IMG-LOGO
Daerah

Komunitas Pegon Temukan Karya Syekh Nahrawi di Banyuwangi

Rabu 12 Juli 2017 5:9 WIB
Bagikan:
Komunitas Pegon Temukan Karya Syekh Nahrawi di Banyuwangi
Banyuwangi, NU Online
Salah seorang ulama Nusantara yang terkemuka pada akhir abad XIX di Haramain adalah Syekh Nahrawi Al-Banyumasi. Ia adalah guru besar di Masjidil Haram yang semasa dengan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Syekh Mahfudz Termas.

Ulama asal Banyumas ini juga merupakan guru pendiri NU KH Hasyim Asy'ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan semasa keduanya belajar di Mekkah.

Sayangnya, kiprah Syekh Nahrawi yang cukup masyhur pada masanya itu, laksana hilang terkubur pada masa kini. Tak banyak catatan yang menulis tentang biografinya atau karya-karyanya.

Direktur Islam Nusantara Center (ICN) Ahmad Ginanjar Sya'ban dalam bukunya yang terbaru, Mahakarya Islam Nusantara (2017), hingga saat ini, masih belum menemukan karya intelektual Syekh Nahrawi.

Amirul Ulum, salah seorang penulis biografi ulama Nusantara, juga tak mencantumkan satu judul pun karya Syekh Nahrawi saat mengupas biografinya. Dalam bukunya, Ulama-Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz (2015), ia hanya menulis tentang Syekh Nahrawi sebagai guru besar di Masjidil Haram dan mursyid tarekat Syadiliyah. Tak disinggung sedikitpun tentang karyanya.

Di tengah "hilangnya" jejak intelektual putra KH Harja Muhammad itu, Komunitas Pegon berhasil menemukan sebuah karya intelektual Syekh Nahrawi. Komunitas yang bergerak di dalam mendokumentasi dan memublikasi sejarah pesantren dan NU di Banyuwangi itu, menemukannya dari koleksi kitab KH. Abdullah Faqih, Cemoro, Songgon.

"Kami menemukannya saat memeriksa empat kardus dari tujuh kardus kitab peninggalan Kiai Faqih Cemoro," kata Koordinator Komunitas Pegon Ayung Notonegoro saat ditemui di markasnya yang berada di kompleks Kantor PCNU Banyuwangi, Senin (10/7).

Kitab langka ini, terang Ayung, merupakan catatan (ta‘liq) dari Risalah Isti'arat karya Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, salah seorang mufti Mekkah dari madzab Syafi’iyah yang menjadi guru para ulama besar di Indonesia. Termasuk juga Syekh Nahrawi sendiri. "Kitabnya hanya terdiri dari 8 halaman," tutur Ayung.

Kitab ini, diterbitkan oleh Mathba'ah Taraqi Al-Majidiyah al-Utsmaniyah di Mekkah pada 1331 H atau sekitar 1912 M. Penerbit ini, dikenal sebagai pencetak utama karya-karya ulama Nusantara di Mekkah yang dimiliki oleh adik ipar Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. "Di dalamnya tidak ada keterangan kapan Syekh Nahrawi memulai ataupun menyelesaikan karyanya tersebut," kata Ayung.

Dengan penemuan kitab langka ini di Banyuwangi, Ayung meyakini bahwa keterlibatan ulama-ulama Banyuwangi pada awal abad ke-20 telah berjejaring dengan ulama lainnya. Tidak hanya di Nusantara, tapi juga di dunia.

"Banyak sebenarnya, kiai-kiai Banyuwangi pada masa awal abad ke-20 yang telah berjejaring dengan ulama-ulama besar Nusantara, bahkan hingga ke Haramain. Selain Kiai Faqih, ada juga Kiai Saleh Lateng, Kiai Syamsuri Singonegaran dan juga Kiai Manan Berasan," jelasnya.

