan NU. Pada tahun itu pula KH Wahid Hasyim mendirikan Ikatan Pelajar-Pelajar Islam di Jombang, membangun taman bacaan tak kurang 500 buku, termasuk majalah, surat kabar dalam bahasa Jawa dan Indonesia.  

Menurut Ensiklopedi NU (terbit 2014), majalah BNO, diperkirakan terbit pertama kali tahun 1931. Majalah itu diupayakan oleh kiai-kiai NU dengan harapan berperan sebagai obor kaum muslimin pada umumnya dan Nahdliyin khususnya. (Abdullah Alawi)


::::


Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada 28 Juli 2014, pukul 07.00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Rabu 5 Juni 2019 2:30 WIB
NU Bela Semarak Lebaran dari Larangan Penjajah Belanda
NU Bela Semarak Lebaran dari Larangan Penjajah Belanda
Potret: Tirto.id
Pada masa penjajahan Belanda, aktivitas beragama, terutama Islam, sangat dibatasi. Terutama, aktivitas beragama yang melibatkan banyak orang seperti ibadah haji, tabligh akbar dan shalat berjamaah. Bahkan seseorang yang akan berangkat dan pulang haji pun dibatasi pergerakannya. Misalnya, ketika NU mengadakan muktamar keenam di Cirebon tahun 1931, hampir saja penutupan kegiatan itu sepi-sepi saja karena tidak mendapat izin tabligh akbar. Namun, berkat kepiawaian negosiasi KH Abdul Wahab Hasbullah, larangan itu mmenjadi lunak. NU diperbolehkan mengadakan tabligh akbar penutupan sebagaimana muktamar-muktamar sebelumnya, yaitu di Surabaya tiga kali berturut-turut, Semarang, dan Pekalongan.  

Aktivitas untuk merayakan dan menyemarakkan kegiatan beragama pun mendapat larangan atau dibatasi. Membakar mercon atau petasan, misalnya pernah dilarang pemerintah Hindia Belanda. 
Mercon tentu saja tidak ada hubungannya dengan Islam. Penggunaannya pada hari Raya Idul Fitri atau Lebaran oleh sebagian kalangan dianggap bid’ah sesat karena tidak diajarkan Nabi Muhammad SAW serta tak berfaidah sama sekali. 

Namun, NU, melalui Berita Nahdlatul Oelama (selanjutnya BNO) berpendapat lain, mercon untuk semarak Lebaran merupakan bagian syiar Islam. Tengok misalnya opini dari salah seorang penulis majalah yang diterbitkan HBNO di Surabaya tersebut: 

Sampik sekarang masih banyak orang Islam yang berkelebihan sikep pada mertjon; ada jang anti dan ada jang keliwat dojan ja’ni sampik jang djenggoten, atau sampik meloepakan jang lebih perlu apa lagi sampik oetang atau gade-gade. 

Keduanya menurut opini pada edisi 7 November 1940 halaman 15 tersebut sama salahnya. Ia mengatakan, 

Jang pertama hendak menghilangkan keramaiannya hari orang Islam memperlihatken hari besarnya. Jang pertama bilang: itoe mertjon boekan perintah agama. Itoe memang betoel. 

Namun, kata penulis itu, apa mercon saja yang bukan perintah agama yang dilakukan kalangan Muslimin saat Idul Fitri? Kenapa mercon saja yang dimusuhi sedang perkara-perkara yang memusuhi Islam 10 ribu persen dipelihara. Namun sayangnya penulis tidak merinci perkara-perkara tersebut.

Lantas penulis mengajak untuk mengkaji kembali tentang larangan membakar mercon tersebut waktu itu.

Dari mana asalja anti mertjon itoe? Kan kembali kepada orang-orang jang soedah terkenal…nggak soeka sama Islam!!! Mereka bilang itoe pemborosan. Jah, itoe betoel kalau kelewat bates. Tapi apa tidak ada lain matjem pemborosan jang dipiara baik oleh mereka? Dan kaloek kita kritik kita dapat tjap ….kolot???

Sepertinya memang mercon dilarang waktu itu. Pelarangnya tiada lain adalah pemerintah Hindia Belanda. Kalaupun tidak dilarang, pemerintah jajahan waktu itu mengatur atau membatasi penggunaan mercon. Majalah tersebut pada No 1 tahun 10 (diperkirakan edisi Oktober 1940), mengutip berita dari Balai Pustaka.

Atas nama Legercommandant dikabarkan:


Berhoeboeng dengan larangan memasang petasan (mertjon) maka banjaklah timboel pertanyaan. Oleh sebab itoe diterangkan disini, bahwa larangan itoe mengenai segala matjam petasan dan jang sebangsanya. Djadi bukan petasan (mertjon atau bedil-bedil jang biasa sadja, melainkan djuga kembang api dan petasan banting). 

Oleh karena berhoeboeng dengan lebaran jang akan datang ini banjak permintaan jang masoek, maka sekarang lagi dipertimbangkan diberi tidaknja izin orang memasang petasan itoe, djadi diberi tidaknja atas larangan tersebut. 

Tidak lama lagi bisa rasajnadiberitakan poetoesan tentang itoe. 

Pada edisi tahun ke-10 BNO mengangkat berita berjudul Mertjon Waktoe Lebaran seperti berikut: 

Dengan memperloeas jang telah ditentoekan dalam beslitnya 28 Augustus 1941 Nr.4068/G.S. III-9, soedah diizinkan oleh Leggercommandant membakar mertjon pada malam sebeloem 1 Sjawal (21 Oktober) dan pada 1 Sjawal (22 Oktober) tetapi dalam hal itoe haroeslah diperhatikan djoega apa-apa jang ditentoekan dan atau jang dilarang oleh Bestuur. 


(D.v.O. verstrekt) 


Untuk diketahui, BNO memiliki moto Majalah Islamiyah Umumiyah. Terbit tiap dua minggu. Pada tiap jilid, dijelaskan Made Redacteuren j.m. K.H. Hasjim Asj’arie Teboeireng Djombang, j.m. K.H. Abduwahab Chasbullah Soerabaja, j.m. K.H Bisri Denanjar Djombang. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG