Innalillahi wainna ilahi rajiun, Mustasyar PBNU KH Ahmad Syatibi Syarwan wafat, Jumat (15/9), pukul 12.00 WIB. Lahul fatihah...::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sore Ini, Matahari Melintas Tepat di Atas Ka’bah, Saatnya Cek Arah Kiblat

Ahad, 16 Juli 2017 08:26 Nasional

Bagikan

Sore Ini, Matahari Melintas Tepat di Atas Ka’bah, Saatnya Cek Arah Kiblat
Jakarta, NU Online
Setelah diberitakan matahari melintas tepat di atas Ka’bah pada 28 Mei lalu, peristiwa yang sama terjadi kembali pada Ahad (16/7). Untuk hari ini kejadian tersebut berlangsung pada pukul 16.27 WIB.

Peristiwa ini lazim disebut “rashdul qiblat” atau “istiwa a’dham”. Karena posisi matahari persis di atas Ka’bah maka seluruh benda tegak lurus yang menerima cahaya matahari akan memiliki bayangan yang mengarah lurus ke Ka’bah di Masjidil Haram, Mekkah. Umat Islam di dunia dapat menetapkan arah kiblat dengan berpatokan pada bayangan ini.

Rashdul qiblat hanya terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 28 Mei (atau 27 Mei di tahun kabisat) sekitar pukul 16.18 WIB dan 16 Juli (atau 15 Juli di tahun kabisat) sekitar pukul 16.27 WIB. Jam-jam tersebut merupakan waktu dzuhur untuk kota Makkah.

Setidaknya ada dua cara mudah untuk menentukan arah kiblat ketika matahari melintas persis di atas Ka’bah. Pertama, dilakukan di dalam masjid/mushala yang terdapat jendela di bagian mihrabnya. Di Indonesia, karena terjadi pada sore hari maka arah sinar menuju ke timur. Bila cahaya matahari yang masuk lewat jendela mihrab segaris dengan kiblat masjid/mushalla, maka artinya kiblat rumah ibadah itu sudah tepat. Namun, bila melenceng, serong ke kanan atau ke kiri, artinya patut diluruskan dengan garis semburat cayaha tersebut.

Kedua, dilakukan di luar ruangan yang memungkinkan kontak langsung cahaya matahari. Yang dibutuhkan adalah bayangan dari benda tegak lurus saat rashdul qiblat berlangsung. Benda tersebut bisa terdiri dari tongkat lurus yang ditegakkan severtikal mungkin, atau benang tebal yang dibebani bandul dan menggantung di atas kayu penyangga. Garis yang ditarik dari ujung bayangan ke pangkal benda (ke arah barat sedikit serong ke utara) adalah arah kiblat yang akurat.

(Baca: Begini Cara Menentukan Arah Kiblat dengan Matahari)


Lembaga Falakiyah PBNU mengingatkan, secara geografis/astronomis, kota Mekkah terletak di 39o49’34” LU dan 21o25’21” BT. Dari Indonesia, koordinat ini berada pada arah barat laut dengan derajat bervariasi antara 21o-27o menurut koordinat (garis lintang dan garis bujur) masing-masing daerah.

Arah kiblat Indonesia bukanlah ke barat. Jika ke barat maka semua wilayah Indonesia yang terletak di