Tetapi, keluh Ayung, kiprah para kiai Banyuwangi tersebut tak banyak terungkaps sehingga kiprah kiai Banyuwangi seolah tak ada dalam perbincangan khazanah Islam Nusantara di Indonesia.

"Atas keprihatinan ini, kami menginisiasi Komunitas Pegon," pungkasnya. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Tags:
Bagikan:
Rabu 12 Juli 2017 23:1 WIB
PCNU Brebes Ingatkan Pelajar NU pada Amanah Keagamaan dan Kebangsaan
PCNU Brebes Ingatkan Pelajar NU pada Amanah Keagamaan dan Kebangsaan
Foto: Ilustrasi
Brebes, NU Online
Ketua PCNU Brebes KH Athoillah menyampaikan tentang pentingnya dua amanat yang telah diembankan kepada NU yang artinya berlaku juga untuk seluruh lembaga dan badan otonom NU, yaitu amanat diniyah (keagamaan) dan amanat wathaniyah (kebangsaan).

Demikian disampaikan Kiai Athoillah pada pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) XI IPNU-IPPNU Kabupaten Brebes di SMK/MTs Al-Ikhlas Limbangan, Losari, Brebes, Rabu (12/7).

Dua amanah ini, kata Atho, dijalankan dengan tawasut artinya moderat pada posisi di tengah-tengah dan toleran. Dalam menjaga Islam yang mulia harus pula dengan kemuliaan. “Komitemen NU, yakni satu tekad, satu langkah untuk mempertahankan Islam dan negara,” kata Kiai Atho.

Ia mengingatkan, kebencian yang terlalu memuncak mendorong kelompok wahabi untuk melenyapkan NU antara tahun 2025 hingga 2030.

Tantangan ini, lanjutnya, justru menjadikan NU makin kuat apalagi sekarang sudah mendapat dukungan penuh dari tentara, polisi, dan negara. “Pendidikan kader penggerak NU di Kabupaten Brebes juga sudah digelar 6 angkatan, dan pengkaderan lainnya banom NU yang tiada henti menjadi kekuatan tersendiri,” tegasnya.

Sementara Wakil Bupati Brebes Narjo yang hadir pada pembukaan konferensi ini mengharapkan kelahiran kader yang mumpuni dan memberkahi. Jadikan forum konfercab sebagai ajang silaturahmi dan peningkatan SDM dalam mengawal NKRI.

Era sekarang, kata Narjo, organisasi pemuda tengah dihadapkan pada tantangan perubahan sosial. Untuk itu perlu peningkatan kapasitas dan kualitas yang memadai sehingga tidak tertinggal dan ditinggal oleh anggotanya.

Narjo juga meminta IPNU-IPPNU untuk berpartisipasi dalam pembangunan daerah. Terutama dalam penanganan dekadensi moral, merebaknya pornografi, narkoba, dan tindak negatif lainnya. “Pemkab memandang IPNU-IPPNU menjadi organisasi yang berakhlakul karimah sehingga mampu membentengi berbagai kegiatan negatif,” tandasnya.

Ketua Panitia Konferensi Abdul Azis menjelaskan, konferensi ini diikuti 750 peserta utusan dari 297 desa/kelurahan di 17 PAC se-Kabupaten Brebes. (Wasdiun/Alhafiz K)
Rabu 12 Juli 2017 22:3 WIB
Ketua PCNU Ajak Pelajar NU Brebes Kembangkan Silat Pagar Nusa
Ketua PCNU Ajak Pelajar NU Brebes Kembangkan Silat Pagar Nusa
Brebes, NU Online
Ketua PCNU Brebes KH Athoillah Syatori mengintruksikan perguruan pencak silat Pagar Nusa untuk mengembangkan cabangnya di seluruh ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kabupaten Brebes.

Pasalnya, seni bela diri asli Indonesia buatan NU ini menambah keindahan dan bisa menarik pelajar untuk bergabung dengan menjadi anggota Pelajar NU.

Demikian disampaikan Kiai Athoillah pada pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) XI IPNU-IPPNU Kabupaten Brebes di SMK/MTs Al-Ikhlas Limbangan, Losari, Brebes, Rabu (12/7).

Ia bangga setelah melihat penampilan Pagar Nusa pada ajang konferensi tersebut. Daripada anak-anak pelajar banyak yang gabung ke kelompok jalanan yang berpakaian hitam dan tak jelas kapan mandinya serta menumpang mobil tidak pernah bayar, lebih baik diarahkan untuk ikut pencak silat.

“Di Pagar Nusa, selain ada keindahan gerak silat tetapi juga ada adegan yang mendebarkan seperti pecah balok, tekuk besi dan hantam genting maupun sabetan cambuk,” kata Athoillah. (Wasdiun/Alhafiz K)
Rabu 12 Juli 2017 21:27 WIB
GP Ansor Surabaya Siap Kawal Perppu Ormas Sampai Tingkat Bawah
GP Ansor Surabaya Siap Kawal Perppu Ormas Sampai Tingkat Bawah
Surabaya, NU Online 
Setelah beberapa bulan tanpa kabar atas tindak lanjut sikap pemerintah melalui Menteri Koordinator bidan Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto tentang penanganan ormas anti-Pancasila, akhirnya Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan atas UU Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan, pada 12 Juli 2017.

Ketua PC GP Ansor Kota Surabaya Alaik S. Hadi mengapresiasi ketegasan dan mendukung penuh terbitnya Perppu 2/2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan dan siap mengawal proses pembubaran ormas radikal dan anti-Pancasila.

“Terbitnya Perppu ini adalah tepat dan konstitusional, dan akan mempercepat proses hukum penanganan ormas radikal dan anti pancasila, tanpa memberangus hak-hak ormas di Indonesia. Pemerintah bisa menangkal gerakan-gerakan atau benih ke arah terorisme, radikalisme, atau ormas yang terbukti bertentangan dengan ideologi negara atau Pancasila,” jelasnya melalui siaran pers, Rabu (12/7).

Sebelumnya, GP Ansor Kota Surabaya beberapa kali membantu kepolisian dalam menggagalkan aktivitas ormaa anti-Pancasila di Kota Surabaya. Kerja sama baik antar GP Ansor dan Kepolisian akan terus ditingkatkan mengingat ormas anti-Pancasila juga berganti modus gerakan.

Sikap ini, kata dia, juga merupakan bentuk konkrit dukungan di bawah atas pernyataan PBNU dan Pimpinan Pusat GP Ansor yang dari awal mendesak terbitnya Perpu Pembubaran Ormas anti Pancasila.

“Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) pembubaran ormas tak hanya untuk membubarkan ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Tetapi Ormas apapun yang jelas dan nyata-nyata anti-Pancasila dan mengancam keutuhan NKRI, sudah selayaknya segera dibubarkan,” katanya. 

Menurut dia, strategi dan taktik dalam pencegahan gerakan ormas anti-Pancasila telah dibuat oleh Banser Kota Surabaya dengan membentuk Resimen Banser Mahasiswa yang akan nantinya diharapkan bisa mengawal dan menjaga lingkungan kampus terhadap gempuran paham radikal dan anti-Pancasila.

Sekaitan dengan itu GP Ansor dan Banser Surabaya juga akan mengimbau Ansor dan Banser di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk terlibat aktif dalam membagikan informasi yang berkaitan dengan aktivitas ormas anti-Pancasila kepada Kepolisian agar aktivitas ormas anti-Pancasila dapat diantisipasi.

Secepatnya, GP Ansor dan Banser Surabaya segera akan koordinasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah, aparat dan para ulama di Kota Surabaya untuk bersama mengawal Perppu Pembubaran Ormas ini di Surabaya.

“Dengan terbitnya Perppu 2/2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan. GP Ansor dan Banser Kota Surabaya akan siap mengawal NKRI sampai titik darah penghabisan,” pungkasnya. (Red: Abdullah Alawi)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG